
Rasa sedih, murung dan juga setres seketika hilang saat Sasya menghubunginya. Wajah cantik, senyum manis dan juga kebawelannya berhasil mengalihkan pikiran Alex. Mereka tertawa sesekali saling mengingatkan sambil memberi semangat satu sama lain.
...*...
...*...
H-7 pernikahan Alex dan Sasya
Saat ini Alex bersama Joko, dan juga Pinjai sedang disibukkan oleh beberapa rapat penting untuk menarik para klien agar bisa bergabung bekerja sama.
Mereka bertiga rela lembur bahkan sampai tertidur dikantor, hanya karena ingin mencari beberapa klien lagi agar bisa mencapai terget.
Tepat didalam ruangan rapat, mereka semua baru saja selesai melakukan rapat penting. Bahkan, 1 hari mereka bisa melakukan rapat penting 3 sampai 5 kali.
Namun, mereka masih belum bisa mencapai target yang seharusnya telah tercapai. Kali ini Alex memang benar-benar harus berjuang, meskipun dia sangat gelisah tapi Alex tidak pernah menunjukkan dihadapan mereka.
Alex lebih memilih berdiam diri dan tetap merasa bahwa semua ini akan baik-baik saja sampai waktunya tiba, padahal didalam hatinya rasanya Alex ingin sekali menyerah dengan semua ini.
Hanya saja, ada cinta yang memang sangat kuat didalam hatinya sebagai motivasi penyemangat bagi dirinya sendiri.
Semua orang satu persatu telah keluar dari ruang rapat dan meninggalkan mereka bertiga.
"Huh ... Bagaimana ini, Lex? Apakah kita sanggup memenuhi semua persyaratan itu?" tanya Pinjai.
"Entahlah, aku tidak tahu." jawab Alex berusaha setenang mungkin.
"Sudah tidak perlu dikhawatirkan lagi. Kita berdoa saja, aku yakin sebentar lagi akan ada kabar baik untuk kita. Setidaknya kita sudah berusaha, bahkan Alex pun telah menyelesaikan satu persatu persyaratannya,"
"Hanya saja, kita belum menemukan jalan untuk membuat acara yang begitu besar seperti apa yang diminta oleh Ayahnya Sasya."
Joko mengeluarkan semua pendapatnya penuh percaya diri. Joko tahu jika dia terlihat sangat cemas seperti Pinjai, pasti akan semakin membuat Alex menjadi setres ataupun frustasi.
Apa lagi beberapa kali Joko tidak sengaja melihat Alex menyendiri, menangis dan juga melamun. Semua itu membuat Joko harus memutar otak bagaimana caranya dia bisa membantu Alex tanpa di ketahuinya.
"Terima kasih, Kak. Kalian selalu ada disaat aku membutuhkan, bahkan kalian rela berlembur hanya untuk menemaniku berjuang,"
__ADS_1
"Sekali lagi terima kasih untuk semuanya. Maaf jika selama ini aku belum bisa menjadi Adik ataupun teman yang baik untuk kalian."
Sorotan mata Alex terpancar aura kesedihan yang cukup mendalam, dimana mereka bisa melihat bahwasanya Alex seperti berada diambang dilema yang kuat.
Joko dan Pinjai mengangguk kecil sambil memberikan semangat pada Alex agar dia tetap terus berjuang tanpa merasa lelah.
Mereka menganggap kalau ini bukan akhir dari segalanya, bahkan masih ada beberapa hari kedepan untuk mereka berjuang.
Tanpa disadari oleh Alex dan juga Pinjai, Joko seperti bisa menangkap jika Ayah Brian memberikan persyaratan itu hanya sebagai bukti seberapa besar rasa cinta yang Alex miliki untuk Sasya.
Sampai akhirnya mereka baru saja mau berdiri dan kembali keruangannya, malah dikejutkan dengan ketukan pintu dari seseorang yang berada diluar ruangan.
Ketiga pria gagah dan tampan itu langsung berubah menjadi sangat datar penuh kewibawaan. Suara lantang Alex seketika bergema didalam ruangan untuk mempersilakan seseorang memasuki ruangan.
Orang tersebut memasuki ruangan sedikit membungkukkan tubuhnya, lalu berjalan mendekati Alex.
"Permisi, Tuan. Maaf jika saya telah mengganggu waktu kalian semua." ucap seorang sekretaris, kembali sedikit membungkuk.
"Hem ... Ada apa?" tanya Alex, dingin.
"Baru saja saya mendapat informasi dari sekretaris perusahaan A, kalau CEO mereka ingin bertemu langsung dengan Tuan Alex." jawab sekretaris.
Alex benar-benar syok, tidak percaya jika perusaan A termasuk golong perusahaan terbesar ke-2 didunia telah menghubungi perusahaan kecil yang baru saja merintis.
