Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
Menyadari Kesalahannya


__ADS_3

Namun, nyatanya mereka salah. Alex menginginkan keturunan, lantaran dia tidak mau jika istrinya akan hidup seorang diri, ketika sesuatu hal buruk terjadi padanya dalam waktu cukup dekat.


Sasya yang mendengarkan semua penjelasan suaminya, tidak percaya jika sesuatu makna indah telah terlontar dari bibirnya.


Sasya segera berlutut didepan Alex, memohon ampun jika dirinya sudah memiliki pikiran yang jelek kepadanya.


Alex melihat itu reflek terkejut, segera membangunkan istrinya lalu memeluknya begitu erat. Dimana keduanya saling menangis satu sama lain, menyadari kesalahannya dan meminta maaf.


Bunda Hana menatap suaminya yang tersenyum, membuatnya bangga. Ternyata apa yang dilakukannya tadi, berhasil membuat pasangan suami-istri yang sama-sama keras berhasil menyadari kesalahannya.


Ayah Brian menoleh kearah istrinya ketika tangannya digenggam erat. Lalu Ayah Brian mencium tangan istrinya beberapa kali.


Ayah Brian benar-benar sangat mencintai Bunda Hana, terlepas dari semua masa lalunya yang sangat menyedihkan.


Selang beberapa menit, Alex dan Sasya bersujud dihadapan kedua orang tua Syasya. Mereka berdua memohon ampunan atas keegoisan, yang sudah membuat kedua orang tua Syasa sampai harus turun tangan.


"Bunda, Ayah. Maafin Sasya, karena Sasya sudah mengecewakan kalian. Sasya tahu mungkin karena sifat Sasya yang masih muda dari Mas Alex, membuat Sasya memiliki kelabilan dalam memahami tugas sebagai istri. Sekali lagi maafkan Sasya Bun, Ayah."


Sasya menangis memeluk sang Bunda yang saat ini hanya tersenyum memeluk sambil mengelus punggungnya.


Sama halnya dengan Alex, dia sangat berterima kasih kepada kedua orang tua Syasa yang begitu hebat dihadapannya saat ini.


Berkat mereka rumah tangga Alex kembali membaik, bahkan rasa penyesalan kian menyelimuti hati Alex ketika bayangan masa lalu kembali berputar diingatannya.


"Maafkan Alex, Ayah, Bunda. Selama ini Alex sudah menyakiti hati kalian. Tetapi kalian masih mau menerima Alex sebagai bagian dari keluarga kalian,"


"Padahal--"


"Sstt, sudah jangan dibahas lagi. Sekarang waktunya kamu melangkah maju kedepan, bukan mundur kebelakang. Paham, kan!"


Ayah Brian langsung memotong ucapan Alex, dia tidak mau kembali terjebak berada dibayang-bayang masa lalunya.


Alex menatapnya begitu kagum, Alex tidak menyangka. Bahwa orang yang sangat dibencinya dulu adalah orang-orang yang berhati baik.


"Alex, sudah ya. Jangan diingat lagi, sekarang kamu fokus saja sama rumah tangga kalian yang masih seumur jagung ini,"


"Pikiran baik-baik, bagaimana caranya agar kalian bisa selalu bersama. Meskipun kalian memiliki kesibukan masing-masing. Bunda sama Ayah, tidak mau lagi melihat kalian bertengkar hanya karena masalah jarak,"

__ADS_1


"Jadi cobalah pikirkan baik-baik, ambil keputusan secara musyawarah. Jika kalian selalu berjauhan, itu akan membuat rumah tangga kalian tidak bisa bertahan lama,"


"Percaya sama Bunda, Bunda berbicara seperti ini bukan untuk menakuti kalian. Cuman Bunda mau kalian bisa berpikir lebih matang lagi, tentang rumah tangga untuk kedepannya. Paham, kan?"


Nasihat Bunda Hana berhasil membuat Sasya sama Alex menatap satu sama lain, kemudian mereka menganggukan kepalanya sambil tersenyum.


Perasaan lega dan juga senang, berhasil menyelimuti semuanya. Dimana awalnya terdapat tumpahan air mata yang sangat menyakitkan, kini tergantikan dengan senyuman yang begitu indah.


Syasa dan Alex pun berdiri, lalu mereka semua berjalan keluar ruangan beriringan sambil memeluk pinggang istrinya masing-masing.


...*...


...*...


Tepat selesai jam makan malam, semua sedang berkumpul diruang keluarga sesekali bercanda bersama. Apa lagi Lily selalu saja menggoda Lukas, hingga membuatnya terlihat kesal.


"Ekhem ... Bun, Ayah. Bagaimana jika tahun depan Bunda sama Ayah kembali mendapatkan menantu baru?" ucap Lily, spontan.


Ayah Brian yang baru saja minum, langsung tersendak. Bunda Hana segera membantu mengusap punggungnya.


"Ya ampun, Lily! Kalau ngomong itu liat sikon dulu, kasihan Ayah." ucap Sasya sedikit kesal.


