
Alex baru saja keluar dari kamarnya berpapasan dengan Manda dan juga Pinjai, membuat mereka segera menuju kamar Joko. Dimana disela-sela mereka berjalan Pinjai malah berbisik bahwasanya akan ada kabar gembira yang sebentar lagi tiba.
Tokk... Tokk.. Tokk..
Pinjai mengambil alih nampan yang ada di tangan istrinya, lalu Manda mengetuk pintu secara perlahan. Tak lama Joko membukakan pintu bersamaan dengan munculnya kondisi Chika yang sudah tiduran di atas kasur.
Joko segera mengambil alih nampan dari tangan Pinjai dan berterima kasih pada Manda yang sudah membantunya.
Mereka masuk sambil berdiri, dimana Joko mempersilakan Manda untuk duduk di samping Chika.
"Kak, makan dulu ya sedikit saja beberapa suap gapapa. Setidaknya perut Kakak tidak kosong, nanti habis Kakak makan. Kakak coba alat ini ya, mudah-mudahan hasilnya tidak mengecewakan"
Manda berbicara lembut sambil memegang tangan Chika, lalu memberikan 1 alat yang sangat akurat yaitu test peck.
Chika melihat benda itu matanya membola besar, dia tidak percaya bahwa Manda bisa memberikan alat itu padanya.
Joko yang melihat itu melongo tak percaya, sedangkan Alex dan Pinjai mereka menepuk-nepuk punggung Pinjai perlahan sambil memberikan semangat kemungkinan besar sebentar lagi Joko akan menjadi seorang Ayah.
"Ma-manda, i-ini?" gumam Chika sedikit gemetar.
"Ya, Kak. Pilingku kuat kalau Kakak sudah mengandung, jadi apa salahnya Kakak coba tes. Jika hasilnya positif kita bisa memanggil dokter kandungan langsung ke rumah"
"Kalau kita asal memanggil dokter umum itu percuma saja, makannya aku melarang Kak Joko. Biar Kak Chika melakukan tes ini dulu, baru kita bisa menganalisis"
Penjelasan Manda membuat mata Joko dan juga Chika mulai berkaca-kaca, kemudian Chika memeluk Manda. Isak tangis sedikit terdengar dari Chika.
Chika tidak menyangka kalau Manda bisa berpikir sejauh itu, tetapi Chika juga tidak berharap lebih karena dia tidak mau merasa kecewa dengan hasilnya nanti.
__ADS_1
"Sekarang, Kakak makan dulu ya. Mau aku yang suapin atau Kak Joko?" ucap Manda, Joko yang mendengar itu langsung menawarkan diri agar dia saja yang mengurus istrinya.
Joko memeluk Chika sekilas dan mencium kening hingga tangannya. Kemudian dengan telaten dan perlahan Joko menyuapin Chika sedikit demi sedikit.
Setelah selesai makan, ya walaupun hanya 10 suapan tetapi mereka senang setidaknya perut Chika tidak sampai kosong. Lalu Chika meminta Manda untuk menemaninya di kamar mandi, apa lagi kondisi Chika sangatlah lemas.
Susah payah Manda menuntun Chika ke dalam kamar, setelah itu Manda meninggalkannya dan menunggu tepat di kamar mandi. hampir 5 menit akhirnya Chika keluar, membuat Joko segera membantu istrinya.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Pinjai.
Chika menggelengkan kepalanya, raut wajah sedih terlalng jelas di wajah Chika. Namun, Joko dia sebagai suami hanya bisa menenangkan istrinya agar tidak merasa kecewa dengan hasilnya.
Cuman Manda tidak percaya, sehingga dia mengambil alih benda kecil itu dan menatapnya untuk beberapa menit ke depan.
"Sudahlah, Man. Jangan berharap lebih, alat itu sudah membuktikan bahwa aku-..."
"Hamil? Yes!!! Hahah.. Kak, lihat ini hasilnya garis 2 loh. Itu artinya Kak Chika beneran hamil"
Joko segera memeluk Chika serta mengucapkan terima kasih karena dia sudah memberikan kejutan luar biasa baginya.
