Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
Dia Adalah Om Bisma


__ADS_3

Hari sudah semakin larut, dan Joko menyuruh Cika untuk beristirahat. Cika tertidur dengan keadaan kaki di pasung, tangan di rantai dan hanya beralaskan tikar tipis yang sewaktu-waktu bisa membuat tubuhnya merasakan dinginnya lantai di dalam tahanan.


Bertahun-tahun Cika menghadapi semua ini hingga mentalnya sangat terganggu, namun ia senang karena di sini ia bisa menemukan seorang pria yang benar-benar tulus mencintainya tanpa di minta, tanpa di rebut, dan tanpa adanya ancaman.


Joko pun tersenyum sambil melambaikan tangannya pergi meninggalkan Cika yang sudah terbaring di sana, tak lupa mafioso lainnya kembali mengunci jeruji besi itu serta selalu menjaga Cika 24 jam.


“Sabar sayang, aku janji tak lama lagi kamu akan merasakan kebebasan dan kamu bisa kembali menghirup udara segar di luar bersamaku dan juga keluarga kecil kita nanti...” gumam Joko di dalam hatinya sambil pergi.


“Terima kasih kamu sudah hadir di dalam hidupku yang seperti ini. Terima kasih juga karena kamu telah mencintaiku dengan tulus. Aku janji, aku akan berubah untukmu dan kembali menjadi wanita yang baik serta wanita yang tulus mencintaimu...” ucap Cika di dalam hatinya sambil menutup kedua matanya.


...*...


...*...


Pagi hari di rumah sakit Los Angeles


Seorang dokter cantik berjalan ke arah ruangan Alex di temani oleh seorang suster untuk membantunya. Mafioso yang menjaga di depan pintu pun langsung menyambutnya serta membukakan pintu kamar Alex secara perlahan.


“Silahkan, Dok” ucapnya sambil sedikit membungkuk.


Sang dokter hanya bisa tersenyum ramah dan tak lupa mengucapkan kata terima kasih padanya. Meskipun ia sedikit ketakutan, tapi sang dokter harus tetap profesional dalam menjalankan tugasnya. Sang dokter tersenyum menatap pria yang sedang duduk di sofa.


“Selamat pagi Tuan, maaf jika saya telah mengganggu istirahatnya” ucap sang dokter.


Pinjai berdiri dengan sikap gagahnya menatap wajah sang dokter dengan tatapan yang tidak asing baginya.


“Sepertinya aku tidak asing dengan wajahnya, tapi siapa ya...” ucap Pinjai menatap sang dokter dengan sangat dalam.


“Ya ampun, kenapa dia malah menatapku seperti itu? Apa dia tidak percaya padaku jika aku ini seorang dokter? Tapi kan aku memang dokter, cuma aku belum dapat gelar yang resmi saja...” ucap sang dokter di dalam hatinya yang tidak lain adalah Sasya.


Di saat suasana mulai tegang, tiba-tiba mereka mendengar suara rintihan Alex yang baru saja terbangun dari tidurnya.


“Ssstttt... argghh...” keluhan Alex sambil memegangi perutnya yang terasa sangat ngilu akibat obat bius bekas operasinya sudah mulai menghilang.


Sasya dan sang suster yang mendengar itu pun langsung berjalan mendekati bangkar Alex.


“Tuan, tolong jangan di remas perutnya karena lukanya masih sangat basah. Atau nanti bisa-bisa jahitannya kembali terbuka” cegah Sasya sambil menahan tangan Alex yang saat ini badannya sudah mulai meringkuk ke samping kanan membelakangi Sasya.

__ADS_1


Entah kenapa kali ini Alex seperti seorang anak kecil yang baru saya merasakan tubuhnya terluka untuk pertama kalinya. Padahal biasanya Alex tidak seperti ini, berkali-kali ia terkena tembakan namun tidak sampai membuat Alex selemah ini. Bahkan Pinjai yang melihatnya pun di buat terkejut dengan tingkah Alex.


