
Brian pun langsung berlari sekencang mungkin menuju tempat tadi. Namun, di saat Brian sudah sampai di tempat itu, ia malah di kejutkan dengan keadaan tempatnya yang tidak seramai sebelumnya.
Brian pun langsung berlari dengan sangat cepat ke sana dan ke sini sambil bertanya kepada setiap orang serta penjual di tempat tersebut untuk menanyakan apakah mereka melihat Qisya.
Nihil !...
Gatot !...
Tak ada hasil !...
Itulah yang Brian kecewakan, ia merasa tidak berguna dan tidak becus sebagai seorang Ayah yang telah membuat salah satu anaknya menghilang begitu saja di tempat yang asing bagi mereka.
Coba saja saat itu ia dengarkan apa kata Hana, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini. Pasti mereka masih bisa berkumpul tidak seperti sekarang yang terpisah dan kebingungan mencari keberadaan Qisya.
Brian tidak berhasil menemukan Qisya, tetapi ia tidak putus asa dan terus mencari lagi dan lagi sampai akhirnya ia merasa lelah dan langsung terduduk lemas dengan wajah yang sangat kacau.
“Arrrrghhhhh... Kenapa kau kasih cobaan keluargaku seberat ini ya Allah... Apa salah keluargaku sampai kau kasih kami cobaan seperti ini hiks... Kenapa bukan Aku saja yang kau kasih cobaan ? Kenapa harus anak-anakku ya Allah kenapaa ???...” teriak Brian sambil menangis yang membuat orang di sana merasa aneh.
Apa yang Brian katakan tidak di mengerti oleh bahasa mereka. Mereka menebak bahwa Brian adalah orang luar yang sedang liburan ke negara mereka. Karena bahasa Brian terlihat sangat aneh di dalam pendengaran mereka semua.
“Permisi, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?” ucap polisi sekitar menggunakan bahasa Korea yang sudah mengetahui bahwa Brian saat ini sedang mengalami kesulitan.
“Tolong anak saya, Pak. Dia hilang di tempat ini, tadi tempatnya tidak seperti ini. Bahkan banyak sekali pengunjung sampai kami pun berdesakan, hanya saja anak saya terlepas dari genggaman istri saya” ucap Brian menggunakan bahasa Korea.
“Baiklah, Tuan. Kami akan kembali mencari anak Tuan dan jika tidak di temukan, maka Tuan harus ikut kami ke kantor untuk memberi keterangan serta laporan agar anak Tuan bisa segera di temukan” jawab polisi dengan bahasanya.
“Hiks... Tolong bantu saya, Pak. Cepat temukan anak saya, kasihan dia masih kecil pasti dia sedang mencari Ayahnya, Bundanya serta adik-adiknya hiks...” ucap Brian dengan bahasa Korea.
“Siap, Tuan. Kami akan berusaha mencarinya” ucap polisi dengan bahasanya dan langsung menyuruh rekan-rekannya untuk membantu mencari Qisya dengan foto yang telah Brian kirim ke ponsel salah satu dari Pak polisi.
__ADS_1
Hampir 1 jam lebih Pak polisi mencari keberadaan Qisya. Namun, nihil. Qisya sudah tidak ada di sana, bahkan Bisma sudah merancangnya dengan sangat rapi. Hingga tidak meninggalkan jejak sedikit pun.
Bahkan Pak polisi pun sudah membuat pengumuman anak hilang dengan menggunakan alat pengeras suara di mobil polisi tersebut atas nama Qisya di tempat itu, tapi tetap saja tidak ada hasilnya sama sekali.
Akhirnya Brian dibawa ke kantor polisi stempat untuk membuat keterangan serta laporan atas nama Qisya. Setelah selesai dari laporannya, Brian diantar oleh salah satu polisi untuk menuju ke penginapannya Brian.
Brian pun turun dari mobil polisi dengan pandangan kosong, wajah bengap, pakaian dan rambut yang acak-acakan serta air mata yang masih menetes. Langkah demi langkah Brian lewati semuanya, sampai menuju depan pintu penginapan.
Di sana terdengar tangisan Lukas dan Lily yang teriak² memanggil nama sang Kakak yang membuat Brian tidak berani membuka pintu. Ia takut jika kabar ini akan membuat mereka semakin bersedih dan kecewa.
Brian beranggapan bahwa semua ini adalah salahnya yang telah mengizinkan mereka untuk masuk ke tempat itu. Padahal dengan jelas Hana memiliki firasat yang kuat tapi ia malah menghiraukannya dengan menyangka bahwa itu hanya kebetulan.
“Ayah kemana sih lama banget, bagaimana keadaan Kakak di sana hiks...” ucap Hana sambil membuka pintu dan terlihatlah keadaan Brian yang sangat memprihatinkan.
