Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
Tanaman Layu Kembali Tumbuh


__ADS_3

Keluarga Hana serta keluarga Brian sedang asyik menyantap makanan dan sesekali memuji masakan Hana dan Umi yang menurut mereka sangat lezat.


Sedangan Qisya benar-benar sangat menyukai nasi goreng buatan Hana dan meminta Hana untuk menyuapi nya sampai satu butir nasi pun tidak tersisa di piring Qisya.


Dan akhirnya mereka setelah selesai dengan makan malamnya langsung pamit pulang karena waktu sudah semakin larut kasihan Qisya jika harus tidur terlalu malam.


Tetapi besok mereka akan kembali ke rumah keluarga Hana sebelum mereka balik ke jakarta untuk membahas sesuatu hal yang mau Nyona Syifa sampaikan kepada mereka semua.


Kini keluarga Brian sudah kembali pulang ke tempat penginapan yang waktu itu Brian sewa.


Awalnya Qisya selalu menangis ingin mengajak Hana ataupun Qisya mau tidur hanya dengan Hana, tetapi semua orang mencoba untuk menjelasakan tidak ada satupun orang yang bisa membuat Qisya mengerti.


Bahkan Brian sebagai ayahnya pun tidak bisa. Namun, saat Hana mencoba untuk menjelaskan kepada Qisya secara perlahan Qisya mulai mengerti dan mau mengikut keluarga Brian untuk pulang.


Brian dan kedua orang tuanya sangat berterima kasih kepada Hana sudah mau untuk menenangkan Qisya sampai-sampai Qisya sangat nurut kepada Hana yang baru saja dia kenal.


*


*


*


*


Di pagi hari


Qisya dan kedua orang tua Brian sudah siap dengan penampilan mereka masing-masing. Tetapi tidak dengan Brian, dia masih tertidur di dalam kamar.


"Oma, ayah kok beyum bangun cih.., kan Isa mau epet-epet ketemu bunda" Qisya menatap Nyonya Syifa dengan raut wajah yang sangat sedih.


"Kalau Qisya mau cepet ketemu dengan bunda, Qisya bangunin ayah gih" ucap Nyonya Syifa.


"Oteh, Isa angunin ayah dulu ya Oma byee" Qisya berlari dengan langkah kaki kecilnya untuk menuju kamar Brian yang memang berada tidak jauh dari ruang keluarga.


Ceklek..


Qisya membuka pintu kamar Brian kemudian langsung masuk dan tidak lupa untuk menutupnya kembali.


Langkah demi langkah Qisya sudah mendekati Brian, lalu menaiki kasur.


"Ckk!! ckk!!.. ayah bobonya kebo anget cih" gumam Qisya sambil menatap wajah Brian yang tertidur.


"Hana.." Brian mengigau dengan suara khas orang bermimpi.


"Ayah bangun, ini Isa loh ukan bunda Ana" Qisya mencoba untuk menggoyangkan tangan kekar Brian sambil mencoba untuk membangunkan Brian.


"Erghh..." Brian mulai terisik dari tidurnya dan mencoba menyipitkan matanya.

__ADS_1


"Hum.. Qisya? Kenapa kamu di sini, di mana bunda Hana?" tanya Brian tanpa sadar menanyakan keberadaan Hana dengan suara khas bangunnya.


"Hah?.. Bunda Ana tan di umah na ayah, ayah impi bunda ya? Hayo.. Isa bilangin ah wlee" Qisya meledek Brian dan langsung turun dari kasur kemudian berlari keluar dari kamar Brian.


"Memangnya aku tadi menanyakan Hana? Perasaan aku hanya menanyakan kenapa Qisya bisa ada disini deh. Mungkin dia salah denger kali, namanya juga anak kecil"


Brian kemudian bangun dari tidurnya dan duduk sambil mengucek matanya.


"Brian.. cepat turun, kita harus ke rumah Hana" teriak Nyonya Syifa dari arah ruang makan.


"Astaga, suara mamah berisik sekali sih" Brian menutup kuping nya dengan kedua tangannya.


"Mau mandi sendiri, atau mamah mandiin kamu seperti Qisya" Nyonya Syifa kembali berteriak dan kali ini membuat Brian kocar kacir mencari baju serta handuknya kemudian berlari ke kamar mandi.


...****************...


Di ruang makan


"Oma, Opa maca adi ayah igo ebut-ebut nama Bunda hehe" Qisya yang kini sudah duduk di meja makan membuka suara dan membuat Nyonya Syifa serta Tuan Ferry hampir tersedak minuman.


