
Arya hanya harus menunggu hasil kelulusannya saja, makanya ia langsung minta izin kepada Brian supaya bisa ikut bekerja di sana. Namun, naas Brian malah memberikan jabatan tertinggi untuk anak bocah seperti Arya.
Sampai-sampai Umi dan Abah khawatir jika pabrik yang baru saja Brian bangun bisa hancur karena di kelola oleh bocah tengil seperti Arya.
Tetapi di luar dugaan Umi dan Abah, Arya kini mampu menjalani amanah dari Brian serta Arya pun di bantu oleh orang-orang kepercayaan Brian yang bekerja di sana.
Meskipun pabrik yang Arya jalani belum begitu berkembang dengan pesat, tapi Arya tetap semangat untuk menjalaninya. Bahkan sedikit demi sedikit Arya telah mengumpulkan uang untuk merenovasi rumah Abah dan Umi yang seperti terlihat sebuah gubuk kayu yang reot.
Sedangkan Umi dan Abah hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat aksi Tuan Ferry dan Nyonya Syifa yang begitu membuat mereka merasa malu.
“Sudah jangan berantem, tidak baik suami istri seperti itu. Apa lagi kamu Syifa, sebagai istri jangan galak-galak. Nanti suamimu bisa-bisa kabur loh cari istri baru” saut Umi sambil menggodanya.
“Awas saja kalau sampai dia berani mencari wanita lain maka akan aku patahkan batang ubi jalarnya” jawab Nyonya Syifa sambil melirik sinis kepada Tuan Ferry.
“Yakk... kenapa aku yang kena sih, itu kan temanmu yang bilang bukan aku” saut Tuan Ferry sambil menutupi asetnya dengan kedua tangannya.
Arya yang tidak mau ikut campur dalam urusan suami istri itu langsung pergi untuk mencari udara segar.
“Umi, sudahlah jangan menggoda mereka. Kasihan mereka, atau nanti malam si Ferry akan di gempur habis oleh Syifa haha...” ucap Abah sambil tertawa.
“Aish... Abah ini tidak boleh begitu, tapi benar juga ya atau nanti bisa-bisa mereka harus membeli tempat tidur yang baru ya, Bah. Haha...” saut Umi sambil tertawa bersama Abah.
“Astaga, kalian ini senang banget sih menggoda kami. Sudahlah lupakan masalah jatah. Ayo kita urus lagi untuk acara Hana besok. Lagian juga masih banyak yang harus kita persiapkan” ucap Nyonya Syifa untuk mengalihkan rasa malunya.
Abah dan Umi berhenti tertawa sambil menganggukkan kepalanya, diikuti oleh Tuan Ferry yang berusaha menutupi wajah merahnya. Namun, di saat semuanya sedang sibuk Brian kembali turun ke bawah karena Hana tidak mau membukakan pintunya.
Brian duduk di sofa dengan wajah kusutnya sambil menarik nafas panjang.
Semua yang menatap Brian merasakan ada sesuatu yang telah terjadi sampai membuat Hana seperti itu.
__ADS_1
“Kamu kenapa kusut begitu? Dan ada apa dengan Hana kenapa dia terlihat sangat marah? Jangan bilang kalau kau me...” ucapan Tuan Ferry terpotong saat Brian langsung menyelanya.
“Apaan sih, Pah. Brian tidak menyakiti Hana lagi, kan Brian sudah janji sama kalian semua. Itu cuman karena warung jelek dan kumuh itu yang membuat Hana bisa marah padaku” saut Brian dengan wajah kesalnya.
“Warung jelek? Maksudnya bagaimana Brian?” tanya Nyonya Syifa dengan wajah bingungnya.
“Coba ceritakan pelan-pelan, Nak Brian. Dimana titik permasalahannya supaya kita bisa mengerti” ucap Abah dengan lembut.
“Ya, Nak Brian. Siapa tahu kami bisa membantu Nak Brian untuk membujuk Hana kan” saut Umi dengan senyuman.
“Jadi gini loh, tadi saat Brian dan Hana menuju ke rumah tiba-tiba saja jalanan begitu macet. Nah...” ucap Brian.
“Nah... apaan Brian, jangan bikin Mamah penasaran deh” saut Nyonya Syifa dengan sangat kesal.
