Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
Vizan Joko Ignatus


__ADS_3

Sasya dan Ash menaiki bus tersebut yang akan membawa mereka ke kota Los Angeles. Mereka menimba ilmu di sana selama 1 tahun, agar mereka bisa mempraktikkannya langsung sesuai dengan jurusan masing-masing. Kemudian setalah bus itu berangkat, kini saatnya mereka mengantarkan si kembar ke sekolah. Lalu Hanna ikut bersama Brian ke kantornya.


...*...


...*...


3 hari telah berlalu...


Salah satu mafioso Alex mendobrak pintu rumah, yang mana ini adalah rumah dari sahabat pria waktu itu. Bodyguard yang berjaga-jaga di sekitaran rumah itu, sudah tergeletak mengenaskan ditangan beberapa mafioso Alex. Sehingga dengan mudahnya mereka memasuki rumah itu tanpa hambatan sedikit pun.


“Heyyy... Siapa kalian! Kenapa kalian mendobrak rumah Tuan kami” teriak bodyguard pria itu dengan sangat lantang.


“Dimana Tuan kalian? Tuanku ingin menemuinya, cepat panggilkan dia SEKARANG!!” pekik ketua Mafioso Alex dengan wajah sangarnya.


“Ti-tidak, Tu-Tuan kami tidak ada di sini. Di-dia sedang pergi” ucap bodyguard pria itu penuh ketakutan karena ia melihat para mafioso Alex badannya jauh lebih besar darinya, bahkan wajahnya pun terlihat begitu menyeramkan.


“Baiklah... Jika kau tidak bisa di ajak berbicara secara baik-baik, maka dengan sangat hormat aku harus memaksamu!” ucap ketua mafioso Alex sambil berjalan melangkahkan kakinya bersama mafioso lainnya untuk bersiap menyerang mereka.


Ciiaaaattttt...


Braaaakkkk...


Buuughhh...


Dooorrrrrr...


Aaarrghhhhh...


Slashh slinggg...


Dooorrrrrr...


Terdengar sangat nyaring suara senjata yang saling bersahutan hingga banyak bodyguard orang itu sampai tergeletak dengan beberapa luka dan ada pula yang tertembak mati. Sedangkan Alex dan Pinjai masih berada di dalam mobilnya, menunggu aba-aba dari tangan kirinya. Tidak lama tangan kiri kepercayaan Alex dan Pinjai berlari mencari keberadaan orang itu di setiap sudut rumah.


“Arrrghhh... Si*al!! Dimana dia, aku yakin dia pasti masih ada di sekitar sini. Tidak mungkin dia bisa kabur karena penjagaan kami sudah terlalu ketat” ucap tangan kiri kepercayaan Alex dan juga Pinjai yang tidak lain adalah Joko.


Vizan Joko Ignatus adalah orang kepercayaan Alex ke-2 setelah Pinjai dengan usia 38 tahun. Ibarat kata Pinjai tangan kanannya, dan Joko tangan kirinya Alex. Jika keduanya tidak berada di samping Alex, maka sudah di pastikan kalau Alex akan kesusahan untuk menjalankan semua bisnisnya seorang diri selama ini.


Apa lagi Alex harus mengurus perusahaan besar bersama Pinjai, maka markas ia percayakan kepada Joko untuk mengurusnya. Joko merupakan nama panggilan yang dulu Alex gunakan saat ia bertemu pertama kali dengannya, karena penampilan Joko terlihat sangat cupu. Tetapi di balik penampilan itu ternyata ia mempunyai skill luar biasa, hingga ia di angkat menjadi tangan kiri Alex di mafia.


Padahal nama panggilannya adalah Vizan, namun karena sudah terbiasa dipanggil Joko oleh Alex jadi semua mafia hanya tahu jika namanya adalah Joko bukanlah Vizan. Di sisi lain, seorang pria bernama Jovan dengan usia 50 tahun sedang berada di ruangan rahasia.

__ADS_1


“Silahkan kalian mencariku sepuas kalian, bahkan sampai bodyguard itu semua pada mati pun ia tetap tidak ada yang tahu jika aku memiliki ruangan rahasia haha...” Jovan duduk manis di sebuah sofa dengan satu kakinya yang menopang kaki lainnya sambil menghisap puntung rokok.


Jovan terlihat sangat tenang tanpa memikirkan nasib semua bodyguardnya yang luka akibat perkelahian, bahkan sampai ada juga yang tertembak mati. Lalu yang lebih penting lagi, semua aset berharga milik sahabatnya yang ia rampas kini telah berada bersamanya seperti ia sudah merancang semuanya.


Jovan sangat tahu jika sahabatnya yang bernama Bonnie dengan usia 50 tahun akan meminta pertolongan pada mafia Alex. Setelah Joko mencari seluruh penjuru rumah tidak ada tanda-tanda keberadaan Jovan, ia segera berlari mendekati mobil Pinjai dan Alex.


“Bagaimana? Apa kau sudah berhasil menangkap orang bernama Jovan itu!” ucap Pinjai sambil membuka kaca mobilnya.


“Maaf Tuan, saya berserta yang lainnya sudah mencari di setiap sudut rumah itu namun tidak ada tanda-tanda jika Jovan berada di sana. Cuma saya sangat yakin, di dalam rumah itu pasti ada sebuah ruangan rahasia”


“Semua bodyguardnya juga tidak ada yang tahu keberadaannya, Tuan. Bahkan mereka tewas mengenaskan di tangan mafioso. Aku curiga jika ia sudah menyiapkan segalanya, ia juga pasti sangat tahu kekuasaan mafia terbesar di pegang oleh kita. Jadi dia pasti mencoba untuk mengelabuhi kita dengan segala taktiknya”


Joko menjelaskan keadaan yang ada di dalam dengan wajah sedikit ketakutan, Joko takut jika Alex akan memarahinya karena ia tidak becus mengerjakan pekerjaan yang sangat mudah.


