
Beberapa menit berlalu sopir Nenek Mona datang sambil membungkuk serta membawa tas belanjaan Nenek Mona. Kemudian Nenek Mona berjalan berdampingan dengan Key yang hanya bisa bersikap datar. Setelah masuk mobil, sopir segera menjalankan mobilnya menuju rumah yang sangat mewah.
Sesampainya di sana, kehadiran Key membuat Kakek Iram terkejut lantaran istrinya membawa pulang seorang gadis yang tidak mereka kenal. Mereka berjalan memasuki rumah menuju ruangan keluarga.
Kakek Iram yang baru saja dari dapur langsung berhenti menatap Nenek Mona beserta Key dengan tatapan aneh dan juga dingin.
"Berhenti! Siapa dia? Kenapa kau bawa ke sini? Kamu kira rumah kita, rumah titipan anak!" Celetuk Kakek.
Mereka menghentikan langkahnya dengan jarak 3 meter dari Kakek Iram, Nenek Mona terdiam sejenak. Namun Key dia menjawab dengan nada yang berhasil membuat Kakek Iram terkejut.
"Saya juga tidak akan ke sini jika bukan di paksa oleh istri anda, Tuan!" Sahut Key dengan nada yang lebih dingin, Kakek Iram terdiam membeku ketika ada seorang gadis berani berkata dingin melebihi dirinya.
"Astaga, kenapa dia malah lebih seram dariku? Tapi tunggu, sifatnya kenapa malah jadi mirip sama Lukas? Bahkan Lukas pun kalah dingin dengan gadis ini!" Gumam Kakek Iram di dalam hatinya.
"Jika kau keberatan dengan keberdaanku, terserah! Lagi pula aku ke sini bukan karena kemauanku sendiri, tapi pemaksaan dari Ninik-Ninik yang sombong ini!"
"Makannya Tuan, kalau punya istri ajarin yang bener biar enggak suka memaksakan kehendaknya! Dahlah.. berseteru dengan kalian tidak ada gunanya. Percuma!"
Ucapan Key benar-benar membuat Kakek Iram mati kutu, tidak ada satu kata pun yang dari tadi keluar dari bibirnya. Bahkan matanya membola tak percaya jika gadis seperti dia bisa berbicara seperti itu padanya tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Luar biasa, baru kali ini Kakek Iram bertemu dengan gadis tanggung yang tak gentar dengan apa pun.
Sedangkan Nenek Mona, dia hanya bisa terkekeh dengan ucapan Key, berhasil membuat suaminya bagaikan manekin di depan toko.
Key berjalan duduk di atas sofa sambil memakan buah yang berada di atas meja, entah kenapa Key merasa begitu nyaman di rumah ini. Seakan-akan ini adalah rumahnya, tapi ketika melihat kelakukan Nenek Mona dan Kakek Iram benar-benar membuat Key pusing. Baru kali ini dia melihat dua makhluk yang sangat menyebalkan selain Lukas.
Kakek Iram perlahan mendekati Nenek Mona, lalu matanya tetap menatap ke arah Key yang asyik menonton film sambil memakan buah serta membelakanginya.
__ADS_1
"Sayang, kamu bawa siapa sih? Kenapa sikapnya sangat aneh, jika aku lihat-lihat dia itu mirip dengan Lukas. Hanya saja dia itu versi perempuannya" Bisik Kakek Iram sambil melihat ke arah Key.
"Hihihi.. itulah yang aku suka dari dia Sayang, makannya aku membawanya ke sini. Tenang saja dibalik sikap ngeselinnya, tetapi dia memiliki jiwa yang baik, sama kaya Lukas"
"Sudah tidak usah khawatir apa pun yang keluar dari mulutnya itu sama halnya seperti Lukas! Ayo kita duduk kamu kenalan dulu sama dia, nanti kamu tanyakan saja kenapa kami bisa bertemu"
Nenek Mona merangkul lengan Kakek Iram dan menggiringnya untuk duduk di sofa bersama dengan Key.
Key hanya terdiam menikmati film kesukaannya, ternyata Kakek Iram memiliki kesamaan seperti Key yaitu suka dengan film berbau trailer.
"Key kenalin ini suami Nenek, namanya Iram. Kamu bisa memanggilnya dengan sebutan Kakek Iram" Ucap Nenek Mona yang membuat Key langsung menatapnya dan beralih menatap Kakek Iram.
"Kenalkan aku Iram, selamat datang di rumahku. Jika boleh tahu, kenapa kalian bisa ketemu? Lalu apakah kamu tidak memiliki keluarga?" Tanya Kakek Iram sambil menatap Key dan Nenek Mona secara bergantian.
Key terdiam melirik Nenek Mona yang sedang tersenyum menganggukkan kepalanya. Dengan berat hati Key menarik nafasnya lalu kembali menceritakan sedikit tentang kisah hidupnya, Kakek Iram terdiam mendengar semua kisah Key. Entah kenapa kisah Key sama seperti kisah seseorang yang ada di masa lalu Kakek Iram.
Kakek Iram menatap sorot mata Key yang sangat cantik seperti seseorang yang begitu Kakek Iram kenal. Bayangan tentang seseorang kembali berputar dimana gadis remaja yang masih sekitar 18 tahun sedang mempertahankan haknya.
Di Mansion yang sangat besar tinggalah seorang suami-istri, mereka memiliki 2 anak perempuan. Salah satunya adalah mendiang dari Ibu kandung Key dan saudara tirinya.
