Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
Sukarelawan Kampus


__ADS_3

“Aku tidak minta untuk di lahirkan, aku tidak minta hidup kaya dan aku tidak minta Daddy seperti dia. Tapi kenapa Tuhan malah memberiku kehidupan yang sangat menyakitkan hiks... Apa harus aku seperti Mommy Ica? Mungkin dengan cara itu bisa membuat Daddy merasa bahagia karena aku telah tiada hiks...”


Key mengeluarkan semua rasa sakitnya yang membuat Mommy Nisha semakin erat memeluknya.


“Hiks... No baby no, kamu tidak boleh berbicara seperti itu. Kamu harus bisa membuktikan pada Daddymu jika kamu wanita yang kuat, wanita yang tangguh dan juga wanita yang mandiri hiks... Buktikan padanya, jika anak dari rahim pela*cur bisa memiliki kehidupan yang jauh lebih baik darinya”


“Biarkan dia berkata sesuka hatinya apa pun itu, tetapi ingat Mommy Ica tidak akan bahagia jika melihat anaknya seperti ini. Mommy Ica mungkin sedang menyesal di atas sana saat melihat anaknya di perlakukan seperti ini dengan Daddynya sendiri. Mungkin jika waktu bisa di putar kembali, Mommy Ica akan merawatmu lebih baik dari ini dan tidak akan membiarkan dirimu menderita seperti ini"


"Tetapi sayangnya Mommy Ica mengira jika kamu berada di tangan Daddymu maka kehidupanmu akan jauh lebih bahagia dari pada bersamanya, namun pada kenyataannya dia salah. Tapi Mommy Nisha janji, Mommy akan selalu menyayangimu dan memperlakukanmu seperti anak Mommy sendiri"


"Key dan Jae adalah anak Mommy yang paling Mommy sayangi, jadi tolong jangan berpikir seperti itu ya baby... Biarkan Daddymu mau ngapain, yang terpenting Mommy tetap akan selalu ada untuk Key dan juga Jae”


Mommy Nisha memberikan nasihat pada Key agar ia tidak sampai mempunyai pikiran yang buruk pada kehidupannya serta ia tidak mau Key mengalami hal yang sama seperti Mommynya kandungnya sendiri.


“Thank you Mom... Mommy sudah sangat baik pada Key, Key sayang Mommy Nisha selamanya. Key janji, Key akan menjaga Mommy sampai kapan pun itu” ucap Key sambil memeluk Mommy Nisha.


Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, kini Key sudah merasa sedikit tenang dan juga tersenyum. Kemudian mereka pergi ke kamarnya masing-masing untuk beristirahat. Begitu pula dengan Jae, ia sudah tertidur pulas akibat kelelahan saat bermain PS yang hasilnya ia selalu saja kalah dan membuatnya kesal lalu ia memilih untuk tidur.


Sedangkan di kamar Daddy Ken dan Mommy Nisha, suasananya menjadi sangat canggung. Mereka tidur saling membelakangi dengan keadaan Daddy Ken yang masih kesal dengan Mommy Nisha. Lalu Mommy Nisha yang kecewa padanya atas sikapnya yang sudah kelewat batas. Hingga tak terasa mereka tertidur dengan keadaan masih ada sisa air mata di wajah Mommy Nisha.


...*...


...*...


2 tahun telah berlalu...


Kini waktunya Sasya mendapatkan kesempatan menjadi sukarelawan kampusnya. Hanya saja, kesempatan itu tidak datang dari kota New York melainkan dari kota Los Angeles. Saat ini Brian, Hanna, Sasya, Lukas serta Lily sedang berkumpul di ruang keluarga untuk bersantai. Mereka sudah selesai makan malam bersama dengan penuh kebahagiaan.

__ADS_1


Untuk memanjakan tubuhnya, mereka bermain games atau pun mencari hiburan di layar lebar supaya bisa menghilangkan rasa lelah, penat serta suntuknya. Tetapi sayangnya, Sasya yang sudah mendapatkan berita baik itu enggan untuk memberi tahu keluarga.


Sasya takut jika mereka tidak mengizinkannya untuk berjauhan darinya, ya meskipun hanya berbeda kota cuma Sasya memang di jaga ketat oleh keluarganya supaya rasa trauma yang ia rasakan dulu tidak terjadi untuk kedua kalinya.


“Abang, ajarin Lily main PS dong. Lily juga pengen main PS biar bisa main bareng sama Jae” ujar Lily sambil merengek serta duduk di samping Lukas yang saat ini sedang duduk di lantai beralasan karpet tebal dengan bulu-bulu halus di sekelilingnya.


“Enggak” ucap Lukas dengan nada dinginnya tanpa menoleh dan tetap fokus pada layar lebar tersebut.


