
Ash melanjutkan langkahnya menelusuri lorong rumah sakit, dengan diikuti oleh suster Anna disampingnya. Sedangkan Anna terlihat sedikit kesal, tetapi dia juga senang ketika bisa kembali berada didekat Ash.
Namun, sayangnya Anna bukanlah asisten Ash. Jadi mau tidak mau, mereka hanya bertemu sekilas saat berpapasan. Tidak setiap saat seperti biasanya, ketika mereka menjalani tugas bersama.
Sesampainya di ruangan pasien tersebut, benar saja. Dia sedang mengeluh kesakitan akibat penyakit ginjalnya yang kembali kambuh.
Anna berusaha untuk menenangkannya, agar Ash bisa segera memeriksanya dan juga menanganinya. Disaat Ace mencoba mengecek kondisinya, pihak keluarga pun datang dalam keadaan cemas.
Ash mencoba menasihatinya agar pasien tidak sampai telat untuk meminum obatnya, karena jika telat sedikit saja pasti pasien kembali merasakan efek dari penyakitnya.
Setelah semuanya selesai, mereka keluar dari ruangan, dimana Anna keluar lebih dulu dan disusul Ash sambil menutup pintu.
"Huhh, akhirnya selesai juga. Baru kali ini menghadapi pasien toxic begitu." gumam Ash, membuang napasnya secara kasar.
Anna yang melihat pelipis Ash sedikit berkeringat, dengan inisiatifnya sendiri mengeluarkan tisu dari kantung bajunya. Kemudian mengelap dahi Ash secara perlahan sambil berjinjit tepat dihadapan Ash.
"Maaf, Dok. Ini dahimu berkeringat, aku bersihkan dulu ya." ucap Anna, perlahan mentotol-totol tisu secara perlahan.
Mata Ash sedikit membola menatap kearah Anna yang sibuk mengelap keringatnya. Sampai akhirnya aksi Anna terhenti ketika seorang suster lainnya, berhasil menyindir keromantisan mereka.
"Ekhem ... Sepertinya sebentar lagi kita akan mendapat kabar baik dari mereka."
"Wah, bisa-bisa rumah sakit yang identik menyeramkan akan berubah menjadi rumah sakit penuh cinta hihi ...."
Anna mendengar celotehan yang lainnya langsung berbalik menatap mereka penuh senyuman canggung sambil kedua tangannya berada dibelakang punggungnya.
Sama halnya dengan Ash, wajahnya kian memerah terlihat sangat malu. Suster Anna yang sudah kepalang malu, bergegas berpamitan lalu menarik tangan Ash begitu cepat menuju kearah taman.
Beberapa suster yang melihat mereka salah tingkah, hanya bisa terkekeh kecil. Mereka tidak menyangka jika Ash yang terkenal cukup cuek dan juga cool, bisa berubah menggemaskan hanya karena Anna.
__ADS_1
Sesampainya ditaman rumah sakit, Anna segera melepaskan tangan Ash kemudian duduk. Napas masih sedikit tersenggal-senggal.
"Huhh, ma-maaf ya, Dok. Karena perlakuan lancang saya, membuat dokter Ash menjadi perbincangan suster lainnya." ucap Anna, menyipitkan matanya menatap wajah Ash yang sedikit silau akibat sinar matahari.
"Lagian mereka juga ada-ada saja, memangnya apa yang salah denganku? Orang aku cuman mengelap keringatmu kok, sama halnya seperti diruang operasi kan begitu."
"Terus apa yang romantis dengan itu? Huhh, membingunkan."
Anna terus mengoceh kesal sambil melipat kedua tangannya. Ya walaupun mulutnya mengoceh, tetapi didalam hatinya, Anna terlihat begitu deg-deg'an saat kembali berdekatan dengan Ash yang beberapa bulan tidak berjumpa.
"Nanti malam kamu ada acara, gak?" ujar Ash yang langsung duduk tepat disamping Anna.
Ash berusaha menetralkan detak jantungnya yang terus berpacu cepat, layaknya seseorang yang sedang mengikuti ajang balap lari.
"Sepertinya enggak ada, memangnya kenapa?" tanya Anna, penasaran.
"Niatnya aku mau ngajak kamu jalan-jalan nanti malam. Tapi kalau kamu gak bisa ya sudah, kapam-kapam saja."
