
Tak lama masuklah seorang dokter yang biasa mengontrol ke adaan Qisya bersama sang suster dengan keadan terburu-buru.
Sang suster langsung mempersilakkan Brian dan Hana untuk meninggalkan ruangan Qisya, supaya sang dokter bisa lebih leluasa dan fokus untuk mengecek ke adaan Qisya.
Brian dan Hana hanya bisa menuruti perkataan sang suster agar Qisya segera di tangani oleh sang dokter.
Brian mencoba untuk tetap tegar dan langsung memeluk Hana dengan keadaan nangis kejar.
Brian harus bisa menjadi laki-laki yang kuat. Untuk Hana dan Qisya, meski pun hatinya sendiri lebih hancur dari Hana.
*
*
*
*
Hampir setengah jam Brian dan Hana menunggu di depan ruangan Qisya, tetapi belum ada tanda-tanda dari sang dokter atau pun sang suster.
Bahkan saking cemasnya, Brian sampai melupakan untuk mengasih kabar kepada kedua orang tuanya tentang keadaan Qisya saat ini.
Hana selalu memanjatkan doa-doa di dalam hatinya sambil duduk dengan keadaan tangan diangkat seraya orang berdoa.
Sedangkan Brian hanya bisa mondar-mandir ke sana ke sini untuk menetralkan rasa cemasnya.
Ceklek...
Sang dokter keluar bersamaan dengan sang suster yang sedang menutup kembali pintu ruangan Qisya.
Hana dan Brian langsung mendekati sang dokter dengan keadaan tergesah-gesah.
"Apa anak saya baik-baik saja, Dok?" tanya Brian dengan keadaan cemas.
"Qisya tidak apa-apa kan, Dok? Dia anak yang kuat dok, apa jangan-jangan Qisya sudah bangun ya, Dok?" Hana bertanya secara beruntun kepada sang dokter.
"Ma-maaf Tuan, Nona Qisya sudah tidak ada" jawab sang dokter dengan wajah sedihnya.
Duaarrr..
Bagai tertusuk ribuan jarum, Brian dan Hana memegang dadanya karena merasakan sangat sakit serta sesak.
__ADS_1
"Ti-tidak mungkin, Dok!! Qisya anak saya yang kuat, tidak mungkin dia meninggalkan ayahnya" teriak Brian dengan air mata yang sudah mengalir.
"Hiks.. dokter bohongkan, pasti Qisya selamat. Aku ini akan menjadi bundanya Qisya dok" teriak Hana sambil terisak merasakan sakit di dadanya.
"Sekali lagi maaf Tuan, Nyonya. Kami sudah berusaha untuk menyelamatkan Nona Qisya, tapi Tuhan berkata lain. Dan ia sudah mengambil kembali anak kalian ke dalam pangkuannya" ucap sang dokter dengan nada tegas serta wajah sendunya.
"Qisyaa..." teriak Brian sambil terjatuh duduk di lantai dengan keadaan menjambak rambutnya secara frustasi.
"Hiks.. tidak mungkin, Qisya bunda di sini sayang!! Kamu tidak boleh meninggalkan bunda" Hana berteriak sambil berlari memasuki ruangan Qisya dengan keadaan menangis.
Sedetik kemudian, Brian berdiri dan berlari memasuki ruangan Qisya menyusul Hana yang diikuti oleh sang dokter serta sang suster.
Hana memeluk Qisya dengan sangat erat dari sebelah kiri untuk menumpahkan semua perasaan sedih dan menyesalnya.
Sedangan Brian yang baru saja datang langsung memeluk Hana serta Qisya dari sebelah kanan dengan menumpahkan rasa penyesalan terdalam.
Sang dokter dan sang suster yang melihat adegan dramatis di depannya pun ikut mengeluarkan air mata merasakan kesedihan kedua orang tua yang sudah kehilangan anaknya yang masih kecil.
Brian dan Hana menyudahi pelukannya yang langsung menatap wajah Qisya serta mengelus kepala Qisya secara bebarengan.
"Hiks.. Qisya sayang, ini bunda sayang. Bunda Hana nya Qisya, ayo Qisya bangun ya.. kan bentar lagi Qisya akan memiliki keluarga yang lengkap. Bunda dan ayah akan menikah sesuai dengan ke inginan Qisya hiks.." Hana menangis dengan keadaan air mata yang mengalir sangat deras.
"Hiks.. Qisya anak ayah yang kuat tidak boleh meninggalkan ayah, ayah tahu ayah egois sama Qisya, tidak mau dengerin permintaan Qisya. Tapi sekarang ayah udah sadar, dan Ayah sama bunda mau melangsungkan pernikahan untuk membuat Qisya bahagia. Please sayang bangun, hiks.." ucap Brian dengan perasaan yang sudah sangat hancur.
