
“Ma-mas Bri-brian” ucap Hana dengan sangat gugup.
“Maafkan aku sayang aku tahu aku salah sudah berperilaku kasar saat berhubungan semalam, karena obat itu aku malah semakin gila dengan menjadikan kamu budak kepuasanku” Brian mencoba menggenggam tangan Hana sambil menatap wajah Hana yang sudah meneteskan air mata.
“Hana salah apa sama mas? Sampai mas kasar seperti itu, padahal Hana sudah melakukan kewajiban Hana sebagai istri mas. Tapi kenapa mas malah begitu, Hana kecewa sama mas Brian hiks..” Hana menangis dan mencoba melepaskan tangan Brian sambil berdiri dan menjauhi tempat tidur.
“Maafkan aku sayang, aku tidak tahu kenapa jadi kaya gini. Awalnya aku hanya ingin membuat diriku agar lebih percaya lagi untuk memuaskan kamu, agar kamu tidak sampai berpaling dari aku. Tapi aku salah, dengan seperti ini aku malah membuat kamu semakin menjauh” Brian berdiri mendekati Hana dengan perlahan Hana mencoba untuk memundurkan langkahnya.
“S-stop mas, ja-jangan dekat-dekat dengan Hana. Ha-hana kecewa sama mas, asal mas tahu Hana lebih suka mas yang bisa membuat Hana nyaman tanpa menyakiti Hana sedikit pun pada malam itu. Dari pada semalam mas begitu liar di hadapan Hana sampai Hana tidak bisa mengenali mas lagi. Hana manusia mas bukan hewan yang bisa mas perlakukan seperti itu!”
Hana yang terus menerus mundur seketika tersudutkan di tembok dengan posisi Brian yang semakin mendekat. Brian yang melihat wajah ketakutan Hana di hadapannya ini seketika tubuhnya runtuh dan berlutut di hadapan Hana.
“Hiks.., maaf telah membuatmu kecewa. Aku sadar aku pria bodoh yang tidak bisa membahagiakan istrinya. Niat ingin memuaskan malah membuat istriku kecewa, maaf sayang aku janji ini yang pertama dan terakhir kalinya aku menyentuh obat itu”
“Hiks.., selama ini Hana berusaha sabar ngadepin mas. Tapi kali ini mas sudah benar-benar sangat keterlaluan, lebih baik Hana pulang ke rumah orang tua Hana dari pada tidak dihargai sebagai istri. Jika tahu tentang ini mungkin Abah adalah orang pertama yang bisa menghajar mas lebih dulu, Abah memang orang yang paling sadar bahkan tidak pernah marah sedikit pun. Tetapi jika Abah mendengar perlakuanmu semalam Hana pastikan sisi lain dari sosok Abah akan keluar"
Hana berjalan menjauhi Brian menuju ruang ganti untuk membereskan semua pakaiannya. Brian yang melihat itu langsung memeluk Hana dari belakang dengan sangat erat bahkan kini air matanya sudah tumpah membasahi baju Hana.
“Hua.. hiks, please jangan tinggalin aku seperti dia. Aku benci kepergian... aku ingin kamu selalu ada buat aku, aku mohon jangan pergi sayang jangan pergi”
“Hiks.., Hana harus apa mas, kali ini mas sudah sangat keterlaluan apa mas lihat tubuh Hana bahkan sudah mulai penuh dengan luka lebammu ini” ucap Hana di dalam pelukan Brian.
“Hiks.. maafkan aku sayang, tapi aku mohon jangan tinggalin aku. Kamu boleh mukul aku kok silahkan aku siap. Tapi jangan seperti ini aku enggak bisa kembali merasakan kehilangan”
Brian kembali berlutut di hadapan Hana sambil memegang kaki Hana, Hana yang melihat Brian seperti ini langsung mencoba membangunkan Brian, tapi Brian selalu saja menolak.
Sampai ketika Hana mengalah dan akhirnya duduk di hadapan Brian sambil meraup wajah Brian dengan sangat lembut.
“Mau sampai kapan mas seperti ini? Apa harus sampai Hana pergi dulu baru mas bisa sadar bahwa mas ini sudah mulai mencintai Hana, hanya saja mas selalu memungkiri semua itu. Mas takut jika cinta mas ini bukan cinta sungguhan buat Hana kan?”
__ADS_1
Brian hanya bisa menatap wajah Hana dengan isak tangisnya, kali ini Brian benar-benar merasakan penyesalan yang dalam karena telah membuat wanita sebaik Hana merasakan kekecewaan terhadap dirinya.
Hana yang tidak bisa menahan rasa sakitnya ketika melihat suami yang telah ia cintai terisak seperti ini, kemudian ia langsung memeluk Brian sangat lembut. Pecahlah tangis Brian dengan sangat penuh penyesalan, Hana mencoba untuk membuat Brian merasa tenang agar tidak kembali dengan kesedihan yang dalam.
