
Sehingga Nenek Mona dan Kakek Iram juga kembali pulang dalam keadaan Nenek Mona yang terus mengoceh sepanjang perjalanan akibat ulah suaminya, yang begitu menyebalkan.
...*...
...*...
2 hari sudah berlalu, keadaan Daddy Ken semakin tidak karuan. Dimana dia malah duduk menyender di atas kasur dengan pandangan kosong lurus ke depan, kedua tangan dilipat di dada dan air mata sesekali menetes.
Daddy Ken benar-benar merasakan hatinya sangat hancur pasca tahu kalau anak yang selama ini dia sia-sia'in sudah tiada. Rasa penyesalan melekat di dalam dirinya sampai-sampai Daddy Ken tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.
Tak lupa Jay hampir setiap jam selalu mengirim rekaman kepada Key tentang perkembangan kondisi Daddynya yang selama beberapa hari terakhir ini tidak bisa makan dengan teratur atau pun minum obat.
Jay sama Mommy Nisha menatap ke rah Daddy Ken dari sela-sela pintu kamarnya, mereka tidak tega ketika menyaksikan keadaan Daddy Ken yang semakin hari semakin memburuk.
Wajah pucat, bibir pecah-pecah, dan juga badan mulai menyusut membuat mereka semakin menjadi kasihan. Rasanya ingin sekali menyudahi skenario yang telah Kakek Iram rencanakan.
"Jay, apa sebaiknya kamu bilang sama Kakek untuk menyudahi semua sandiwara ini? Mommy tidak tega lihat Daddy seperti ini"
Mommy Nisha terlihat sangat menyedihkan sampai matanya pun berkaca-kaca saat menatal keadaan suaminya dari jauh. Selama Mommy Nisha mengenal Daddy Ken, baru inilah untuk pertama kalinya Daddy Ken terlihat tak berdaya.
Layaknya seekor burung yang sudah tidak bisa terbang menggapai kebahagiaanya, akibat sebelah sayapnya sedang terluka parah.
Beberapa kali Daddy Ken mengalami kegagalan mendapatkan kontrak kerja pun tidak sampai membuat Daddy Ken seperti ini.
Bahkan ketika melakukan kesalahan pun Daddy Ken tidak pernah menyalahkan dirinya dan malah melimpahkan ke pada orang lain.
Namun sekarang berbeda, untuk yang pertama kalinya Daddy Ken menyalahkan dirinya sendiri atas semua kesalahan dimasa lalu. Baik yang menimpa Chaca Ibu dsri Key, atau pun Key selaku anaknya sendiri.
"Mommy tenang ya, Jay akan ke rumah Kakek sore ini sambil membujuk Kakek. Mommy tahu sendiri Kak Key aja sampai berantem akibat Kakek Iram belum mempercayai kalau Daddy sudah berubah dan menyadari kesalahannya" jawab Jay sambil merangkul Mommy Nisha.
"Ya sudah, kamu coba ngomong baik-baik jelasin kondisi Daddy seperti apa supaya Kakek bisa percaya"
"Mommy takut jika semakin berlarut yang ada Daddy akan kembali jatuh sakit. Mommy enggak mau itu terjadi lagi, kasihan Daddy Jay, kasihan hiks.."
Mommy Nisha menangis pelan di dalam pelukan Jay, tanpa di sadari mereka malah terkejut oleh tindakan Daddy Ken yang tiba-tiba sudah berdiri sambil tersenyum.
Mommy Nisha mengahapus kasar air matanya dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa sambil tersenyum, lalu berkata. "Ken, kamu mau kemana?"
"Aku mau menunggu Key, tadi dia menghubungiku katanya siang ini akan pulanh kerumah. Kan Key lagi kuliah di luar negeri" jawab Daddy Ken dengan senyuman indah.
"Ohya.. Sayang, kamu tolong siapin makan siang kesukaan Key ya, kasihan Key kalau belum makan nanti bisa-bisa dia sakit lagi. Ya sudah aku ke depan dulu"
Daddy Ken berjalan menuruni anakan tangan, sedangkan mereka berdua cuman bisa terdiam tak percaya kalau Daddy Ken bisa berbicara seperti itu.
