
“Astaga, Qisya!!” teriak Bisma setelah melihat Qisya kejang-kejang saat Qisya tidak bisa mengendalikan rasa takutnya.
Bisma berlari kecil sambil memeluk tubuh Qisya. Bisma memanggil Pinjai dengan berteriak hingga membuat Pinjai sontak kaget dan segera mendekati Bisma. Lalu, Bisma menyuruhnya untuk membawakan dokter ke penginapan untuk memeriksa kondisi Qisya, karena saat ini ia sudah tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi kondisi Qisya yang sangat membuat hatinya sakit.
Pinjai dengan sigap langsung memanggil sang dokter, dan ia hanya membutuhkan waktu 10 menit untuk kembali ke penginapan. Yang mana Pinjai memaksa sang dokter untuk ikut dengannya menggunakan ancaman sebuah pistol. Ya, karena Pinjai tidak tahu harus bagaimana lagi pikirannya benar-benar telah di selimuti dengan perasaan cemas, khawatir dan ketakutan saat tadi melihat kondisi Qisya.
Sang dokter pun yang sudah merasakan ketakutan hanya bisa pasrah saja, ia tidak mau jika nyawanya melayang dengan sia-sia. Jadi, ia harus mengikuti semua kemauan Pinjai. Sesampai di penginapan Pinjai langsung berlari bersama sang dokter untuk segera masuk ke kamar Qisya yang mana Bisma sudah membawanya ke kamar.
Terlihat sangat jelas Bisma benar-benar sangat ketakutan dengan kondisi Qisya yang saat ini. Saat ia melihat sang dokter dan Pinjai sudah datang, Bisma langsung menetralkan semua perasaannya hingga ia menghapus air matanya yang sedikit menetes. Lalu, Bisma langsung berdiri di samping kasur Qisya dengan wajar datarnya. Kemudian sang dokter langsung menangani Qisya dengan caranya.
Hampir 5 menit sang dokter memeriksa kondisi Qisya, dan memberikan obat penenang untuknya agar Qisya bisa beristirahat dan tak lupa sang dokter memasang masker oksigen supaya membuat nafas Qisya kembali normal. Sang dokter membawa Pinjai serta Bisma untuk keluar dari kamar Qisya agar ia bisa beristirahat dengan tenang. Lalu, sang dokter mulai memberitahu apa yang telah terjadi pada Qisya.
“Maaf, Tuan. Apakah ada kejadian yang memacu traumanya? Sehingga ia bisa mengalami kondisi seperti ini” tanya sang dokter yang membuat keduanya terkejut.
Mereka tidak sampai terpikir jika akibat Bisma mengamuk akan langsung memacu trauma untuk Qisya.
“Tra-trauma, Dok?” tanya balik Bisma yang tidak percaya.
“Ya, Tuan. Saat ini Nona sedang mengalami trauma yang cukup hebat. Mungkin sebelumnya ada kejadian yang membuat ia seperti ini, jika memang ada cobalah untuk menyingkirkan apa pun yang bisa memicu traumanya kembali dan saya sudah memberikan resep obat untuk Nona. Tolong di tebus dan jika ia sudah terbangun untuk segera di berikan obat itu. Dan jika ia kembali seperti tadi segera bawa ke rumah sakit untuk memastikan keadaannya lebih lanjut” ucap sang dokter.
Bisma terdiam sambil berjalan mundur dengan tatapan yang sangat kosong, lalu ia duduk di sebuah sofa. Terlihat jelas bahwa Bisma sangat lemas saat mendengar semua penjelasan tentang kondisi Qisya. Bukan ini yang Bisma mau, tapi dia hanya mau membuat Qisya membalaskan dendamnya ke pada keluarga. Namun, semuanya malah berbanding ke balik.
Bisma merasa jika ia sedang di permainkan dengan sebuah perasaan yang tidak tahu jelas apa maksud dari apa yang ia rasakan. Di satu sisi Bisma ingin membalaskan dendamnya kepada keluarganya Qisya. Tapi, di sisi lain Bisma tidak tega saat melihat Qisya menderita seperti ini.
Dan yang lebih parahnya lagi, ia merasa sangat-sangat marah saat tahu jika dirinya sudah di bohongi oleh seorang wanita licik seperti Cika. Bisma merasa jika saat ini Cika sedang memanfaatkan dirinya untuk bisa memisahkan Brian dan Hana.
__ADS_1
“Arrrghhhh... Si*al, si*al si*al, dasar bad*debah! Awas saja kau, akan aku pastikan hidupmu tidak akan tenang dan berakhir tragis!” ucap Bisma sambil mengacak-acak rambutnya dengan sangat frustasi.
Pinjai yang melihat itu langsung menyuruh salah satu penjaganya untuk mengantarkan sang dokter kembali ke tempatnya bekerja. Lalu, Pinjai berjalan mendekati Bisma dan duduk di sebelahnya.
“Tuan, kalau boleh saya sarankan. Lebih baik saat ini Tuan fokus kepada Nona Qisya saja, dan urusan wanita itu biar nanti saya saja yang menyelesaikannya. Tuan harus bisa mengambil hati Nona Qisya kembali untuk bisa membuat kalian kembali dekat karena saat ini, saya merasa jika Tuan sudah mulai mencintainya” ucap Pinjai dengan percaya diri yang membuat Bisma langsung menoleh ke arahnya.