Hana bisa merasakan begitu traumanya Brian terhadap masa lalunya, bahkan Hana bisa tahu jika Brian tidak bisa kehilangannya karena ia sudah mulai mencintai Hana. Hanya saja Brian masih mempunyai keegoisan yang sudah membuatnya hilang kendali seperti semalam, niatnya ingin memuaskan sang istri malah berujung dengan penyesalan.
“Sudah mas, ayo duduk di kasur ya badan mas sudah mulai panas loh” ucap Hana mencoba untuk membujuk Brian.
“Hiks.., ti-tidak aku masih mau seperti ini. Please jangan tinggalin aku Hana” saut Brian sambil memeluk Hana dengan sangat erat.
Perlahan demi perlahan Hana terus saja membujuk Brian agar mau merebahkan tubuhnya di atas kasur, karena saat ini suhu tubuh Brian menjadi sangat panas.
Hana merasa cemas namun, bagaimana lagi Brian tidak mau melepaskan pelukannya. Bahkan di saat ia tiduran di kasur pun Brian masih saja memeluk Hana dengan posisi Brian tiduran dan Hana duduk di sampingnya sambil mengelus kepala Brian yang berada di perutnya.
Brian yang begitu lelah dengan tangisannya seketika tertidur dengan sangat pulas, bahkan Hana langsung mencoba melepaskan pelukan Brian sambil membenarkan posisi tidur Brian agar tidak sampai membuat tubuhnya merasakan kesakitan.
Hana langsung buru-buru berusaha mengambil air es di dapur dengan berlari kecil menghiraukan semua rasa sakit yang ada di dalam tubuhnya. Namun, di saat Hana mau melewati ruang makan. Qisya memanggil Hana dengan sedikit berteriak.
Hana yang mendengar teriakan Qisya langsung mengerem tubuhnya dengan mendadak dan berbalik sambil berkata “Bentar ya sayang, Bunda mau mengurusi Ayah yang lagi kurang sehat”
“Ayah cakit bun, ata Ayah adi Bunda yang cakit. Emangna cakit bica ganti-ganti gitu ya?” tanya Qisya sambil menatap Hana dengan wajah yang sangat bingung.
“Brian sakit apa, Han?” tanya Tuan Ferry dengan nada sedikit khawatir.
“Ya sayang, tadi Qisya cerita katanya kamu yang sakit?” tanya Nyonya Syifa dengan rasa bingungnya.
“Mamah ikut Hana ke dapur ya, nanti Hana ceritakan semuanya. Hana harus buru-buru kasihan mas Brian” Hana mencoba mengajak Nyonya Syifa ke arah dapur dengan menggandeng tangannya.
Sedangkan Nyonya Syifa yang sudah sangat bingung langsung saja mengikuti langkah kaki Hana menuju dapur.
__ADS_1
Di sana Hana menceritakan semua yang terjadi di malam hari, sampai membuat Nyonya Syifa begitu kaget bahkan kini ia ikutan menangis sambil menutup mulutnya rapat-rapat menggunakan kedua telapak tangannya.
Sampai akhirnya Hana sudah selesai menceritakan semuanya, Nyonya Syifa langsung memeluk Hana sambil meminta maaf atas sikap anaknya yang sudah sangat kasar padanya.
Hana hanya bisa mencoba untuk mengikhlaskan semuanya yang sudah terjadi, namun di saat mereka masih asyik berpelukan sambil menangis.
Mereka semua mendengar suara pecahan-pecahan benda yang sudah dilempar sangat keras. Rasa takut dalam diri mereka kini mulai bermunculan bahkan Qisya pun ikut merasakan ketakutan yang begitu dalam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sampai disini dulu cerita untuk hari ini ya semuanya **🤗🤗**
Mohon terus dukung Gairah Duda Perjaka dengan terus berikan suka, komen, dan favorit semuanya 😊😊
Author sayang kalian banyak-banyak pembaca setiaku 🥰🥰😘❤️
Ohh... dan ini rekomendasi baru untuk kalian dan mohon dukungannya semuanya 😊🤗🥰
Judul : Ibu Izinkan Aku Bahagia
Napen : Sutihat Basti Wibowo
Blurb :
Ditinggalkan oleh sang ayah dengan dalih mencari pekerjaan di usianya yang baru 2 tahun, membuat Ananda Shaka, yang kini telah berusia 6 tahun memendam kerinduan yang mendalam pada sang ayah. Setiap hari dalam angan Shaka adalah serba ayahnya. Keinginan Shaka untuk bertemu sang ayah menorehkan pilu dalam dada sang ibu.
Di tengah deruan rasa rindunya pada sang ayah, tanpa sepengetahannya ternyata sang ayah telah menceraikan ibunya lewat sepucuk surat yang dikirimkan melalui sahabat ayahnya. Kenyataan pahit itu membuat sang ibu tak berdaya. Di sisi lain, sang ayah berpesan agar Shaka tidak mencari dan menemuinya lagi.
Akankah kerinduan Shaka pada sang ayah berakhir dengan sebuah pertemuan?
__ADS_1