
Hana yang sudah mulai tersadar kini kembali ke depan ruang operasi bersama kedua orangtuanya, karena sampai saat ini belum ada kabar tentang Qisya.
Hampir setengah jam mereka menunggu, akhirnya sang dokter keluar dari ruang operasi.
Mereka semua berbondong-bondong mendekati sang dokter.
"Dok, bagaimana keadaan putriku? Kenapa lama sekali operasinya?" Brian yang sudah khawatir dengan keadaan Qisya sampai tidak bisa menutupi perasaan cemasnya.
"Alhamdulillah, operasinya berhasil Tuan. Tetapi saat ini Nona Qisya masih dalam keadaan yang sangat keritis, dia mengalami koma" sang dokter mencoba untuk menjelaskan secara perlahan dengan nada yang tenang.
"Hikss.. lalu bagaimana Qisya, dok? Dia akan baik-baik saja kan?" tanya Hana dengan perasaan yang sudah campur aduk.
Abah dan Umi yang melihat Hana sangat terpukul itu langsung berusaha menenangkan putri mereka dan memeluknya.
"Cucuku akan selamat kan, dok? Tidak mungkin cucuku yang kuat itu akan menyerah hiks.." Nyonya Syifa mulai menangis di pelukan suaminya.
"Insyaallah, kalian hanya perlu mendoakan agar Nona Qisya bisa secepatnya keluar dari masa keritisnya dan kembali tersadar" sang dokter mencoba menasehati semuanya agar bisa lebih tegar untuk menghadapi cobaan ini.
"Aku yakin putriku itu tidak akan menyerah begitu saja, dia adalah anak yang kuat. Apa lagi Qisya sangat menyayangiku, tidak mungkin dia meninggalkan ayahnya" ucap Brian sambil menatap lurus ke arah pintu.
Abah dan Umi yang mendengar ucapan sang dokter hanya bisa pasrah serta mendoakan Qisya agar bisa kembali tersadar.
"Lalu berapa lama kami harus menunggu Qisya tersadar dari komanya, dok?" tanya Tuan Ferry sambil merangkul sang istri.
"Maaf Tuan. Untuk itu, saya belum bisa memastikan kapan dan berapa lama waktunya agar Nana Qisya kembali tersadar. Hanya Tuhan yang tau jawabannya, saat ini Qisya hanya membutuhkan doa-doa tulus dari semua orang yang telah menyayanginya" ucap sang dokter.
Bagaikan di sambar ribuan petir, Brian dan Hana merasakan penyesalan yang sangat luar biasa.
Hanya karena keegoisan mereka berdua, kini Qisyalah yang menjadi korbannya.
Brian dan Hana hanya bisa pasrah serta berusaha menguatkan dirinya sendiri agar bisa tetap tegar untuk menghadapi cobaan berat ini.
"Baiklah, Tuan. Saya akan memindahkan Nona Qisya ke ruangan ICU, tetapi kalian hanya boleh menjenguknya secara bergantian" ucap sang dokter.
"Apa anak saya tidak bisa di pindahkan ke ruangan khusus, Dok? Saya akan melunasinya sekarang. Tapi tolong pindahkan anak saya di ruangan khusus biyar hanya ada keluarga yang bisa menjaganya selama 24jam full. Saya tidak mau anak saya di jadikan satu ruangan oleh orang lain" ucap Brian dengan tegas.
"Jika itu mau anda, Tuan. Baiklah, saya akan mengurus semuanya supaya Nona Qisya bisa segera di pindahkan ke ruangan khusus" jawab sang dokter dan langsung diangguki oleh semuanya.
Kemudian sang dokter kembali masuk ke dalam, untuk menyiapkan semuanya supaya Qisya bisa segera di bawa ke ruangan khusus.
Brian langsung berlari dengan sangat kencang untuk langsung mengurus adminitrasi rumah sakit, supaya Qisya segera bisa di bawa ke ruangan khusus dan mereka semua bisa menjenguknya sesuka hati mereka, serta bisa selama 24 jam full menjaga Qisya dengan sangat baik.
*
*
__ADS_1
*
*
3 bulan berlalu
Qisya masih setia tidur di bangkar rumah sakit dengan ke adaan yang sangat tenang.
Bahkan berat badan Qisya sedikit demi sedikit mulai menurun, karena Qisya hanya mendapat asupan dari impusan.
Hana dan Brian sekali berjaga bergantian, jika Brian tertidur maka Hana lah yang menjaga Qisya serta mengajak ngomong Qisya mencoba membuat Qisya untuk mengingat hal-hal yang bahagia atau pun menyenangkan.
Begitu pun Brian, jika Hana yang tertidur maka Brian harus menjaga Qisya dengan mencoba membuat Qisya ingat dengan masa-masa kecilnya yang sangat lucu.