“Cinta? Haha... Apa itu cinta, Pinjai! Aku tidak pernah percaya dengan sebuah cinta. Kau tahu, karena cinta membuat kedua orang tuaku berpisah. Pada akhirnya Ibuku mengalah untuk merelakan Ayahku untuk kembali bersama istri sahnya yaitu Ibu dari Kakak tiriku. Awalnya aku sangat membenci mereka, tapi Ibuku selalu menasihatiku. Sehingga aku bisa berdamai dengan keadaan dan aku pun menjadi sangat dekat dengan Kakak tiriku. Namun aku meminta kepada Ayahku untuk bersekolah di asrama dan hidup mandiri setelah kepergian Ibuku”
“Lalu di saat aku ingin kembali, aku mendapatkan kabar kalau mereka semua mengalami kecelaan di negara orang. Aku panik, cemas dan sangat terpukul dengan kabar buruk itu. Kemudian aku berangkat dengan seadanya uang yang kupunya dengan modal nekat yang mana aku tidak tahu jika Indonesia sangatlah luas, tapi aku yakin dengan modal alamat yang aku dapat maka aku bisa menemukan mereka. Tapi sayangnya, aku mendapat kabar bahwa Kakak tiriku di bunuh tepat di depan suaminya sendiri yang tidak berani melawan mereka dan membiarkan Kakakku di lecehkan seperti itu”
“Tapi, itu semua adalah kisah yang bohong. Haha... Betapa bodohnya aku pada saat itu, ketika aku begitu mempercayai perkataan wanita licik itu”
Bisma menjelaskan semuanya kepada Pinjai yang mana ia baru tahu tentang kehidupan Bisma karena selama ini Bisma selalu menutup dirinya rapat-rapat. Di situ Pinjai mencoba untuk mengerti perasaan Bisma, meskipun ia tahu kalau Bisma memiliki perasaan kepada Qisya. Hanya saja, ia belum bisa mendengarkan dan merasakan semua itu dari hati kecilnya.
...*...
...*...
Keadaan Qisya sudah kembali pulih, namun ia berubah menjadi seorang gadis pendiam tanpa mau berkata satu kata pun untuk Bisma. Bisma hanya bisa bersabar untuk terus membujuk Qisya agar bisa mengajaknya mengobrol.
Namun Qisya selalu saja menghindar darinya tanpa mau menatap wajahnya yang membuat Bisma merasa sesak di dalam hatinya, sehingga Bisma tidak ada cara lain. Mungkin saat Bisma mengajaknya untuk pulang, maka Qisya akan mau berbicara dengannya lagi.
“Qisya, boleh Om jangkung berbicara?” ucap Bisma dengan menggunakan panggilan yang pertama kali Qisya ucapkan saat bertemu dengan Bisma.
Qisya yang mendengar panggilan itu langsung menoleh dan menatap Bisma, lalu Bisma hanya bisa menunjukkan senyum tipisnya yang membuat Qisya langsung kembali menatap layar televisi.
__ADS_1
“Apa Qisya sangat kangen kepada keluarga Qisya? Jika memang Qisya kangen dengan mereka, Qisya boleh kok pulang dan nanti Om jangkung antarkan Qisya bertemu dengan keluarga Qisya. Sekalian Om jangkung ada yang ingin ditanyakan dengan Ayah Qisya” ucap Bisma dengan suara lembutnya.
Qisya kembali terkejut dengan apa yang Bisma ucapkan. Ia langsung menatap manik mata Bisma dengan sangat dalam untuk memastikan jika Bisma tidak membohonginya.
“Tuan benar akan membawaku kembali ke mereka?” tanya Qisya dengan kecuekannya.
“Jika itu bisa mengembalikan kebahagiaanmu, Om jangkung akan lakukan agar bisa membuatmu tersenyum kembali” saut Bisma dengan senyuman.
“Tuan tidak bohong kan? Atau ini adalah akal-akalan Tuan agar bisa membuatku kembali mempercayai Tuan, dan Tuan kembali membuatku membenci mereka?” jawab Qisya dengan wajah datarnya.
“Tidak, Baby. Om jangkung serius kali ini, Om sudah sadar kalau ini semua adalah salah karena Om langsung mempercayai orang tanpa mencari tahu kebenarannya seperti apa” ucap Bisma sambil mengelus kepala Qisya yang membuat Qisya sedikit memundurkan duduknya menjauhi Bisma.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Halo semuanya... 😁😁😁
Karena beberapa hari ini Author hanya update 1 bab jadi... 😗😗😗
Jadi Author akan memberikan update 2 bab untuk hari ini 😆😆😆
Yeeeyy... Horraaayy... 🥳🥳🥳
Semoga kalian menyukainya dan terus dukung Author ya... 🤗🤗🤗
Terima kasih semua... Sampai jumpa di bab selanjutnya 🥰🥰🥰
__ADS_1
Papaaaayyy ~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