
Di ruang makan
“Loh, ini Bibi yang masak?” tanya Nyonya Syifa sambil menatap makanan di meja dan duduk dikursinya.
“Ya, Nyonya. Bibi tidak tahu mau masak apa. Jadi yang ada saja Bibi masak untuk makan siang” ucap Bibi.
“Apa Bibi sudah menyingkirkan makanan untuk Bibi sendiri?” tanya Tuan Ferry sambil duduk di kursinya.
“Belum, Tuan. Saya gampang nanti bisa makan pakai apa saja yang ada di dapur” jawab Bibi sambil tersenyum.
“Lain kali tiap Bibi masak singkirkan dulu untuk Bibi sendiri baru di bawa ke sini. Jangan sampai Bibi memakan makanan sisa dari kami, ingat Bibi itu manusia jadi tidak seharusnya mendapatkan makanan sisa” ucap Nyonya Syifa.
“Terima kasih Nyonya dan Tuan. Kalian sudah baik kepada saya, saya benar-benar sangat beruntung bisa bertemu dengan keluarga baik Tuan dan Nyonya” ucap Bibi sambil menatap kagum.
Di saat mereka sedang berbincang-bincang, tak lama Hana, Brian dan Qisya pun datang.
“Oma, Opa...” ucap Qisya sambil tersenyum lebar di gendongan Brian.
“Wah... Sepertinya ada yang sudah baikkan nih, Opa” ucap Nyonya Syifa yang melihat keakraban Qisya dengan Brian.
Qisya hanya bisa tertawa dengan sangat gemas yang membuat Tuan Ferry dan Nyonya Syifa pun merasa sangat senang melihat mereka yang sudah kembali dekat. Brian mendudukkan Qisya dikursinya lebih dulu, kemudian Hana secara perlahan.
“Ya sudah semuanya, saya pamit ke belakang dulu ya. Silakan dinikmati masakannya, jika ada yang kurang bisa panggil saya lagi” ucap Bibi.
“Bi, tunggu sebentar saya mau berbicara” ucap Brian yang langsung berdiri di hadapan Bibi.
“Ada apa, Den?” tanya Bibi dengan wajah bingungnya yang sedikit ketakutan saat menatap wajah Brian.
Bibi berpikir pasti Brian akan kembali memarahinya, namun ia sudah siap dengan semua itu karena ia tahu tidak mungkin seorang atasan meminta maaf pada bawahan jika ia mempunyai salah.
Tetapi, semuanya yang ada di pikiran Bibi salah saat mendengar perkataan Brian.
“Sebelumnya Brian ingin meminta maaf pada Bibi karena Brian sudah membentak bahkan sampai memfitnah Bibi yang tidak baik. Sekali lagi Brian mengakui jika Brian salah, tidak seharusnya Brian bersikap seperti tadi. Apa lagi sampai menuduh seseorang tanpa bukti yang jelas. Maaf ya Bi...” ucap Brian dengan melipat kedua tangannya menatap Bibi.
“Sudah, Den Brian. Tidak apa-apa saya maklumin, karena mungkin tadi Den Brian sedang banyak masalah, jadi sudah tidak perlu seperti ini. Saya sudah maafkan kok, karena saya juga tidak mau keluar dari pekerjaan ini. Saya benar-benar butuh biaya untuk anak saya berobat Den. Jadi, saya mohon jangan pecat saya ya...” ucap Bibi dengan nada memohon.
“Tidak, Bi. Brian tidak akan memecat Bibi, malah Brian ingin ngasih tahu pada Bibi untuk besok Bibi bawa anak Bibi ke rumah sakit ini. Dan tidak usah memikirkan masalah biaya, Brian sudah urus semuanya” jawab Brian sambil memberikan kartu nama rumah sakit miliknya.
“Sungguh, Den. I-ini benaran... Den Brian tidak bohong kan?” ucap Bibi dengan wajah yang sangat tidak percaya.
Brian hanya menganggukkan kepalanya sambil sedikit tersenyum.
“Terima kasih banyak, Den Brian dan semuanya. Saya benar-benar sangat bersyukur atas pertolongan kalian untuk anak saya. Besok sesegera mungkin akan saya bawa anak saya ke rumah sakit ini supaya bisa secepatnya sembuh” ucap Bibi yang air matanya menetes sangat deras.
__ADS_1
Brian pun langsung duduk di kursi sebelah Hana.
“Hoya... Nama Bibi siapa?” tanya Hana sambil menatap Bibi.
“Nama saya Sumi, Nona Hana” ucap Bi Sumi sambil tersenyum.
“Bi Sumi, sini makan baleng aku” ajak Qisya.
“Tidak usah, Nona Qisya. Bibi nanti saja makan di belakang bareng dengan penjaga rumah. Ya sudah, sekali lagi terima kasih Tuan Brian. Nyonya, Tuan dan semuanya saya permisi ke belakang dulu” ucap Bi Sumi yang langsung pergi ke arah belakang.
“Ayah mau makan pakai apa?” tanya Hana sambil berdiri.
