
Lukas yang mendapatkan celah membuat hatinya seketika lega dan langsung menuruti perintah sang Bunda tanpa menjawab apa pun dari pertanyaan yang Sasya lontarkan.
"Bunda, kenapa Bunda malah biarkan Lukas pergi begitu saja sih. Sasya kan belum selesai berbicara dengan dia, apa lagi dia juga belum menjawab pertanyaan Sasya" Sahut Sasya dengan wajah kesalnya.
"Sudahlah, jangan mencurigai adikmu sendiri. Itu tidak baik Kak, lebih baik kamu duduk dan jelaskan pada kami semua tentang masa kinerja kamu di sana dan sampai kamu bisa bertemu dengan pria itu bagaimana cara?" Ucap Bunda Hana sambil menggiring Sasya untuk duduk di kursi dan Bunda Hana duduk di ranjang bersama Ayah Brian.
"Baiklah, Sasya akan ceritakan semuanya kepada kalian. Jadi..." Sasya mulai menceritakan semua kejadian selama di berada di Los Angeles yang mana di sana Sasya bertemu dengan Alex sebagai pasien pertamanya saat melakukan oprasi besar.
Bahkan itu adalah suatu reword paling berharga untuk Sasya yang mana dia bisa menyelamatkan nyawa seorang pasien, meskipun dia tidak mengenali jika itu adalah orang yang di cintainya.
Sampai akhirnya Sasya menceritakan saat dirinya mengetahui siapa Alex sebenarnya dan bahkan sampai membahas bahwa Alex telah menyatakan cintanya kepada yang mana membuat Bunda Hana dan juga Ayah Brian langsung menatap satu sama lain dengan tatapan berbeda.
"Ayah tidak setuju jika kamu sampai kembali dekat dengan pria itu, apa kamu lupa bagaiman dulu dia bersikap kepada keluarga kita? Bahkan dia hampir membuat Ayah dan Bunda sampai berpisah. Lalu, dia juga telah membuatmu sampai memiliki trauma yang cukup mendalam hingga membuatmu yang awalnya ceria menjadi sangat diam serta suka mengurung diri sendiri di kamar"
"Apa kamu lupa dengan semua itu? Coba bukalah matamu itu Sya, buka!! Ayah tidak mau kalau kamu kembali mengalami hal buruk lagi, jika kamu dekat dengannya. Pokonya Ayah mau kamu harus menjauhinya, titik!!"
Ayah Brian berbicara dengan sangat tegas yang membuat wajah Sasya kembali bersedih, di satu sisi apa yang di ucapkan Ayah Brian memang benar adanya namun di sisi lain juga Sasya tidak mau kembali menjauhi Alex. Karena Sasya begitu yakin jika Alex sudah bukanlah Alex yang jahat.
Ya, meskipun pekerjaannya sebagai seorang Mafia. Cuman, hati Sasya tetap merasa jika Alex bukanlah Mafia yang kejam seperti apa yang Lukas bicarakan tadi. Tapi, entah kenapa apa yang Lukas ucapkan pun sekarang menjadi terngiang-ngiang di dalam ingatan Sasya.
"Tapi Ayah, Sasya yakin dia itu bukanlah orang yang sama kaya dulu kita kenal. Walaupun dia terlihat dingin, seram dan juga seorang Mafia cuman Sasya bisa melihat jika Alex itu orang baik"
__ADS_1
"Hanya Ssaja, mungkin jalannya yang sedikit salah jadi kita harus menunjukkan padanya mana yang baik agar dia tidak tersesat di jalan yang akan membuatnya semakin terperosot di dalamnya"
Sasya terus berusaha untuk meyakinkan kedua orang tuanya yang kini tidak bisa melihat perubahan di dalam diri Alex.
"Untuk saat ini Bunda setuju dengan Kakak, tapi Bunda juga setuju dengan Ayah. Dia memang terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya, bahkan tatapan matanya juga terliha sangat tulus untuk meminta maaf kepada kita dan berusaha untuk mendekati Sasya"
"Cuman, kita juga harus lebih waspada lagi untuk menyeleksi seseorang agar tidak kembali melakukan kesalahan. Apa lagi pria itu telah membuat masa kecilmu hancur, tapi kita juga tidak boleh selalu berburuk sangka serta menyimpan dendam begitu dalam kepadanya"
"Namun, hanya satu yang menjadi pertanyaan Bunda. Apakah jika seumpana kalian benar berjodoh, pria itu mau mengikuti agama kita? Karena sampai kapan pun Bunda tidak rela jika Kakak memainkan sebuah agama. Apa lagi di salam satu keluarga harus ada 1 agama yang sebagai pedoman hidup kita agar menjadi petunjuk kemana kita harus melangkah"
"Apa lagi keyakinan itu hal yang paling penting, tidak mungkin kalian menikah dengan 2 keyakinan yang berbeda dan hidup di satu atap yang sama. Mau dibawa kemana rumah tangga kalian, lalu bagaimana dengan anak kalian nanti? Apakah mereka harus memilih untuk menganut agama siapa? Ayahnya atau Ibunya?"
