
Sasya menghapus semua air matanya, lalu berdiri bersama Pinjai dan tersenyum. Kemudian mereka berjalan menuju kamar Alex dimana jam sudah menunjukkan pukul 11.30 malam, setelah itu mereka pun beristirahat dimana Sasya tertidur di kasur lipat di samping kanan Alex. Sedangkan Pinjai tertidur di atas sofa panjang di samping kiri Alex. Sampai seketika mereka semuany memasuki alam bawah sadarnya.
...*...
...*...
Pagi hari tepat pukul 10 Alex yang sudah selesai sarapan, minum obat dan juga sudah di periksa kondisinya oleh dokter. Yang mana Alex akan di perbolehkan pulang besok pagi karena luka serta kondisinya sudah mulai membaik.
Tapi, kali ini Alex harus sendirian di rumah sakit karena Sasya setelah selesai tugasnya meminta izin kepada Alex agar bisa melepas rindu bersama keluarganya di rumah yang mana nanti jam 7 malam Sasya sudah akan kembali ke rumah sakit.
Sedangkan Pinjai dia diutus Alex supaya mencari pesantren yang bisa membantunya untuk berpindah agama serta memperbaiki diri dan juga mempelajari agama yang akan dianutnya.
"Huhh.. ternyata sepi juga ya, apa lagi jika aku hidup seorang diri pasti hari-hariku akan selalu penuh dengan kekosongan"
"Ya memang dahulu aku pernah tidak percaya akan adanya cinta dan juga kasih sayang, karena menurutku semuanya selalu berakhir dengan patah hati yang sangat menyakitkan"
"Tapi, entah kenapa di saat aku benar-benar telah terjebak diantara dilema cinta dan juga trauma di masa laluku, seketika semua itu bisa membuatku keluar dari zona yang seharusnya aku keluar dari dulu"
"Pada akhirnya sekarang aku telah sadar jika aku sudah mulai mencintai Sasya saat pertama kali aku melihatnya. Apa itukah yang dinamakan cinta pertama? Gampang di ingat, namun sangat susah dilupakan"
"Meskipun aku sudah berusaha selalu mencoba melupakannya, akan tetapi bayangan itu selalu hadir menghantuiku ketika aku mulai memejamkan kedua bola mataku seakan-akan semua kesalahanku terhadapnya dan juga orang tuanya langsung muncul serta membuatku hidup dalam rasa bersalah"
"Tapi aku janji, suatu saat nanti aku bisa berubah menjdi pria yang lebih baik lagi agar keluarga Sasya bisa memaafkanku hingga merestuiku untuk menjdi imamnya. Semangat Alex banyak rintangan yang akn kamu hadapi ke depannya, jadi mulailah dari sekarang untuk menyusun satu persatu langkah yang akan kamu ambil"
Alex berbicara kecil dengan menyemangati dirinya sendiri agar bisa selalu kuat tanpa menyerah demi Sasya dan juga demi cinta pertamanya. Sampai seketika ponsel Alex berbunyi yang menandakan bahwa Joko meneleponnya untuk menanyakan bagaimana kabar Alex, karena dia baru saja mendengar dari Pinjai jika Alex di rawat di rumah sakit.
...*...
__ADS_1
...*...
Di rumah kediaman keluarga kecil Brian, semua orang sedang berkumpul di ruang keluarga yang mana banyak sekali makanan hingga minuman yang di sediakan oleh Bunda Hana.
Lily, Lukas dan juga Iky sedang bermain sambil menjaga Baby Iva. Sedangkan yang tua duduk menikmati camilan yang di sediakan sambil memperhatikan anak-anak bermain.
"Syaa.. bagaimana keadaan Tuan Alex? Apakah lukanya sudah mendingan?" Tanya Opa Ferry dengan menatap Sasya.
"Alhamdulillah, Opa. Sepertinya sudah karena tadi sebelum ke sini dokter memberitahukan bahwa Tuan Alex besok pagi sudah boleh pulang" Jawab Sasya sambil nyemil.
Alhamdulillah...
Semuanya mengucapkan hamdalah kecuali Ayah Brian dan juga Lukas, ya walaupun masih terbelit rasa khawatir dan juga kesal tetapi mereka bisa mengendalikan diri karena telah melihat betapa besarnya cinta yang ada di dalm diri Alex untuk Sasya.
"Bolehkah Mbah Kung bertanya tentang suatu hal padamu, Ndok?" Ujar Mbah Kung Toni dengan tersenyum yang membuat Sasya menganggukan kepalanya.
