Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
Penyatuan Brian dan Hana


__ADS_3

Berasa terpanggil, Brian kembali menciumi seluruh tubuh Hana dengan sangat liar. Mulai dari bibir, leher, gunung bahkan semakin turun ke arah perut kecil Hana yang sempat Brian ciumi beberapa kali, sampai akhirnya terhenti di segitiga berwarna putih.


"Ma-mas, Ha-hana ma-malu punya Hana ti-tidak sebagus yang mas bayangin" ucap Hana dengan gugup sambil menutupi asetnya.


"Tidak perlu malu, aku adalah suamimu. Jadi aku harus bisa nerima semua kekuranganmu, begitu pun juga dengan dirimu kan?" jawab Brian sambil memegang tangan Hana yang mencoba menggesernya agar tidak lagi menutupi segitiga berwarna putih.


Dengan perlahan Hana melepaskan tangannya yang telah Brian singkirkan, kemudian Brian langsung menarik segitiga berwarna putih dan membuangnya segala arah.


Terlihatlah bulu-bulu halus di daerah segitiga yang masih tertutup rapat oleh kaki Hana.


Brian mencoba mengelus bulu tersebut hingga paha Hana, kemudian dengan perlahan Brian mencoba mengangkat kaki Hana. Lalu, sedikit melebarkannya agar terbuka sempurna.


Bagaikan pemandangan yang begitu indah, di sana Brian melihat adanya hutan lebat di daerah segitiga tersebut yang ditumbuhi oleh pepohonan rimbun serta terdapat goa kecil berwarna kemerahan yang sangat menggemaskan.


Tangan Brian yang sudah tidak sabar, kini mulai menjelajahi hutan tersebut dan mengusapnya menggunakan jari dengan cara menggesekkannya di sela-sela goa tersebut.


Hana yang baru merasakan perasaan aneh itu hanya bisa menggigit bibir bawahnya dengan merasakan setruman-setruman kecil yang telah Brian berikan.


Sampai akhirnya Brian kembali membukakan segitiga tersebut dengan sangat lebar, dengan begitu Brian akan lebih mudah untuk menjelajahinya menggunakan lidahnya yang sudah tidak kuat lagi untuk segera melahapnya.


Tanpa perasaan jijik, Brian langsung mejelajahi hutan tersebut dengan sangat agresif bahkan lidahnya sudah menari-nari dengan liar di sana. Sesekali mengemut benda kecil yang sering disebut dengan titik kelemahan seorang wanita yang menyempil di dalam goa tersebut.


Hana yang sudah tidak kuat lagi menahannya kini suara cantik Hana terdengar begitu indah di telinga Brian, malah membuatnya semakin liar dengan terbawa suasana.


Bahkan tidak hanya mulut, lidah, kini kedua tangan Brian tak tinggal diam. Dia mencari mainan barunya lalu menggenggam dengan sangat kuat kemudian memijit serta memilin-milinnya dengan begitu gemas, sampai membuat Brian sudah tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.


"Stt.. ma-mashhh arghhh.." suara de*sahan Hana sambil memegang kepala Brian dan sedikit mengangkat tubuhnya karena merasakan gelesir-gelesir setruman yang membuatnya merasakan geli bercampur enak.


"Mashhhh.. Ha-hana arghh.. ma-mauhhh.. pipisshhh" ucap Hana sambil mengeluarkan suara indahnya.


Brian yang lagi asyik bermain di dalam goa tersebut langsung keluar dan menatap Hana sambil mengatakan "Keluarkan sayang, aku sudah menunggunya"


"Ta-tapihh mashh.. arghhhh.." de*sah Hana sambil berteriak saat merasakan benda sensitifnya di obarak-abrik oleh Brian dengan lidah bahkan sesekali mengemutnya.


Sampai akhirnya tubuh Hana bergetar sangat hebat yang tandanya dia sudah berada dipuncaknya, lalu kini Hana berhasil melakukan pelepasan pertamanya di dalam mulut Brian.


Dengan lihai Brian membersihkan hutan tersebut dengan lidahnya dan menelan susu putih yang sangat kental.


Kemudian Brian tiduran di samping Hana dan mengarahkan tubuh Hana untuk memeluknya dari samping.


"Kenapa sayang, baru pakai mulut sudah lemas begini" ucap Brian sambil mengusap wajah Hana yang sudah penuh keringat.