"Ayah janji jika Qisya bangun, ayah dan bunda langsung menikah di depan Qisya serta ayah janji akan membuat Qisya bahagia sehingga Qisya bisa merasakan kelurga yang sangat lengkap. Sama seperti anak-anak kecil yang pernah Qisya lihat hiks.." ucap Brian sambil mencium kening Qisya.
"Maaf Tuan, Nyonya. Nona Qisya sudah tidak ada, jadi kalian harus belajar mengikhlasannya agar Nonya Qisya bisa pergi dengan sangat tenang. Jika kalian seperti ini kasihan Nona Qisya akan berat untuk meninggalkan kalian" saut sang dokter dengan memberanikan dirinya.
"Stop!!! Jangan ikut campur dengan keluargaku, dan ingat baik-baik!! aku yakin anakku akan kembali, karena dia tidak mungkin meninggalkan ayahnya dan bunda barunya" bentak Brian sambil menatap tajam sang dokter dengan mata memerah bercampur dengan air mata yang mengalir.
Sang dokter kembali terdiam saat mendengar bentakkan dari Brian yang ia rasa sudah mulai terbawa emosi dengan keadaan mental.yang sedikit terganggu.
"Sayang bangun ya, demi bunda. Qisya sayang kan sama bunda Hana? Jika Qisya mau memiliki keluarga yang utuh makannya Qisya harus bangun hiks.." ucap Hana dengan hati yang bergetar.
"Qisya anak ayah yang cantik, udah ya bercandanya. Tidak lucu loh, ayo bangun sayang.. jangan bikin ayah sedih seperti ini hiks.. Qisya mau harga diri ayah jatuh sebagai pria dingin hiks.." ucap Brian yang sudah mulai frustasi
Brian sama Hana saat ini benar-benar sangat frustasi, mereka kira sebentar lagi Qisya akan tersadar dari tidur panjangnya selama 3 bulan ini, tetapi mereka salah.
Bahkan perasaan yang tidak enak itu, mereka pikir hanyalah masalah kelelahan karena terlalu memporsil tenaga mereka untuk menjaga Qisya 24 jam. Tapi nyatanya kini malah benar-benar terjadi.
Mereka berdua tidak pernah berpikiran tentang kematian, mereka cuman berpikir Qisya sembuh.
__ADS_1
Setiap hari Brian dan Hana melakukan shalat 5 waktu dengan memohon kesembuhan untuk Qisya, sampai-sampai Brian mau belajar untuk mengaji serta menekuni shalatnya untuk menjadi imam serta ayah yang baik buat mereka.
Brian lakukan semuanya dengan bantuan Hana hanya demi Qisya.
Brian kembali merasakan betapa hancurnya hatinya saat merasakan kehilangan yang sangat ia cintai untuk kedua kalinya, yang membuat luka lamanya kembali terbuka.
Sedangkan Hana yang baru saja dekat dengan Qisya, bahkan ingin berkorban demi kebahagiaan Qisya dengan menurunkan keegoisan mereka semua demi Qisya, kini merasa sangat hancur.
Bahkan ini yang pertama kalinya Hana merasakan perasaan seperti seseorang yang kehilangan harapan terbesarnya.
Qisya adalah anak kecil yang baru saja Hana kenal karena Brian yang waktu itu hampir menabraknya serta sempat Hana merawat Brian.
Membuat Hana merasaan ikatan batin yang sangat kuat kepada Qisya, padahal mereka tidak ada ikatan darah sekalipun. Tetapi mereka bisa merasakan perasaan yang sangat kental.
Brian dan Hana kali ini benar-benar sangat menyesal.
Jika saja waktu bisa di putar kembali, mereka akan langsung menerima perjodohan itu tanpa harus menonjolkan keegoisan masing-masing.
Sedangkan sang dokter dan suster cuman bisa berdiam diri melihat Hana serta Brian yang menangis tanpa henti dengan sesekali mencium bahkan memeluk Qisya secara bergantian.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai para leaders 🤗
Perkenalkan ini adalah karya novel ke-2 aku loh 🤩
Semoga kalian menyukainya ya 🤝
Dukung othor terus dengan cara berikut :
Like 👍
Komen 📨
Favorite ❤️
Rate 🌟
Dan tidak lupa selipkan hadiahnya ya 😍🙏
Bunga, kopi atau sebagainya pun tak apa kok, malah lebih bagus lagi pundi-pundi receh yang berterbangan di karyaku ini hihi 😆😜
__ADS_1
Terimakasih 🙏🙏
Papay 🤗🤗