
Hana hanya bisa tersenyum bahagia sambil menganggukkan kepalanya.
Dengan perlahan Brian membenarkan anakan rambut Hana dengan menyelipkan ditelinganya, lalu dengan perlahan Brian mengangkat baju gamis yang masih Hana pakai saat tadi pergi dan belum sempat menggantinya.
Namun, di saat baju gamis Hana mulai terangkat dan terlihat perut ratanya. Kini, Hana kembali menutupnya dengan menahan tangan Brian.
Brian yang bingung dengan tingkah Hana membuatnya langsung bertanya "Kenapa ditutup? Apa kamu belum siap?"
Hana menggelengkan kepalanya sambil berkata "Ma-maaf mas, Hana belum mandi. Takutnya nanti mas kebauan dengan badan Hana yang masih lengket ini, Gimana kalau Hana mandi dulu ya"
Hana langsung bangun dan ingin berlari ke kamar mandi. Namun, Brian langsung menarik Hana sehingga terjatuh ke dalam pangkuannya.
"Kamu kenapa, hum?" tanya Brian sambil merapikan wajah Hana yang tertutup rambut.
"Ha-hana ma-malu mas, Ha-hana takut mas kecewa dengan bentuk tubuh Hana nantinya" ucap Hana terdengar sangat pelan sambil menundukkan kepalanya.
Brian yang melihat Hana menunduk, langsung mengangkat dagu Hana untuk mengarahkan wajahnya ke arah wajah Brian yang membuat mereka saling menatap satu sama lain.
"Maaf, waktu itu aku telah menyakitimu dengan kata-kata kasarku. Aku tidak bermaksud seperti itu, tapi jika kamu belum siap aku akan menunggunya" ucap Brian dengan tersenyum.
Hana yang merasa bersalah, langsung mengalungkan tangannya ke leher Brian dengan sedikit mendorong Brian agar tertidur di atas kasur.
"Mas sudah yakin sama Hana?" ucap Hana sambil membelai wajah Brian.
"Jika kau yakin denganku, maka aku lebih yakin dengan diriku sendiri" saut Brian sambil membenarkan anakan rambut Hana.
"Boleh Hana yang melayani mas lebih dulu? Jika Hana salah, mas bisa kasih tahu Hana, gimana?" tanya Hana.
Brian tersenyum sangat lebar dan sedikit menganggukan kepalanya tanda Brian setuju untuk Hana yang memulai permainan lebih dulu.
Sebenarnya Hana takut jika ia salah melakukannya, tapi Hana berusaha memberanikan diri untuk membuat suasana hati Brian supaya merasa senang.
Satu demi satu kancing baju piyama Brian mulai terbuka, Hana membantu Brian untuk membuka bajunya.
Brian yang tidak sengaja merasakan sentuhan lembut dari tangan Hana langsung membuatnya terpancing hingga merasakan desiran hangat di seluruh tubuhnya.
__ADS_1
Kemudian Brian membalikkan tubuh Hana untuk berada di bawahnya, dengan sigap Brian langsung mengangkat gamis Hana dan membuangnya ke sembarang arah sampai hanya tersisa kaca mata berwarna merah serta celana legging panjang yang menempel di tubuh Hana.
"Ma-mas" ucap Hana dengan gugup.
Brian yang sudah kalang kabut langsung menarik celana legging Hana dengN menyisakan segitiga berwarna putih.
"Be-benar benar indah" celoteh Brian sambil menatap tubuh Hana dari atas sampai ujung kaki yang terlihat sangat mulus dengan warna kulit kuning langsat.
"Mas, jangan lihatin Hana seperti itu. Hana malu.." Hana berusaha meriukkan tubuhnya sambil menutupi aset berharga dengan kedua tangannya.
"Kenapa harus malu, apa kamu juga mau melihat tubuhku hem" goda Brian sambil mengedipkan mata sebelahnya.
"Mas Brian, ishh.. apaan sih" Hana langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya dengan sangat malu, yang membuat Brian tersenyum.
"Bukannya kau sudah melihat belutku ini, bahkan kau menyebutnya dengan sebutan singkong bakar. Apa kau lupa, haha.." Brian tertawa yang semakin membuat Hana merasa malu dan langsung mengumpet dibawah selimut.
Brian Kemudian langsung berdiri untuk membuka celana piyamanya serta menyisakan segitiga berwarna abu-abu.