“Bagaimana, Tuan? Apa yang harus kita lakukan sekarang?” ucap Pinjai sambil menoleh ke arah kursi belakang mobil sambil Alex membuka kaca mata hitamnya dengan perlahan.


“Sepertinya kita harus turun tangan untuk membantu Joko menangkap tikus licik itu, apa kau sudah siap Pinjai?” tanya Alex dengan nada dinginnya penuh dengan aura menyeramkan.


“Baik Tuan, saya sudah siap. Saya dan Joko akan membantu Anda menangkap tikus licik itu. Bisa saya pastikan kalau dia akan menerima hukuman yang sangat menyakitkan dari temannya sendiri. Apa lagi dia sudah mengukir dendam jadi tanpa adanya rasa kasihan, temannya itu akan menyiksanya untuk membayar lunas apa yang sudah dia lakukan” ucap Pinjai.


Alex dan Joko hanya bisa menganggukkan kepala mereka. Meskipun mereka bertiga adalah sahabat, tetapi jika masalah pekerjaan mereka selalu mempunyai cara tersendiri untuk bersikap profesional. Joko membukakan pintu untuk Alex dan Pinjai, lalu keduanya turun dari mobil dengan sangat gagah.


Kemudian mereka berjalan bersamaan sejajar seperti layaknya pria idaman setiap wanita. Langkah demi langkah mereka pijakkan bersama-sama, sampai kini tibalah mereka memasuki rumah yang terlihat mewah namun sudah terpenuhi oleh cairan merah dimana-mana.


“Siap Tuan” ucap Pinjai dan Joko bersamaan sambil berjalan beriringan di belakang Alex.


Perlahan lahan Alex menelusuri setiap sisi rumah menggunakan mata tajamnya, namun ia tidak menemukan apa pun.


“Bagaimana ini, Tuan? Apa dia benar-benar sudah tidak ada di sini?” tanya Pinjai.


“Aku tidak tahu, mungkin yang di katakan para bodyguardnya di saat-saat terakhir benar adanya. Jika pria itu memang tidak ada di rumah ini” jawab Alex.


“Tidak, Tuan. Aku sangat yakin jika orang itu sedang bersembunyi, hanya saja kita belum bisa menemukannya” saut Joko dengan tegas.


“Jika benar begitu, maka kau cari orang itu. Bukannya kau seorang detektif handal? Lalu kenapa kau terkecoh dengannya?” ucap Alex sambil menatap Joko.


“Maaf Tuan, lalu bagaimana jika kita masuk ke ruangan itu? Sepertinya ruangan itu sangat berbeda dari ruangan yang lain” ucap Joko sambil menatap salah satu ruangan yang membuat Alex dan Pinjai menatap ruangan yang sama.


“Ya, kau benar Joko. Aku pun sama denganmu, ruangan itu memang sedikit aneh dan juga kumuh. Apa dia berada di dalam sana?” saut Pinjai.


“Bisa jadi karena yang namanya ruangan rahasia akan di desain sedemikian rupa untuk mengecoh mata kita, tetapi tidak denganku” jawab Joko dengan percaya diri.

__ADS_1


“Baiklah kita periksa ke sana, dan buktikan jika kau memang sangat pantas mendapatkan julukan manusia Jenius” saut Alex.


Joko berjalan lebih dulu untuk memastikan semuanya, dan mengeceknya agar tidak ada yang membahayakan dirinya atau pun Tuannya.


Kkkreeeekkkk...


Joko membuka pintu yang hampir rapuh itu dengan sangat hati-hati, dan yang membuat mereka terkejut ialah di dalam sana hanya sebuah gudang yang sangat berdebu serta banyak sekali barang-barang rusak di dalamnya.


Haachhimmm...


Alex bersih sambil mengusek-usekkan hidungnya, sedangkan Joko tetap fokus untuk menatap setiap benda-benda yang akan membuatnya sangat curiga.


“Tuan tidak apa-apa?” tanya Pinjai dengan wajah cemasnya.


“Tidak, aku baik-baik saja. Hanya saja di sini banyak debu yang membuat hidungku bermasalah” jawab Alex.


Joko berjalan menelusuri benda-benda tersebut, dan tanpa sengaja Joko tersandung hingga tangannya memencet tombol di sela tumpukan kayu-kayu besar sampai membuat pergelangan tangannya terbeset mengeluarkan cairan merah.


“Sssttt...” keluh Joko sambil mencoba mengeluarkan tangannya.


“Kau gapapa, Joko?” tanya Pinjai sambil segera membantu Joko.


“Aku tidak apa-apa, cuma tadi aku merasa seperti habis memencet sesuatu” jawab Joko dengan wajah yang masih menahan sakit.


“Apa di balik kayu itu ada sebuah tombol?” tanya Alex.


Pinjai dan Joko menatap Alex, kemudian mereka ingin melihat tombol di sela tumpukan kayu besar itu namun mereka terdengar suara yang sedikit mengejutkan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Selamat pagi... Selamat siang... Selamat malam untuk semuanya... 🤗🤗🤗


Aku harap kalian menyukai karyaku dan bisa terus dukung Author 🥺🥺🥺


Author juga ingin memberikan rekomendasi novel lagi nih... 😗😗😗


Berikut adalah rekomendasi dari Author untuk kalian semuanya 🥳🥳🥳


Silahkan kalian jelajahi dan tinggalkan jejak indah kalian semua 😁😁😁


Terima kasih semuanya 🙏🏻🙏🏻🙏🏻

__ADS_1


...*...



__ADS_2