
Tangan Alex pun mulai berani menari-nari diarea milik istrinya. Syasa hanya bisa menyeimbangi pergerakan tangan Alex yang sudah berhasil menyentuh balon kembar miliknya.
Alex menatap wajah Sasya begitu lekat, bahkan sorotan matanya sudah mulai terhanyut dengan hasrat yang kian mulai membara.
Secara perlahan, Alex membangunkan istrinya agar duduk menghadapnya, lalu dia membuka kerudung yang masih melekat di kepala istrinya.
Kemudian, Alex menarik pelan kunciran yang masih mengikat rambut panjang istrinya. Bersamaan dengan itu Sasya hanya bisa tersenyum menatap wajah suaminya, sesekali mengusapnya perlahan.
Rambut panjang, lurus nan indah mulai tergerai menambah kesan kecantikan Sasya yang sangat berbeda dari biasanya.
Mungkin, kecantikan yang saat ini ada di hadapan Alex, merupakan kecantikan yang tidak semua orang bisa melihatnya. Kecantikan ini hanya akan menjadi milik Alex seorang.
Alex kembali menidurkan Sasya secara perlahan. Saat ini posisi mereka benar-benar sangat dekat, ditambah mata Alex selalu menatap balon kembar yang seakan-akan telah menggoda matanya.
"Apa aku boleh melihat milikku yang kembar ini?" tanya Alex, matanya menatap ke arah balon Sasya sekilas dan kembali menatap wajah istrinya.
"Ta-tapi, di-dia sa-sangat kecil, Mas. A-apa na-nanti kamu tidak akan ke-kecewa ketika melihatnya?" gumam Sasya sedikit gugup, karena memang postur Sasya tidak seindah gitar spanyol.
Namun, postur Sasya sangat menggiurkan pria yang saat ini telah menjadi suaminya.
Bagi Alex, postur tubuh bukanlah jaminan untuk kepuasan seorang pria. Tetapi keikhlasan dan juga cinta yang akan membuat permainan ranjang mereka terasa sangat memuaskan.
"Fisik bukanlah suatu jaminan kepuasan bagi pasangan suami istri, melainkan keikhlasan dan juga cintalah yang akan membuatnya menjadi nikmat,"
"Ya, walaupun hanya melakukannya sekali dalam sehari akan tetap terasa sangat puas dan juga nikmat ketika mereka saling merespon satu sama lain."
Sasya tersenyum ke arah suaminya, dimana Alex menatapnya begitu lekat.
Sasya tidak menyangka bahwa suaminya bisa berpikir sepositif ini, berbeda jika pria lain mereka hanya akan mengandalkan fisik untuk memenuhi kebutuhan jasmani.
Syasa tersenyum malu, wajahnya sedikit memerah merona sambil mengangguk kecil. Tanpa menunggu lagi, kedua tangan Alex terarah untuk membuka baju manset istrinya dan membuangnya kesegala arah.
Alex menatap kedua gundukan yang sangat putih dan mulus tanpa adanya noda yang mendarat di dada istrinya.
Ini merupakan pemandangan yang paling Alex sukai, bahkan dia teringat sama salah satu gambar legend tentang pemandangan.
Dimana ada dua gunung kembar dan juga sawah beserta burung-burung yang berterbangan, kemudian juga ada matahari dan gubuk kecil.
__ADS_1
Entah kenapa, Alex malah menatapnya tanpa berkedip sedikit pun, sampai-sampai air liurnya hampir saja menetes jika Syasa tidak segera menyadarkannya.
Alex yang sudah berhasil tersadar, langsung kembali menatap wajah istrinya untuk kembali memastikan bahwa Syasa sudah benar-benar mengizinkanya untuk menyentuh miliknya.
Syasa sangat paham dengan tatapan sayu suaminya, lalu segera mengangguk perlahan sambil terus tersenyum.
Tanpa disangka Alex yang menerima respon baik dari istrinya sudah tidak mau berlama-lama lagi.
Secepat mungkin dia membuka wadah yang dari tadi selalu menjadi penghalang balon kembar yang sebentar lagi akan menjadi miliknya selamanya.
Hanya membutuhkan waktu singkat, setengah tubuh Syasa sudah tidak terbalut satu helai pakaian pun. Hal hasil Alex yang sudah tidak kuat segera melahap benda kenyal dengan sangat lahap.
Syasa memejamkan kedua matanya sekilas merasakan aliran listrik kecil mulai menjalar keseluruh tubuhnya.
Cuman yang membuat Syasa bingung kenapa rasanya begitu nikmat, padahal mereka baru melakukan pemanasan. Bukan permainan inti yang nanti akan menjadi penutup malam yang panjang ini.
Syasa tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia hanya bisa tersenyum menatap wajah suaminya yang sedang menikmati mainan barunya.