"Mo-mom, Da-daddy ke-kenapa be-berbicara seperti itu?" tanya Jay penuh keterkejutan. Mommy Nisha hanya menggelengkan kepalanya, matanya kembali berkaca-kaca menatap Daddy Ken yang sudah turun ke bawah.
"A-apa jangan ja-jangan Daddy sudah kehilangan akal sehat? Bukannya Daddy sudah tahu kalau Kak Key itu sudah tiada, lalu kenapa dia bertingkah seolah-olah Kak Key masih hidup?" sambung Jay.
"I-ini yang Mommy takutkan Jay, cepatlah kamu ketemu dengan Kakek Iram. Bilang sama dia suruh udahin semuanya, sebelum terlambat!"
__ADS_1
"Mommy akan berusaha mengalihkan Daddy agar semua ini tidak semakin berlanjut sekalian membujuk Daddy untuk sedikit mengisi perutnya yang koson"
Mommy Nisha langsung pergi begitu saja, ke arah dapur untuk membuatkan minuman hangat serta membawakan cemilan. Siapa tahu Daddy Ken mau menyentuhnya walaupun hanya sedikit. Setidaknya perutnya tidak sampai kosong.
Jay yang melihat Mommynya begitu panik segera pergi ke kamarnya bersiap-siap, setelah selesai Jay berpamitan lalu menaiki mobilnya untuk menuju ke rumah Kakek Iram.
Dari dalam mobil saat Jay mau keluar pagar dia masih bisa melihat keadaan Daddy Ken yang masih terus menunggu kepulangan Key sambil meminum teh hangat serta menyemil, benar-benar seperti bukan Daddy Ken.
Tapi, yang buat Jay sedikit senang saat dia melihat Daddy Ken sudah mau memakan sesuatu walaupun sekedar menyemil. Mungkin berkat bujukan Mommy Nisha mampu buat Daddy Ken tanpa sadar memakannya.
...*...
...*...
35 menit perjalanan, akhirnya Jay sampai di kediaman mansion Kakek Iram.
Jay segera keluar dari mobilnya, sambil menyapa beberapa penjaga. Kemudian dia berjalan cepat memasuki rumah utama dengan wajah yang begitu panik.
"KEKEK!!"
"NENEK!!"
"KAK KEY!!"
"KALIAN DIMANA!"
"JAY DATANG BAWA BERITA GAWAT!!"
Uhukk.. Uhukk..
Kakek Iram sedikit tersedak ketika sedang meminum minumannya.
"Makannya hati-hati!" ujar Key dengan segala kecuekannya sambil memakan kue yang baru saja dia buat.
"Bukan aku yang tidak hati-hati, tetapi suara Adikmu yang buatku tersedak!" sahut Kakek Iram, sedikit kesal.
HOW ARE YOU EPRIBADEH YUHUU..
Lagi dan lagi Jay berteriak menelisir rumah mencari keberadaan mereka semua.
"Kami di ruang belakang!" sahut Key sambil duduk santai menatap ke arah kolam ikan.
Jay bergegas berlari ke ruang belakang, dan langsung duduk tepat di samping sang Kakak sambil mengambil gelas yang ada di tangan Key.
"YAAAAKK.. JAY!!!"
"Hehe.. Ma-maaf Kak, habisnya Jay haus banget dari tadi juga nyetir mobil buru-buru karena ada kabar gawat tentang Daddy!"
Degh!
__ADS_1
"Daddy? Daddy kenapa? Ada apa dengan Daddy?"
Key membolakan matanya menatap tajam ke arah Jay, wajah panik dan juga cemas mulai melanda dirinya.
Semenjak dari pemakaman Key merasa khawatir dengan perkembangan kondisi Daddnya. Apa lagi ketika melihat kondisi Daddy Ken dari rekaman yang Jay kirimkan semakin hari semakin memburuk.
"Katakan ada apa dengan Daddymu, Jay!" sahut Nenek Mona penuh ketegasan.