"Aku mau kok, kebetulan aku juga niatnya nanti malam mau mengajakmu jalan-jalan. Cuman sudah keduluan hehe ...." Anna terkekeh, sedikit salah tingkah.
"Masa? Berarti harusnya tadi aku jangan ngomong duluan ya, biar kamu aja. Kapan lagi kan, kamu bisa ngajak jalan-jalan dokter tampan sepertiku ini, hem?" ucap Ash penuh kesombongan menarik kerahnya sekilas.
Anna melirik sikap Ash yang seperti itu hanya bisa menatap malas kearahnya dan berkata. "Dokter sehat? Sejak kapan Dokter Ash tampan? Lebih tampanan juga Dokter Vandi. Udah putih, tinggi, dan juga berisi pula,"
"Andaikan, Dokter Vandi belum memiliki istri. Pasti aku akan mendekatinya. Tapi, jika Dokter Vandi mau mencari istri kedua, aku ma-- argh ...."
Anna mengeluh kesakitan ketika hidungnya berhasil dicubit oleh Ash cukup keras. Anna berusaha merengek meminta dilepaskan oleh Ash, tetapi sayang.
Ash tidak mau melepaskan sebelum Anna meralat ucapannya agar dia tidak menjadi istri kedua dari Dokter Vandi. Mau tidak mau, Anna langsung mencabut ucapannya.
__ADS_1
"Yayaya, aku ralat. Ya sudah, aku enggak mau jadi istri kedua Dokter Vandi, tapi jadi istri Dokter Ash aja. Puas!" sahut Anna spontan, niatnya ingin bercanda.
Namun, Ash malah tersenyum kecil mendengar ucapan Anna. Dia merasa jika Anna mengatakan hal itu merupakan perkataan dari hati yang keluar begitu saja tanpa disadari.
"Jadi, kamu mau jadi istri saya?" goda Ash mengedipkan sebelah matanya.
"Ishh ... Apaan sih! Dahlah, ayo ke kantin. Aku laper, nanti teraktir ya. Kan udah lama juga, aku enggak menguras dompetmu. Siapa tahu, aku bisa membantumu untuk menghabiskan gajimu yang tidak pernah habis itu."
Anna mengoceh sambil bangkit dari kursinya lalu berdiri di depan Ash, menatapnya sekilas dan kembali berkata. "Ayo, Dokter Ash yang tampan! Cepatlah, perutku sudah lapar ini."
"Ya, ya ya ya ya ...." sahut Ash, mengikuti Anna dari belakang.
"Huhh, belum jadi istri aja udah ada niatan mau habisin gajiku. Bagaimana jika udah jadi istri? Bisa-bisa aku miskin mendadak." gumam lirih Ash, yang sudah berada disamping Anna.
"Hah? Kamu ngomong apa tadi? Aku enggak denger." ucap Anna menoleh dan meneruskan langkahnya.
"Haa ... E-enggak, aku enggak ngomong apa-apa. Kuping kamu aja kali bermasalah." jawab Ash, menutupi rasa gugupnya.
"Emang iya, ya? Perasaan tadi aku dengerin kamu ngomong deh, tapi ya sudahlah. Yang penting aku bisa makan sepuasnya hari ini, hihi ...."
Anna menggaruk kepalanya, sedikit bingung. Cuman sedetik kemudian dia terkekeh sendiri, ketika memiliki niatan untuk menguras habis isi dompet sahabatnya sendiri.
Sesampainya dikantin mereka segera memilih tempat duduk paling pojok. Lalu memesan beberapa menu makan siang, dimana Anna memesan makanan begitu banyak seperti biasanya saat mereka makan bersama di Los Angeles.
Beginilah Anna, dia selalu bersikap apa adanya didepan Ash. Sedangkan Ash memang sudah tidak heran lagi, dengan semua tingkah laku Anna yang seperti ini.
Bagi Ash, selama dia bisa menatap Anna dari dekat maka dia tidak akan keberatan jika isi dompetnya semakin menipis sebelum waktunya gajian.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...Hai guys ... jangan lupa mampir ke karya temen-temanku ya, mungkin selama beberapa hari ke depan author akan mempromosikan semua karya yang sangat memukai. Terima kasih.. 🙏🏻...