Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
Perasaan Ash pada Sasya


__ADS_3

Mommy Nisha kembali menangis hingga akhirnya ia tertidur dalam keadaan selembar kertas berada di dekapan dadanya. Mommy Nisha berharap jika ini semua adalah mimpi buruk baginya dan bukanlah sebuah kenyataan yang amat pahit.


...*...


...*...


Di rumah keluarga Ayah Brian


Saat ini mereka sedang cemas lantaran baru saja Jay menelpon Lily dengan nada yang menangis, Jay mengatakan semua jadian di pagi hari serta tak lupa Mommy-nya menemukan selembar kerja yang Key tulis sebelum meninggalkan rumah.


Lukas yang mendengar itu membut hatinya berdetak sangat kencang, Lukas segera mencari cara melacak ponsel Key namun nihil. Ponsel Key tidak aktif dan sudah jual oleh Key untuk biaya hidupnya selama di jalan sampai ia menemukan tempat berteduh dan juga pekerjaan.


Sedangkan disisi lainnya Sasya baru saja selesai melakukan oprasi bersama rekannya yang lain. Kemudian Sasya pergi ke kantin untuk membeli air minum serta makanan ringan untuk mengganjal perutnya.


"Huhhh.. hari ini entah kenapa aku merasa sangat lelah, tidak ada Ash yang bisa menghiburku dan juga tidak ada Alex yang selalu menggangguku. Berasa hidup kembali di titik awal, tapi tidak apa-apa Sasya. Kamu harus semangat sebentar lagi kamu akan kembali berkumpul dengan keluargamu. Jadi semangat!"


Sasya menyemangati dirinya sendiri sambil tersenyum, kemudian dia membuka minuman serta memakan camilannya. Sasya sedikit terkekeh ketika melihat banyak anak kecil bermain di sana dengan sangat bahagia, sampai seketika ada 2 orang yang berdiri di samping Sasya.


"Permisi, Dokter Sasya. Apa kami mengganggumu?" Tanya Anna dengan wajah tersenyum lebar, sedangkan di samping Anna ada Ash yang tersenyum gugup.


Sasya melihat kedatangan mereka membuat hatinya senang, tanpa basa-basi Sasya langsung menyuruh mereka duduk bersamanya. Dimana Anna langsung menarik Ash agar duduk di antaran Sasya dan juga Anna agar mereka bisa leluasa untuk mengobrol.

__ADS_1


Niatnya sih Anna tidak mau ikut, tapi karena Ash selalu mengancamnya untuk menemaninya atau kalau Anna tidak mau maka Ash akan tetap bersikap seperti itu kepada Sasya.


Hingga akhirnya mau tidak mau Anna harus menemaninya meskipun Anna harus jadi patung, mungkin itu jauh lebih baik dari pada Ash akan menjadi seorang pengecut yang terus menerus menutupi perasaannya pada Sasya.


"Aku senang banget kalian ke sini, ohya.. kalian udah makan belum? Ini aku ada camilan, ambillah.." Tawar Sasya dengan wajah bahagianya.


Ash tersenyum kicut sambil menggelengkan kepalanya, sedangkan Anna ikut makan bersama Sasya. Anna bisa melihat wajah Sasya begitu senang ketika Ash bisa kembali berada di sampingnya.


"Terima kasih Dok-..."


"Panggil Sasya saja, Anna jika kita sedang seperti ini. Aku kurang nyaman jika selalu di kasih embel-embel di depan namaku hehe.."


Sasya menyerobot ucapan Anna hingga membuat Anna menganggukan kepalanya sambil tersenyum.


"Baiklah, terserah kamu saja. Ohya.. tumben kalian ke sini berdua ada angin apa nih? Ehh.. ta-tapi tidak apa-apa malahan aku sangat bersyukur karena kamu Ash, sudah mau menemuiku"


"Beberapa hari ini aku cuman bingung saja kenapa sikapmu malah menjauhiku. Jika memang aku ada salah maka tegur aku Ash, jangan kamu jauhi seperti ini. Aku tidak mau persahabatan kita hancur, jadi ayo ceritakan padaku dimana letak ke salahanku supaya aku bisa memperbaiki diri lebih baik lagi" Ucap Sasya.


Ash terdiam sambil melirik Anna, sedangkan Anna menganggukan kepalanya sambil makan. Sasya yang melihat itu menjadi sedikit bingung, kenapa Ash malah seperti meminta izin pada Anna untuk menceritakan semuanya. Entahlah, Sasya hanya perlu menyimak apa yang akan Ash katakan padanya sebentar lagi.


