
“Apaan sih aku dan Tuan Alex itu tidak memiliki kedekatan selain pasien dan juga dokter. Bahkan tadi juga Tuan Alex bilang kalau hatinya sudah di miliki oleh orang lain yang pertanda jika dia memiliki pasangan. Jadi stop berpikir seperti itu tentangku!” tegas Sasya yang membuat Ash terkejut.
“Lohh... kok jadi marah lagi sih, lagian aku kan tidak bertanya apakah Tuan Alex mencintaimu atau tidak. Jadi kenapa kamu malah menjelaskannya sedetail itu” ucap Ash dengan wajah kesalnya yang membuat Sasya terdiam.
Sasya menyadari jika ia sepertinya sedang melampiaskan kekesalannya kepada Ash karena mengetahui fakta yang membuat hatinya sangat sakit.
“Ma-maaf Ash... a-aku tidak bermaksud seperti itu, aku cuma mau kasih tahu saja kalau yang kamu lakukan itu salah. Aku juga mau ucapin terima kasih karena kamu peduli denganku, cuma aku tidak menyukai cara itu. Kamu kan kenal aku sudah lama Ash... kamu juga tahu jika aku tidak suka kebohongan, jadi maaf jika aku terbawa emosi” ucap Sasya dengan wajah sedihnya.
“Aku paham kok Kiss, mungkin aku juga yang salah karena aku sudah keterlaluan bercandanya. Jadi aku juga minta maaf ya sudah buat kamu marah seperti ini. Jujur saja aku terkejut loh, Kiss yang aku kenal tidak pernah bisa semarah ini meskipun aku selalu menjahilinya"
"Ya walaupun ada lah ya marah-marah, ngambek-ngambeknya dikit hehe... tapi kali ini aku malah jadi takut, berasa kayak mau di terkam singa betina gitu hahaha...” canda Ash agar membuat suasana yang tadinya panas agar segera mencair.
“Hihi... ya juga ya, aku pun merasa seperti binatang buas yang akan memakan mangsa tikus kecil sepertimu haha...” canda Sasya kembali sambil tertawa.
“Yaaaakk... enak saja kau menganggap aku yang tampan ini tikus, sedangkn aku saja menganggapmu singa yang bagusan dikit. Tapi ini kau malah menganggapku hewan jelek dan kotor seperti itu. Dasar menyebalkan...” pekik Ash yang semakin membuat Sasya tertawa terpingkal-pingkal saat melihat wajah Ash yang begitu lucu.
Namun dibalik kekesalan Ash itu, ia merasa sangat senang saat melihat Sasya kembali tersenyum seperti ini.
"Maafkan aku Sya... aku mengalihkan ucapanku tadi agar kamu tidak mengingatnya, karena jujur saja aku belum siap menjelaskan perasaan ini atau pun aku juga sangat takut akan hal penolakan. Jadi sekali lagi maafkan aku..."
"Mungkin suatu saat nanti jika aku sudah siap, aku pasti akan mengungkapkannya padamu. Entah kamu nanti akan menerimaku atau tidak, maka aku harus menyiapkan diriku agar tidak menjadi laki-laki yang lemah akibat sesuatu hal yang buruk” gumam Ash di dalam hatinya sambil menatap Sasya yang masih tertawa.
...*...
...*...
Beberapa hari kemudian...
Saat ini Sasya sudah selesai memeriksa Alex yang kondisinya sudah mulai membaik, dan Alex juga sudah di perbolehkan untuk pulang sore hari ini. Di sinilah tugas Sasya telah selesai, ia merasa sangat sedih namun di sisi lain ia juga senang karena Alex sudah benar-benar sehat.
Ya meskipun Sasya tidak mungkin bertemu dengannya lagi, tapi setidaknya rasa rindu yang selama ini ia pendam sudah terobati. Sasya sangat bahagia karena ia sudah berhasil melewati masa-masa terpuruknya, bahkan ia pun tidak lagi mengingat kejadian itu yang kembali memicu traumanya saat bertemu dengan Alex.
Namun sayangnya sampai detik ini hanya Sasya yang mengetahui siapa Alex. Sedangkan Alex sampai saat ini belum mengetahui siapa Sasya, dia hanya merasa nyaman jika berada di dekatnya tapi ia juga tidak tahu perasaan apa yang ia rasakan saat ini.
__ADS_1
Tepat pukul 3 siang menjelang sore hari, Sasya sudah bisa bersantai karena pasiennya tidak terlalu banyak dan juga urusan Alex sudah selesai. Selebihnya itu urusan dokter Rini yang akan mengurus kepulangannya Alex dan dokumen formalitas lainnya.
Sasya berjalan menuju taman rumah sakit dengan menatap layar ponselnya. Tanpa di sengaja ada anak kecil yang berlari begitu kencang sehingga ia menabrak Sasya yang membuat ponsel di tangannya terlepas dan Sasya refleks memeluk anak kecil itu yang sedang memeluk kaki Sasya.
“Ehh... kamu gapapa sayang?” ucap Sasya dengan lembut dan langsung berlutut di hadapan anak itu dengan tatapan panik.
“Hiks... So-sorry, a-aku tidak sengaja doktel” ucap anak itu yang terkejut hingga ia pun menangis.
Sasya memeluknya dan mengusap punggungnya dengan perlahan untuk membuat anak itu menjadi tanang. Lalu Sasya melepaskan pelukannya sambil menghapus air mata anak itu dengan tersenyum.
