Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
Alex yang Sebenarnya


__ADS_3

Saat Sasya sudah membereskan berkas yang terjatuh itu, tanpa sengaja mata Sasya melihat satu nama yang tidak asing baginya di salah satu berkas yang jatuh dari meja dokter Rini itu.


Nama panggilan : Mr. Alex


Nama panjang : Mr. Bisma Alexsander


Usia pasien : 32 years old


Di situ mata Sasya melotot dengan sangat lebar, hingga hampir saja membuat matanya seperti ingin keluar dari tempatnya.


“Ki-Kisss... A-are you alright...” ucap Ash yang sangat ketakutan melihat Sasya.


“Ja-jadi, Tu-Tuan A-alex adalah O-Om Bisma...” gumam Sasya di dalam hatinya dengan air mata yang seketika runtuh, dan badannya pun mulai bergetar hebat.


Saat ini Sasya menemukan fakta mengejutkan siapa sosok Alex yang sebenarnya, karena ia sudah sempat curiga dengan nama Pinjai karena nama itu sangatlah tidak asing dalam ingatan Sasya.


Apa lagi seiring bertambahnya umur membuat mereka tidak bisa mengenali satu sama lain akibat perubahan fisik yang terjadi. Bisma atau Alex yang Sasya kenal dulu, tidaklah segagah dan sekekar seperti saat ini.


Bahkan ketampanannya pun bertambah, padahal semakin menua biasakan akan semakin terlihat jelas kejelekannya namun berbeda dengan Alex. Kini Alex malah terlihat seperti pria berusia 22 tahun dan tidak sesuai dengan umurnya.


Ash yang melihat Sasya menangis pun membuat ia sangat bingung harus bagaimana lagi menghadapi Sasya yang tiba-tiba saja menangis. Cuma yang ada di pikiran Ash saat ini Sasya menangis akibat dirinya yang sudah kelewatan bercanda, jadi ia segera berjalan mendekati Sasya.


“Ki-Kiss... ma-maafkan aku karena aku sudah membuatmu nangis. Aku janji, aku tidak akan seperti ini dan ini ponselmu aku kembalikan” ujar Ash sambil menyerahkan ponsel Sasya dengan wajah sedihnya.


Sasya menaruh dokumen Alex dan kembali merapikannya, pantas saja ia tidak menemukan nama panjang Alex selama ini. Hal ini karena memang nama Alex di rahasiakan dan hanya ada di dalam dokumen di atas meja dokter Rini yang selama ini menangani Alex jika ia di rawat di rumah sakit.


Sasya langsung mengambil ponselnya, dan berlari keluar ruangan dengan keadaan menangis. Ash yang melihat itu pun segera menyusul Sasya.


“Kiss... wa-wait for me...” pekik Ash yang membuat Sasya berhenti serta menghapus air matanya, lalu ia berbalik bersamaan dengan Ash yang baru sampai di hadapannya.


“Stop mengikutiku, Ash! Kali ini aku mau sendiri, dan aku titip Tuan Alex padamu. Kau kontrol dia setiap 15 menit sekali, jika dia menanyakan diriku bilang saja aku sedang sakit, aku tidak masuk kerja, aku ada keperluan atau apalah terserah... yang jelas aku mau sendiri, okee...” ujar Sasya dengan penekanan kata-katanya, sehingga Ash hanya bisa menganggukkan kepalanya.


Sasya kembali pergi ke suatu tempat meninggalkan semua pekerjaannya demi menyembuhkan hatinya yang saat ini seperti ingin memancing semua emosinya kembali.


“What's wrong with Sasya? Masa iya aku cuma mengambil ponselnya, dia bisa langsung marah seperti ini kayak bukan Kiss yang aku kenal deh...” gumam Ash yang masih diam di tempat dengan semua pikirannya.


Saat Ash kembali tersadar dari lamunannya, dia malah langsung terkejut saat kembali mengingat perkataan Sasya.

