Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
Alle Daymion Sanjaya


__ADS_3

Setelah beberapa detik, Sasya berjalan keluar dari kamar Mesnya mendekati tempat sampah yang berasa di luar. Sasya berdiri persis di depan tempat sampah yang tidak terlalu penuh dan juga bau.


“Terima kasih masa laluku, karenamu aku bisa menjadi wanita yang hebat dan juga kuat seperti ini. Kini saatnya aku melupakanmu, biarlah yang lalu tetap berlalu sehingga aku bisa fokus pada masa depanku ini"


"Sekali lagi aku minta maaf Om, Sasya harus melakukan dirimu dan masa lalu kita untuk melupakan apa yang sudah terjadi pada kita. Selamat tinggal!” ujar Sasya.


Lalu Sasya langsung membuang ponsel pemberian Alex beberapa tahun lalu itu yang berusaha keras ia jaga. Saat ini setelah ia bertemu dengan Alex malah membuatnya semakin bingung dan juga Sasya tidak mau lagi untuk kembali mengingat semuanya. Mungkin sudah saatnya Sasya hidup tanpa kenangan masa lalu yang begitu pahit.


Sasya masih menatap tempat sampah itu dalam waktu yang cukup lumayan lama hingga tak terasa ia meneteskan air matanya. Secepat mungkin ia hapus air matanya itu serta ia kembali masuk ke dalam Mes dalam keadaan menangis kembali. Sampai akhirnya tak terasa Sasya tertidur dalam keadaan air mata yang masih menetes.


...*...


...*...


Pagi Hari, di Mansion Alexsander.


Semua orang saat ini sedang melakukan aktivitas paginya dengan berolah raga dan juga berlatih. Di sini Alex tidak hanya tinggal seorang diri, melainkan Joko dan keluarga kecil Pinjai pun juga ikut tinggal di Mansion ini bersamanya.


Semua itu karena perintah Alex, dia tidak mau jika Mansion yang layaknya bisa di sebut dengan Istana megah dan mewah malah hanya di huni olehnya seorang diri. Lagipula dari pada Joko dan Pinjai sulit mencari Mansion, maka lebih baik mereka hidup bersamaan dan saling berdampingan agar jika terjadi sesuatu mereka bisa segera menyelesaikannya secara bersama-sama.


Di Mansion yang sebesar dan seluas itu pun di jaga ketak oleh Mafioso pilihan mereka yang memang benar-benar memiliki kemampuan di atas rata-rata Mafioso lainnya. Saat ini ada seorang wanita cantik berambut panjang terurai, menggunakan dress putih dengan motif bunga-bunga sebatas lutut sedang berkutik di dapur yang sangat luas.


Tidak lupa wanita cantik itu juga saat ini sedang di temani oleh malaikat kecilnya, yang sedang tertidur pulas di trolinya dalam keadaan anteng. Terdengar bunyi sodet dan penggorengan yang saling beradu yang suaranya sangat jelas di telinganya.


Srenggg... srenggg... srenggg...


Wanita itu sangat fokus untuk membuatkan sarapan pagi buat semuanya karena semenjak ia tinggal bersama para pria dingin, cuek dan juga hebat, membuat ia tersentuh untuk mengurusi mereka semua terutama sang suami tercinta, yaitu Pinjai.


Ya, wanita cantik itu adalah istri Pinjai yang memiliki nama Mandalika Sanjaya dengan usia 29 tahun. Manda dan Pinjai telah menikah hampir 4 tahun lamanya, serta mereka di karuni seorang putra yang tampan bernama Alle Daymion Sanjaya dengan usia 3 tahun.


“Hemm... sepertinya dari wanginya saja sudah sangat enak hihi... semoga saja mereka semua menyukai masakanku hari ini” gumam Manda sambil dirinya tersenyum menatap makanan yang sedang ia masak.