Tangan Syasa terarah untuk mengelus kepala suaminya dan membuatnya sedikit melirik kewajahnya.
Syasa terkekeh melihat suaminya bagaikan seorang bayi yang sedang kelaparan, Alex berikan sesekali gigitan kecil yang menambah kesan kenikmatan yang tidak bisa Syasa jelaskan dengan kata-kata.
Tangan Alex beberapa kali mengelus pelan segitiga bermuda tersebut, kemudian tangannya menyerobos masuk kedalam pusaran.
Kemudian pusaran itu menghasilkan gelombang hasrat yang kian mulai menaik menjadi tsunami, dan akhirnya tumpah membanjiri sawah yang sudah 25 tahun lamanya telah mengering.
Namun saat ini tidak lagi, sudah waktunya bagi sang pemilik untuk kembali mengolah sawahnya agar selalu tumbuh subur.
Tak lupa sang pemilik pun akan terus menanami benih-benih cinta, supaya kelak bisa menghasilkan suatu kebahagiaan untuk menjadi pelengkap di tengah-tengah mereka.
Hampir setengah jam berlalu, mereka sudah melakukan pemanasan. Sampai mereka tidak sadar bahwa tubuhnya sudah sangat polos tanpa menggunakan satu helai pakaian apa pun.
Syasa menatap lekat manik mata suaminya yang sangat indah, bahkan Alex pun juga bisa merasakan jika dari sorotan sayu istrinya mampu membuat hasratnya kian meningkat.
Bibir mereka kembali menempel satu sama lain. Saat ini pun Syasa sudah sangat pandai membalas setiap gerakan bibir suaminya. Dia juga mulai menyeimbangi setiap pergerakannya.
Apa lagi beberapa kali Syasa sudah melakukan pelepasan, akibat ulah suaminya yang selalu senang menggodanya.
__ADS_1
Kini, waktunya permainan inti dimulai. Alex mencoba untuk terus memancarkan aksinya supaya bisa selalu membuat Syasa menjadi rileks tanpa merasa tegang.
Kemudian Alex memperkenalkan belut miliknya yang mulai mengeras dan terlihat sangat tegang.
Tetapi Alex tidak mau membuat Sasa merasakan kesakitan, sehingga dia mau menyesuaikan terlebih dahulu. Agar Syasa tidak terkejut jika belut milik suaminya yang gagah, besar, dan juga panjang akan memasuki rumahnya.
"Sstt, Syaa, a-aku su-sudah ti-tidak kuat lagi menahannya. Di-dia ingin sgera memasuki rumahnya, hem ...."
Alex mengerjap-gejapkan kedua matanya, ketika menikmati aliran listrik mulai menyetrum tubuhnya dengan tegangan sedang.
Syasa cuman bisa mengangguk sambil memejamkam kedua matanya ketika aliran listrik suaminya kian menyambar tubuhnya.
Alex mencoba membuka kedua kaki istrinya sedikit lebar, kemudian dia mengarahkan belutnya menuju goa yang masih terlihat sangat kecil.
Dengan perlahan belut berhasil masuk, hanya saja baru kepalanya yang berada didalam. Itu pun sudah membuat Syasa sedikit meringis.
"Syaa ...." ucap Alex yang tidak tega melihat wajah istrinya.
Cuman Syasa berusaha mungkin menahan semuanya agar tidak kembali membuat suaminya merasa takut.
"Aku gapapa, Mas. Ayo lakukan, pasti kamu bisa kok. Jika aku merasa sakit, apakah boleh aku meminjam bibirmu untuk mengalihkan rasa sakit yang akan melanda tubuhku?" jawab Syasa sambil tersenyum mengusap wajah suaminya.
"Ta--"
"Sstt, ayo ...." potong Syasa. Alex pun mencium sekilas kening istrinya dan kembali meneruskan aksinya yang sempat tertunda.
Perlahan Alex mencoba untuk mendorong masuk belut miliknya, hal hasil belut Alex sedikit kesulitan menerobos goanya.
Rasa sakit kian mulai terasa dikepala belut miliknya, begitu pun Syasa yang merasa goanya sangat perih.
Beberapa kali ALex terus berusaha hingga hampir setengah jam lamanya, belut kesayangannya telah berhasil memasuki rumahnya.
Bersamaan dengan itu, Syasa yang tidak sengaja mengigit keras bibir suaminya dan membuatnya mengeluarkan cairan berwarna merah.
Aarrgghh ...
Teriakan keduanya saat merasakan sesuatu yang sudah tidak bisa diungkapkan betapa sakitnya mereka.
__ADS_1
Aimana bukan hanya Syasa yang merasakan sakit. Tetapi Alex pun sama, karena ini hal yang pertama baginya melakukan penjebolan gawang.