
Bagi Alex kebahagiaan istrinya adalah hal yang paling utama untuknya. Yang terpenting Sasya bisa membagi waktunya antara pekerjaan dan juga keluarga.
Mereka berdua benar-benar merasa beruntung, karena bisa dipertemukan dan dijodohkan oleh pasangan yang saling mengerti satu sama lain. Meskipun terkadang masih suka ada cekcok, tetapi tidak membuat cinta mereka memudar.
"Terus kamu kapan mau risegn, Sayang?" tanya Ace.
"Entahlah, Mas. Sepertinya bulan depan aku akan ajuin risegn aja. Walaipun didetik-detik terakhir aku akan mendapatkan mutasi. Cuman percuma juga, lebih baik aku ikut sama Mas saja." jawab Sasya.
"Ya sudah, kamu jangan sedih lagi ya. Nanti pulang dari sini, insyaallah. Aku sama yang lainnya akan mencarikanmu rumah sakit terbaik,"
"Supaya nanti ketika diIndonesia kamu tidak akan merasa bosan, apa lagi kamu sudah terbiasa bekerja. Atau bisa juga nanti main ke rumah Oma atau Mbahmu yang ada disana,"
"Terus juga, aku akan membuat pihak rumah sakit agar memberikan jadwal yang tidak akan memberatkanmu kedepannya."
Alex menjelaskan kepada istrinya, jika dia akan membantu Sasya kembali mengejar impiannya. Meskipun jadwal yang biasa padat mungkin akan berkurang.
Bagi Sasya itu tidak apa-apa, setidaknya Sasya sudah senang jika dirinya masih bisa meneruskan cita-citanya sebagai seorang dokter spesialis yang luar biasa.
"Terima kasih, Mas. Kamu sudah mengerti aku, maaf jika selama ini aku masih suka egois dan juga ambekkan hehe ...." Sasya cengengesan membuat Alex gemas dan mencubit hidungnya.
"Ishh, Mas Alex!" pekik Sasya yang kesal saat hidung mancungnya dipencet oleh suaminya sedikit keras.
"Hehe, udah sana terusin lagi lihat pekerjaannya. Aku mau main sama Dedek dulu." ucap Alex, spontan.
Sasya yang mendengar ucapan suaminya berhasil terkejut bukan main. Sasya menatap kepala suaminya yang sudah berada di dalam piyamanya sambil mengelus perutnya lalu menciuminya beberapa kali
"Ma-mas? Ta-tadi Mas bilang apa? De-dedek? Kan aku belum isi, Mas?" ucap Sasya, syok.
"Gapapa, Sayang. Kamu pasti ingat kan, kalau setiap ucapan itu adalah doa. Jadi aku mau mengatakannya setiap detik, supaya kelak doa itu akan menjadi suatu kenyataan yang indah untuk kita." jawab Alex dari balik baju istrinya.
Tanpa terasa perkataan suaminya berhasil membuat mata Sasya berkaca-kaca, dia begitu senang ketika suaminya sangat manja kepadanya. Apa lagi tingkahnya seperti ini benar-benar berhasil membawa Sasya terbang ke langit ke-7.
__ADS_1
Walaupun dibalik itu semua Sasya merasa sedikit sedih, karena sampai detik ini mereka belum juga mendapatkan sebuah rezeki yang tidak bisa dinilai dalam bentuk uang.
Beberapa detik kemudian, Sasya kembali tersenyum mengusap air matanya lalu mengecek semua jadwal pekerjaannya selama 1 bulan kedepan. Ya memang benar, semakin ke sini jadwal Sasya semakin banyak yang bolong.
Satu persatu teman seangkatannya pun sudah dimulai di mutasi, termasuk sahabatnya Ash. Dia dimutasi lebih dulu kerumah sakit khusus yang ada di New York.
Berbeda sama Sasya yang masih dipertahankan, tetapi nanti juga Sasya bisa mendapatkan mutasi ke rumah sakit yang sama dengan sahabatnya. Cuman sepertinya Sasya akan lebih memilih untuk ikut bersama suaminya, itu pasti jauh lebih baik.
Mungkin ini pertanda, untuk mereka bersatu. Jika bukan sekarang lalu, mau kapan lagi? Kesempatan tidak akan pernah datang untuk kedua kalinya.
Jadi mau tidak mau, siap tidak siap. Sasya harus bisa mengesampingkan egonya demi rumah tangga dan juga suaminya yang begitu dia cintai.
Ketika Sasya sedang asyik melihat ponselnya, tiba-tiba dia merasakan ada yang janggal dengan sikap suaminya.