“Huaaaa... Bunda, Ayah lihat itu, Abang jahat banget kan. Lagian juga Lily cuma minta ajari main PS aja, biar nanti Lily bisa main bareng sama Jae” saut Lily sambil berbalik dan menunjukkan muka manjanya terhadap kedua orang tuanya yang sedang duduk di atas sofa panjang tepat di belakang mereka.


“Jae? Siapa dia?” jawab Brian dengan tatapan menyelidik.


“Jae itu temannya Lily, Ayah. Lily kan sempat cerita kalau dia mempunyai teman yang bernama Jae. Dia laki-laki yang cuek sama kaya Lukas, cuma dia lebih menyebalkan dari Lukas hihi...” ucap Hanna yang membuat Lukas langsung menoleh.


“Jangan pernah menyamakan aku dengan siapa pun, Bunda. Aku tidak suka itu, dan satu lagi... Bunda dapat dari mana pemikiran seperti itu?” saut Lukas dengan tatapan tidak suka.


“Hem... Dari siapa ya?” jawab Hanna sambil melirik-lirik ke arah Lily yang saat ini merasa salah tingkah dan juga senyum-senyum sendiri.


“Hehe... pissss, jangan marah ya kan itu kenyataannya. Abang sama Jae itu sama, tapi Abang lebih mirip dengan Kak Key sih hihi...” jawab Lily dengan mulut ceplas-ceplosnya.


“Jae? Key? Siapa mereka sebenarnya? Kenapa Ayah baru mendengar nama yang sangat asing itu?” tanya Brian.


“Ya, Bunda juga baru dengar nama Key. Siapa lagi dia, Ly? Apa dia teman sekolahmu juga?” saut Hanna dengan nada lembutnya.


Sedangkan Lukas, dia tetap cuek dan fokus pada gamesnya. Namun di sela-sela mereka berbicara, Sasya dari tadi hanya terdiam seperti lagi mencari cara bagaimana ia meminta izin agar bisa pergi ke Los Angeles untuk menjadi suka relawan dari kampusnya.


“Ohya, Lily lupa mau ngasih tahu kalau Jae sama Kak Key itu adalah kakak adik Bun hehe... Jadi Jae itu sekelas dengan Lily dan Abang Lukas sekelas sama Kak Key”

__ADS_1


"Tapi Lily enggak ke bayang deh, jika Lily ada di kelas mereka mungkin rasanya seperti ada di kutub utara yang sangat dingin hehe...”


“Soalnya mereka itu sama persis loh Bun, Yah... Nanti kapan-kapan Lily ajak mereka main ke sini deh dan juga Bunda, Ayah sama Kak Sasya bisa kenalan. Cuma jangan kaget ya jika nanti ketemu Kak Key hehe...”


Lily mengoceh dengan wajah senangnya, membuat Hanna tersenyum melihat kepintaran Lily yang semakin bertambah. Sedangkan Brian dia hanya bisa terdiam dengan hati yang selalu waswas jika anak-anaknya memiliki teman baru karena Brian tidak mau sampai anak-anaknya salah pergaulan.


Apa lagi di negara ini yang mana negara bebas, beda dengan Indonesia. Takutnya saat mereka kembali ke tanah air, sifat mereka bisa berubah menjadi kurang baik. Namun Brian tidak terlalu khawatir dengan itu semua, ia selalu percayakan anak-anaknya pada istri tercintanya untuk mengurus serta mendidik mereka supaya menjadi anak yang baik dan bisa menghargai orang yang lebih tua dari mereka.


“Dia mau mengajak mereka untuk datang ke rumah ini? Mau ngapain? Memangnya rumah ini tempat wisata apa cih...” celetuk Lukas di dalam hatinya sambil bermain games.


Sasya benar-benar terlihat sangat gelisah, bahkan ia sampai tidak ada ikut nimbrung mengoceh seperti biasanya.


“Aduh... Bagaimana aku memberi tahu mereka semua ya, pasti mereka tidak akan mengizinkannya. Apa aku harus berbohong? Tapi tidak, aku tidak boleh seperti itu aku harus berani jujur meskipun hasilnya menyakitkan. Setidaknya aku sudah mencobanya, bukan...?"


"Lagian juga sebentar lagi aku akan menjadi seorang dokter, pasti suatu saat nanti akan di tugaskan kemana-mana dan mereka harus tahu itu juga kan...?” gumam Sasya di dalam hati kecilnya saat melihat keseruan Lily dan juga kedua orang tuanya yang masih mengobrol.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hel to the Lo... Hello guys... 😆😆😆


Terima kasih atas dukungan kalian selama ini... 🤗🤗🤗


Dukungan kalian semua itu sangatlah berarti untuk Author... 🥺🥺🥺


Dan berikut adalah rekomendasi novel untuk hari ini dari Author... 😗😗😗


Silahkan baca dan tinggalkan jejak kehadiran kalian yaaa... 😁😁😁

__ADS_1


...*...



__ADS_2