__ADS_1


“Tadi Kiss bilang kalau aku harus menjaga Tuan Alex dan memeriksanya selama 15 menit sekali? Huaaa... kenapa jadi aku yang mengurusinya. Mana dia itu kayak orang yang galak banget lagi, bagaimana bisa aku tahan merawatnya? Sedangkan aku saja merawat si Kakek berasa pengen pecah ini pala"


"Ehh... Sekarang malah Kiss nambahin kerjaan aku buat mengurus Tuan Mafia itu huaaa... hikss... kenapa nasibku malang sekali hari ini” gumam Ash dengan nada rengekkan sehingga membuat orang yang lewat menatapnya dengan tertawa kecil.


Ash yang baru menyadari itu, seketika kembali menjadi dirinya yang cool. Ia berjalan sambil berdehem serta membalikkan tubuhnya ke arah kantin karena dari tadi perutnya sudah berbunyi dan menandakan bahwa ia sangat lapar


...*...


Sasya berlari ke arah sebuah taman bermain yang terletak tidak jauh dari rumah sakit, tetapi bukan taman yang berada di dalam lingkungan rumah sakit karena Sasya benar-benar butuh waktu yang cukup agar ia bisa kembali menetralkan rasa traumanya supaya tidak kembali muncul.


Apa lagi saat ini Sasya berada jauh dari orang tuanya dan kedua adiknya hingga membuat ia sangat kangen. Sasya menghapus air matanya dan berusaha tenang, lalu ia mengeluarkan ponselnya untuk segera menelepon keluarganya. Namun sayangnya Sasya malah terfokus pada ponsel tersebut.


“Da-Daddy... aku sudah berusaha menjaga barang satu-satunya yang Daddy berikan padaku, tapi entah kenapa rasanya berat sekali untuk aku membuang ponsel ini atau pun merusaknya”


“Ayah, Bunda, bahkan Lukas sekali pun mereka selalu membujukku untuk mengganti ponsel agar bisa memudahkan mereka menghubungiku 24 jam. Cuma karena ponsel ini sudah sangat lama, membuat ponsel itu selalu mati hidup mati hidup"


"Jadi mau tidak mau aku harus sering menservisnya beberapa kali dan tidak akan membiarkan ponsel mati. Asal kau tahu Dad, aku sudah sembuh dari trauma itu, dan aku sudah sehat"


"Aku memang sempat mencurigamu, tapi pada akhirnya aku juga tertipu karena belum ada bukti yang kuat untukku. Namun saat ini aku sudah tahu siapa Tuan Alex yang sebenarnya ini”


Sampai seketika Sasya sudah mulai tenang, ia mencoba untuk menghubungi keluarganya melalui video call. Tak lupa ia tersenyum manis serta menghapus semua jejak air matanya.


Tuutt... tuutt... tuutt...


Sasya menelepon Bunda Hana yang saat ini waktu di kota Los Angeles pukul 1 siang, dan di New York pukul 4 sore karena adanya perbedaan waktu sebanyak 3 jam.


📱 “Assalamualaikum, Bunda...” sapa Sasya sambil melambaikan tangannya dan juga tersenyum sangat manis.


📱 “Waalaikumsalam Kakak huaa... Bunda senang banget akhirnya bisa melihat Kakak, ya meskipun lewat video call tapi Bunda tetap bersyukur"


📱 "Kakak bagaimana di sana? Sehat kan... Kakak juga enggak kurang istirahat kan... Apa pekerjaan Kakak sangat padat jadi baru ini bisa menghubungi Bunda?”


Bunda Hana yang baru saja mengangkat telepon Sasya, langsung mencecernya dengan berbagai pertanyaan sehingga membuat Sasya sangat pusing. Ya mungkin semua ini karena Bunda Hana terlalu senang bisa kembali melihat wajah Sasya dari layar ponselnya.


Semenjak Sasya di sana dan di percaya untuk merawat Alex, membuat ia tidak punya banyak waktu untuk melakukan panggilan video call. Mereka hanya berkabar melalui pesan singkat yang Sasya balas beberapa jam sekali.


📱 “Ya ampun Bunda.. kalau pertanyaan Bunda sebegitu banyaknya bagaimana Sasya bisa menjawabnya. Bahkan saking banyaknya Sasya sampai lupa Bunda nanya apa” ujar Sasya dengan wajah kesalnya yang malah membuat Bunda Hana terkekeh.