“Aarrggghhh... It is hust stuuu*piiiiddd!” teriak Alex dengan terus memegangi luka di perut sebelah kiri.


“I know Sir pasti rasanya sangat sakit, tapi Tuan harus bisa menahannya. Jika Tuan seperti ini, maka lukanya akan semakin lama mengeringnya. Bahkan Tuan juga bisa melakukan operasi untuk kedua kalinya” sahut Sasya dengan wajah bingungnya serta di bantu oleh sang suster untuk mencoba menenangkan Alex.


Pinjai yang melihatnya langsung turun tangan, sedangkan para mafioso yang mau ikut membantunya segera di tahan oleh Pinjai. Mereka tidak jadi membantu Alex dan kembali ke tempatnya masing-masing.


“Tuan cobalah untuk mengerti, jika Tuan ingin segera sembuh maka Tuan harus bersabar merasakan rasa sakit itu” ucap Pinjai membantu menahan tangan Alex.


“Bu-but arghh... It is hurt so much, Pinjai. Rasa sakitnya tidak seperti biasanya saat aku mendapatkan luka akibat tembakan” sahut Alex yang membuat Sasya langsung terkejut.


“Pi-Pinjai? Na-nama itu ke-kenapa sama dengan nama temannya Daddy eh sa-salah, maksudku Om Bisma. Tapi a-apa maksudnya ini? A-atau jangan-jangan di-dia adalah Om Bisma...” gumam Sasya sambil memundurkan tubuhnya serta sedikit menjaga jarak dari bangkar Alex dengan wajah bingungnya.


Di saat Alex sudah mulai tenang serta kembali merebahkan tubuhnya dengan keadaan terlentang, kini malah Sasya yang terdiam.


“Doc, how about him? Sepertinya lukanya kembali terbuka dan merembes sehingga membuat baju serta perbannya terdapat noda darah” ucap sang suster dengan wajah paniknya menatap Sasya yang melamun.


Namun sama sekali tidak ada respons dari Sasya, dan membuat Pinjai sangat geram.


“Hey little girl, apa kau budek hah!! Sampai-sampai tidak mendengar apa yang diucapkan oleh asistenmu” bentak Pinjai dengan nada tegasnya, hingga membuat Sasya benar-benar terkejut ketakutan.


Kemudian suster itu kembali menjelaskannya padanya, lalu Sasya menyuruh sang suster segera mengambil semua keperluan untuk mengganti perban Alex.


“Sorry Sir, tapi bisakah Anda semua menunggu di depan terlebih dahulu? Saya harus segera mengganti perbannya” ucap Sasya yang membuat Pinjai langsung membantahnya.


“NO! Saya harus tetap berada di sini untuk menjaga Tuan Alex karena saya tidak percaya dengan anak kecil kemarin sore seperti dirimu yang baru saja magang menjadi seorang dokter. Bagaimana jika ada apa-apa dengan Tuan saya, hah! Apa kau mau bertanggung jawab atas semuanya?"


"Bahkan tadi saja kau tidak fokus dalam bekerja” bentak Pinjai yang membuat Sasya memejamkan matanya menerima hinaan yang memang pantas ia terima karena kelalaiannya.


Alex yang melihat Sasya seperti ketakutan namun berusaha untuk tetap tenang, membuat ia langsung menatap Pinjai.


“Just come out, Pinjai. Biarkan dia menjalankan tugasnya seorang dokter, anggap saja aku sebagai pasien pertamanya sebelum dia menjadi seorang dokter sungguhan” sahut Alex yang membuat Sasya langsung menoleh dan menatapnya.


“Bu-but Sir... Bagaimana jika dia-...” ucapan Pinjai belum selesai namun Alex sudah memberikan kode di tangannya.


Jadi mau tidak mau, Pinjai bersama mafioso lainnya segera keluar dari kamar rawat Alex bersamaan dengan masuknya sang suster sambil mendorong troli berisikan perban dan sebagainya. Sang suster segera membantu Sasya untuk membuka baju Alex secara perlahan untuk mengganti perbannya dengan yang baru.