Deghh..
Deghh..
Deghh..
Sasya terdiam bagaikan manekin sambil menatap Mbah Kung Toni lalu mulutnya terbuka dan tangannya yang ingin menyuapi camilan ke dalam mulutnya.
"Abah pertanyaan macam apa ini, kenapa Abah menanyakan hal yang tidak mungkin pernah terjadi sama mereka?" Pekik Ayah Brian dengan wajah mulai marah, Bunda Hana yang melihat ekspresi Ayah Brian langsung mengusap dadanya sambil menasehatinya.
"Mbah Kung jangan pernah berbicara seperti itu lagi, karena sampai kapan pun Lukas tidak akan pernah menyetujui Kak Sasya sama pria breng*sek itu!!" Sahut Lukas dengan nada dinginnya.
__ADS_1
"Pria breng*sek itu apa Bang?" Tanya Lily dengan wajah polosnya sehingga suasana yang awalnya sedikit tegang, kini sudah berubah menjadi bingung.
Lukas menghempaskan kasar nafasnya dan langsung berbicara menatap kearah Lily. "Haaahhh.. su-sudahlah lupakan, kau main saja sama Iky dan juga Iva. Jangan mendengar ucapan orang dewasa!"
"Ishhh.. isshhh.. Abang pun sama, bahkan umur Abang sama Lily saja sama hanya berbeda 5 menit doang. Jadi, Abang juga jangan mencela ucapan orang dewasa mending main saja sama Iky dan Baby Iva" Jawab Lily yang malah membalikan ucapan Lukas hingga membuat Lukas pun benar-benar kesal.
"Abah sudahlah jangan membicaran soal ini dulu, banyak anak kecil tidak baik jika mereka mendengarnya. Apa lagi Lukas, umurnya memang masih kecil tetapi dia memiliki pemikiran yang sangat dewasa. Belum juga Lily dia masih sangat polos jangan sampai banyak perkataan jelek yang mempengaruhi pola pikirnya termaksud juga dengan Iky dan Iva mereka masih dalam masa pertumbuhan"
Bunda Hana mencoba memberikan pengertian pada Abah agar tidak membuat Abah tersinggung atas ucapan dan juga sedikit nada bentakan yang terlontar dari mulut Ayah Brian dan juga Lukas.
"Maafkan Mbah Kung ya Sya.. mungkin umur Mbah Kung sudah sangat tua jadi lupa kalau ini masalah pribadi heheh.. lain kali Mbah Kung akan kembali membicarakan soal ini berdua denganmu, boleh? Tak apa jika harus lewat telepon atau video call. Setidaknya Abah bisa selalu berkomunikasi denganmu"
Abah tertawa kecil yang membuat Sasya tersenyum kikuk, ya mungkin dengan begini Sasya seperti mendapatkan sinyal jika dia harus membagi dilemanya kepada Mbah Kung Toni agar bisa membantu hubungan Sasya dan juga Alex.
"Tidak apa-apa Mbak Kung, Sasya cuman sedikit syok saja hehe.. ya sudah Sasya mau ke kamar dulu, mau ambil ponsel soalnya ponsel Sasya yang dulu udah rusak eh yang baru lupa enggak kebawa makannya Bunda sama yang lainnya enggak bisa ngehubungin Sasya kalau bukan lewat Ash teman satu kampus Sasya yang juga kerja di satu rumah sakit yang sama dengan Sasya" Ucap Sasya.
Semua pun mengangguk yang mana kembali dengan aktifitasnya sambil menonton film yang lucu serta melihat betapa gemasnya Baby Iva saat berantem dengan Lily atau pun Iky.
Belum lagi Iky selalu menjahili Lily hingga membuatnya selalu berteriak dan juga dalam mode manja yang pada akhirnya mereka malah saling mengejar satu sama lain dan membuat semua hanya bisa terkekeh kecil dengan membayangkan mereka bagaikan Arya dan juga Hana di waktu kecil ketika sedang merebutkan sesuatu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Hai guys.. jangan lupa mampir ke karya temen-temanku ya, mungkin selama beberapa hari ke depan author akan mempromosikan semua karya yang sangat memukai. Semoga dari beberapa banner yang aku publish ini ada yang sesuai dengan genre kalian sebagi pembaca 🥰 Terima kasih.....
...Lets go di serbu... 🤸🤸...
__ADS_1