__ADS_1


📱 “Hihi... maaf sayang, Bunda terlalu bersemangat. Rasanya itu pengen cepat-cepat nengokin Kakak di sana, tapi sayangnya Ayah belum ada waktu luang. Ini aja Ayah katanya akan lembur. Biasanya pulang jam 7 malam, tapi hari ini bisa-bisa jam 11 Ayah baru sampai rumah. Jadi maaf ya sayang, kita belum bisa ke sana” jawab Bunda Hana dengan wajah sedihnya.


📱 “Tidak apa-apa Bun, yang penting kalian semuanya sehat-sehat ya di sana... jangan lupa Ayah harus minum vitamin yang rutin Bun, biar daya tahan tubuhnya tidak gampang lemah karena Ayah terlalu memporsil tenaganya untuk membuat kita selalu bahagia” ucap Sasya yang membuat Bunda Hana tersenyum.


📱 “Ya itulah Ayahmu, semenjak kejadian itu dia dengan gigihnya bekerja untuk kembali membangun perusahaan barunya di sini untuk menopang perusahaan yang ada di Indonesia agar tidak bangkrut. Jadi bagaimana, kamu di sana sehat kan... terus Kakak juga jangan lupa makan ya, karena Bunda tahu pasti Kakak suka lupa jika sudah di sibukkan dengan tugas” jawab Bunda Hana.


📱 “Alhamdulillah Bunda... Sasya baik-baik saja, dan pekerjaan pun semuanya lancar. Malahan Sasya pas datang ke sini sudah bisa melakukan operasi besar loh Bun, dan hasilnya berhasil hehe..."


📱 "Apa Bunda tahu... Dokter Rini selaku dokter yang paling penting di sini merasa bangga pada Sasya, karena di usia Sasya yang masih sangat muda ini sudah bisa melakukan operasi besar bersamanya dan menyelamatkan nyawa pria itu Bunda...”


Sasya menceritakan semuanya dengan sangat rapi, bahkan tak terasa air matanya menetes yang membuat Bunda Hana awalnya bangga dan tersenyum, kini malah menjadi sangat panik.


📱 “Kakak... heii... ada apa sayang? Kenapa Kakak menangis seperti itu... cerita sama Bunda, ada apa Kak? Jangan buat Bunda khawatir dong... bisa-bisa Bunda langsung terbang ke sana nih...” ancam Bunda Hana dengan wajah paniknya yang malah membuat Sasya tertawa di sela tangisannya.


📱 “Hehe... memangnya Bunda burung pakai terbang segala, ada-ada saja..” sahut Sasya.


📱 “Ya habisnya kamu lagi cerita tentang pria itu, kenapa jadi menangis seperti ini. Apa pria itu menyakitimu? Atau Ash yang selalu mengganggumu? Bilang sama Bunda, biar Bunda hajar dia... beraninya macam-macam sama peri kecil Bunda” tegas Bunda Hana yang kembali membuat Sasya terkekeh sampa ia melupakan sedihnya.


Bahkan Bunda Hana yang melihat Sasya tertawa malah merasa senang. Setidaknya ia berhasil membuat Sasya kembali tersenyum. Sasya tertawa sambil memegangi perutnya, namun di hatinya ia masih sangat bersedih karena orang yang berusaha keluarganya jauhkan darinya kini malah ada bersamanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hel... to the Lo... Hello... 😄😄😄


Kembali lagi dengan Author kalian yang banyak kekurangan ini... ☺️☺️😊


Kalian tahu gak Author baru bikin Group Chat loh dan masih kosong 🥳🥳🥳


Jika kalian ingin join ke Group langsung saja ke beranda Author ya... 😎😎😎


Nama Group Chatnya itu adalah Kang Salto Barbar kayak Author 🤣🤣🤣


Silahkan join aja guys, gak akan di apa-apain kok tenang aja... 🤭🤭🤭


Jaga diri kalian dan sampai jumpa lagi di bab selanjutnya yaaa... 🤗🤗🤗


Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻

__ADS_1


__ADS_2