"Ekhem.. se-sebelum aku mau minta maaf padamu beberapa hari ini aku selalu menghindarimu itu karena ak-.." Ash menghentikan ucapannya karena Ash merasa dadanya kembali sesak ketika mengingat kejadian tadi. Cuma entah kenapa saat Anna membisikan kata (semngat kamu pasti bisa, Ash!) kembali membuat Ash sedikit tenang.

__ADS_1


"Karean ak-.. ak apa Ash, katakan dengan jelas aku semakin bingung" Sahut Sasya yang sudah penasaran.


"Karena aku sudah lama memendam perasaan ini untukmu Kiss.. jadi ma-maaf kalau aku membuatmu terkejut. Apa kamu ingat kemarin-kemarin saat aku akan membelikan kamu minum dan menyuruhmu ke taman lebih dulu, tenyata beberapa menit kemudian saat aku pergi ke sana aku malah melihat kamu menyatakan cinta kepada Tuan Alex"


"Dari situ aku merasa hancur ketika cinta yang selama ini aku pendam berakhir sia-sia, dimana orang yang aku cintai malah mengungkapkan cintanya pada seorang pria yang baru saja di kenalnya. Padahal kita kenal lebih lama dari pada kamu kenal dia, tapi apa tidak ada sedikit pun perasaan kamu untukku? Kenapa harus dia orangnya Kiss.. kenapa bukan aku yang mendapatkan cintamu, kenapa!"


Ash berbicara dengan mata yang sudah berkaca-kaca, merah dan juga penuh dengan emosi, Sasya yang mendengar itu semua sedikit membuatnya syok. Sasya tidak menyangka bahwa Ash memiliki perasaan padanya lebih dari sekedar sahabat.


Sedangkan Anna, dia menyimak semuanya sambil mencoba membuat Ash agar tidak kembali melakukan kesalahan yang akan merusak persahabatan mereka. Anna selalu mengingatkan Ash bahwa dia tidak bisa memaksakan Sasya untuk mencintainya, karena cinta tidak bisa di paksakan.


"Ma-maafkan aku Ash, a-aku tidak bermaksud untuk menyakiti hatimu aku tidak tahu kalau kamu memiliki perasaan yang lebih padaku. Tapi jujur ini bukan masalah siapa yang kenal lebih dulu, cuman karena memang aku dari dulu tidak ada perasaan sedikit pun untukmu Ash"


"Asal kamu saja Ash sebenarnya aku dan Alex sudah kenal jauh lebih lama sebelum aku berada di Amerika. Kalau kamu mau tahu ceritanya, baiklah aku akan menceritakan semuanya agar kamu tidak salah padam padaku atau Alex"


Dengan perlahan Sasya menarik nafasnya dalam-dalam menatap ke arah depan dengan lurus, kemudian Sasya menceritaka kisahnya bersama Alex dari mulai bertemu Alex untuk pertama kali, masalah penculikan berujung balas dendam dan sebagainya. Ash, Anna hanya bisa mendengarkan semuanya dengan perasaan yang sedikit tersentuh.


Ash tidak percaya dibalik keceriaan Sasya selama ini, ternyata banyak luka yang tidak Ash ketahui, selama mereka bersahabat Sasya tidak pernah menceritakan kisahnya sedetail ini.


Setelah Sasya selesai menceritakan semuanya, akhirnya Ash mengalah. Ash mencoba untuk melepaskan semua perasaannya, dari sini Ash bisa belajar bahwa perasaan memang tidak bisa di paksakan. Apa lagi jika takdir tidak berpihak padanya sehingga Ash harus bisa sedikit demi sedikit untuk melupakan semua perasaannya pada Sasya.


Sasya tersenyum ketika Ash sudah bisa menerima penjelasannya yang membuat Ash mengerti. Saat Sasya mendengar ucapan Ash membuat hatinya begitu bahagia, ternyata Ash masih memiliki niat baik untuk memperbaiki persahabatan mereka yang sedikit retak. Belum lagi mereka malah mendapatkan sahabat baru yaitu Anna.

__ADS_1


Suasa yang awalnya menegang sekarang sudah mulai membaik. Mereka bercanda, tertawa dan juga pergi ke kantin bersama untuk melanjutkan makan siangnya sebelum kembali melakukan tugasnya.


__ADS_2