
Di saat Hana sudah membersihkan luka Brian, kini saatnya Brian minum obat dan beristirahat.
Tetapi Brian selalu saja menolaknya, dia mau istirahat jika Hana berada di sampingnya. Jika tidak, ia akan terus berjaga agar bisa melihat Hana yang selalu ada di depannya tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun.
“Mas istirahat dulu ya tidur, kasihan badan mas sudah panas pasti pusing kan?” tanya Hana sambil mengelus kepala Brian yang berada di pahanya.
Brian tiduran menggunakan bantalan paha Hana saking dia tidak mau kalau sampai Hana pergi dari sisinya.
“Tidak mau, pokonya kamu harus tetap di sini sama aku sayang hiks..” Brian kembali menangis sambil menatap wajah Hana.
“Loh kok nangis lagi sih, aduh.. Hana bingung mas, ini kamar berantakan loh. Hana harus beresin dulu sebentar ya. Kan mas bisa kunci kamarnya menggunakan remot. Jadi Hana cuman bersihin kekacauan ini di dalam kamar kok tidak sampai keluar”
Hana mencoba untuk menjelaskan kepada Brian agar ia mau menurunkan sikap posesifnya terhadap Hana. Bahkan kali ini kamar yang begitu rapi, kini terlihat seperti kapal pecah yang sangat berantakan.
“Ta-tapi jangan lama-lama ya, aku mau tidur sambil meluk kamu” ucap Brian dengan suara lirihnya.
“Iya mas, Hana cuman bersihin ini saja kok. Soalnya kasihan jika nanti Qisya ke sini dia bisa terluka akibat pecahan beling di mana-mana” ucap Hana sambil membelai wajah Brian.
“Tapi sun dulu” Brian memonyongkan bibirnya dengan begitu gemas.
“Sun? Sun itu apa, Mas? Lalu kenapa mulutnya seperti itu?” tanya Hana dengan wajah polos yang di sertai kebingungan.
“Sini deh mendekat ke wajahku” ucap Brian.
Hana yang begitu penasaran kini mendekati wajahnya kepada wajah Brian, Hana kira Brian ingin membisikan sesuatu dan ternyata..
Cup! ..
Brian mengecup bibir Hana sekilas, dan langsung membuat Hana secepatnya memundurkan wajahnya.
“Mas Brian..” ucap Hana dengan nada kesal tetapi menampilkan wajah yang memerah menahan malu.
“Haha.. habisnya sih kamu gemesin banget, sun itu seperti tadi artinya cium. Sama kaya morning kiss yang biasa kita lakuin loh” goda Brian sambil tertawa kecil.
“Yak.., Mas Brian jahil banget sih. Sudah lah kalau begini mending Hana pergi saja” Hana memalingkan wajah dengan sedikit memajukan mulutnya seperti anak kecil yang sedang mengambek.
“Huaa.. hiks.., sayang jahat mau ninggalin aku” Brian kembali menangis.
“Eh, mas kok nangis lagi sih. Sudah ya cup cup cup jangan nangis mulu dong, Hana jadi bingung ini kenapa mas Brian cengeng banget sih sekarang” ucap Hana yang sudah mulai bingung dengan sikap Brian yang seperti anak kecil yang dikit-dikit menangis.
__ADS_1
“Huaa.., Hana ngatain Brian cengeng, Huaa.. hiks..” Brian semakin kencang menangisnya sambil memeluk perut Hana dengan sangat erat.
“Astagfirullah, salah apa ya aku. Kenapa mas Brian seperti ini sih, Hana jadi bingung sama sikap mas Brian. Kemarin lembut, terus kasar sekarang malah bentar-bentar nangis mulu. Ya Allah, kenapa suamiku benar-benar ajaib seperti ini” Hana berbicara di dalam hati kecilnya sambil mengelus kepala Brian.
“Huaa.. hiks,.. mau cucu mau cucu Brian mau cucu” Brian merengek sambil menggoyangkan tubuh Hana.
“Yaampun, mas Brian Hana pusing tahu. Ya sudah Hana bikini susu dulu ya bentar, mas tunggu sini” saut Hana dengan sedikit geram.
“Huaa... hiks,.. enggak mau ditinggal. Brian mau cucu itu bukan cucu yang lain huaa..”
Hana yang sudah sangat pusing dengan sikap Brian hari ini benar-benar menguras kesabarannya.
“Mas sudah besar, jangan seperti ini dong ya Allah. Hana jadi seperti punya bayi lama-lama. Bahkan Qisya saja tidak sampai seperti ini, dia malah lebih pintar” ucap Hana tanpa sengaja malah membuat Brian semakin menangis.
“Huaaaaa.. hiks,.. Hana ngatain Brian bod*doh huaa.., Hana enggak sayang lagi sama Brian, Hana jahat. Brian cuman mau cucu Hana malah di bilang bod*doh”
Hana hanya bisa mengelus dadanya sambil beristigfar melihat tingkah suaminya. Sampai akhirnya Hana menyerah karena sudah sangat pusing dengan sikap Brian yang terus saja menangis dan merengek minta susu yang berasal dari tubuh Hana.
Kemudian Hana mengambil remot yang berada di meja kecil samping tempat tidur, lalu mengunci pintunya dan langsung menidurkan tubuh Brian.
Dengan perlahan Hana membuka 3 kancing atas bajunya, dengan sangat cepat Brian melahap gunung Hana seperti seorang bayi yang sedang haus.
Namun, Brian enggan untuk menyampaikannya. Dia malah memendamnya dengan alasan untuk meyakinkan diri lebih dulu, apakah itu cinta atau hanya obsesi Brian kepada Hana.
