Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
Donor Darah


__ADS_3

Hampir 3 rumah sakit kecil menolak Qisya, dan hanya membersihkan luka Qisya dengan memasangkan perban di kepalanya.


Kemudian, tidak ada jalan lagi selain membawa Qisya ke rumah sakit besar di Jakarta menggunakan ambulan.


Qisya di temani oleh Hana dan Brian di dalam ambulan, sedangkan Tuan Ferry menyetir mobil sambil mengikuti ambulan.


"Qisya bangun sayang, jangan tinggalin ayah" Brian menangis sesegukkan sambil menggenggam tangan mungil Qisya dan menatap tubuh Qisya yang biasanya sangat aktif, kini menjadi terbaring sangat lemah.


"Mas Brian, sabar ya. Hana yakin Qisya anak yang kuat, kita harus lebih kuat agar Qisya selalu mendapatkan kekuatan dari kita. Jika kita lemah seperti ini, Qisya akan semakin lemah hiks.."


Hana mencoba menasehati Brian agar bisa lebih kuat untuk menghadapi cobaan dengan keadaan air mata yang sudah membanjiri pipinya.


Brian menatap Hana dan kemudian langsung memeluk Hana dengan sangat erat sambil menumpahkan segala kesedihannya serta penyesalannya.


"Hiks.. Ha-hana, coba saja aku tidak menolak perjodohan kita. Mu-mungkin Qisya ti-" Brian berhenti mengucapkan saat kedua tangan halus Hana menyentuh wajah Brian dan mengangkatnya ke depan muka Hana.


"Mas, ini salah kita berdua yang sudah terlalu egois. Dan ini bukan hanya salah dirimu saja hiks.. i-ini juga salah Hana mas, Hana tahu Qisya sangat membutuhkan kasih sayang seorang Bunda ta-tapi kenapa Hana terlalu egois mas hiks.." ucap Hana sambil menangis dengan wajah sembabnya.


Brian yang menatap Hana dengan air mata yang terus membanjiri muka cantiknya, kini langsung memeluk Hana dan mencoba menenangkan Hana.


Brian tidak menyangka bahwa Hana bisa sampai seperti ini, padahal mereka tidak saling kenal dan dekat hanya dengan hitungan hari malah membuat mereka seperti mempunyai ikatan batin yang kuat.


"Stt.. tenanglah, aku yakin putri kecilku dia adalah gadis kecil yang sangat kuat" Brian menaup wajah cantik Hana dan tanpa sengaja mencium kening Hana di depan Qisya yang masih terbaring lemah.


Hana yang kini hanya terfokus dengan keadaan Qisya membuat dirinya tidak sadar bahkan dari tadi mereka sudah melebihi batas wajar seorang laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya.


Brian merangkul Hana sambil menggengam tangan Qisya dengan perasaan yang sudah hancur, sedangkan Hana hanya bisa menyender di bahu Brian dengan menatap lurus kearah Qisya.


*


*


*


*


Jakarta Hospital


Mereka membutuhkan waktu hampir sejam untuk melakukan perjalanan menuju rumah sakit besar di Jakarta.


Bahkan keadan Qisya saat ini masih stabil, sampai akhirnya ambulan pun berhenti.


Brian dan Hana turun lebih dulu kemudian, para petugas mengeluarkan Qisya dan membawanya pindah ke tempat bangkat rumah sakit.


Bahkan keluarga Brian serta Hana pun sudah sampai, mereka semua berlarian menuju ruang operasi.


Sang dokter dan para suster lainnya sudah memasuki ruangan dan menutupnya dengan sangat kencang.


Brakk..

__ADS_1


"Umi.., Qisya,mi hikss.." Hana berlari kepelukan Uminya dan menangis sejadi-jadinya.


"Hiks.., sabar, Ndok. Ini cobaan untuk kita hadapi dengan ikhlas, insyaallah Qisya akan baik-baik saja" Umi memeluk Hana sambil berusaha untuk menenangkannya dan di bantu oleh Abah yang mengelus kepala Hana.


Brian yang sudah tidak kuat lagi langsung memeluk mamahnya dengan sangat erat dan menumpahkan rasa penyesalannya.


"Hiks.. ma-maaf mah, karena keegoisan Brian. Qisya bisa sampai seperti ini hiks.., Brian ayah yang bod*oh mah, Brian tidak bisa membahagiakan Qisya hiks.."


Brian menangis dengan sangat kejer, membuat kedua orang tuanya merasa sangat kasihan.


Mereka bisa merasakan betapa rapuhnya Brian saat ini, padahal jelas-jelas Qisya saja bukan anak kandungnya tetapi Brian begitu sangat menyangi Qisya meskipun terkadang caranya salah.


"Hiks.. sabar sayang, kita doakan saja semoga Qisya baik-baik saja, mamah tau Qisya adalah anak yang kuat kok"


Nyonya Syifa memeluk anaknya dengan sangat erat sesekali Tuan Ferry mengelus punggung Brian dengan mentransfer kekuatan untuk Brian.


