
Setelah semuanya setuju, mereka segera pergi ke arah kantin untuk makan siang bersama sekalian membahas rencana yang akan mereka jalani agar terlihat benar-benar kenyataan bukan seperti rekayasa.
...*...
...*...
Keesokan harinya semua orang berkumpul di rumah sakit untuk terus memberikan suport kepada Mommy Nisha dan juga Jay.
Hampir 6 jam lamanya, namun operasi transplantasi hati belum juga selesai di lakukan. Apa lagi ini merupakan oprasi besar yang menyangkut hidup dan mati seseorang maka tidak mudah bagi seorang dokter untuk melakukannya.
Di tambah lagi operasi transplantasi hati ini memerlukan dokter khusus yang di bantu oleh beberapa dokter lainnya.
Mommy Nisha dan Jay selalu tidak bisa duduk diam di tempatnya, mereka malah memilih berjalan ke sana ke sini untuk mengurangi rasa cemas serta panik yang selalu melanda hatinya.
"Astaga, kalian berdua ini udah kek setrikaan tahu enggak! Mau kalian jungkir balik pun tidak akan merubah keadaan, mending kalian duduk diam di sini terus berdoa agar semuanya berhasil" ujar Nenek Mona membuat mereka berdua langsung berbalik dan manatapnya.
"Ta-tapi Mom, Key-..."
"Key itu hanya mendonorkan darahnya sambil menemani Daddynya di dalam, bukan dia yang melakukan operasi buat Daddynya!" sahut Kakek Iram.
"Ya tapi sama aja, Kek! Mereka itu sama-sama penting buat kami, coba saja kalau Daddy tidak sakit. Mungkin Kak Key tidak akan seperti ini" ucap Jay dengan kesal.
"Husss.. Jay! Kamu tidak boleh seperti itu, meskipun begitu dia Daddymu. Ingat, kemarin kamu menangisinya karena dia tidak memiliki pendonor dan sekarang? Saat Daddymu berjuang bertahan hidup kamu malah berkata seperti itu!" tegas Mommy Nisha.
"Ma-maaf, Mom. Ja-jay sa-salah.." gumam Jay kecil sambil menunduk.
Nenek Mona melambaikan tanganya kepada Mommy Nisha agar dia duduk di sebelahnya. Sedangkan Kakek Iram berdiri menuntun Jay supaya mau duduk bersamanya, karena dia sangat mengerti perasaan Jay seperti apa.
__ADS_1
Sekesal apa pun Jay, dia masih sangat menyayangi Daddynya. Walau hatinya selalu terasa sakit akibat ulah Daddy Ken yang semena-mena pada Key, tetapi rasa sayang Jay buatnya tidak pernah berkurang.
Jam sudah menunjukkan makan siang, mereka segera pergi ke kantin untuk mengisi perutnya. Meskipun tidak lapar, perut mereka tetap tidak boleh kosong karena itu malah akan membuat daya tahan tubuh mereka menjadi melemah.
Sebelum mereka meninggalkan ruangan operasi, Mommy Nisha bertemu dengan salah satu suster yang akan memasuki ruangan operasi, dia memesan pada suster tersebut jika ada apa-apa segera menemuinya di kantin.
Selesai makan siang mereka kembali ke ruangan operasi untuk menunggu kabar perkembangan Daddy Ken. Tak lama Key keluar setelah selesai melakukan pendonoran darah buat Daddy Ken yang sempat kehabisan darah.
Key langsung duduk dalam keadaan sedikit pucat, dengan sigap Jay memberikan makanan serta minuman hangat untuk kembali menambah energi Key yang sempat terkuras habis.
Ya meskipun tadi Key berada 1 ruangan dengan Daddy Ken, tetapi Key tidak bisa melihat bagaimana kondisi Daddy Ken lantaran tubuh Daddy Ken benar-benar di kelilingi oleh beberapa dokter ahli dan asistennya.
Key makan perlahan dari tangan Mommy Nisha, Nenek Mona beserta Kakek Iram hanya tersenyum melihat perlakuan mereka bertiga yang benar-benar penuh kasih sayang.