“Sampai kapan kamu harus memendamnya seperti ini, Mas. Hana tahu mas sudah mulai mencintai Hana, lalu kenapa Mas tidak menyatakannya langsung? Apakah ini terlalu berat untuk Mas? Dan apakah Mas belum sepenuhnya untuk bisa menerima Hana sebagai seorang istri?” ucap Hana di dalam hatinya.
Brian yang asyik menyusu itu, seketika memejamkan matanya sambil mengusap-usapkan bibir Hana dengan jari jempolnya.
Hana hanya bisa memandangi wajah suaminya yang begitu pucat bahkan kali ini Brian terlihat seperti bayi besar yang begitu manja kepada sang Ibu. Dengan hitungan menit Brian tertidur sangat pulas bahkan saking pulasnya membuat mulut Brian melepas dot barunya.
Hana yang sudah merasa sedikit lega dengan tidurnya Brian kini membenarkan bajunya, lalu dengan perlahan bahkan cepat Hana langsung merapikan isi kamarnya yang sudah berantakan.
Hana tidak mau berlama-lama di luar kamar, kalau tidak mungkin Brian bakalan kembali mengamuk seperti tadi. Hana sedikit berlari kecil menuruni anak tangga dengan membawa kantong plastik yang terdapat beberapa pecahan beling.
Sampai akhirnya saat Hana kembali ingin memasuki kamar, Tuan Ferry keluar dari kamar Qisya.
“Bagaimana keadaan Brian, Han?” tanya Tuan Ferry yang sedikit mengagetkan Hana.
“Alhamdulillah, Pah. Mas Brian sudah tidur pulas, ini Hana baru saja beresin pecahan kaca di dalam kamar. Jika Mas Brian bangun mungkin Hana akan susah bergerak lagi Pah” jawab Hana.
__ADS_1
“Ya sudah tidak apa-apa, kamu jaga Brian saja ya. Papah paham kenapa Brian seperti itu, dan kamu juga pasti sudah merasakan rasa cinta Brian kan” ucap Tuan Ferry yang diangguki oleh Hana.
“Hoya, bagaimana Qisya. Pah? Apa dia tadi begitu ketakutan mendengar suara yang sangat keras saat Brian mengamuk?” tanya Hana dengan wajah khawatir.
“Tenang saja, Mamahmu lagi meniduri Qisya yang sedikit ketakutan. Tetapi dia sudah lebih baik kok, jadi kamu fokus sama Brian dulu. Dan cepatlah kembali, takut seisi rumah bisa-bisa habis di lemparin oleh anak nakal itu hehe..” ucap Tuan Ferry sambil tertawa agar membuat suasana hati Hana kembali tenang.
“Hehe.. Papah bisa saja, ya sudah Hana titip Qisya sebentar ya Pah. Nanti kalau Qisya nyariin suruh masuk ke kamar saja. Soalnya Hana takut jika harus meninggalkan Mas Brian di dalam kamar sendirian dengan kondisi yang seperti ini, akan membuat dia semakin sakit” ucap Hana.
“Baiklah, sudah kamu masuk sana Papah doakan semoga ini adalah tanda yang baik untuk pernikahan kalian. Dan semoga Brian segera menyadari akan cintanya pada kamu” Tuan Ferry tersenyum sambil menyatakan harapan terbesarnya.
“Aamiin.. yarabbal’alamin, terima kasih Pah. Hana permisi masuk lebih dulu” ucap Hana sambil tersenyum dan diangguki oleh Tuan Ferry.
Kemudian Hana kembali memasuki kamarnya dan mendengar suara isak tangis Brian di dalam tidurnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai para pembaca setiaku apa kabar kalian ☺️😊😊
Semoga kalian tetap sehat dan selalu semangat menjalani semuanya 💪🏻💪🏻💪🏻
Lanjut ahh buat rekomendasi Novel baru untuk kalian nehh 🤭🤭🤭
Jangan lupa jelajahi dan tinggalkan jejak ya semuanya 😁😆😆
Ini cuplikannya :
Saat pagi menjelang, Sevia terbangun dari tidurnya. Perlahan dia melepaskan tangan kekar yang membelit perutnya. Sevia membalikkan badannya dan mendapati Dave yang sedang tertidur pulas.
Bagaimana nanti jika aku punya anak, apa dia akan bertanggung jawab? batin Sevia.
"Jangan melihatku terus, nanti kamu terjebak dalam pesonaku!" Dave langsung membuka matanya dan mendapati Sevia sedang menatapnya dengan tatapan kosong. "Dengar! Meski kita sudah menikah, tapi kamu jangan berharap banyak padaku, karena aku sudah memiliki seseorang yang aku cintai."
"Kamu bicara seperti itu setelah mendapatkan semuanya dariku? Aku tidak keberatan jika kamu menceraikan aku sekarang juga. Lagipula pernikahan kita hanya siri." Sevia langsung bangun dari tidurnya dan menuju ke kamar mandi.
Hatinya hancur berkeping-keping mendengar apa yang suaminya katakan. Meskipun benar tidak ada cinta di antara mereka, apa seharusnya Dave mengatakan hal itu setelah dia mengambil harta yang paling berharga dalam hidupnya.
Tidak Sevia! Kamu tidak boleh lemah! Sudah cukup kamu dipermainkan oleh lelaki! Apapun yang terjadi dengan Dave jangan pernah memakai perasaan. Anggap saja semua itu sebagai kewajiban kamu sebagai seorang istri," batin Sevia
__ADS_1