"Kenapa rasanya seperti kesetrum, ta-tapi kok malah enak-enak geli gitu ya mas" ucap Hana sambil menatap wajah Brian yang hanya bisa tersenyum lebar.


"Hehe.. itu baru awalan sayang, belum sesi kedua, dan terakhir. Aku akan membuatmu merasa nyaman lebih dulu, baru akan memulainya. Jika aku langsung memaksakannya pasti kamu akan terasa lebih menyakitkan nantinya"


Brian berbicara sambil menaiki satu kaki Hana ke dalam tubuhnya yang hanya diikuti oleh Hana.


"Tapi bukannya itu memang me- arghhhhhh..." Hana berteriak saat merasakan goanya tertusuk oleh sesuatu.

__ADS_1


"Ma-mas sa-sakitthh stt.." ucap Hana sambil menatap Brian dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Tenang sayang, ini baru jariku kok belum adikku. Kita latihan dulu ya, biar kamu gak kaget hem.." ucap Brian sambil memasukkan satu jarinya dan mengobok-obok goa tersebut.


Hana hanya bisa merasakan hal baru sambil menggigit bibir bawahnya, Brian yang melihat Hana seperti sedang menahan sesuatu membuat Brian langsung menyodorkan bibirnya supaya bisa membuat Hana sedikit tenang.


Hana yang tidak mengerti bagaimana caranya berciuman kini malah menjadi sangat lihai akibat jari Brian yang sudah mengobrak-barik goanya dengan sangat dalam.


Brian menambahkan tempo jarinya serta menggoyangkannya lebih dalam, sambil menyeimbangi luma*tan dari Hana yang menurut Brian sudah mulai menyesuaikan permainannya.


Sampai akhirnya Hana melakukan pelepasan keduanya dengan tubuh yang bergetar di dalam pelukan Brian. Kemudian Brian mencabut jarinya dan membersihkan dengan mulutnya.


Dengan perlahan Brian kembali merebahkan Hana dengan keadaan terlentang dengan wajah yang sudah memerah.


Brian mencium kening Hana sambil berkata "Apa kamu sudah siap? Singkong bakarmu ini sudah ingin memasuki rumahnya" Brian sambil membelai sayang wajah Hana yang hanya bisa di angguki oleh Hana.


Brian dengan semangat 45 langsung bangun dan melebarkan kaki Hana selebar mungkin yang masih terdapat susu kental Hana sebagai pelicin supaya Hana tidak akan merasakan terlalu sakit jika hutannya terlalu kering.


"Ma-mas, apa ini akan terasa sakit banget?" tanya Hana dengan wajah sedikit ketakutan.


Brian yang awalnya ingin langsung memasuki sang adik ke dalam rumahnya, ia hentikan karena mendengar suara Hana yang seperti orang ketakutan.


Brian langsung menindihi Hana sambil mengasih sedikit jarak dengan kedua kaki Brian yang menahan dan melebarkan kaki Hana.


"Mungkin ini akan terasa sakit di awal, tapi tenang saja. Aku akan usahakan untuk menahan diriku sendiri supaya membuat kamu merasa nyaman lebih dulu dan menyesuaikannya"


Hana hanya bisa tersenyum melihat perlakuan Brian yang sangat lembut kepadanya, bahkan rela ikut merasakan sakit yang nantinya Hana rasakan.


"Ayo mas, bismillah Hana siap" ucap Hana sambil mengalungkan kedua tangannya di leher Brian, Brian yang melihat Hana begitu semangat membuat dirinya tersenyum sangat lebar.


Perlahan demi perlahan Brian mengarahkan sang adik ke dalam rumahnya sambil sedikit mengurutnya.


"Stt.. arghh.. ma-mas sakit" Hana meringis kesakitan yang baru saja Brian memasukan ujung sang adik.


Brian yang tidak tega langsung melu*mat bibir Hana agar merasa lebih tenang, kemudian Brian kembali mendorong sang adik ke dalam rumahnya.


Hana hanya bisa menahan serta melu*mat bibir Brian sesekali meneteskan air matanya sambil memeluk tubuh Brian.


Jleb! ..


Jleb! ..


Jleb! ..


3 kali hentakkan atau dorongan hanya berhasil membuat sang adik masuk setengah saja.