Andai saja Mommy kandung Key masih hidup, kemungkinan yang mereka lihat saat ini di dalam diri Mommy Nisa adalah Caca. Ibu kandung Key yang sudah tiada.
...*...
...*...
"Permisi, apa ada keluarga dari Tuan Ken?" ucap seorang dokter sambil tersenyum kecil.
Mommy Nisha dan Jay berlari kecil mendekati sang dokter dalam keadaan panik penuh kecemasan. Sedangkan Key mau ikut bangkit namun segera di tahan oleh Nenek Mona supaya Key tidak boleh banyak bergerak.
Semenjak Key mendonorkan darah hampir 3 kantong banyaknya benar-benar berhasil menyita energinya, jadi mau tidak mau Key tetap duduk bersama mereka sambil mendengarkan semuanya dari jarak yang tidak jauh.
"Ba-bagaimana keadaan suami saya, Dok?" cecar Mommy Nisha yang penuh kegelisahan. Wajah cemas dan juga keringat dingin mulai bercucuran.
__ADS_1
"Ya, Dok. Ba-bagaimana Daddy, Dok? Daddy baik-baik aja, kan? Operasinya berjalan lancar, kan? Jawab, Dok. Jawab!!" sahut Jay penuh kegelisahan menatap wajah sang dokter.
Dokter hanya bisa tersenyum sambil menepuk pundak Jay yang terlihat sangat mengkhawatirkan kondisi Daddy-nya.
"Kamu tenang saja, operasi Daddy-mu berjalan dengan sangat baik. Berkat pendonor darah dan juga pendonor hati, sejauh ini kondisinya cukup baik. Tapi kita lihat kedepannya, semoga tidak ada hal buruk yang terjadi"
Sang dokter menjelaskan sangat lembut, hingga berhasil membuat semuanya tersenyum penuh kebahagiaan. Dimana kondisi Daddy Ken terlihat sangat baik setelah menjalani transplantasi hati.
"Lalu, apakah suami saya bisa segera pulih dan kembali melanjutkan aktifitas seperti biasanya?" tanya Mommy Nisha.
"Kalau untuk itu saya belum bisa memastikannya, Nyonya karena kita harus menunggu 2x24 jam kedepan kalau selama itu Tuan Ken belum sadar berarti Tuan mengalami koma akibat tubuhnya yang belum bisa menerima"
"Namun jika selama 2x24 jam Daddy Ken bisa tersadar lebih cepat tandanya respon tubuhnya benar-benar sangat bagus, jadi untuk itu kita lihat perkembangan selanjutnya saja ya Nyonya"
"Lebih baik sekarang kita banyak-banyak mendoakan Tuan Ken saja, agar dia bisa segera tersadar dari tidurnya yang cukup lama"
"Jadi untuk saat ini saya cuman bisa menginformasikan kurang lebih seperti itu keadaan Tuan Ken saat ini"
"Jika nanti ada apa-apa saya akan segera mengabari kembali, tapi saya harap semuanya baik-baik saja. Saya pamit, permisi.."
Sang dokter tersenyum, kemudian kembali masuk ke ruangan operasi untuk mengecek keadaan Daddy Ken yang memang harus di pantau setiap saat.
Apa lagi ini merupakan operasi besar jadi hampir 15 menit sekali akan ada seorang dokter yang memeriksa keadaan Daddy Ken, supaya semuanya dalam keadaan baik-baik saja.
Setelah sang dokter masuk ke dalam ruangan, Mommy Nisha berlari memeluk Key yang tersenyum sambil meneteskan air matanya. Begitu juga Jay, dia memeluk Key dan juga Mommy-nya.
Kakek Iram beserta Nenek Mona melihat mereka selalu saja terkagum, entah apa yang mereka pikirkan saat ini yang terpenting mereka seperti telah mendapatkan buah dari hasil kesabarannya.
__ADS_1
Di saat dulu mereka berandai-andai jikalau anak serta cucunya bisa bangkit kembali maka kehidupan mereka akan jauh lebih bahagia. Tapi ternyata berandai-andaian mereka malah benar-benar terjadi meskipun dalam keadaan yang tidak sama persis.