
Selang beberapa menit Alex berdiri dan memeluk istrinya sambil menciumi wajahnya. Alex sangat bersyukur atas kenikmatan rezeki yang hari ini datang untuknya.
Sasya pun tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia hanya bisa mengucapkan bahwa dia sangat bahagia bisa mewujudkan impian suaminya yang beberapa bulan tertunda akibat keegoisan mereka keduanya.
...*...
...*...
Setelah berita bahagia itu mereka ketahui, Bunda Hana segera kembali ke kamarnya untuk menyiapkan kejutan kepada suami dan anak kembarnya.
Bunda Hana mengumpulkan semua test pack yang sudah Sasya gunakan, lalu dimasukan kedalam suatu kotak sedang agar diberikan kepada suami dan ketiga anaknya.
Ada 2 kotak dengan ukuran sedang yang sudah disusun rapi dan indah oleh Bunda Hana. Wajahnya kali ini benar-benar berseri ketika impiannya memiliki seorang cucu sudah terkabulkan.
Berbeda sama Sasya dan Alex, mereka berada di dalam kamar dengan keadaan Alex terus menciumi perut istrinya.
"Baby, baik-baik ya didalam perut Mommy. Daddy sayang banget sama kamu, muach ...." gumam kecil Alex, yang terlihat begitu bahagia.
"Hem, jadi sayangnya cuman sama Baby nih? Berarti Mommynya eng---"
"Sayang dong, sayang banget malahan. Kan kalau enggak ada Mommy, pasti Baby juga enggak akan ada didalam perut hihi ...."
Alex memotong ucapan istrinya sambil terkekeh, kali ini Sasya begitu bersyukur. Lantaran bisa melihat ekspresi wajah Alex yang tidak seperti biasanya.
Wajah Alex terlihat begitu lucu, bahagia dan juga senang. Mungkin saat-saat seperti inilah yang akan menjadi momen berkesan, dimana Alex akan berada jauh dari istri dan juga anak yang ada didalam perutnya.
"Mas, besok kan kamu harus kembali ke Indonesia. Terus, bagaimana kamu bisa bertahan jika sampai detik ini saja kamu tidak bisa lepas dari aku." ucap Sasya, membuat wajah bersinar Alex menjadi redup bagaikan lampu yang mulai padam.
Alex terdiam, dia tetap mengelus perut istrinya sambil tiduran di pahanya. Alex bingung, sebenarnya dia tidak mau berjauhan dengan istri dan juga anaknya.
Cuman mau bagaimana lagi, jika Alex tetap berada disini, dia tidak enak sama Joko dan Pinjai yang selalu menerima beban atas dirinya.
"Mas, kok diam?" tanya Sasya mengusap kepala suaminya.
"Enggak, Sayang. Udah kamu enggak usah banyak pikiran, insyaallah aku kuat kok. Aku juga enggak enak kalau harus meninggalkan perusahaan terlalu lama." jawab Alex, sedikit tersenyum.
"Aku tahu, Mas. Kamu tidak akan bisa berjauhan dari aku, bagaimana kalau kamu hubungi Kak Joko atau Pinjai saja."
__ADS_1
"Kasih tahu mereka jika aku sudah mengandung anakmu, terus bilang kalau kamu akan kembali bulan depan setelah aku risegn."
Sasya mencoba menjelaskan kepada suaminya, Alex awalnya terdiam. Setelah mendengar penjelasan Sasya, membuat Alex langsung bangkit duduk dan mencium bibir istrinya sekilas.
"Terima kasih, Sayang. Aku coba hubungi mereka dulu ya."
Alex segera mencari ponsel dan menelpon keluarganya menggunakan panggilan video call. Dimana Alex segera menelpon Pinjai, tak lama diangkat olehnya. Tepat sekali posisi Pinjai sedang berada dirumah.
Pinjai merasa bingung, akibat Alex menelponnya menggunakan panggialan video call. Apa lagi Alex sangat jarang menggunakan panggilan itu jika bukan dengan istrinya.
Tanpa basa-basi lagi, Alex menunjukkan 1 test pack yang dia simpan. Awalnya Pinjai tidak paham, cuman beberapa detik Manda muncul dari arah samping kanan dengan suara yang sangat heboh.
Mereka semua terkejut saat mengetahui kehamilan Sasya, berkali-kali mereka mengucapkan selamat kepada Alex dan juga Sasya.
Belum lagi perut Chika sudah terlihat semakin membesar, yang artinya ketika Chika melahirkan kemungkinan besar perut Sasya sudah mulai terlihat membuncit.