Saat ini, Abah dan Umi sudah pulang dari rumah sakit saat dulu Qisya baru saja di pindahkan di ruangan khusus dan belum sempat kembali untuk menjenguk serta melihat keadaan Qisya yang sekarang.
Tetapi untuk Tuan Ferry dan Nyonya Syifa, mereka sesekali datang ke rumah sakit untuk menjenguk Qisya sekalian membawakan baju ganti Brian serta Hana dan tidak lupa untuk membawakan makanan.
Karena dari mulai kejadian itu Hana tidak ada baju ganti sama sekali, makanya Nyonya Syifa selalu membelikan Hana pakaian hijab yang tertutup sama dengan dirinya yang sudah mulai menutup auratnya.
Tuan Ferry dan Nyonya Syifa mencoba menggantikan Brian serta Hana untuk menjaga Qisya, tetapi apa boleh buat.
Mereka berdua menolaknya, sebab mereka tahu jika ini semua terjadi karena keegoisan mereka berdua yang tidak mau mengalah demi menuruti permintaan Qisya.
Sampai akhirnya di malam hari entah kenapa, perasaan Brian dan Hana kini mulai tidak enak.
"Mas, kok perasaan aku tidak enak ya?" tanya Hana yang duduk di sofa bersama Brian kini langsung menatap Brian.
"Sama, aku juga merasa seperti itu. Ada apa ya? Semoga saja ini hanya perasaan kita yang terlalu lelah menjaga Qisya" ucap Brian sambil menatap Hana.
"Mas, aku mau berbicara"
"Hana, aku mau berbicara"
Brian dan Hana saling menatap satu sama lain, sambil mengucapkan kata-katanya secara bersamaan dengan keadaan yang bebarengan.
"Mas, dulu deh" ucap Hana yang mulai mengalah untuk menurunkan egonya dan dibalas anggukan oleh Brian.
"Hana, aku minta maaf jika selama ini aku selalu membuat salah padamu. Apakah kamu mau menuruni egomu dan mau menikah denganku?" Brian menatap mata Hana sambil memegang tangan Hana.
"Aku mau mas, aku juga mau menurunkan egoku untuk bersanding denganmu di pelaminan. Aku mau melihat Qisya bahagia dan bisa merasakan kasih sayang seorang ibu dariku. Bahkan aku ingin melihat Qisya bahagia setelah memiliki keluarga yang lengkap" Hana menatap Brian dan sesekali menatap wajah Qisya yang berada di bangkarnya.
"Syukurlah jika kita mau bersama-sama untuk menurunkan keegoisan ini demi kebahagian Qisya" ucap Brian sambil menatap manik mata Hana dengan sangat dalam.
"Bagaimana jika nanti saat Qisya tersadar kita akan segera melangsungkan pernikahan?" sambung Brian dengan mencium tangan Hana.
__ADS_1
"Terserah, mas saja. Hana hanya bisa manut apa kata suami Hana" ucap Hana dengan senyuman.
Di saat mereka sedang berbincang-bincang masalah pernikahan, tiba-tiba saja alat pendeteksi jantung berbunyi dengan keadaan Qisya yang sudah kejang-kejang.
Tit..
Tit..
Tit..
"Hah.. hah.. hah.." nafas Qisya kini, sudah tidak beraturan yang membuat dirinya bernafas menggunakan mulut yang tertutup dengan masker oksigen.
Hana dan Brian yang melihat keadaan Qisya langsung berlari mendekati Qisya.
"Kamu kenapa sayang, ayo bertahan. Ayah yakin Qisya anak yang kuat" Brian memeluk tubuh Qisya dengan ke adaan Qisya yang masih kejang-kejang.
Hana yang melihatnya langsung memencet tombol merah yang ada di atas kepala Qisya di dekat tembok khusus untuk memanggil sang dokter tanpa harus berteriak dan berlari mencari keberadaannya.
"Hiks.. Qisya bertahan sayang, bunda dan ayah ada di sini buat Qisya loh" ucap Hana yang sudah menangis dengan perasaan campur aduk.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai para leaders 🤗
Perkenalkan ini adalah karya novel ke-2 aku loh 🤩
Semoga kalian menyukainya ya 🤝
Dukung othor terus dengan cara berikut :
Like 👍
Komen 📨
Favorite ❤️
Rate 🌟
Dan tidak lupa selipkan hadiahnya ya 😍🙏
Bunga, kopi atau sebagainya pun tak apa kok, malah lebih bagus lagi pundi-pundi receh yang berterbangan di karyaku ini hihi 😆😜
Terimakasih 🙏🙏
Papay 🤗🤗
__ADS_1