Bahkan Hana sudah mulai meringis kesakitan sambil menangis di sela-sela luma*tannya. Brian menghentikannya serta kembali membuat Hana supaya tenang sambil berkata "Jika kau semakin tegang, maka rasanya akan semakin sakit sayang. Jadi tenanglah dan ikuti perkataan aku tadi ya"


Hana hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan air mata yang masih menetes, sambil kembali melu*mat bibir Brian.

__ADS_1


Brian kembali melakukan aksinya yang sudah tidak bisa mengontrol sang adik untuk secepatnya masuk ke dalam.


Jleb! ..


Jleb! ..


Jleb! ..


6 kali hentakan atau dorongan berhasil membuat sang adik lolos masuk semuanya ke dalam rumahnya.


"Arggghhhhh..." teriak keduanya dengan secara bersamaan. Hana merasakan kesakitan luar biasa akibat bagian tubuhnya yang robek. Sedangkan Brian merasakan kesakitan di bagian sang adik yang baru saja mendapatkan rumahnya untuk pertama kalinya.


Tes! ..


Tes! ..


Tes! ..


Sirop merah Hana yang berasal dari mahkotanya tersobek sangat lebar, kini tumpah di sela-sela hutannya. Bahkan sirop merah Brian yang merasal dari bibir serta punggungnya akibat ulah Hana pun ikut menetes.


Brian yang melihatnya bukan meringis kesakitan, tetapi malah tersenyum sangat puas sambil berkata "Kau milikku sayang, terima kasih sudah menjaganya dan memberikannya padaku"


"Ma-maaf mas, hiks.. karena ulah Hana bibir mas bahkan punggung mas ikut terluka" Hana menangis dengan merasa bersalah bahkan merasakan tubuhnya yang masih terasa sakit.


"Sttt.. tidak boleh berbicara seperti itu, aku suka. Dan itu aku yang menyuruhnya jadi jangan beranggapan kalau ini salahmu oke" ucap Brian mencoba menenangkan Hana dan hanya diangguki oleh Hana.


Brian menunggu beberapa menit agar Hana merasa lebih tenang, kemudian kembali menggoyangkan goyangan mautnya dengan perlahan yang membuat keduanya meringis merasakan kesakitan.


Perlahan demi perlahan Brian menambahkan temponya dan semakin cepat sampai membuat kedua gunung Hana terguncang sangat kuat.


"Ini sempit sekali sayang, aku suka" ucap Brian di sela-sela goyangannya sambil melahap gunung kembar Hana dengan sangat rakus.


"Arghh.. mas sudah, Hana kebelet ingin pipis dulu" ucap Hana dengan suara indahnya.


Brian yang mendengar perkataan Hana malah lebih mempercepat temponya bahkan kini kasur pun ikut bergoyang mengikuti irama suara penyatuan mereka yang begitu dahsyat, bahkan sampai membuat gunung kembarnya ikut terguncang-gancing.


Brian yang melihatnya malah menjadi sangat liar serta lebih dalam menghentak-hentakkannya.


Sampai akhirnya Brian melakukan pelepasan bersama-sama untuk yang pertama kalinya serta menyemburnya di dalam, sedangkan tubuh Hana kembali bergetar sangat hebat melebihi pelepasan keduanya tadi.


Hana yang terlihat begitu lelah hanya bisa menutup matanya dan tertidur sangat pulas, membuat Brian tertawa gemas.


"Baru juga sekali sudah begitu lelah, hehe.. maafkan aku sayang. Hari ini aku begitu liar sampai-sampai membuatmu seperti ini, aku janji lain kali akan lebih liar dari ini hihi.."


Brian tertawa sambil mencabut adiknya yang sudah sedikit puas, mau melanjutkan pun lawannya sudah tepar jadi apa boleh buat.


Brian hanya bisa mengecup kening Hana sangat lama sambil berkata "Terima kasih sayang, aku janji mulai hari ini akan memperlakukanmu sebaik mungkin. Kamu sekarang milikku dan tidak ada yang bisa merebutmu dariku"


Brian kembali mengecup seluruh wajah Hana serta tertidur sambil memeluk Hana, lalu melahap mainan barunya dengan keadaan yang masih polos. Dan hanya selimut teballah yang menutupi keadaan mereka.

__ADS_1


__ADS_2