Bunda Suci berbicara panjang kali lebar yang membuat Ayah Brian dan juga Sasya terdiam tak berkutik. Mereka berdua hanya memikirkan sesuatu yang menurut mereka benar, namun ucapan Bunda Hana mampu menyadarkan mereka jika adanya perbedaan yang sangat besar di antara Sasya dan juga Alex.
Itulah yang saat ini ada di pikiran mereka semua, yang mana Sasya juga memang sudah memikirkan semua itu namun dia seakan-akan lupa akan hal sebesar itu.
Hingga kini, di saat mereka terdiam membuat Lukas yang baru saja selesai mandi lalu berjalan mendekati mereka malah menjadi sangat bingung.
"Ayah, Bunda, Kakak? Ada apa dengan kalian, kenapa kalian semua diam seperti itu? Apa ada masalah? Jika iya, bicarakan pada Lukas sekarang! Lukas tidak suka jika ada yang di sembunyikan. Ingat Lukas sudah besar, jadi Lukas berhak tahu ada masalah apa di keluarga kita" Tegas Lukas dengan tatapan menyelidik.
"Akhh.. ti-tidak ada kok, Bunda hanya mendengarkan cerita Kak Sasya saja katanya dia habis menyelamatkan seseorang yang hampir kehilangan nyawanya. Jadi, Bunda sama Ayah terkejut dengan kehebatan Kakakmu ini hehe.. be-benarkan, Ayah?"
__ADS_1
Bunda Hana mencoba mengalihkan pembicaraan Lukas sambil mengode Ayah Brian dengan menyentuh pahanya sedikit dan membuat Ayah Brian tersenyum dan mengangguk-anggukan kepalanya.
"Hehe.. i-iya benar kok, kota cuman kagum sama Kakakmu karena di usianya yang muda sudah bisa menolong seseorang yang membutuhkan pertolongan" Jawab Ayah Brian.
"Yakin, tidak ada yang disembunyikan dari Lukas? Benar begitu, Kak?" tanya Lukas sambil menatap Sasya dengan tatapan Elangnya.
"Be-benar kok, lagian apa kamu tidak bangga dengan Kakakmu ini hem? Sudah cantik, pintar, hebat dan juga seorang dokter pula. Jadi, kau bisa membanggakan namaku di depan teman-temanmu itu hehe.." Ujar Sasya dengan wajah canggungnya.
Lukas yang mendengar betapa sombongnya Sasya langsung saja menatap malas ke arahnya dan melongkos duduk di sofa panjang.
"Elehhh.. sombongnya, lagian juga itu sudah tugasmu Kak. Jadi, tidak perlu membanggakan dirimu seperti itu. Semua pekerjaan itu hebat tidak ada yang hebat selagi menghasilkan uang yang halal" Celetuk Lukas seperti sedang menyindir tentang Alex kepadanya.
Sasya yang mendengar dan langsung paham akan maksud dari tujuan ucapan Lukas membuatnya sedikit kesal.
"Ckkk.. dahlah aku mau ke kantin dulu, mau cari minum. Ohya, nanti kalau kamu pulang salamin sama semuanya ya. Setelah kondisi Tuan Alex mendingan aku akan pulang, apa lagi aku dapat cutti selama 1 minggu ke depan jadi jangan lupa sampaikan salamku"
"Dan satu lagi buat Bunda sama Ayah, kalau kalian mau pulang sore ini kabari Sasya ya di ruangan sebelah nanti biar Sasya bisa antarkan kalian ke depan. Ya sudah Sasya mau ke kantin dulu lapar nih hihi.. dahhh semuanya.. assalammualaikum"
Sasya langsung berpamitan dan segera pergi dari ruangan Ayah Brian menuju kantin yang mana Sasya seperti membutuhkan waktu untuk menyendiri memikirkan kedepannya bagaimana hubungannya dengan Alex.
Dan tak lama dari kepergian Sasya, ternyata supir yang sering mengantarkan Lukas dan juga Lily sudah datang untuk menjemput Lukas untuk kembali ke rumah.
__ADS_1
Dengan berat hati Lukas pulang dalam keadaan wajah kesal serta datar karena paksaan dari Bunda Hana dan juga Ayah Brian supaya Lukas bisa menemani Lily bermain dengan semuanya.