
Semua orang yang ada di sana masih syok terkejut mendengar Alex meminta izin untuk melamar Sasya, sedangkan Sasya dia tidak tahu karena tadi dia dan Jay pergi ke kamar untuk meminjam baju serta celana Jay.
Tetapi tidak mungkin, postur tubuh Jay dan Alex sangatlah jauh sehingga Mommy Nisha pun ikut bersama mereka untuk meminjamkan pakaian Daddy Ken.
Alex melihat semuanya terdiam semakin membuat detak jantungnya berpacu begitu cepat, sampai seketika Sasya kembali dalam keadaan tergesa-gesa lalu memberikan pakaian pada Alex yang diikuti oleh Mommy Nisha dan juga Jay.
Kedatangan Sasya langsung membuyarkan lamunan mereka sambil berkata. "Ya ampun, ayo cepat ganti bajumu pakai ini!"
"Tuan, maaf. Aku pinjam ya nanti akan aku kembalikan sama yang baru" sambyng Sasya menatap Daddy Ken antusias.
"Sudah tidak apa, pakailah baju itu agar dia tidak masuk angin dan jangan panggil aku Tuan. Panggil Daddy saja karena kita semua keluarga" ucap Daddy Ken sedikit tersenyum.
Mommy Nisha yang melihat sikap Daddy Ken begitu lembut berhasil menyentuh hatinya. Kali ini Daddy Ken benar-benar sudah berubah menjadi lebih baik, dimana Key dan Jay pun saling menatap satu sama lain penuh senyuman.
"Terima kasih Tu- eh.. Da-daddy. Ya sudah ayo cepat ganti, atau mau aku suruh Lukas yang menggantikannya?" ucap Sasya spontan.
"Yaaaaakk.. Kakak!! A-apa apaan sih, aku enggak mau! Dikata dia anak bocah kali!" pekik Lukas sangat kesal.
"Ba-baiklah, a-aku permisi lebih dulu. Di-dimana kamar mandinya?" tanya Alex yang sudah menerima pakaian tersebut, kemudian berdiri penuh kegugupan.
"Ayo aku antar, Kak" ajak Jay. Alex pun mengangguk perlahan sedikit tersenyum dan dia langsung berjalan mengikuti kemana perginya Jay.
Mommy Nisha duduk sambil menatap semuanya yang masih tegang terutama Ayah Brian, lalu dia menanyakannya menggunakan suara sedikit kecil. "Ken, ada apa? Kenapa wajah mereka tegang begitu, belum lagi Daddy Iram sama Tuan Brian terlihat sangat syok"
"Oh itu, mereka terkejut saat Sasya mau dilamar oleh-..."
Uhukkk.. Uhukk..
Sasya tersedak saat dia baru saja meminum air yang berada di dalam gelas sambil duduk di dekat Lukas, Lily dan juga Key.
"Astaga, Kakak! Makannya pelan-pelan kalau minum" ujar Lily sambil mengelus punggung Sasya.
"Kamu gapapa, Kak?" tanya Bunda Hana, tersadar.
Sasya menggeleng cepat, segera mencecar mereka semua penuh kekesalan. "Bun, Yah.. Ada apa ini? Ke-kenapa Daddy Ken bilang kalau Sasya dilamar, si-siapa yang lamar Sasya?"
__ADS_1
"Ja-jangan jangan ka-kalian menjodohkan Sasya sama seorang rentenir? Mafia? Tukang tanah? Atau-..." ucapan Sasya berhenti setelah Lukas memotongnya.
"Lebih tepatnya mantan seorang Mafia!" jelas Lukas, spontan. Sasya melototkan matanya refleks berdiri menatap kedua orang tuanya.
"APA!! Sejak kapan Bunda sama Ayah menjodoh-jodohkan Sasya seperti itu, apa kalian tidak tahu Sasya dan Alex sedang berjuang untuk mendapatkan restu Ayah dan juga Lukas. Tapi kenapa Bunda tega sama Sasya, kenapa Bun kenapa!! Hiks.."
"Bunda tahu kalau Sasya sangat mencintai Alex, sekian lama Sasya nunggu dia tapi kalian seenaknya menjodohkan Sasya hiks.."
"A-apa kalian tidak melihat betapa tulusnya Alex sama Sasya? Ya, Sasya tahu Alex punya masa lalu yang buruk tapi sekarang dia sedang berjuang untuk menjadi imam yang baik buat Sasya seperti apa yang Ayah mau, tap-..."
Ucapan Sasya terpotong, ketika Bunda Hana mencoba mendekati Sasya berniat untuk memeluknya cuman Sasya selalu saja menolak keras.
Sehingga pada akhirnya Bunda Hana berhasil memeluk Sasya dalam keadaan berdiri, tangis Sasya pecah di dalam dekatan Bundanya.
"Sayang, dengerin Bunda dulu ya.. Kamj itu salah pa-.."
"Hiks.. Bu-bunda sama A-ayah jahat hiks.. Sasya enggak mau dijodohin Bun, e-enggak mau hiks.." Sasya menangis meraung-raung di dalam pelukan Bunda Hana.
Bahkan Ayah Brian yang melihat Sasya sebegitu cintanya membuat hatinya terketuk, sama halnya seperti Lukas.