Pinjai pun tidak menyangka kalau perusahaan A bisa sebegitu tertariknya dengan perusahaan kecil seperti mereka.
Namun, tidak bagi Joko. Dia tersenyum lebar lantaran ini adalah rencananya yang diam-diam pernah menolong seorang CEO. Dan ternyata, CEO itu merupakan pemilik dari perusahaan A.
Pada saat itu, tanpa di sengaja Joko bertemu sama CEO perusahaan A yang hampir saja kehilangan nyawanya, akibat beberapa kelompok begal menodongnya.
Dari situ CEO perusahaan A sangat berterima kasih atas pertolongan yang sudah Joko berikan padanya.
Joko tahu jika menolong dengan sebuah imbalan itu merupakan hal salah, tetapi ini bukan paksaan darinya melainkan ini adalah paksaan dari CEO perusaan A sendiri yang meminta Joko agar memberikannya 1 permintaan khusus.
Tanpa basa-basi Joko begitu semangat untuk sedikit menceritakan keadaannya dan juga perusahaan yang baru mereka rintis dari bawah.
__ADS_1
Cerita Joko, berhasil membuat CEO perusahaan A menjadi tertarik sehingga dia berjanji akan membantu perusahan mereka agar bisa menjadi perusahaan yang jauh lebih baik kedepannya.
"A-apa kau ti-tidak salah? Mu-mungkin saja i-itu bukan dari perusahaan A?" tanya Pinjai yang masih syok.
"Maaf, Tuan. Saya tidak mungkin salah, karena sekretarisnya yang langsung menghubungi saya. Jika Tuan semua tidak percaya, maka sekarang juga saya bisa mengirimkan email kontrak dari perusahaan A. Bagaimana?" ucap sekretaris itu.
"Co-coba ki-kirimkan email itu ke saya, sekarang!" titah Alex, sekretaris itu pun mengangguk.
Kemudian dia segera berpamitan keluar ruangan untuk menuju tempatnya, agar bisa segera mengirimkan sebuah email kontrak yang telah diajukan oleh perusahaan A.
Tidak perlu menunggu lama lagi, sebuah notif pesan masuk keponsel Alex. Dia segera bergegas membukanya, benar saja kalau email itu murni berasal dari perusahaan A.
Disinilah Alex sudah tidak bisa berkata-kata lagi, air matanya perlahan mulai menetes. Pinjai yang penasaran langsung mengambil alih ponsel Alex, lalu membacanya secara detail.
"I-ini se-serius, Lex? Ja-jadi be-besok kita akan langsung kedatangan tamu spesial?" ucap Pinjai.
Alex terus terdiam, dia masih berasa seperti mimpi kalau sebentar lagi keinginannya akan terwujud untuk menikahi Sasya tanpa adanya hambatan.
"Apa yang aku bilang? Makannya kalian tenang saja, semua akan baik-baik saja,"
"Sekarang lebih baik kita fokus membuat presentasi untuk besok, supaya kita bisa menarik perhatian perusahaan A dan mereka akan memberikan kita kontrak dalam jangka waktu yang panjang."
Joko tersenyum menatap Alex dan Pinjai secara bergantian, mereka yang melihat Joko sedikit aneh tanpa adanya rasa terkejut seperti mereka membuat mereka menaruh curiga.
Alex melirik ke arah Pinjai, tatapan mereka penuh penyelidikan. Lalu beralih menatap Joko, dimana Joko malah menjadi sedikit tegang.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Kak? Apa ini adalah ulahmu?" tanya Alex, dingin.
"Apa yang sudah kau rencanakan dibelakang kita, Kak? Kenapa kau terlihat biasa saja, sedangkan kita sendiri merasa terkejut?" timpal Pinjai, curiga.
Joko hanya bisa cengengesan sambil mengggaruk kepalanya. Dia segera menceritakan tentang kejadian tersebut dan berhasil membuat Alex lagi-lagi meneteskan air matanya.
Alex tidak menyangka bahwa Joko ternyata ada dibalik semua ini, Alex merasa beruntung memiliki 2 Kakak yang sangat hebat serta bisa menyayanginya dan juga selalu ada disaat dia membutuhkan.
Alex berdiri bersamaan dengan Joko dan juga Pinjai. Mereka pun berpelukan satu sama lain dalam keadaan perasaan yang sangat bahagia.
__ADS_1
Setelah selesai mereka kembali memasang wajah datar penuh kewibawaan, lalu keluar dari ruangan rapat kembali ke ruangan masing-masing.
Dimana Alex telah menjadi seorang CEO diperusahannya, Joko sebagai pengelola keuangan perusahaan dan Pinjai sebagai asisten pribadi Alex yang akan selalu menemani kemana pun dia pergi.