"Sayang, lihatlah singkong bakarmu ini" Brian merangkak ke atas kasur sambil menari selimut yang menutupi tubuh Hana.
"Yak.. mas Brian ish, nakal banget sih main narik-narik saja" ucap Hana dengan memanyunkan bibirnya.
"Dasar menyebalkan!" ucap Hana dengan sedikit kesal sambil memukul kecil dada Brian.
Dengan hitungan detik Brian langsung memegang pinggang Hana dan menariknya agar lebih dekat dengan tubuhnya sehingga kulit mereka saling menempel satu sama lain.
"Jangan ngambek dong, kan aku cuman bercanda sayang" ucap Brian sambil merapihkan rambut Hana yang sempat berantakan.
"Tahu ah, mas-" ucapan Hana terpotong saat Brian sudah berhasil melu*mat bibir Hana.
Hana hanya bisa pasrah dengan sedikit menahan tubuhnya agar tidak membuat Brian merasakan sesak.
Luma*tan demi luma*tan Brian berikan pada Hana dengan sesekali mengelus punggung serta membuka pengait kaca mata yang masih menempel pada tubuh Hana.
Cetak! ..
__ADS_1
Kaca mata Hana terlepas lalu merosot di sela-sela tangan Hana, dengan perlahan Hana mengangkat sedikit tangannya satu demi satu agar kaca matanya sukses terlepas sepenuhnya.
Kemudian Brian langsung membuang kaca mata Hana ke sembarang arah, lalu mulai meraba punggung Hana sampai ke depan gunung kembar yang sangat sekal.
Dengan sekali mendaki tangan Brian berhasil menggenggam kedua gunung tersebut sambil memijitnya dengan perlahan.
Hana yang merasa gunungnya telah didaki oleh Brian seketika melepaskan luma*tannya sambil menahan suara indahnya untuk keluar.
Brian yang sudah bergairah langsung kembali membalik tubuh Hana dan sedikit menindihinya sambil berkata "Lepaskan saja, jangan di tahan itu akan membuatmu tersiksa nantinya"
Hana hanya bisa menganggukan kepalanya sambil menggigit bibir bawahnya.
Brian kembali menjelajahi gunung kembar Hana yang begitu indah dengan pucuk yang sedikit kemerahan.
Pijitan demi pijitan Brian berikan untuk Hana sambil melahap gunung satunya dengan sangat lembut dan sesekali memainkan lidahnya lalu menari-nari di dalam sana yang membuat Hana sedikit meliukkan tubuhnya ke sana ke sini sampai tangannya sedikit menjambak rambut Brian.
"Sstt.. ma-masshh gelihh" ucap Hana dengan suara indahnya.
Brian yang begitu gemas dengan pucuk gunung Hana kemudian menggigit kecil dengan sesekali memainkan giginya.
"Awshh.. mas jangan di gigit loh, sakit tahu" saut Hana dengan sedikit meringis kesakitan.
"Hehe.. maaf habisnya gemes banget" jawab Brian dan kembali melahap gunung tersebut sambil memijit gunung satunya.
Hampir 15 menit Brian menjelajahi gunung kembar Hana, kemudian naik sedikit ke daerah sensitif Hana.
"Fiuhh.., srup.." Brian sedikit meniup telinga Hana sesekali menjilatnya.
Seketika tubuh Hana menegang, yang membuat bulu kuduknya langsung bangkit dari tidurnya.
"Mashhh.." ucap Hana dengan suara paraunya.
Bibir Brian langsung turun untuk segera mengukir karya baru pada leher Hana dengan sebuah kecupan lalu menyedot dan sedikit menahannya.
"Arghhh..." satu de*sahan keluar dari mulut Hana yang semakin membangkitkan gairah Brian, bahkan Brian sudah berhasil membuat beberapa karya baru dengan bentuk yang menurutnya sangat indah.
__ADS_1
Kini, sudah saatnya Brian harus bergantian untuk menjelajahi hutan Hana yang sangat lebat dengan goa kecil yang bersembunyi di dalamnya.
Berasa terpanggil, Brian kembali menciumi seluruh tubuh Hana dengan sangat liar. Mulai dari bibir, leher, gunung bahkan semakin turun ke arah perut kecil Hana yang sempat Brian ciumi beberapa kali, sampai akhirnya terhenti di segitiga berwarna putih.