Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
Balqisya Zhafira


__ADS_3

Namun saat Sasya sedang mengecek ponselnya apakah masih bisa di selamatkan atau tidak, tapi sayangnya ada seseorang yang telah mengagetkannya dan refleks membuat ponsel yang lagi Sasya coba susun kini kembali hancur di atas rerumputan hijau.


“Kenapa ponselmu bisa rusak seperti itu?” tanya seseorang dengan nada dinginnya yang membuat Sasya menoleh dan langsung segera memunguti ponselnya.


“Astagaa Tuann Alexxx... kau bikin aku jantungan tahu tidak!” geram Sasya.


Alex yang ingin menjawab pun ia urungkan kembali saat melihat ponsel Sasya yang hancur tak terbentuk. Tapi yang membuatnya heran ia seperti mengenali ponsel itu dan tidak asing untuknya. Lalu Alex segera merampas ponsel hancur itu dari tangan Sasya yang berusaha ingin menyembunyikannya, namun hasilnya malah di rampas oleh Alex.


“Yaaaaa... dasar tidak sopan! Kembalikan ponselku...” pekik Sasya dengan wajah penuh kepanikan, ia sangat takut jika Alex bisa mengetahui semuanya.


Beberapa kali Sasya mencoba untuk merebutnya dari tangan Alex, cuma semuanya selalu gagal. Alex sangat cekatan dan tidak membiarkan Sasya mengambilnya dengan mudah. Apa lagi tangan Alex sangat panjang, sehingga membuat tangan Sasya yang kecil kesusahan untuk mengambilnya.


“Po-ponsel i-ini... bu-bukannya i-ini ponsel Qi-Qisya yang pernah aku belikan waktu itu. Bahkan aku masih sangat ingat desainnya, tempat ponselnya, dan juga warnanya. Ta-tapi kenapa ponsel ini ada di tangannya? A-apa ja-jangan jangan di-dia adalah Qi-Qisya...?” ujar Alex di dalam hatinya sambil menatap manik mata Qisya dengan begitu dalam, sehingga membuat Sasya kalang kabut.


Sasya sangat takut jika Alex mungkin akan mengingatnya dan Alex akan mengetahui siapa dirinya. Jadi sebelum ketahuan, Sasya langsung berdiri dan merampas ponsel rusaknya itu dengan kasar dari tangan Alex.


“Sa-saya pe-permisi, ada pasien yang harus saya cek daahhh...” ucap Sasya yang langsung berbalik serta ingin melangkahkan kakinya.


Namun tangannya segera Alex cekal dan ia berdiri menarik tangan itu agar Sasya bisa berhadapan dengannya. Sasya gelagapan saat menatap wajah Alex yang sedang dalam mode serius.


“Apa kau adalah Balqisya Zhafira, gadis kecil yang pernah aku sakiti dan juga kecewakan di masa lalu?” ucap Alex yang masih mencekal tangan Sasya sambil terus menatapnya.


Sasya terdiam dengan detak jantung yang terus berdetak secara cepat dan membuatnya sedikit sesak. Namun Sasya tidak tahu harus menjawab apa lagi, ia malah mengalihkan tatapan matanya dari tatapan mata Alex hingga membuat Alex semakin mencurigainya.


“Qisya dan Sasya adalah 2 nama yang berbeda, namun mereka adalah orang yang sama. Hanya saya kau cuma mengambil nama panggilan dari belakangnya saja kan, Qisya menjadi Sasya? Apa benar begitu, gadis kecil?” ucap Alex dengan penekanan yang membuat tubuh Sasya mulai gemetar karena ia terkena serangan kepanikan.


Alex segera melepaskan tangan Sasya dan langsung menjauhi Sasya dengan jarak 1 meter. Alex baru ingat jika Sasya memiliki trauma dengannya, sehingga ia bisa melihat jika Sasya kembali merasakannya. Padahal yang Sasya rasakan hanyalah ia tidak tahu harus menjawab apa, bukan berarti traumanya kembali karena ia sudah benar-benar sembuh dari traumanya.


“Ma-maaf... ka-kalau a-aku kembali membuatmu merasakan kesakitan, se-sekali lagi aku minta maaf. Aku lupa kalau kau memiliki trau-...” ucap Alex terputus saat Sasya langsung menjawabnya.


“Lupakan semuanya yang telah terjadi di masa lalu, aku tidak mau mengingatnya kembali. Hidupku sudah cukup bahagia, jadi jangan berusaha untuk mengingatkanku tentang hal itu. Aku sudah berusaha keras agar bisa sembuh dari hal yang sangat menyakitkan dalam hidupku...”

__ADS_1


“Aku adalah Sasya, seorang dokter kecil yang sedang mengejar impian menjadi dokter yang hebat. Aku bukan lagi Qisya yang hanyalah gadis kecil penuh rasa trauma dan masa lalu yang sangat pahit”


Jelas Sasya yang membuat Alex terkejut mendengar semua itu, seakan-akan hatinya sangat hancur mendengar sedikit penuturan kata yang Sasya ucapkan kepadanya tentang bagaimana ia melewati masa sulitnya seorang diri.


Lagi dan lagi, rasa bersalah serta penyesalan itu kembali menghantui Alex sehingga ia langsung mendekati Sasya yang sudah terduduk di kursi taman. Lalu Alex berlutut di hadapan Sasya dengan matanya yang sudah memerah hingga berkaca-kaca.


Sasya yang melihatnya pun tak kuasa untuk menahan air matanya, entah kenapa terasa begitu menyakitkan saat melihat Alex yang ia kenal gagah, kuat, dingin, dan juga cuek kini terlihat begitu rapuh di hadapannya hanya karena ia sudah mengetahui siapa Sasya yang sebenarnya.


