Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
Kecupan Manis


__ADS_3

Namun mereka tetap ingin melanjutkan istirahatnya lantaran badan sudah sangat lelah, mungkin besok pagi saja mereka akan menanyakan bagaimana hasil yang Pinjai dapatkan. Pinjai pun segera bersih-bersih dan ikut menyusul mereka di alam bawah sadarnya.


...*...


...*...


Pagi hari tepatnya pukul 8, Alex sudah diperbolehkan untuk pulang. Namun awalnya Sasya bingung harus membawa Alex pulang kemana, tapi sekarang tidak lagi karena Pinjai sudah memikirkan semua itu dan menyewa hotel untuk mereka beberapa hari di sini sambil menunggu Sasya kembali ke Los Angeles.


Sesampainya di depan hotel, mereka turun dari mobil secara bersamaan. Namun saat Alex dan Pinjai berjalan beberapa langkah di depan Sasya, tiba-tiba ucapan Sasya mampu membuat mereka berhenti dan juga langsung menoleh.


"Aku mengantar kalian cukup sampai disini saja ya, soalnya aku harus kembali ke rumah. Lusa kan aku sudah harus ke rumah sakit bersama kalian jadi aku mau menghabiskan waktu bersama mereka dulu. Apa lagi mereka juga akan kembali ke Indonesia besok pagi. Jadi, maaf. Lagian juga tidak baik untukku main ke hotel bersama pria lain. Aku pamit ya, kalian jaga diri baik-baik kalau ada apa-apa kabarin aku. Aku pergi dulu, permisi.. dahhh.."


Sasya berbicara tanpa jeda serta langsung lari ngibrit secepat mungkin lantaran Sasya tidak mau sampai mereka harus mengantarnya ke depan rumah. Bisa-bisa nanti akan ada baku hantam lagi dengan sang Adik yang masih belum bisa menerima Alex meskipun Ayah Brian juga sama tetapi jika Ayah Brian masih bisa mengontrol emosinya berbeda dengan Lukas.


"Astaga gadis itu benar-benar sangat niat ingin mengelabuhi kita, padahal awalnya dia bilang mau ikut ke hotel untuk menemanimu tapi nyatanya dia malah kabur. Seakan-akan dia hanya mau memastikan dirimu sampai ke hotel dengan selamat, dan dia masih belum bisa membawamu ke rumahnya" Gumam Pinjai saat melihat Sasya semakin menjauh.


"Sifat itulah yang dari dulu membuatku jatuh cinta padanya, sehingga aku tidak bisa menyadari jika cinta itu sudah mulai tumbuh seiring berjalannya waktu. Ketika dia menghilang barulah aku menyadari semuanya tetapi hatiku tetap berusaha menolak, cuman sekarang tidak lagi. Aku akan berjuang demi mendapatkan maaf dari seluruh keluarganya. Mungkin dengan begitu aku bisa mendapatkan hatinya" Gumam Alex menatap ke arah dimana Sasya yang sudah menaiki sebuah taksi lalu pergi.


"Amin.. aku akan selalu mendoakan kalian agar bisa bersatu secepatnya supaya Alle bisa memiliki teman di rumahnya hihihi.." Ucap Pinjai sambil tertawa kecil.


"Masih lama, Kak. Lebih baik kau buatkan Alle adik saja, nanti aku akan menyusul kalau perlu 11 sekalian biar bisa aku daftarkan jadi pemain sepak bola hahha.." Jawab Alex dengan tertawa, sehingga mereka berdua tertawa.

__ADS_1


Namun saat beberapa orang menatap ke arah mereka, membuat mereka langsung kembali datar dan berjalan menuju kamarnya dimana Pinjai memikirkan perkataan Alex yang menyuruhnya untuk membuatkan adik, begitu juga Alex malah memikirkan ucapan Pinjai yang menyuruhnya segera menyusul keluarga kecilnya.


...*...


...*...


Rumah sakit, Los Angeles.


Seorang pria sedang bersantai duduk di taman rumah sakit lantaran dia baru saja melewati operasi yang cukup melelahkan, siapa lagi jika bukan Ash.