"Udah, Sayang. Jangan marah-marah, lagian Lily juga tidak sengaja kok. Kan dia bertanya bukan mengagetkan Ayah. Siapa tahu Ayah refleks kaget aja karena pertanyaan Lily cukup serius." jelas Alex.


"Tapi, Mas--"


"Ayah enggak apa-apa, Kok. Apa yang dikatakan Alex benar, Ayah cuman kaget aja. Kenapa Lily kecilku bisa berkata seperti itu, hem?" ucap Ayah Brian, menghentikan Sasya.


"Ya kan, Lily cuman nanya, Ayah. Siapa tahu, tahun besok Abang Lukas mau melamar Kak Key, hehe.."


Perkataan Lily, lagi-lagi bergantian membuat Lukas yang saat ini sedang memakan camilan langsung tersendak. Secepat mungkin Alex langsung memberikan minuman untuknya.


"Lily!!" pekik Sasya, terlihat sangat emosi sambil berdiri.


Lily yang terkejut saat mendengar nada sang Kakak begitu menggema diruangan, segera menundukkan kepalanya.


Niat Lily sebenarnya hanya ingin bercanda, tetapi tanpa disengaja malah membuat Ayah Brian dan juga Lukas tersendak. Begitu juga Sasya, dia terlihat begitu emosi.

__ADS_1


"Ma-maafkan Lily, karena Lily sudah membuat kalian hampir celaka. Lily pergi ke kamar dulu, banyak tugas yang belum diselesaikan. Assalammualaikum."


Lily segera pergi meninggalkan semuanya dalam keadaan meneteskan air matanya, bahkan Sasya pun yang melihat itu bergegas pergi kedalam kamarnya.


Melihat tingkah mereka berdua, semuanya menjadi bingung. Sampai seketika Bunda Hana mengejar Lily supaya memberikan sedikit penjelasan agar tidak semakin salah paham.


Sedangkan Alex, juga ikut menyusul istrinya. Dia mau memberikan penjelasan kecil, supaya Sasya tidak sampai bersikap berlebihan seperti itu.


Berbeda halnya Ayah Brian dan Lukas, mereka menatap satu sama lain dengan tatapan penuh arti. Dimana Lukas sedikit mulai merasa tegang, kalau sampai ucapan Lily membuat Ayah Brian menjadi marah atau pun salah mengartikannya.


"Apa benar, yang dibilang Lily? Jika kamu mau menikah tahun depan?" tanya Ayah Brian, penuh ketegasan.


"E-enggak, Li-lily cu-cuman bercanda ka-kali Ayah. Ja-jadi ja-jangan ditanggapi." jawab Lukas, gugup.


"Jika ucapan Lily tidak benar, kenapa kamu terlihat sangat gugup?" tanya Ayah Brian, kembali.


Lukas yang semakin menegang, tidak bisa menjawab apa pun yang ditanyakan oleh Ayah Brian. Dia malah memilih pergi dengan alasan, baru ingat jika ada tugas yang belum terselesaikan.


Padahal nyatanya, itu hanya pengalihan agar Lukas bisa menghindari semua pertanyaan sang Ayah. Lukas belum siap untuk menjawab semua itu, akibat hatinya masih sedikit bimbang.


Apa lagi kedekatan Lukas dengan Key saja, masih belum terlihat sangat dekat. Berbeda halnya kedekatan Lily dan Jay yang terlihat cukup dekat.


Lukas pergi kedalam kamarnya langsung menjatuhkan tubuhnya diatas kasur empuk miliknya. Rasa tegang dan juga deg'degan membuat Lukas menjadi salah tingkah.


Tanpa disengaja tangan Lukas merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan ponselnya dan membuka galeri.


Ternyata diam-diam Lukas suka memotret Key dari jarak yang tidak terlalu jauh. Beginilah, Lukas ketika dia teringat dengan Key akan segera memandangi wajah Key yang terlihat sedikit lucu.


Disaat-saat Lukas sedang memandangi wajah Key, tiba-tiba foto Key menghilang tergantikan oleh notif dering nama Key.


Lukas terkejut, dia segera bangkit lalu duduk. Jantungnya kembali berdetak sangat cepat. Dia tidak menyangka bahwa Key mau menghubunginya lebih dulu dijam yang seeprti ini.


Lukas berusaha menarik nafasnya beberapa kali, agar tidak terlihat begitu gugup saat mengangkat telpon dari wanita yang berhasil membuatnya salah tingkah.


Namun, sayang. Ketika Lukas mau mengangkatnya. Sambungan ponsel dari Key terputus, wajah bahagia kian memudar berganti kesal.


Beberapa kali Lukas menggerutukki kebod*dohannya sendiri, lantaran terlalu lama mengangkat ponselnya. Alex membanting ponselnya di atas kasur, dan tak lama ponsel pun kembali berdering atas nama Key untuk kedua kalinya.

__ADS_1


Lukas yang tidak mau kehilangan kesempatan, segera mengangkatnya ponselnya secara cepat. Wajahnya mulai memerah dan menjawab telpon Key, dengan suara sedikit terbata-bata.


__ADS_2