“Tidak usah, sudah Bunda duduk saja biar Ayah yang ambilin buat Bunda” ucap Brian yang langsung mengisi piring Hana dan dirinya dengan semua makanan.
“Ciee... ciee... wiwittt... sosis nih yee” ucap Qisya dengan nada menggoda.
“Sosis? Maksudnya?” tanya Nyonya Syifa penuh kebingungan.
“Ituloh Oma, yang lomantis-lomantis kan bahasa gaulnya sosis” ucap Qisya sambil memakan makanannya.
“Sosis yang romantis, Sosis apa sih Pah?” tanya Nyonya Syifa kepada suaminya yang sedang makan.
“So sweet kali, Mah maksud Qisya” ucap Tuan Ferry sambil makan.
“Ya ampun, maksudnya so sweet gitu Kakak?” teriak Nyonya Syifa yang langsung membuat semuanya menutup kupingnya rapat-rapat.
“Mamah bisa kan pelan-pelan tidak usah berteriak seperti itu, bagaimana kalau Papah keselak dan mati. Mamah mau tanggung jawab, nanti banyak berita beredar tentang istri yang berteriak bisa membuat suami meninggal dunia hanya karena keselak nasi” ucap Tuan Ferry yang sudah kesal.
“Sabar, Pah. Mungkin Mamah tidak sengaja kok” ucap Hana.
“Tidak sengaja bukan berarti harus berteriak sayang, nanti kalau Baby twins bangun bagaimana?” ucap Brian.
“Aishh... Kalian ini malah nyalahin Mamah, salahin saja suara Mamah yang terlalu bagus ini” ucap Nyonya Syifa yang sudah kesal.
“Bukan suala Oma yang bagus, tapi suala Oma mengalahi bunyi telompet” saut Qisya yang kembali makan.
“Yakk... Dasar Cucu nakal, berani sekali kamu mengatai Omamu sendiri seperti itu” ucap Nyonya Syifa.
Qisya hanya bisa mengangkat kedua bahunya dengan cuek sambil menyuapi nasi ke dalam mulutnya.
“Nahkan... Itu benar apa yang cucumu bilang, bahkan suaramu seperti knalpot resing berisik banget nyaring pula” ucap Tuan Ferry.
“Oh begitu, baiklah siap-siap saja jatahmu aku tarik. Selama 5 bulan ini kamu harus berpuasa” ucap Nyonya Syifa dengan tegas.
__ADS_1
“Yah... Mamah, ayolah Papah bercanda doang loh. Kan suara Mamah itu indah banget, sampai-sampai membuat Papah terngiang-ngiang” jawab Tuan Ferry yang sedang membutuh Nyonya Syifa.
Hana yang melihatnya pun hanya bisa menahan tawanya sambil makan. Sedangkan Brian cuman bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah orang tuanya yang seperti anak kecil.
Lalu, Qisya yang sudah sangat lapar tidak memperhatikan Oma dan Opanya. Ia malah cuek serta asyik memakan ayam goreng kesukaannya.
Saat mereka sudah selesai makan, kemudian orang tua Brian kembali ke kamarnya dengan keadaan Nyonya Syifa yang masih kesal. Sedangkan Brian, Hana dan Qisya ia langsung berjalan menuju kamar untuk melihat Baby twins.
Namun, saat mereka baru saja sampai di depan pintu kamar. Tiba-tiba saja Baby twins menangis secara bersamaan.
Ooeekk... ooeekk... ooeekk...
Suara isak tangan Baby twins terdengar sangat jelas, Hana pun langsung buru-buru mendekati box bayi bersama Brian dan Qisya. Kemudian Hana menggendong Baby Lily dan Brian menggendong Baby Lukas.
“Cupcupcup... Sayang jangan nangis ya, mau apa ngomong sama Ayah. Mau mainan atau mau apa? Tapi, jangan nangis ya kasihan Bundanya loh. Kalau bisa kalian nangisnya gantian ya” ucap Brian sambil mengajak bicara Baby Lukas.
“Oekk... oekk... oekk...” Baby Lukas pun malah semakin menangis.
“Ya ampun, Ayah bisa enggak sih jangan bikin tambah nangis dedek babynya. Mana ada sih bayi bisa ngomong” saut Hana sambil berusaha menenangkan Baby Lily.
“Tahu nih Ayah, lihat tuh Baby Lukas nambah nangis kan” ucap Qisya.
“Loh kok pada salahin Ayah sih. Kan Ayah enggak ngapa-ngapain. Baby Lukasnya saja yang malah nambah nangis kejar” jawab Brian yang sudah kesal.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai para readers 🤗
Sampai sini dulu ya cerita hari ini 😁
Semoga kalian menyukainya 😊
Dukung Author terus dengan cara berikut : ⬇️
Like 👍🏻
Komen 📝
Favorite ♥️
Rate 🌟
Dan tidak lupa selipkan hadiah ya 😆
__ADS_1
Terima kasih 🙏🏻🙏🏻
Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