"Huhhh.. akhirnya selesai juga, coba aja Kiss ada di sini pasti aku akan menceritakan semua pengalamanku dalam beroprasi. Tapi kenapa dia tidak nungguin aku ya? Padahal kan aku sudah menyuruhnya. Tapi, ya sudahlah yang penting sekarang dia sudah berkumpul sama keluarganya"


Ash menyender di kursi taman sambil merentangkan kedua tangannya dengan memejamkan kedua matanya, tiba-tiba ada seseorang yang memberikan air minum kepada Ash hingga membuat Ash pun langsung membuka kedua matanya dengan antusias.


Ash langsung mengambil serta langsung meminumnya dengan cepat, sambil berkata. "Arrrghhh.. segernya.. terima kasih Ki-.. loh A-anna? Nga-ngapain kamu di sini?"


Ya, itu adalah suster Anna yang memang sudah mengetahui jika setiap ada masalah atau selesai bertugas Ash atau pun Sasya suka menyendiri di taman agar membuat pikiran dan juga tubuhnya bisa sedikit rileks.


Jadi Anna sudah bisa menebak semua itu makannya dia mempunyai inisiatif untuk membawakan Ash minuman. Lalu Anna tanpa di suruh dia langsung duduk di sebelah Ash yang membuat Ash mengerutkan dahinya dengan keadaan bingung.


"Kenapa wajahnya begitu, pasti kamu tadi mengira jika aku ini adalah dokter Sasya. Iya kan? Memangnya kalian itu ada hubungan apa sih kok aku perhatikan kalian itu bukan cuman sekedar patner kerja?" Tanya Anna sambil menoleh ke arah Ash.

__ADS_1


"Kalau memang iya kenapa? Enggak usah kepo sama urusan orang, udah sana kamu mending kamu cek pasien yang lain entar aku nyusul!" Jawab Ash dengan wajah kesalnya.


"Ini jam istirahat dokter Ash yang paling tampan, jadi biarkan aku di sini menemanimu. Lagian aku bete tidak ada teman, bolehkan aku di sini? Pasti boleh dong, ya kan. Ya iya dong, masa iya wanita secantik diriku di tolak tidak mungkin dong hihihi.." Sahut Anna dengan segala kepercayaan dirinya.


Ash hanya bisa melongo melihat sikap Anna yang semakin ke sini semakin aneh, belum lagi ketika berada di dekatnya seakan-akan jantung Ash bekerja dengan ekstra lebih cepat. Maka dari itu Ash selalu menghindari Anna agar jantungnya tetap sehat.


Belum lagi ketika Anna tertawa sangat geli membuat kedua lesung pipinya terlihat begitu jelas, seketika jantung Ash yang awalnya berdetak sangat kencang kini malah terhenti saat melihat pemandangan di depannya begitu manis.


Bahkan tanpa sadar Ash menatap lekat kearah wajah Anna, kemudian tanpa di sadari wajah Ash mulai mendekat ke arah wajah Anna yang masih tertawa. Anna belum menyadari semua itu karena dia masih geli dengan ucapannya sendiri, bisa-bisanya Anna mengatakannya sePD itu hingga membuat dirinya pun merasa mual akibat ucapannya yang begitu percaya diri.


Dan dipersekian detik Anna terdiam dengan keadaan wajah membeku hingga memerah ketika Ash berhasil memberikan kecupan tepat di pipinya, yang mana Anna langsung menoleh menatap Ash.


"Ma-maaf, a-aku ti-tidak se-sengaja. A-aku pe-permisi..." Ash langsung ngibrit lari secepat mungkin meninggalkan Anna yang masih terdiam mematung.


Lalu Anna perlahan menggerakan tangan kanannya memegang pipi sebelah kanan dan tersenyum lebar, betapa bahagianya dia bisa mendapatkan kecupan manis dari seseorang yang sangat tampan.


Namun tidak bertahan lama, Anna langsung menangkis semua itu dan segera pergi meninggalkan taman menuju toilet untuk mencuci mukanya agar bisa lebih fres lagi karena wajahnya saat ini masih memerah akibat perlakuan Ash yang tidak terduga.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Hai guys.. jangan lupa mampir ke karya temen-temanku ya, mungkin selama beberapa hari ke depan author akan mempromosikan semua karya yang sangat memukai. Semoga dari beberapa banner yang aku publish ini ada yang sesuai dengan genre kalian sebagi pembaca 🥰 Terima kasih.....

__ADS_1


...Lets go di serbu... 🤸🤸...



__ADS_2