Setelah selesai melakukan panggilan dan mereka telah menyetujui jika Alex memang harus menemani istrinya lebih dulu.
Apa lagi masa-masa kehamilan yang masih muda akan membuat Alex, benar-benar merasakan bagaimana nikmatnya menjadi kedua orang tua.
Sama halnya seperti Joko, yang selalu menikmati masa ngidam istrinya yang sedikit aneh. Ditambah lagi terkadang Chika mengalami mual-mual membuat Joko sedikit kewalahan menghadapi mood istrinya.
...*...
...*...
Pada malam hari, semuanya sudah selesai melakukan makan malam. Kini saatnya mereka berkumpul diruang keluarga seperti semula.
Akan tetapi mereka bingung saat melihat wajah Alex, Sasya dan juga Bunda Hana yang selalu tersenyum.
"Bunda kenapa dari tadi senyum terus? Apa Bunda habis kesurupan?" tanya Lily, spontan.
"Hehe, tidak Sayang. Bunda cuman lagi senang aja, ohya. Bunda ada hadiah buat kalian bertiga, sebentar ya."
Bunda Hana pergi kearah kamarnya untuk mengambil kedua kotak tersebut, supaya bisa diberikan langsung kepada Ayah Brian dan juga si kembar.
Saat Bunda Hana sudah kembali duduk disamping suaminya, dia segera memberikan satu persatu kotak berukuran sedang kepada suaminya dan juga si kembar.
__ADS_1
"Loh kok, Ayah dikasih 1 kotak. Tapi Lily sama Abang berdua?" ucap Lily, tidak terima.
"Ya, karena Ayah sendiri jadi hadiahnya 1. Jika Ayqh kembar maka hadiahnya sama kaya kalian berdua. Tapi tenang aja, isinya sama-sama spesial kok." jawab Bunda Hana tersenyum.
"Kalau memang spesial, kenapa Sasya dan Alex tidak menerimanya?" tanya Ayah Brian.
"Kami sudah mendapatkannya, Ayah. Tinggal kalian yang belum mendapatkannya. Jadi sekarang, ayo buka hadiah itu secara bersama-sama, tapi Sasya hitung 1 sampai 3 dulu ya." ucap Sasya, antusias.
Mereka bertiga sudah tidak sabar melihat ekspresi wajah Ayah Brian dan juga Lukas sama Lily.
Satu ...
Dua ...
Tiga ...
Lukas dan Lily mencoba membuka kotak tersebut bersama-sama, begitu juga dengan Ayah Brian. Sampai akhirnya mata mereka membola besar, ketika melihat sebuat tulisan dari selembar kertas kecil yang bertuliskan.
..."Hello, Grandpa. Sebentar lagi kita akan bertemu loh, jadi Grandpa harus selalu sehat-sehat ya, menunggu kelahiranku. Aku sayang Grandpa."...
..."Hello, Uncle and Aunt. Kalian jangan bertengkar terus ya, sebentar lagi aku akan merepotkan kalian. Jadi bersiaplah menemaiku bermain setiap waktu. Aku sayang Uncle and Aunt."...
Bulir-bulir air mata diantara mereka bertiga mulai menetes, saat membaca surat yang dituliskan oleh Bunda Hana.
Perlahan mereka mengambil beberapa test pack yang melambangkan 2 garis merah, dimana mereka langsung paham. Jika saat ini Sasya sedang berbadan dua.
Mereka menatap Sasya dan Alex yang saat ini tersenyum bahagia menatap mereka, sampai Lily yang sudah tidak kuat langsung berhambur memeluk Sasya begitu erat.
"Hiks, se-selamat ya Kak, Mas. Selamat karena kalian sebentar lagi akan memberikan aku ponakan, aku bahagia banget mendengar berita ini."
"Pokoknya Kakak harus sehat-sehat jangan kelelahan, ingat Lily tidak mau sampai ponakan Lily kenapa-kenapa."
Nasihat Lily segera diangguki oleh Sasya, lalu Lily melepaskan pelukannya dan bergantian dengan Lukas. Lalu yang terakhir Ayahnya.
Ayah Brian terlihat begitu syok sekaligus bahagia, ini memang impian semua keluarga Sasya. Tetapi tidak menyangka, jika ucapan Ayah Brian tadi pagi bisa menjadi kenyataan secepat ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...Hai guys ... jangan lupa mampir ke karya temen-temanku ya, mungkin selama beberapa hari ke depan author akan mempromosikan semua karya yang sangat memukai. Terima kasih.. 🙏🏻...