"Keadaan Daddy semakin memburuk, Nek. Jay sama Mommy kasihan lihatnya, enggak tega. Bahkan Jay beberapa kali mengirimkan video ke Kakak tentang Daddy, tapi.." Jay mengehentikan ucapannya sambil menatap semuanya
"Tapi apa? Katakan dengan jelas, Jay! Jangan buat aku khawatir!!" pekik Key dihiasi tataoan jatam mendelik.
"Tapi yang ini benar-benar udah tidak bisa Mommy tahan lagi, Kak. Mommy mau kita menyudahi semua skenari ini" jawab Jay sedikit lesu sambil menundukkan kepalanya.
"Memang apa yang terjadi dengan, Ken?" tanya Kakek Iram yang sedikit penasaran.
Jay menjelaskan apa yang terjadi kepada Daddy Ken hari ini, bahkan beberapa keadaan yang mereka tidak tahu pun Jay ceritakan.
Dimana Daddy ken selalu bermimpi bertemu Key, kemudian melihat Key selalu ada di dekatnya dan yang terakhir tadi saag Daddy Ken mengatakan ingin menunggu Key pulang.
Mendengar kisah yang Jay ceritakan, berhasil membuat Key meneteskan air matanya. Kemudian Key menatap Kakek Iram sangat intens, terlihat jelas bahwa Key seperti mohon pada Kakek Iram agar dia mau menyudahi semua ini.
Kakek Iram terdiam, memikirkan semuanya. Di satu sisi dia memang kasihan mendengar kisah yang Jay ceritakan, tetapi di sisi lain Kakek Iram masih belum sepenuhnya percaya kalau Daddy Ken sudah berubah.
Apa lagi untuk memaafkannya pun Kakek Iram masih belum bisa, lantaran dibalik penyebab kematian anaknya ada Ken yang sudah menghancurkan hidup anaknya dan juga cucunya.
"Kek.." ucap lirih Key, matanya mulai berkata-kaca penuh kesedihan.
Beberapa hari ini Key menahan semua rasa yang tidak bisa dia jelaskan olehnya, sebenarnya ini adalah impian yang Key tunggu-tunggu ketika mengetahui bahwa Daddynya sudah mulai menyayanginya.
Namun, sayangnya Key harus menundanya agar bisa mengikuti semua rencana sang Kakek buat, supaya Daddy Ken menjadi jera.
"Apa kau yakin, Ken udah berubah?" tanya Kakek Iram menatap ke arah Jay.
"Jay yakin, Kek. Maka dari itu Jay ke sini untuk mengabari Kakek meminta izin agar Kakek mau menyudahi semua sandiwara ini, Jay kasihan sama Mommy dan Daddy Kek. Jay enggak kuat lihatnya" jelas Jay penuh permohonan.
"Kek, Key mohon sudah ya. Sudah cukup semuanya, kasihan Daddy dan Mommy Key enggak tega kalau harus melihat mereka seperti itu setiap hari. Mereka berhak bahagia Kek, please.. Key mohon dengan sangat sama Kakek. Stop bersandiwara!"
"Kalau Kakek masih kekeh buat melanjutkan sandiwara ini terserah! Cuman Key akan tetap menemui Daddy hari ini juga!"
Key berdiri menatap tajam ke arah Kakek Iram, matanya memerah dan penuh air mata. Kemudian Nenek Mona menepuk pahanya dan mengangguk pelan.
"Baiklah, kamu duduk dulu. Tenangi pikiranmu, nanti sore kita ke rumah. Kakek yang akan menjelaskan semuanya dengan Daddymu" sahut Kakek Iram sambil menatap Key.
Jay yang mendengar itu langsung tersenyum, lalu Key yang masih berlari segera berlari memeluk Kakek Iram begitu erat. Key mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada Kakek Iram karena rencananya sudah berhasil meskipun tidak 100 persen.
Seenggaknya saat ini Daddy Ken sudah menyadari kesalahannya. Hanya selang beberapa menit ponsel Jay berbunyi, lalu mengangkatnya.
"APAA!!!"
__ADS_1
"O-oke, Ja-jay ke sana sekarang!!"
Jay berdiri penuh keterkejutan saat menerima telepon dari seseorang, bahkan mereka yang awalnya sedang tersenyum seketika berubah menjadi panik.