Namun saat Manda sedang mengaduk masakannya, tanpa basa-basi tiba-tiba ada seseorang yang mengejutkannya dengan sebuah pelukan hangat dari arah belakang Manda.


“Aaarrghh...” teriak Manda dan langsung berbalik dengan cepat serta ia memukuli orang tersebut dengan sodetnya.


Paaakkk... paaakkk... paaakkk...


“Awwshhh... saayaaanggg... i-ini akuu... awshhh...” pekik pria tersebut yang bukan lain adalah suaminya, yaitu Pinjai Sanjaya sambil menutupi tubuhnya agar Manda tidak terus memukulinya.

__ADS_1


“Astaga Ayaaangg... ma-maaf...” sahut Manda yang sudah sadar jika ia telah memukuli suaminya sendiri.


Kemudian Manda menaruh sodetnya dan mematikan kompornya akibat masakannya sudah matang. Manda lalu meraup wajah Pinjai yang sedang menatapnya dengan sangat melas.


“Sa-sakitt... hiks...” ucap Pinjai dengan mode kiyutnya serta matanya yang sudah mulai berkaca-kaca membuat Manda segera memeluknya dengan erat sambil mengusap punggungnya.


“Cupp... cuupp... cuuupp... Ayang jangan nangis ya, maafin aku. Lagian Ayang ngapain coba sih tiba-tiba meluk dari belakang begitu, kan aku jadi terkejut tahu...” ujar Manda.


“Hiks... sayang marah? Huaaa... kan aku kangen tahu, memangnya enggak boleh meluk istrinya sendiri” rengek Pinjai dengan dramanya yang sangat manja.


“Eh... lohh... lohh... jangan nangis dong, nanti Alle bangun Ayang ishhh...” sahut Manda dengan sedikit kesal sambil melepaskan pelukannya, sedangkan Pinjai menatapnya dengan mata yang masih berkaca-kaca.


“Stop ya drama di pagi harinya, kalau nanti Alle bangun jangan salahkan aku jika nanti malam jatahmu aku potong hingga bulan depan, mau?” ancam Manda yang sudah hafal dengan apa yang ada di pikiran suaminya.


“Ehh... hehehe... ma-maaf sayang, i-iya a-aku enggak akan buat Alle nangis kok, tuh lihat saja Alle diam kan...” ucapan Pinjai sambil menatap ke arah Alle, dan membuat Pinjai melongo tak percaya.


“Huaaa... huaa... hiks... hiks...” Alle menangis sambil ia duduk di trolinya, sehingga Manda melirik tajam ke arah Pinjai yang bikin bulu kuduknya berdiri.


Pinjai sangat bingung karena tadi Alle sedang tertidur saat ia lagi memeluk Manda, namun hanya meleng sedikit saja Alle sudah menangis. Tingkah Alle itu membuat Pinjai mulai merasa curiga kepada bocah kecilnya itu yang selalu membuat dirinya kesal.


“Astaga... sayangnya Mommy cupp... cupp... sayang kaget ya...” ujar Manda yang langsung menggendong Alle serta memeluknya dengan mengusap kepalanya.


“Wllleeeee...” ledek Alle yang membuat Pinjai terkejut dan juga geram.


Lalu Pinjai langsung mengangkat kedua tangannya serta di bentuk bagaikan cakaran singa jantan sambil wajahnya terlihat seperti singa galak mengaum.


“Huuaaa... hiks... Mom, Dad... Mom... Dad... hikss...” Alle kembali menangis yang membuat Manda berbalik dan ia melihat ekspresi Pinjai seperti ingin menerkam Alle dan Pinjai yang melihat itu langsung bersikap biasa saja dan cengengesan.


“Pinnjjaaaiiiii... kauuuu...” geram Manda yang menatap Pinjai dengan tatapan tajam sehingga Pinjai merasa takut.


“Astaga... bocah kecil satu itu selalu saja membuat diriku ini berada di posisi seperti ini, jika dia bukan darah dagingku mungkin sudah aku terkam!” gumam Pinjai di dalam hatinya dengan menatap penuh kesal terhadap Alle.