*


*


*


*


Hampir 2 jam kurang Qisya berada di ruangan operasi.


Tak lama kemudian sang dokter keluar dari ruangan dengan keadaan yang sangat cemas.


Mereka semua berjalan dengan sangat cepat untuk mendekati sang dokter.


"Bagaiman keadaaan anak saya, dok?" ucap Brian yang penuh dengan dengan wajah penasaran.


"Maaf Tuan, Nyonya. Saya ingin mengabarkan bahwa nona Qisya mengalami keadaa keritis dan kami harus segera mengumpulkan 3 kantong darah yang sedikit langka" ucap sang dokter dengan wajah yang sangat serius.


"Golongan darah langka? Berapa lagi yang harus saya siapkan dok? Dan golongan darah apa yang hurus saya cari?" ucap Brian degan nada tegasnya.


"Golongan darah Nona Qisya adalah AB-, rumah sakit hanya tersisa 2 kantong saja. Dan kami sangat membutuhkan 3 kantong" ucap sang Dokter dengan wajah serius.


"Ambil darahku dok, aku mempunyai darah yang sama oleh Qisya. Bahkan untuk menggantikan nyawanya pun saya siap" jawab Hana dengan lantang dan mendapati tatapan dari semua orang.


"Baiklah, Nyonya. Mari ikut kami ke dalam untuk segera kami periksa agar bisa lebih cepat menangani Nona Qisya di dalam" ucap sang dokter sambil membuka pintunya dan Hana dengan secepat kilat masuk ke dalam sambil mengikuti arah sang suster di dalam.


Sang suster mencoba untuk mengetes semua tensi darah dan sebagainya untuk memastikan keadaan Hana benar-benar masuk dalam keteria pendonor yang sehat.


Sampai akhirnya Hana terbaring di samping Qisya sambil menatap wajah cantik Qisya yang sudah di penuhi oleh alat-alat medis.


Tubuh kecil mungil yang biasanya terlihat sangat lucu dengan suara cempreng dan bawelnya kini hanya terbaring lemas tak berdaya tanpa bisa mengeluarkan suaranya.


Qisya terlihat sangat adem dan nyaman dengan tidurnya yang begitu panjang, sampai akhirnya Hana telah selesai mendonorkan darahnya.

__ADS_1


Sang dokter serta para suster mencoba untuk membuat Hana mengerti agar segera keluar dari ruangan, supaya mereka bisa melanjutkan pekerjaannya.


Hana yang mulai mengerti, langsung meminta 1 permintaan untuk bisa menemui Qisya dan memeluknya lebih dekat.


Sang dokter yang melihat kesedihan di wajah Hana membuat dia merasa iba, kemudian memperbolehkan Hana untuk mendekati Qisya hanya 2 menit saja.


"Hiks.. Qisya sayang please bangun ya, bunda di sini sayang. Qisya harus bisa jadi anak yang kuat ya, bunda sayang banget sama Qisya. Bunda mau kok jadi bundanya Qisya, makannya Qisya cepetan bangun ya hiks.."


Hana mencium kening Qisya dengan berulang kali layaknya seorang ibu yang sangat mengkhawatirkan kondisi anaknya.


Sampai akhirnya waktu 2 menit pun sudah habis, mau tidak mau Hana harus keluar dari ruang operasi dan langsung memeluk Abahnya dengan sangat erat.


Dan seketika tubuh Hana ambuk di dalam pelukan Abah.


"Astagfirullah, Ndok. Kamu kenapa?" Abah berusaha menahan tubuh Hana agar tidak jatuh ke lantai.


"Ya Allah, Ndok. Kamu kenapa sayang?" Umi yang melihat Hana merasa sangat cemas.


Brian langsung mendekati Abah serta meminta izin lebih dulu untuk menggendong Hana agar bisa mereka bawa ke ruang rawat supaya cepat di periksa oleh dokter lainnya.


Brian menggendong Hana dengan wajah yang sangat khawatir dengan diikuti oleh kedua orang tua Hana di belakangnya.


Sedangan kedua orang tuan Brian harus menunggu di ruang operasi, jika ada kabar selanjutnya dari sang dokter mereka bisa tahu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai para leaders 🤗


Perkenalkan ini adalah karya novel ke-2 aku loh 🤩


Semoga kalian menyukainya ya 🤝


Dukung othor terus dengan cara berikut :


Like 👍


Komen 📨


Favorite ❤️


Rate 🌟


Dan tidak lupa selipkan hadiahnya ya 😍🙏


Bunga, kopi atau sebagainya pun tak apa kok, malah lebih bagus lagi pundi-pundi receh yang berterbangan di karyaku ini hihi 😆😜


Terimakasih 🙏🙏


Papay 🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2