"Mungkin Qisya salah dengar kali?" tanya Nyonya Syifa yang menatap Qisya dengan wajah penasaran.


"Ish.. Oma maca Isa udek cih kupingna, olang ayah manggil Bunda Ana" ucap Qisya dengan nada kesalnya.


"Emangnya ayah mengigaunya seperti apa?" tanya Tuan Ferry untuk memastikan jika Qisya tidak salah mendengar.


"Terus, terus.. gimana lagi?" Nyonya Syifa sangat penasaran dengan kelanjutan cerita Qisya.


"Ya telus ayah angun, tapi malah nyaliin bunda ana dimana gitu" ucap Qisya sambil menatap wajah Oma nya dengan sangat polos.


"Hum.. ternyata anakku itu sudah mulai menaruh hati pada anak sahabatku, hehe.. aku harus buru-buru mengambil tindakkan sebelum Brian berubah pikiran" ucap Nyonya Syifa di dalam hati.


"Semoga ini bertanda baik darimu ya Allah, dan tolong dekatkanlah jodoh anakku jangan sampai engkau mengambilnya kembali" doa Tuan Ferry di dalam hatinya penuh harapan.


Qisya yang melihat Oma dan Opanya terdiam, membuat dirnya merasa lapar lalu memakan roti di piringnya yang sudah di buatkan Omanya lebih dulu.


Tuan Ferry dan Nyonya Syifa kini saling menatap satu sama lain dengan senyuman yang penuh arti.


Kemudian mereka lanjut memakan roti yang ada di piringnya dengan keadaan yang masih tersenyum.


Tak lama Brian datang serta mendekati mereka di ruang makan dengan penampilan yang sangat tampan dan gagah.


"Wah.. sepertinya ada yang lagi berbunga-bunga nih, benar tidak. Pah?" tanya Nyonya Syifa sambil menatap suaminya.


"Kayanya tanaman layu sudah mulai kembali tumbuh dengan segar, Mah. Mungkin karena sudah ada yang menyiraminya dan memberi pupuk" sindir Tuan Ferry sambil melirik Brian.


Brian yang tidak mengerti maksud kedua orang tuanya itu langsung duduk di sebelah Qisya, lalu mengambil roti dan mengoleskan selai. Kemudian memakannya dengan sangat lahap.

__ADS_1


Di sela-sela Brian sedang memakan rotinya, kini kedua orang tua Brian kembali senyam-senyum sendiri yang menunjukkan bahwa merekalah yang lagi berbunga-bunga melihat anaknya yang sebentar lagi akan menemukan jodohnya.


Brian yang heran dengan kedua orang tuanya ini langsung melontarkan pertanyaan "Kenapa pada senyum-senyum gitu? Ke habisan obat?"


"Hehe.. enggak kok, malahan kita kebanyakan obat ya. Pah" tanya Nyonya Syifa sambil mengedipkan matanya kepada suami tercinta.


"Ya, dong" jawab Tuan Ferry dengan senyuman yang lebar.


"Cih.." Brian kembali melanjutkan makanannya dan sesekali melirik Qisya yang sedang makan dengan belepotan selai coklat.


Brian langsung mengambil tisu, kemudian mengelap mulut Qisya yang sudah penuh dengan selai coklat.


Sampai akhirnya mereka telah selesai dengan acara sarapan paginya.


Dan kemudian mereka bersiap-siap untuk berangkat ke rumah keluarga Hana untuk sekalian pulang ke Jakarta.


Nyonya Syifa sudah tidak sabar ingin berbicara kepada Umi tentang janji mereka dahulu yang belum sempat terlaksana sampai saat ini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai para leaders 🤗


Perkenalkan ini adalah karya novel ke-2 aku loh 🤩


Semoga kalian menyukainya ya 🤝


Dukung othor terus dengan cara berikut :


Like 👍


Komen 📨


Favorite ❤️


Rate 🌟


Dan tidak lupa selipkan hadiahnya ya 😍🙏


Bunga, kopi atau sebagainya pun tak apa kok, malah lebih bagus lagi pundi-pundi receh yang berterbangan di karyaku ini hihi 😆😜


Terimakasih 🙏🙏


Papay 🤗🤗


...MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN, MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN SEMUANYA 🙏😍...


...Maaf ya othor baru bisa up tapi tidah banyak, karena lagi kurang sehat 🤢🤕🤒...

__ADS_1


...Semoga kalian masih mau untuk menunggu othor up ya 🙏🥺...


__ADS_2