Sasya terdiam sejenak, mendengarkan suasa yang sedikit berisik. Dan benar saja, ternyata diam-diam Alex malah menyusu begitu rakus. Sasya hanya bisa terkekeh menggelengkan kepalanya.
"Hem, katanya mau ngusap-ngusap perut. Tapi kok nyusu? Ada apa ini?" sindir Sasya, menahan tawanya.
"Aku haus, Sayang. Kamu kan tahu, sebelum tidur aku harus nyusu dulu hehe ...." ucap Alex, cengengesan.
"Sama Sapi! Ya enggaklah, Sayang. Mau nyusu sama siapa coba, orang susunya jauh. Kalau pun mau aku harus impor dulu baru bisa nyusu begini, hemp ...."
Alex memotong ucapan istrinya ketika dia sudah tahu kemana arah pikiran Sasya mulai berlari. Dari pada urusan panjang, maka dengan kilat Alex segera menjawabnya.
Sasya terkekeh sambil membalas pesan masuk dari Ash. Sasya sedikit terkejut dan juga senang ketika mendapatkan kabar baik. Ternyata, Anna juga mendapatkan mutasi dirumah sakit yang sama dengan Ash.
Inikah yang dinamakan jodoh? Bisa jadi. Karena jika jodoh mau sejauh apa pun jarak diantara mereka, pasti akan kembali bertemu dititik yang sama dan juga diwaktu yang sudah ditentukan.
Awalnya Ash memang sudah pasrah oleh cintanya, lantaran cinta pertamanya telah kandas akibat Sasya dan Alex saling mencintai. Dan ini rasa cinta yang kedua untuk Ash, tetapi juga bernasib sama.
Namun, tidak disangka. Kepasrahan dan juga keikhlasan hati Ash malah kembali dipertemukan dengan wanita impiannya. Gadis cantik, yang memiliki 2 lesung pipi bernama Anna telah menjadi candu untuk Ash.
__ADS_1
Hanya saja, Ash belum bisa menyatakan perasaannya. Dia juga belum mengetahu persis bagaimana perasaan Anna untuknya.
Sasya yang mulai merasa pegal dan telah selesai berkabar dengan Ash, langsung berbicara kepada suaminya untuk menyudahi semua kemanjaannya.
"Mas, udah ya. Aku capek, pegel tahu duduk mulu." keluh Sasya, yang baru saja menaruh ponselnya diatas bangkar.
Pluk!
Alex melepaskan mainanya, kemudian kepalanya keluar dari baju istrinya lalu menatap wajahnya sambil berkata. "Tapi habis kamu tiduran mau lagi ya, please ...."
Ace memohon kepada istrinya, menunjukkan wajah memelasnya. Sasya hanya mengangguk terkekeh ketika Alex dalam mode manja seperti ini.
Sasya memang tidak bisa menolak kemauan suaminya, asalkan suaminya bisa selalu tersenyum dan membuatnya bahagia.
Alex tersenyum lebar, kemudian bangkit terus merubah posisinya. Dimana Saya dan Alex dalam keadaan tertidur miring saling berhadapan.
Perlahan Ace membuka kancing piyama istrinya hingga tak tersisa. Inilah Ace, dia selalu meminta Sasya jika malam hari hanya berdua dengannya. Sasya tidak boleh mengenakan kedua kaca matanya.
Ace meminta seperti itu, agar dia tidak akan susah untuk meraih kedua balon yang selalu dia rindukan ketika berjauhan dengan istrinya. Apa lagi balon kembarnya ini merupakan permainan yang sangat menggemaskan sebelum Ace bisa tertidur pulas.
Sasya hanya bisa mengelus kepala suaminya secara perlahan, kemudian kedua mata mereka langsung memejamkan satu sama lain.
Sasya merasa tubuhnya begitu nyaman saat menerima sentuhan lidah ataupun permainan mulut dari suaminya.
Berbeda halnya sama Alex, dia tidak ada henti-hentinya terus mengelus perut istrinya sambil memainkan balon kembarnya.
Bersamaan dengan itu, kedua matanya pun ikut tertutup ketika mendongak menatap wajah istrinya yang terlihat menenangkan hatinya.
Pada akhirnya mereka berdua telah memasuki alam bawah sadarnya, meskipun mulut Alex terus bergerak sesekali menikmati keseruan permainan yang jarang dia mainkan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...Hai guys ... jangan lupa mampir ke karya temen-temanku ya, mungkin selama beberapa hari ke depan author akan mempromosikan semua karya yang sangat memukai. Terima kasih.. 🙏🏻...