Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
Kelapa Muda


__ADS_3

Bersamaan dengan itu, kedua matanya pun ikut tertutup ketika mendongak menatap wajah istrinya yang terlihat menenangkan hatinya.


Pada akhirnya mereka berdua telah memasuki alam bawah sadarnya, meskipun mulut Alex terus bergerak sesekali menikmati keseruan permainan yang jarang dia mainkan.


...*...


...*...


Tepat di pagi hari, Sasya, Alex dan juga semuanya sedang bersarapan di atas meja makan. Dimana Bunda Hana hari memasak nasi goreng, telur mata sapi dan juga naget.


Sasya terlihat begitu lahap, bahkan dia sudah menambah 2 piring nasi goreng, 3 telur mata sapi dan juga 5 naget dalam waktu singkat.


Semua yang ada disana melihat Sasya menjadi terdiam, rasa lapar di dalam perut mereka seketika menghilang dan tergantikan dengan rasa kenyang.


"Kak, Kakak enggak salah makan sebanyak itu apa perutnya enggak akan meledak?" gumam Lily, dia terkejut, untuk pertama kalinya melihat Sasya seperti ini.


"Muklum, palingan juga semalam mereka habis dinas sampai pagi." jawab Lukas, spontan.


"Memangnya ada pekerjaan sampai pagi, Bang? Terus dinas apaan, kan mereka semalam cuman ada didalam kamar?" ucap Lily, penasaran.


"Anak kecil enggak boleh tahu, udah lanjut makan. Entar kita kesiangan kuliahnya!" Lukas kembali menyuapkan sesendok nasi kedalam mulutnya.


"Yak, enak aja! Kalau Lily anak kecil, itu artinya Bang Lukas juga sama. Kan kita lahirnya cuman beda menit, bukan beda tahun!" sahut Lily, tidak terima.


"Ya memang, tapi kan aku duluan yang keluar. Jadi aku yang duluan dewasa dan kamu yang masih kecil." jawab Lukas, cuek.


"Abang!" pekik Lily dengan suara nyaringnya, hingga membuat Sasya tersendak.


Alex dengan sigap, memberikan minum kepada istrinya secara perlahan. Sedangkan Lily, dia mengembungkan kedua pipinya sambil mengetuk-ngetukkan sendok sangat berisik.


"Ya ampun ini anak 2, sehari aja enggak usah buat ulah bisa kan? Itu lihat Kakakmu sampai tersedak begitu." ucap Bunda Hana.


"Kalau mereka enggak membuat ulah, ya bukan 2L namanya." celetuk Ayah Brian.


Bunda Hana hanya bisa menggelengkan kepalanya pelahan, lalu dia menatap Sasya dan berkata. "Bagaimana, Sayang. Udah baikan?"


"Alhamdulillah udah, Bunda. Ohya Bun, disini ada pohon mangga enggak sih?" tanya Sasya.

__ADS_1


"Kurang tahu, Kak. Memangnya kenapa?" tanya Bunda Hana, bingung.


"Itu katanya Mas Alex mau ambil mangga langsung dari pohonnya." jawab Sasya sambil makan.


"Hah? Se-sejak kapan aku berbicara seperti itu?" sahut Alex, syok menatap istrinya.


"Entahlah, pokoknya Mas bilang begitu kok. Makannya aku bilang Bunda, tapi kayanya bukan mangga deh. Tapi, kelapa. Ahya, itu pasti enak air kelapa muda airnya kan segar banget."


Sasya berbicara sambil membayangkan ketika dia sedang meminum air kelapa muda dari sumbernya.


Ayah Brian yang mulai curiga, menatap istrinya sambil menoel-noel. Bunda Hana yang merasa terganggu segera menoleh kearah suaminya.


Ayah Brian mencoba memperagakan perut gendut menggunakan tangannya, Bunda Hana yang belum mengerti sedikit bingung. Cuman ketika beberapa detik, Bunda Hana langsung paham.


"Hamil?" ucap Bunda Hana, tanpa suara. Ayah Brian tersenyum dan mengangguk antusias.


"Bunda sama Ayah ngapain, sih? Lihat itu anak sama menantunya berantem, ini mertuanya malah asyik main tebak-tebakan." ucap Lily.


Bunda Hana dan Ayah Brian hanya bisa cengengesan bersama, wajahnya terlihat memerah. Maklum saja, jika benar Sasya sedang mengandung sama seperti apa yang diucapkan oleh Ayah Brian.