Sedangkan Alle membalikkan wajahnya, serta bersandar di dada Manda dengan ekspresi senyuman licik, sesekali Alle menjulurkan lidahnya kembali. Entah mengapa di usianya yang masih 3 tahun ini membuat Alle sangatlah senang sat mengganggu Daddynya yang manja itu.


Meskipun Alle masih sangat kecil, tetapi ia bisa tahu jika Daddynya adalah orang yang dingin. Namun saat Daddynya di depan Mommynya, dia malah seperti anak kecil bahkan lebih manja dari Alle sehingga membuat Alle selalu senang untuk mengikuti jejak Daddynya.


“Ma-maaf sa-sayang... di-dianya duluan yang mulai meledekiku loh... bu-bukan aku...” ucap lirih Pinjai.


“Ndakk... Dad duyu Mom hiks...” sahut Alle yang tidak mau kalah, Pinjai yang melihat itu langsung saja melototkan matanya.

__ADS_1


“Terus saja menatap anakku seperti itu Pinjai!! Apa mau aku congkel matamu itu sekalian hem... nih ada garpu loh, sini...” ucap Manda yang menunjukkan garpu di tangannya, Pinjai yang melihat itu pun langsung menelan air liurnya dengan keras.


Gleekkk...


“Ma-maaf... enggak lagi-lagi deh, janji... ta-tapi jangan marah-marah yaa... a-aku takut...” ucap Pinjai yang membuat Manda mengeritkan alisnya.


“Takut? Sejak kapan seorang Mafia sepertimu memiliki rasa takut? Bahkan kau membunuh yang lainnya tanpa ada rasa takut, jadi kenapa saat berhadapan denganku kau malah menjadi takut?” ucapnya yang membuat Pinjai malah cengengesan sambil menggaruk tengkuluknya yang tidak gatal.


“Kenapa malah cengengesan kayak gitu hahh?” tanya Manda.


“Dia takut jika jatahnya di potong” sahut seseorang yang baru saja datang hingga membuat mereka langsung menoleh menatap pria yang sedang berdiri menyender di sela-sela tiang pintu masuk dapur.


“Sejak kapan kau ada di sini, hah!” ucap Pinjai.


“Baru saja... tapi taku secara tidak sengaja mendengar sedikit perdebatan kalian yang tidak berbobot. Dahlah.. cepat sajikan makanan, Alex sudah menunggu di ruang makan” sahutnya yang tidak lain adalah Joko sambil ia berjalan pergi meninggalkan dapur dan pergi ke ruangan makan.


“Kau kira istriku pembantu apa, hah!!” pekik Pinjai yang melihat Joko sudah melangkahkan kakinya menjauhinya, dan hanya mengangkat tangannya ke atas serta terus berjalan.


“Ckkk... dasar Kakak luctnut! Awas saja kau, jika sudah memiliki keluarga pasti kau akan merasakan apa yang aku rasakan” ucapnya dengan wajah kesal.


“Hem... memang apa yang kau rasakan setelah memiliki keluarga hem...” tanya Manda yang membuat Pinjai segera menolehnya dan kembali cengengesan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hel... to the Lo... Hello guys... 😄😄😄


Kembali lagi dengan Author kalian yang banyak kekurangan ini... ☺️☺️😊


Kalian tahu gak Author baru bikin Group Chat loh dan masih kosong 🥳🥳🥳


Jika kalian ingin join ke Group langsung saja ke beranda Author ya... 😎😎😎


Nama Group Chatnya itu adalah "Kang Salto Barbar" kayak Author 🤣🤣🤣


Silahkan join aja guys, gak akan di apa-apain kok tenang aja... 🤭🤭🤭


Jaga diri kalian dan sampai jumpa di bab selanjutnya semua... 🤗🤗🤗


Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻

__ADS_1


__ADS_2