Chika hanya bisa menangis bahagia akhirnya dia bisa mewujudkan impian mereka agar bisa menjadi keluarga yang lengkap.
"Wahh.. Selamat ya Kak, kalian sudah menjadi orang tua. Sekarang tinggal si bontot tuh, dia masih berjuang hihi.."
Manda meledek Alex yang seketika wajahnya mulai memerah, tetapi Pinjai selalu mengingatkan Alex untuk tetap semangat karena sebentar lagi dia pasti akan merasakan apa yang mereka rasakan.
"Selamat Kak, kalian sudah menjadi orang tua. Doakan aku supaya bisa menyusul kalian, tapi.."
__ADS_1
Alex berjalan duduk di sofa kamar Joko, terlihat bahwa wajahnya sedikit kusut. Pinjai langsung duduk di samping Pinjai, sedangkan Manda duduk bersama Chika.
Joko langsung berjalan mendekati Alex sambil merangkulnya dan bertanya. "Ada apa? Semenjak kamu pulang dari New York, terlihat banyak pikiran"
"Ya aku perhatikan juga seperti itu, kalau ada apa-apa cerita jangan di pendem sendirian. Kami akan bantu, apa lagi kami sudah menganggap Sasya sebagai adik kami sendiri" sahut Pinjai.
Alex menarik nafas panjang, kemudian dia langsung menceritakan semuanya yang sudah terjadi beberapa hari lalu di New York. Dimana Ayah Brian dan Lukas memberikan persyaratan cukup berat.
Semuanya menyimak kisah yang sedang Alex ceritakan, bahkan mereka semua terdiam memikirkan bagaimana caranya untuk mewujudkan semuanya agar pernikahan Alex dan Sasya bisa terlaksana.
"Gimana kalau kamu kembali minta ke Kyai supaya mengajarkanmu untuk melakukan ijab kabul menggunakan bahasa Arab, lagi pula kita semua juga masih tahap belajar kok hehe.."
"Kadang seminggu atau pun 2 minggu sekali kita ke sana kembali belajar, apa lagi enggak mudah bagi kita sebagai mualaf"
"Dan kalau masalah perayaan nanti kita bisa kumpulin semuanya kita jual atau kita bisa pinjam ke bank, bagaimana?"
Manda berbicara sambil menatap semuanya secara bergantian, sedangkan Alex dia terdiam. Dia tidak tahu harus bagaimana lagi. Namun, apa yang dikatakan Manda memang ada benarnya.
Alex harus kembali ke pesantren agar bisa belajar kembali, untuk masalah perayaan mewah Alex tidak mau menjual ataupun meminjam dari Bank karena Alex yakin dia bisa mendapatkan semua itu.
"Tidak, Kak. Untuk masalah perayaan mewah atau apa pun itu aku akan mencarinya sendiri, besok aku akan terjun ke perusahaan perlahan. Aku mohon kalian doakan aku biar aku bisa mendapatkan kontrak besar" ucap Alex.
Aamiin...
Semua serentak mendiakan Alex, lalu Alex dan yang lain kembali keluar dari kamar Joko agar membiarkan mereka bersenang-senang lebih dulu lantaran mereka baru saja mendapatkan kabar bahagia.
Namun, dibalik semua itu mereka sedikit berfikir bagaimana caranya mereka bisa menolong Alex supaya bisa segera mewujudkan semua impiannya.
__ADS_1
Sedangkan Alex kembali ke kamarnya dengan wajah sedikit murung, ketika Alex baru menutup pintu ponselnya berdering. Alex melihat notif tersebut lalu mengangkatnya secara cepat.
Rasa sedih, murung dan juga setres seketika hilang saat Sasya menghubunginya. Wajah cantik, senyum manis dan juga kebawelannya berhasil mengalihkan pikiran Alex. Mereka tertawa sesekali saling mengingatkan sambil memberi semangat satu sama lain.