Itu tandanya, sebentar lagi mereka akan menjadi Grandma dan juga Grandpa. Jadi, tidak kebayang kan. Bagaimana bahagianya mereka berdua saat cucu pertamanya sebentar lagi akan hadir.


...*...


...*...


Disaat meja makan keluarga Ayah Brian mulai rusuh, berbeda halnya dirumah sakit khusus, New York. Seorang pria bernama Ash baru saja selesai melakukan operasi untuk kesekian kalinya.


Ash memang sudah berhasil menjadi seorang dokter yang hebat, meski prestasinya tidak sebanyak Sasya. Tapi, Ash juga memiliki beberapa prestasi yang membuat namanya terangkat.


"Permisi, Dok. Di kamar 203, pasiennya sedikit mengamuk. Dia selalu mengeluh merasakan sakit, sehingga mengganggu beberapa pasien yang berada dikamar tersebut." ucap seorang suster begitu tegang.


"Memang ada apa, Sus? Apakah dia tidak meminum obat yang sudah diberikan? Lantas kemana keluarganya?" tanya Ash, mengerutkan wajahnya.


"Saya kurang tahu, Dok. Sepertinya keluarganya sedang tidak ada bersamanya, kemungkinan besar mereka sedang makan siang atau lagi pulang dulu, Dok." jelas suster.


"Baiklah, saya akan segera keruangan tersebut untuk mengecek kondisinya."

__ADS_1


Ash segera berjalan menyusuri lorong rumah sakit dalam keadaan tergesa-gesa, sampai akhirnya dia tidak sengaja menabrak seorang suster yang sedang berjalan berlawanan arah dengannya.


Bruk!


Tubuh mereka saling bersenggolan membuat tubuh suster itu terhuyung ke belakang. Dengan sigap, tangan kekar Ash menahan tubuh suster tersebut agar tidak terjatuh mencium lantai.


Kini posisi tubuh mereka sangat dekat, bak seorang sepasang kekasih yang sedang menari dipesta dansa.


Untuk beberapa saat mereka terdiam dengan posisi seperti itu, pandangan mereka seakan terkunci satu sama lain dengan debaran jantung yang mulai saling bertautan.


1 detik, 2 detik, bahkan sampai 5 detik tidak ada yang memutus pandangan itu sampai Ash merasa tangannya mulai pegal.


"Anna, apa kamu tidak apa-apa?"


Anna yang ada dalam pelukannya langsung tersadar apa yang terjadi dan segera mendorong tubuhnya dengan wajah merah padam.


"Sa-saya baik-baik aja, Dokter Ash." jawabnya dengan lirih.


Ash menghembuskan napas perlahan dan tersenyum menatapnya. "Maafkan saya, karna tidak sengaja menabrakmu."


Ash menganggukkan kepalanya sebagai permintaan maaf. Begitu juga sama Anna, dia juga ikut menganggukkan kepalanya untuk menanggapi permintaan maaf Ash.


"Memangnya Dokter Ash, ada kepentingan apa. Kok terlihat terburu-buru?" ucap Anna, yang merasa detak jantungnya sedikit mereda.


"Oh itu, dikamar 203 ada pasien yang sedikit mengamuk kesakitan akibat penyakitnya kambuh. Dan saya, harus segera mengeceknya." ucap Ash.


"Boleh saya ikut, Dok? Lagian ini sudah mau jam makan siang, jadi aku bisa menemani dokter jika mau." tawa Anna, sedikit tersenyum.


"Jika memang kamu memaksa, baiklah. Mari!"


Ash melanjutkan langkahnya menelusuri lorong rumah sakit, dengan diikuti oleh suster Anna disampingnya. Sedangkan Anna terlihat sedikit kesal, tetapi dia juga senang ketika bisa kembali berada didekat Ash.


Namun, sayangnya Anna bukanlah asisten Ash. Jadi mau tidak mau, mereka hanya bertemu sekilas saat berpapasa. Tidak setiap saat seperti biasanya, ketika mereka menjalani tugas bersama.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Hai guys ... jangan lupa mampir ke karya temen-temanku ya, mungkin selama beberapa hari ke depan author akan mempromosikan semua karya yang sangat memukai. Terima kasih.. 🙏🏻...

__ADS_1



__ADS_2