“Ssttt... sudah ya jangan nangis, yang penting Adek tidak apa-apa dan terluka. Lain kali jika mau berlari harus lihat-lihat ya, untung Adek nabrak dokter yang tubuhnya lembut hehe... coba kalau Adek nabrak tiang atau pembatas tembok? Pasti keningnya ini sudah benjol kaya ikan lohan hihi...” canda Sasya yang membuat anak kecil itu pun tertawa cekikikan.
“Aduhhh... sayang, kamu ini larinya kencang sekali. Mamah sampai kewalahan lohh hahh... hahh...” ujar sang Ibu dari anak itu dengan nada ngos-ngosan yang membuat mereka langsung menatap sang Ibu.
Sasya pun berdiri sambil tangannya mengusap punggung anak kecil itu.
“Mo-Mommy... aku meyusak ponsel Bu doktel” ucap anak itu dengan lirih sambil matanya berkaca-kaca.
“Astaga Nakk... kan sudah Mamah katakan jangan lari-larian di sini, kalau sudah begini bagaimana kita bisa mengganti ponsel Bu dokter” ucapnya yang kembali membuat anak kecil itu menangis.
“Aduhh... Dok, maafkan anak saya ya karena telah merusak ponsel Bu dokter. Sekali lagi maaf... saya janji akan mencicilnya sampai lunas” ujar sang Ibu dengan wajah paniknya bercampur sedih.
“Sudah Bu, tidak apa-apa kok... mungkin sudah waktunya saya mengganti ponsel baru karena ponsel itu juga sudah sangat lama. Oh iya Bu dokter mau ngucapin terima kasih sama Adek gemes ini, karena Adek Bu Dokter bisa ganti ponsel baru deh hehe...” canda Sasya yang membuat anak kecil itu terhenti dari nangisnya sambil mengucek kedua matanya.
“Be-benelan Bu doktel enggak mayah kan sama aku?” tanya anak kecil itu dengan wajah polosnya yang membuat Sasya tersenyum.
“Beneran dong tapi ingat ya, kalau Adek mau bermain lari-larian harus menatap ke depan dan juga jangan terlalu kencang larinya ya kasihan Mamahmu...” ucap Sasya yang membuat anak kecil itu menganggukkan kepalanya hingga sang Ibu tersenyum penuh haru saat Sasya berhasil menasihatinya.
“Ya sudah sekarang Adek minta maaf ya sama Mamah, dan berjanji tidak akan bandel lagi serta mau mendengarkan nasihat Mamah karena semua itu demi kebaikan Adek. Coba kalau Adek tadi nabrak pembatas tembok, pasti sekarang Mamah sangat sedih lihat Adek masuk rumah sakit"
"Lalu Mamah pasti akan bingung buat bayar pengobatan Adek uangnya dari mana hayoo...” Sasya berceloteh yang membuat anak kecil itu langsung berlari memeluk kaki sang Ibu dan meminta maaf serta ia berjanji untuk tidak akan menjadi anak yang bandel seperti tadi.
“Terima kasih Dok, berkat nasehatmu anakku sudah berani mengakui kesalahannya. Padahal setiap saya yang memberikan nasihat, pasti selalu saja dia mengamuk tidak jelas” ucap sang Ibu sambil menggendong sang anak.
__ADS_1
“Sama-sama Bu... maklumin saja namanya juga anak kecil jadi begitulah hehe... jadi harus sabar dalam mendidik mereka agar tumbuh menjadi pribadi yang menyenangkan dan juga bermanfaat bagi banyak orang” ucap Sasya sambil tersenyum dan mencubit kecil pipi anak itu.
“Hehe... ya sudah Bu dokter saya permisi dulu ya, saya mau menjenguk tetangga saya yang sedang sakit. Sekali lagi maafkan kesalahan anak saya ya, Bu Dok...” ucap sang Ibu.
“Aku minta maaf ya Bu Doktel yang cantik...” ucap anak kecil itu yang membuat Sasya mengangguk kecil sambil tersenyum.
Lalu sang Ibu dan anak kecil itu pergi memasuki rumah sakit, sedangkan Sasya langsung memunguti pecahan ponselnya dan membawanya ke kursi taman. Sasya menatap ponselnya yang sudah hancur lebur hingga tak terasa ia meneteskan air matanya.
“Hiks... ma-maafkan aku Om, aku enggak bisa lagi menjaganya. Kini benda ini sudah benar-benar meninggalkanku untuk selamanya bersamaan dengan kepulangan dirimu yang sudah mulai sembuh hiks...”
“Tapi aku janji kok, aku tidak akan membuangnya. Aku akan tetap menyimpannya sebaik mungkin karena hanya ini yang aku punya darimu...”
Sasya menangis sambil mengoceh meratapi nasib ponselnya yang begitu malang, mungkin memang sudah saatnya Sasya harus mengganti ponselnya yang baru.
Namun saat Sasya sedang mengecek ponselnya apakah masih bisa di selamatkan atau tidak, tapi sayangnya ada seseorang yang telah mengagetkannya dan refleks membuat ponsel yang lagi Sasya coba susun kini kembali hancur di atas rerumputan hijau.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hel... to the Lo... Hello guys... 😄😄😄
Kembali lagi dengan Author kalian yang banyak kekurangan ini... ☺️☺️😊
Kalian tahu gak Author baru bikin Group Chat loh dan masih kosong 🥳🥳🥳
Jika kalian ingin join ke Group langsung saja ke beranda Author ya... 😎😎😎
Nama Group Chatnya itu adalah "Kang Salto Barbar" kayak Author 🤣🤣🤣
Silahkan join aja guys, gak akan di apa-apain kok tenang aja... 🤭🤭🤭
Jaga diri kalian dan sampai jumpa lagi di bab selanjutnya yaaa... 🤗🤗🤗
Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻
__ADS_1