“Maafkan aku, Syaa... selama ini aku sudah membuatmu menderita dengan semua rasa sakit yang seharusnya tidak pernah kamu alami... setelah kejadian itu, aku benar-benar sangat menyesal dan ingin meminta maaf padamu dan semua keluargamu, Sya..."


"Namun di saat itu juga aku baru tahu jika kamu dan keluargamu sudah tidak lagi tinggal di Indonesia, tapi aku tidak pernah putus asa untuk terus mencarimu di seluruh dunia. Tetapi entah mengapa aku sedikit pun tidak pernah menemukan jejak kalian"


"Selama ini aku tidak tahu lagi harus mencari kalian kemana hiks... Selama bertahun-tahun aku hidup dengan semua rasa bersalah dan penyesalan, bahkan untuk tidur nyenyak pun aku tidak pernah merasakannya. Baru hanya bertemu denganmu aku bisa merasakan betapa nyenyaknya tertidur tanpa adanya bayang-bayang di masa lalu...”


“Aku memang sempat menaruh curiga padamu, namun aku tidak mempunyai bukti yang kuat dan aku juga percaya kalau kamu tidak mungkin adalah Qisya.


Qisya yang aku tahu terakhir kali itu, ia memiliki trauma terhadapku sehingga pasti tidak akan mampu untuk melihatku meskipun dari jarak jauh"


“Jujur Sya... a-aku me-mencintaimu Sya... entah kenapa rasa itu tumbuh setelah aku sadar jika kita sudah tidak bisa lagi bertemu. Aku hancur, kecewa, marah dengan diriku sendiri. Kenapa baru sekarang aku menyadari semua ini”


“Aku bod*dohhhh... penge*cutttt... breng*sekkk hiks... bisa-bisanya aku mengatakan semua ini seperti ini padamu di saat aku sudah sangat menghancurkan kehidupanmu hiks...”


Alex menangis tersendu-sendu dengan memukuli kepalanya sendiri bahkan dadanya sekuat tenaga, hingga membuat Sasya langsung menahan tangannya dengan sekuat tenaga.


“Stop Om, Stopppppp!!!! Jika Om terus menyakiti diri Om, maka jangan salahkan jika Sasya akan benar-benar membenci Om seumur hidup Sasya hiks... Sasya tahu Om memang bersalah, tapi bukan seperti ini caranya Om menghukum diri Om sendiri hiks...”


“Jika Om telah menyadari semua kesalahan Om di masa lalu dan menyesalinya, maka Sasya sudah memaafkan Om sejak Sasya berhasil melawan semua rasa takut itu hiks...”


Sasya menangis sambil berusaha untuk tidak lagi mengingat semua masa lalu gelapnya yang telah membawanya ke lubang yang begitu dalam.


“Hiks... be-benarkah kamu su-sudah memaafkanku? Ka-kamu tidak bohong kan Sya...” ucap Alex yang sontak terkejut sambil menatap wajah Sasya yang sudah banjir akan air mata.

__ADS_1


“Ya... aku sudah memaafkanmu karena aku tidak mau memiliki dendam yang suatu saat nanti akan merusak diriku sendiri. Saat ini aku hanya perlu fokus pada impianku untuk menjadi seorang dokter yang hebat tanpa kembali mengingat masa lalu” ucap Sasya yang langsung menghapus air matanya.


Alex terus menatap wajah Sasya tanpa mau mengalihkan pandangannya sedikit pun. Wajah yang selama ini ada di dalam mimpinya dengan bayangan masa lalu, kini dengan nyata ada di hadapannya dengan wajah yang sangat cantik. Gadis kecil yang menyebalkan, kini sudah tumbuh menjadi wanita yang sangat kuat.


“Syaa... jika kamu benar-benar telah memaafkanku, apa kamu mau menjadi pasanganku?” ucap Alex dengan serius yang membuat Sasya langsung menolehnya.


“Ma-maksud O-Om a-apa?” ucap Sasya dengan gugup penuh keterkejutannya.


“Sudah sangat lama aku memendam perasaan ini untukmu Syaa... Bahkan aku sudah sangat sadar ternyata aku sudah menaruh hati pada gadis kecil yang sangat menyebalkan itu. Namun aku selalu menangkis semua perasaan itu hanya karena rasa trauma di masa lalu"


"Masa laluku itu telah membuatku tidak percaya apa itu perasaan. Apa itu cinta dan apa itu kebahagiaan. Tapi sekarang aku bisa merasakan hal itu, dan ternyata memang sangat sakit jika kita sudah mengenal kata cinta namun yang kita miliki tidak bisa di gapai dengan mudah, semudah saat aku membalik kedua tepak tanganku secara bersamaan”


Alex menjelaskan tentang apa yang ia rasakan selama ini dan benar-benar membuat Sasya bingung harus menjawab apa, karena ia juga tidak tahu perasaan apa yang ia punya untuknya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hel... to the Lo... Hello guys... 😄😄😄


Kembali lagi dengan Author kalian yang banyak kekurangan ini... ☺️☺️😊


Kalian tahu gak Author baru bikin Group Chat loh dan masih kosong 🥳🥳🥳


Jika kalian ingin join ke Group langsung saja ke beranda Author ya... 😎😎😎


Nama Group Chatnya itu adalah "Kang Salto Barbar" kayak Author 🤣🤣🤣


Silahkan join aja guys, gak akan di apa-apain kok tenang aja... 🤭🤭🤭


Jaga diri kalian dan sampai jumpa lagi di bab selanjutnya yaaa... 🤗🤗🤗


Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻

__ADS_1


__ADS_2