__ADS_1


Namun sebelum menggantikan baju Alex, Sasya terlebih dahulu menggantikan perbannya secara perlahan sehingga ia sedikit mendengar suara rintihan Alex. Hanya butuh waktu selama 10 hingga 15 menit, luka Alex kembali di tutupi perban yang baru serta kembali menggunakan bajunya dengan sangat hati-hati.


Kemudian sang suster izin pamit untuk menaruh semuanya serta ia harus membantu dokter yang lainnya.


“I'm Sorry, Doc. Tadi sebelum saya ke sini, saya sudah di panggil oleh Dokter Rini untuk membantunya. Jadi bisakah saya izin pergi meninggalkan dokter sendiri di sini untuk memeriksa Tuan Alex? Atau haruskah saya panggil suster yang lainnya?” ucap suster itu.


Sasya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, “Tidak perlu Sus. Lebih baik suster temani Dokter Rini, pasti dia sangat membutuhkanmu karena pagi hari ini beliau ada operasi kecil. Tidak perlu memikirkan saya, insya Allah saya bisa menanganinya sendiri” ucap Sasya dengan percaya diri.


Alex yang melihat Sasya tersenyum membuat ia seperti melihat Sasya bagaikan seseorang yang selama ini menghantuinya dengan rasa bersalah.


“Se-senyum itu, bu-bukannya senyum yang selalu aku lihat dari gadis kecil yang pernah aku sakiti dulu ya...” gumam Alex di dalam hatinya.


“Alright Doc, kalau begitu saya pamit dulu permisi...” ucap sang suster sambil pergi membawa troli.


Sasya langsung menoleh ke arah Alex yang membuat Alex menjadi sangat gugup dan berusaha untuk terlihat tenang.


“I'm sorry, Sir. Saya izin untuk memeriksa kondisi Tuan terlebih dahulu, supaya saya bisa melihat perkembangan luka Tuan setelah operasi” ucap Sasya sambil menatap Alex dengan senyuman.


“Ye-yes, please...” tegas Alex, namun dengan suara yang sedikit terbata-bata akibat kegugupannya.


Sasya langsung memeriksa Alex dengan sangat fokus sambil mencatat semuanya di dalam daftar kertas yang sudah ia bawa. Tiba-tiba saja, saat Sasya sedang mengecek detak jantung Alex kini mereka berdua malah saling menatap satu sama lain.


“Ma-mata ini, ke-kenapa mirip dengannya? Apa benar jika dia adalah O-Om Bisma? Lalu kenapa namanya berubah menjadi A-Alex? Apa dia menggunakan identitas baru supaya benar-benar menepati janjinya untuk menjauhiku?”


“Mungkin saja sih, karena sudah sangat lama juga kita tidak pernah komunikasi semenjak kejadian itu. Sepertinya aku harus menyelidiki soal ini, apakah benar dia adalah Om Bisma yang aku kenal atau hanya kebetulan saja nama asistennya sama seperti nama temannya Om Bisma itu...”


Sasya berbicara di dalam hatinya sambil menatap manik mata Alex, sedangkan Alex dari tadi sudah menahan detak jantungnya agar tidak berpacu dengan sangat cepat. Tapi siapa sangka, jantung Alex malah seperti ingin loncat dari tempatnya sehingga membuat Sasya tersadar karena mendengar detak jantung Alex begitu kencang dan juga cepat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hello guys... Selamat beraktivitas dan tetaplah semangat... 💪🏻💪🏻💪🏻


Author sangat berterima kasih karena selalu mendukung Author 🥺🥺🥺


Semoga Author bisa memberikan cerita yang lebih menarik untuk kalian 🤗🤗🤗


Jaga diri kalian dan teruslah tersenyum karena senyum adalah Ibadah 😁😁😁

__ADS_1


Sampai jumpa lagi dan Salam sayang dari Author semuanya... 😆😆😆


Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻


__ADS_2