Rasa bersalah mulai menyelimuti hati mereka, karena memang merekalah orang yang selama ini menahan Sasya agar tidak sampai menjalani hubungan bersama Alex. Orang yang pada waktu itu telah menghancurkan keluarganya dan juga masa keci Sasya.
Nenek Mona dan Kakek Iram saling menatap satu sama lain, mereka pun sedikit bingung tetapi mereka juga senang saat tahu kalau Sasya dan Alex saling mencintai satu sama lain.
Ya, mereka memang tidak tahu sepenuhnya tentang keluarga Ayah Brian. Cuman mereka bisa melihat bahwa Ayah Brian sedikit terlihat keberatan.
Bahkan posisinya sekarang pun Ayah Brian menunduk sambil kedua tangannya memegang palanya, menandakan bahwa dia benar-benar bimbang dan juga gelisah. Enggak tahu harus bagaimana, perasaan bingung berhasil membuat Ayah Brian dilema berat.
Tangisan Sasya tidak berhasil berhenti di dalam pelukan Bunda Hana, mau tidak mau Ayah Brian mengesampingkan egonya dan segera bangkit berjalan mengambil alih Sasya ke dalam pelukannya.
"Sstt.. Sayang, heii.. Dengan Ayah!" titah Brian sambil memeluk Sasya. Tak lama dari situ Alex datang setelah selesai berganti pakaiannya.
Terlihat dari wajah Alex kalau dia sangat bingung melihat Sasya menangis seperti itu, rasanya ingin sekali Alex memeluk Sasya.
Cuman Alex mengurungkan niatnya, meskipun tangannya sudah sangat gatal. Apa lagi hatinya sedikit teriris menatap orang yang dicinta menangis dalam keadaan menyedihkan.
__ADS_1
"A-ada apa ini?" tanya Alex, kebingungan.
"Itu Kakak salah mengartikan perjodohan, padahal Kakak mau dilamar oleh Kak A-...." ucapan Lily terputus saat Alex terlihat terkejut, membolakan matanya.
"APA!! Ja-jadi Sa-sasya su-sudah dilamar? De-dengan siapa? Ke-kenapa kamu tidak bi-bilang apa-apa sama aku, Sya.. Ke-kenapa!!" ujar Alex matanya sudah mulai berkaca-kaca.
Kali ini bukan hanya Sasya yang salah paham, melainkan Alex pun sama. Sehingga suasana di sana semakin bertambah kacau.
"Huhhh.. Ternyata mereka memang beneran cocok ya, sama-sama tukang potong ucapan! Jadi begini kan, mewek semuanya" gumam Lily, matanya menatap ke arah Alex dan Sasya.
"Memangnya ini ada apaan sih, memang bener Kak Sasya udah dilamar pria lain? Lah terus gimana dengan nasib Kak Alex?" tanya Jay menatap Lily, Lukas dan Key secara bergantian.
"Mareka hanya salah paham" jawab Key spontan, cuek.
"Kalau mereka salah paham, terus yang ngelamar Kak Sasya siapa?" tanya Jay kembali.
"Ya pria yang lagi mewek bersama Kakakku! Udah tahu dia yang ngelamar, malah dia pula yang lupa. Dasar aneh!" sahut Lukas.
Jay mendengar itu hanya bisa mengangguk-anggukan kepalanya, sekarang dia mengerti. Cuman yang enggak habis pikir kenapa mereka yang usianya jauh lebih matang dari dirinya bisa bersikap seperti dirinya yang selalu saja salah paham.
Sedangkan Alex, dia terus mengoceh panjang kali lebar tentang perjuangan cintanya kepada Sasya. Beberapa kali Alex memohon dan meminta agar tidak menjodohkan Alex dengan pria lain selain dirinya.
Kakek Iram dan yang lainnya hanya bisa menyimak drama sepasang pemuda-pemudi yang sangat mencintai, hanya saja cintanya terhalang oleh Ayah dan juga Adik dari pihak wanita.
Ayah Brian yang sudah sangat pusing langsung melepas pelukannya, lalu meraup wajah putri kecilnya yang sudah mulai sembab dan juga sesegukkan.
"Sasya! Lihat mata Ayah, lihat! Ayah bilang stop menangis, kamu itu hanya salah paham" ucap Ayah Brian menatap Sasya. Namun, Sasya terus menangis memnggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sasya.. Apa yang di katakan Ayahmu itu benar, tadi aku belum menyelesaikan ucapanku. Cuman kamu sudah memotongnya, sehingga terjadilah kesalah pahaman seperti ini" ujar Daddy Ken membuat Sasya sedikit meliriknya.
Sasya dan Alex langsung terdiam sesegukan, Kakek Iram tidak percaya mantan seorang Mafia seperti Alex bisa menangis hanya karena seorang wanita? Benar-benar persis seperti dirinya.
Ternyata dibalik sifat Alex yang kejam, dia memiliki hati yang lemah ketika orang-orang yang di cintainya akan pergi meninggalkannya.
Kakek Iram dan Nenek Mona serta yang lainnya juga terkejut saat mendengar penjelasan Alex tadi, kalau dia sudah berjuang selama itu hanya untuk mendapatkan sebuah restu.
__ADS_1
Dari sini mereka sedikit paham, apa yang terlah terjadi di dalam keluarga Ayah Brian. Kakek Iram pun menjadi teringat tentang kisah yang pernah Lukas ceritakan pada waktu itu.