“Hehe... maaf, Mah. Nah... di saat itu Hana melihat ada sebuah warung kecil jelek dan kumuh dengan spanduk tulisan Seblak Mak Mumuh. Jadi, pada saat itu Hana bilang kau dia ingin makan di situ karena menurut dia makanannya sangat enak”
“Ya ampun Brian, kenapa tidak kamu turuti saja sih. Kamu kan tahu kalau Hana sedang hamil, mungkin saja itu yang mau anak kalian bukan Hana. Jadi turuti saja, sama seperti kamu yang saat Hana koma selalu meminta yang aneh-aneh dan harus keturutan kan. Nah... jadi itulah yang Hana rasakan saat ini. Ini merupakan ngidam pertama Hana jadi kamu harus menurutinya” ucap Nyonya Syifa.
“Ya, benar apa kata Mamahmu, Brian. Kamu seperti tidak punya uang saja. Kan kamu bisa melihat cara mereka masak dan kamu bisa memintanya agar membuatnya dengan sangat bersih. Lalu kamu bayar orang itu dengan berkali-kali lipat. Simpel bukan, jadi jangan seperti orang yang tidak memiliki akal sehat. Buang jauh-jauh keegoisan kamu itu, atau nanti Hana akan benar-benar meninggalkanmu dan mencari penggantimu. Mau?” saut Tuan Ferry dengan wajah kesalnya.
“Maklum, Nak Brian. Mood wanita hamil memang seperti itu selalu berubah-ubah. Jadi mohon bersabar ya, dan jangan biarkan Hana merasakan kesedihan ataupun kemarahan karena itu akan mengganggu anak kalian di dalam sana menjadi tidak nyaman dan gelisah karena mereka akan ikut merasakan perasaan Ibunya” ucap Umi mencoba menasihati Brian.
“Sabar ya, Nak Brian. Abah dulu juga sering kok di minta macam-macam saat Umi sedang hamil Hana. Bahkan Abah disuruh manjat pohon kelapa menggunakan daster serta hijab oleh Umi, belum lagi saat hamil Arya Umi menyuruh Abah untuk mengusap kepala orang yang botak tanpa minta izin lebih dulu” ucap Abah yang membuat Umi tertawa serta diikuti oleh Nyonya Syifa dan Tuan Ferry.
“Loh kalian kenapa ketawa, ini benar loh tanya saja sama orangnya. Dia itu kalau ngidam aneh-aneh makannya Abah bilang kalau sudah dapat sepasang lebih baik berhenti, karena Abah sudah sangat malu dikerjai sama Uminya Hana. Sampai-sampai Abah terkenal dengan sebutan Suami Penakluk Utun” ucap Abah dengan wajah seriusnya yang malah membuat semuanya tertawa terbahak-bahak.
“Haha... untung saja Hana tidak seperti itu, semoga saja anakku tidak sampai membuat Ayahnya resah” ucap Brian sambil tertawa.
Namun, di saat Brian sedang tertawa tiba-tiba Hana mendekati Brian. Lalu, ia duduk sambil tersenyum dan memeluk tangan Brian.
__ADS_1
“Mas Brian, maafin Hana ya tadi Hana sudah marah-marah. Habisnya Mas sih menyebalkan banget. Jadi Hana terbawa emosi deh hehe...” ucap Hana dengan suara manjanya yang malah membuat Brian merinding.
“Ka-kamu kenapa sayang, a-apa kamu kesambet se-setan seblak? Gara-gara tidak memakannya?” ucap Brian dengan wajah ketakutan.
Umi, Abah, Nyonya Syifa serta Tuan Ferry berusaha menahan tawanya karena melihat tingkah Brian.
“Ish... Mas Brian mah, Hana sudah baik-baik juga minta maaf malah jawabannya seperti ini. Dahlah, Hana mau cari suami baru saja. Punya suami kok begini banget tidak ngerti maunya istri” saut Hana sambil memasang wajah kesalnya.
“Eh... yayaya... Maafin aku ya, yaudah iya iya aku maafin. Apa kamu mau beli seblak sayang? Ayo aku anterin kita beli yang banyak kalau perlu sama warung-warungnya sekalian” ucap Brian sambil tersenyum lebar.
“Wahh... benarkah itu Mas?” tanya Hana dengan wajah berseri-seri dan langsung diangguki oleh Brian.
“Tapi maaf Mas, Hana sudah tidak kepingin. Malahan Hana ingin...” ucapan Hana terhenti sambil menatap semuanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sampai sini dulu cerita untuk hari ini semuanya... 😁😁😁
Dan terima kasih atas dukungan kalian selama ini semuanya 😄😄😄
Semua dukungan kalian itu sangatlah berarti untuk Author 😊😊😊
Author akan berusaha untuk bisa up lebih banyak lagi 💪🏻💪🏻💪🏻
Dan Author juga akan membuat ceritanya lebih menarik 😆😆😆
Jaga diri kalian dan sampai jumpa para pembaca setiaku 🤗🤗🤗
Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻
__ADS_1