"Kak, aku mau minjem baju buat datang ke acara teman sekolah?" Ucap saudara tiri dari Ibu kandung Key yang bernama Maria Revany Addison dengan usia 16 tahun. Dia merupakan anak kandung dari Kakek Iram dan juga Nenek Mona.
"Memangnya ada apa dengan bajumu? Bukannya gaun-gaun milikmu lebih bagus dari pada bajuku! Sahut Ibu Kandung Key yang bernama Berenica Grizzly Addison dengan usia 18 tahun.
"Memang, tapi gaun itu sudah pernah aku pakai di acara yang lain. Aku malu jika harus memakainya lagi karena aku juga belum di belikan gaun yang baru, tapi aku ingat Kakak kan punya gaun bagus yang pernah Daddy belikan saat ada acara apa begitu aku lupa" Jawab Maria.
"Baju itu belum pernah aku gunakan, jadi kalau kamu mau pinjam baju. Ambil saja yang lain, tapi jangan gaun itu, karena gaun itu akan aku pakai di acara yang spesial!" Celetuk Caca sambil memainkan ponselnya.
__ADS_1
"Aku maunya baju itu Kak, pokonya aku mau itu titik!" Pekik Maria yang sudah mulai kesal, lalu ia berjalan mendekati lemari Caca sambil mencari gaun yang pernah di berikan Daddy-nya pada Caca.
Sedangkan Caca yang awalnya sedang asyik memainkan ponselnya langsung terkejut, ketika lemarinya sudah di obrak-abrik oleh Maria hanya untuk mencari gaun tersebut.
"Astaga MARIA! Apaa-apaan ini, hahh! Sudah cukup selama ini aku mengalah sama kamu, tapi kali ini tidak lagi! Daddy membelikan baju itu khusus untukku agar aku bisa memakainya tepat di acara ulang tahunku yang ke-19 tahun!"
"Asal kamu tahu, acara itu akan di adakan 2 minggu lagi! Apa kamu lupa, hah! Aku bilang stop, ya stop Maria!"
Caca berusaha menarik tubuh Maria agar berhenti mengacak-ngacak lemarinya, Maria tak henti-hentinya terus mencari gaun tersebut. Sampai seketika Caca berhasil menarik Maria lalu menghempaskan sedikit kasar tubuh Maria ke arah kasur.
"Kakak! Apa-apaan sih, kasar banget jadi orang! Aku ini Adikmu harusnya kamu bersikap lembut padaku bukan malah seperti ini, aku tahu aku adik tiri tapi aku juga manusia Kak!" Pekik Maria yang tidak terima.
"Selama ini aku sudah selalu mengalah sama kamu, bahkan Daddy dan Mommy selalu memintaku untuk mendahulukan apa yang kamu mau!"
"Tiap menit aku selalu belajar untuk menjadi seorang Kakak yang baik buat kamu, tapi kenapa Maria! kenapa kamu selalu saja tidak pernah menghargaiku sebagai Kakakmu. Kenapa!!!"
Caca berteriak sambil meneteskan air matanya menatap Maria yang saat ini sudah duduk di tepi kasur dengan wajah mendongak ke atas menatap mata Caca, ada rasa sedikit bersedih ketika Maria seperti melihat perjuangan Caca yang selama ini selalu berusaha menjadi seorang Kakak yang baik untuknya.
Tapi di sisi lain, Maria sangat iri ketika Caca mendapatkan gaun khusus dari Kakek Iram di hari ulang tahunnya nanti. Sedangkan Maria ketika ulang tahun tidak pernah di berikan gaun layaknya Caca, tapi apa pun yang Caca inginkan selalu dituruti oleh kedua orang tuanya.
Berbeda dengan Caca, dia memang tidak suka meminta hal yang menurutnya tidaklah penting. Jadi kedua orang tuanya tidak pernah memberikan apa pun untuknya, hanya saja waktu itu Kakek Iram berada di suatu even acara butik ternama lalu dia melihat gaun yang sangat indah.
Jadi Kakek Iram membelinya khusus untuk Caca sebagai bentuk hadiah kasih sayangnya yang akan Caca gunakan tepat di hari ulang tahunnya ke-19 tahun. Tapi, itu pun juga dengan persetujuan Nenek Mona.
Namun, sayangnya mereka lupa kalau mereka memiliki dua anak perempuan yang seharusnya mereka bisa bersikap adil dalam membelikan apa pun, ya meski salah satunya tidak memintanya.
Mungkin mereka berpikir karena Maria sudah terlalu sering di belikan gaun atau yang lainnya setiap saat, jadi menurut mereka Maria tidak akan merasa iri pada Caca. Cuman mereka salah, bahkan di usia Maria yang masih labil dia belum mengeri dengan semuanya.
__ADS_1
Saat ini Nenek Mona dan Kakek Iram baru saja 10 menit yang lalu pergi dari rumah karena mereka akan menghadiri sebuah acara kolega bisnis bawah tanah milik Kakek Iram. Tiba-tiba Nenek Mona memiliki perasaan yang tidak enak, sehingga dia meminta Kakek Iram untuk memutar balik mobilnya dengan alasan ada yang tertinggal.
Mau tidak mau Kakek Iram memutar balikan mobilnya tanpa menaruh rasa curiga pada istrinya, tapi Nenek Mona malah menjadi gelisah entah kenapa perasaan semakin tidak enak. Nenek Mona tahu jika sebenarnya Caca dan Maria memang saling menyayangi, tetapi Maria tidak pernah bisa menerima jika kedua orang tuanya membagi kasih sayang pada Caca. Maria hanya mau dialah yang menjadi putri ke sayangan mereka.