Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
Dengan 1 Syarat


__ADS_3

Lukas yang melihat bahwa perutnya Alex penuh dengan darah pun semakin merasa bersalah. Dia tidak pernah berpikir untuk menyakiti Alex seperti ini, karena bagaimana pun dia tidak ingin menjadi pria jahat yang hanya menyerang orang yang lemah, terluka atau tidak bisa melawan balik.


"Luka Tuan Alex untungnya tidak sepenuhnya terbuka, dan saat ini mungkin Tuan harus di rawat terlebih dahulu lantaran Tuan sudah banyak mengeluarkan darah. Saya takut jika semua itu akan berakibat fatal dalam kondisi kesehatan Tuan, jadi mari ikut saya ke ruangan sebelah"


Sang Dokter sudah selesai membersihkan serta menutup luka di perut Alex, lalu berdiri serta menatap semuanya secara bergantian.


"Terima kasih atas tawarannya, tapi sepertinya tidak perlu. Saya baik-baik saja dan saya juga tidak membutuhkan perawatan itu semua" ucap Alex sambil mengancingin kemejanya kembali dengan perlahan.


"Kau ini keras kepala banget sih, lihat itu lukamu bukan luka karena kamu terjatuh lalu lecet! Tapi itu adalah luka tusukan yang cukup dalam, kalau kau meremehkannya bisa-bisa akan berakibat fatal paham!" tegas Sasya dengan wajah kesalnya.


Kini semua orang menatap ke arah Sasya yang mana terlihat jelas betapa khawatirnya sosok wanita yang selama ini berusaha dengan keras untuk bisa keluar dari masa lalunya yang mana membuat mentalnya terganggu akibat seorang pria yang kini ada di hadapannya.


Namun, semua bisa melihat jika Sasya sudah bisa berdamai dengan semua masa lalunya bahkan rasa sakit serta trauma akan namanya pun seketika hilang dan berganti dengan sebuah perhatian kecil kepada orangnya langsung.


"Buktinya aku sudah baik-baik saja, jika kau tidak percaya maka aku akan berdiri dengan tegak di depanmu agar kamu tahu jika aku bukanlah pria lemah" sahut Alex yang sudah selesai merapihkan kancing bajunya, lalu berdiri dengan perlahan.


"Ssssttt... si*al kenapa rasanya sakit banget sih, arrrghhh.." gumam Alex di dalam hatinya dengan memegangi perutnya saat beranjak bangun dari duduknya, yang mana membuat Sasya menyeringai.


"Bagaimana Tuan Alex yang terhormat?! Apakah kau masih akan memprtahankan keras kepalamu itu? Ataukah kau akan mengakui fakta yang ada, jika luka jahitanmu itu benar-benar sangat menyakitkan?" tanya Sasya dengan mengukir senyum miring.


Alex yang mendnegar itu semua langsung saja bersikap biasa saja dan berdiri dengan tegak di depan Sasya dengan semua rasa sakit yang kini sudah menjalar di seluruh tubuhnya.

__ADS_1


Namun, Alex bersikeras untuk menahan semuanya hingga kakinya semakin melemas dan hampir saja terjatuh jika Pinjai tidak langsung reflek menangkapnya.


"Tuaaannnn... astaga, hampir saja" pekik Pinjai langsung memapah tubuh Alex yang kini wajahnya sudah mulai pucat lantaran sudah kehabisan banyak darah.


"Jika sudah begini apa kau masih mau mau keras kepala, BISMA ALEXSANDER!!" ucap Sasya dengan aura dinginnya, yang mana membuat semua terkejut bukan main.


"Ba-baiklah, a-aku me-enyerah. A-aku akan me-mengikuti semua ucapan dokter itu, dengan 1 syarat!" ucap Alex di dalam dekapan Pinjai sambil menatap Sasya dalam keadaan tangan satunya memegang luka yang semakin terasa sakit.


"Syarat? Syarat apa yang akan kau berikan pada Kakakku, hah!!" sahut Lukas yang langsung berjalan mendekati Sasya serta berdiri di samping Sasya.


"Lukas, jangan berulah lagi ya. Kakak tidak suka kau bersikap kasar seperti tadi, apa kau paham?" ucap Sasya sambil menatap Lukas.


"Lukas minta maaf sudah berbuat kesalahan pada Kakak, tapi jujur Lukas tidak tahu jika pria itu memiliki luka di perutnya. Jadi, sekali lagi Lukas minta maaf. Kakak tenang saja, Lukas tidak akan pernah mau menyerang pria lemah seperti dia, jika dia sudah sembuh barulah Lukas ingin mengajaknya duel satu lawan satu!"


Semua orang hanya bisa menyimak, sehingga kini Jay berjalan perlahan mendekati Key lalu berbicara dengan sangat pelan.


"Kak, Kakak habis dari mana? Apa Kakak tadi mengikuti mereka berdua? