
"Hem.. gimana ya, Isa kangen cama meleka. Tapi apa meleka cudah mau tingal baleng cama Isa, bu?" tanya Qisya dengan menatap wanita tersebut.
"Mereka sudah janji, Nak. Kalau mereka ingin menikah dan hidup bahagia bersama Qisya, jadi Qisya pulang ya ibu anterin kasihan mereka" jawab wanita tersebut dengan wajah tersenyum.
"Gimana alo ibu itut cama Isa puyang yuk, anti kita baleng-baleng main cama bunda cama ayah uga" Qisya memegang tangan wanita tersebut sambil mengajaknya pulang.
Wanita itu hanya bisa berdiri dan terdiam membisu dengan keadaan tersenyum
"Ayo, Buk. Eh api jalanna emana ya, Isa upa. Adi Isa ecini naik apa ya?" Qisya melepaskan tangannya, lalu mulai berfikir kenapa dia bisa ada di sini.
"Qisya sayang, ibu sangat menyayangi Qisya. Tapi maaf, ibu tidak bisa ikut Qisya. Karena rumah ibu di sini sayang, kalau Qisya kan rumahnya tidak di sini. Qisya hanya mempir menengok ibu di sini, dan seharusnya Qisya tinggal bersama ayah dan bunda baru Qisya di sana"
Wanita tersebut berjongkong menyamaratakan tinggi Qisya sambil menaup wajah cantik Qisya sesekali mencium kening Qisya dengan sangat lembut.
"Teyus alo ibu di cini, Isa cama capa puyangnya. Isa mau puyang api ndak tahu jalannya hehe.. Eh api uga apa Isa bica ke cini agi tan etemu ibu di cini?" tanya Qisya yang sangat berharap bisa kembali ke sini.
Wanita tersebut hanya bisa tersenyum dan menganggukkan kepalanya lalu berkata "Bisa sayang, tapi tidak sekarang ya. Qisya harus pulang dulu sebelum terlambat, nah.. jadi Qisya harus berjalan ke arah sana, nanti Qisya akan bertemu dengan pintu yang di dalamnya ada cahaya putih. Lalu Qisya masuk ke dalam sana ya"
Qisya menatap wanita tersebut dengan perasaan sedih dan kemudian mengikuti arahan dari wanita tersebut yang adalah ibu kandung dari Qisya dulu yang pernah Brian tolongin.
"Ayo sayang, pergilah.. jangan berlama-lama di sini. Kasihan mereka, ibu sayang Qisya selamanya. Dadah sayangnya ibu.. baik-baik ya, tidak boleh nakal. Jadilah anak yang penurut ya sayang" ucap wanita tersebut dengan sedikit mendorong Qisya agar mau segera pergi sambil melambaikan tangannya.
Qisya berlari mengikuti arahan dari wanita tersebut dengan sangat kencang, dan akhirnya Qisya berhenti di depan pintu yang terbuka dan di dalamnya terdapat cahaya putih.
Qisya berbalik dan melambaikan tangannya dengan berkata "Dadah.. ibu, Isa puyang dulu ya.. ibu diam-diam di cini anti Isa pasti ke cini agi emui ibu, Isa cayang ibu dahh.."
Qisya berlari memasuki pintu tersebut berbarengan dengan wanita tersebut yang melambaikan tangannya penuh dengan senyuman kebahagiaan.
Blusss....
Pintu pun hilang.
Qisya berjalan menelurusi jalanan yang sangat panjang serta dipenuhi dengan cahaya putih bahkan mata Qisya pun tidak bisa melihat apa-apa selain cahaya putih tersebut.
*
__ADS_1
*
*
*
Di rumah sakit
Brian dan Hana sudah mulai mencoba untuk mengikhlaskan kepergian Qisya.
Namun, di saat mereka berdua ingin menutupi seluruh tubuh Qisya dengan selimut. Mereka malah di kejutkan dengan suara Qisya.
"Bu-bunda, a-ayah.." rintihan suaran Qisya yang masih menutup matanya.
Brian dan Hana langsung terkejut lalu memeluk Qisya secara bersamaan.
"Hiks.. Qisya ini bunda, Nak. Ayo bangun, Qisya tadi manggil bunda sama ayah kan" Hana memeluk Qisya sambil menangis dengan mata bengkaknya.
"Hiks.. sayangnya ayah ayo bangun, ayah dan bunda sudah berjanji akan menikah setelah Qisya bangun. Ayah sama bunda juga mendengar kok kalau Qisya memanggil kami kan" Brian menangis dan memastikan mereka tidak salah mendengar.
Sang dokter dan sang suster yang juga mendengar suara rintihan Qisya di buat sangat terkejut bahkan mereka langsung tersenyum.
"Kekuatan ikatan batin anak dan kedua orang tua ini memang benar-benar sangat kuat, bahkan anaknya pun bisa kembali. Padahal jelas-jelas anaknya sudah meninggal 20 menit yang lalu" saut sang suster di dalam hatinya.
Sang dokter langsung berjalan mendekati bangkar Qisya sambil berkata "Maaf Tuan, Nyonya. Boleh saya periksa Nona Qisya sebentar"
Brian langgung menggeser posisi jadi di samping Hana, sedangkan sang dokter berada di sisi kanan Qisya.
Sang dokter langsung mencoba mendeteksi denyut nadi dan detak jantung Qisya secara perlahan dengan sangat fokus.
"Bagaimana, Dok? Apa anak saya sudah kembali? Karena tadi saya dan calon istri saya mendengar suara Qisya memanggil kami" ucap Brian sambil menatap sang dokter dengan mata sembabnya.
"Alhmdulillah Tuan, Nyonya. Nona Qisya sudah kembali dan keadaannya jauh lebih baik, denyut nada serta detak jantungnya kembali berdetak dengan normal. Dan kemungkinan sebentar lagi Nona Qisya akan sadar dari tidur panjangnya" ucap sang dokter.
"Sekali lagi saya minta maaf Tuan, Nyonya. Sudah meremehkan ikatan batin kalian kepada Nona Qisya. Dan saya ucapkan selamat karena Nona Qisya sudah sembuh, dia hanya membutuhkan istirahat selama 3 hari dan jika sudah stabil maka Nona Qisya di perbolehkan untuk pulang ke rumah" sambung sang dokter sambil tersenyum bahagia.
__ADS_1
Sang dokter dan sang suster meninggalkan ruangan Qisya dengan berpamitan lebih dulu.
"Alhmdulillah ya Allah, terima kasih atas kebaikanmu dan mukjizat mu yang sangat luar biasa ini" Hana bersujud sambil mengucapkan rasa syukur dan doa-doa kecil ia panjatkan di dalan sujudnya.
Sedangan Brian hanya bisa bersujud pertama kali mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Sehingga perasaan kesedihan, kehancuran, dan penyesalan semua sudah terbalaskan dengan kembalinya Qisya membuat mereka berdua merasa sangat bahagia.
Di sela-sela Hana dan Brian yang saling sujud, membuat Qisya mengerjapkan matanya secara perlahan.
"Bu-bunda, a-ayah.." Qisya membuka matanya secara perlahan dengan memanggil mereka dengan suara seraknya.
Brian dan Hana yang mendengar itu langsung berdiri dan menatap Qisya dengan perasaan senang.
"Alhmdulillah sayang, kamu sudah bangun. Bunda senang dengernya, maafin bunda ya. Bunda sudah egois dan membuat Qisya jadi seperti ini hiks.. bunda minta maaf sayang" ucap Hana sambil memegang tangan mungil Qisya dan menciumnya dengan keadaan menangis serta menatap Qisya.
"Hiks.. alhmdulillah anak ayah kuat, maafi ayah juga yang sudah egois sama Qisya. Dan enggak mau nuruti permintaan Qisya, maafin ayah sayang. Ayah dan bunda sudah berjanji setelah Qisya bangun ayah sama bunda akan menikah" ucap Brian sambil memegang tangan sebelah kiri Qisya dan menciumnya dengan keadaan menangis serta menatap Qisya.
Qisya hanya bisa tersenyum bahagia mendengar bunda dan ayahnya yang sudah sadar, sama seperti omongan ibunya yang bilang jika ayah dan bundanya akan segera menikah.
"Isa cudah maapin ayah cama bunda kok, akanna Isa tembali ke cini di culuh ibu andung Qisya di empat yang indah anget. Dia ilang atanya bunda cama ayah mau nikah, dadi na Isa puyang deh hehe.." Qisya tertawa dengan suara lirihnya yang masih terdengar sangat lemas.
Hana dan Brian bingung dengan ucapan Qisya yang membuat mereka saling menatap satu sama lain.
Sampai akhirnya di detik kemudian, mereka sudah mulai mengerti saat mendengar ocehan Qisya yang menceritakan semuanya di tempat indah itu bersama ibunya.
Mereka berdua mengucapkan terima kasih kepda wanita itu yang adalah ibu kandung Qisya, sudah mau membantu Qisya untuk kembali pulang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Hai para leaders Qu.. 🤗🤗...
...Aku ada rekomendasi suatu novel, jika kalian berkenan mampir ya 😍🙏 Terimakasih .. ...
...Semoga kalian menyukainya 🤗...
__ADS_1