“A-ayah ke-kenapa? Dimana Kakak? Apa Kakak sudah ketemu? Pasti sudah dong ya kan... Lalu Kakak dimana Ayah? Ayah kenapa diam saja, hah... Dimana Kakak? Jawab Ayah jawab!!” ucap Hana dengan menggoyangkan tubuh Brian yang hanya terdiam kaku dengan air mata yang terus menetes.
“Ayah, Kakak dimana? Apa Ayah sudah berhasil bawa Kakak pulang?” ucap Lukas yang berlari mendekati Brian.
Brian pun langsung masuk saja tanpa menghiraukan Sang Istri serta kedua anaknya yang menunggu jawaban darinya. Ia benar-benar masih sangat kacau, bahkan Brian juga belum tahu harus memberikan jawab apa kepada mereka semua.
Hal ini dikarenakan pikiran Brian saat ini benar-benar tidak karuan serta rasa kekecewaan dengan dirinya sendiri terlihat jelas di wajah Brian. Hana yang melihat Brian seperti seseorang yang sedang putus asa pun langsung membawa kedua anaknya untuk beristirahat lebih dulu.
Hana melakukan hal itu supaya Brian bisa menenangkan dirinya terlebih dahulu sebelum mengatakannya. Hampir jam 12 malam, akhirnya Lukas dan Lily pun tertidur dengan keadaan wajah yang sangat sembab.
Hana pun kemudian kembali mendekati Brian yang masih terdiam sambil menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong. Hana tahu pasti ada sesuatu yang terjadi pada Qisya hingga membuat Brian tidak berdaya seperti ini.
Ini pertama kalinya Hana melihat kondisi Brian yang sangat-sangat kacau. Hana langsung membuatkan teh hangat untuk Brian supaya bisa sedikit membuat tubuhnya lebih hangat.
“Mas, ini tehnya. Diminum dulu yuk... Biar badannya Mas lebih tenang lagi” ucap Hana sambil mengarahkan cangkir teh ke depan mulut Brian dengan perlahan.
__ADS_1
Perlahan Hana membuat Brian meminum tehnya dengan bantuan tangannya. Brian hanya bisa terdiam menatap lurus tanpa sedikit pun menoleh ke arah Hana.
Setelah selesai dengan beberapa tenggakan, Hana menaruh cangkir tersebut ke atas meja. Ia perlahan mengambil tangan Brian sambil menggenggamnya dengan perlahan.
Namun, Brian dengan kasarnya menghempaskan tangan Hana yang mencoba untuk memegang tangannya dan itu membuat Hana terkejut.
“Stop!! Jangan pegang aku seperti itu hiks...” ucap Brian sambil menangis.
“Mas kenapa? Hana tahu, Hana salah sudah tidak bisa menjaga Qisya hiks... Tapi Hana mau kita berusaha untuk mencarinya jangan malah seperti ini Mas... Hana tidak tega melihat keadaan Mas Brian yang sekarang ini hiks...” ucap Hana sambil menangis.
“Hiks... Ma-maaf karena aku telah gagal menjadi seorang Ayah. Aku adalah Ayah yang buruk, yang membiarkan anaknya hilang begitu saja hiks...” ucap Brian sambil menangis, yang membuat Hana langsung memeluknya.
“Hikss... Jangan salahkan diri Mas sendiri. Tapi ini salah Kita berdua yang telah lalai menjaga anak kita hiks... Maafkan aku, Mas. Karena aku Qisya terlepas dari genggamanku hiks...” ucap Hana sambil tersendu-sendu.
“Tidak sayang, ini adalah salahku. Coba saja, saat kamu mengajak kita untuk pulang aku mengikuti perintahmu mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini hiks... Maafkan aku, telah membuat kalian kecewa dan nangis karena sifat egoisku” saut Brian.
“Hiks... Sudah, Mas. Sudah cukup menyalahkan diri sendiri. Ini salah kita berdua karena tidak bisa menjaga anak kita dengan baik. Dan ini juga ujian dari Allah yang harus kita lewati serta hadapi bersama hiks... Aku yakin kita akan bisa melewatkan semua ini karena Allah tidak akan pernah menguji hambanya di batas kemampuannya. Dan Aku yakin Qisya akan kembali pada kita serta akan berkumpul kembali” ucap Hana untuk meyakinkan Brian.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hello guys... Selamat siang... Good Afternoon... 🤗🤗🤗
Bertemu lagi dengan Author yang cetar membahana membagongkan 😄😆😂
Seperti biasa... Like always... kita akhiri dengan mengucapkan hamdallah 🤭🤭
Ehh... dan juga rekomendasi novel untuk hari ini guys 😁😁😁
Silahkan dijelajahi dan jangan lupa tingalkan jejak melehoy kalian 🤣🤣🤣
__ADS_1
...*...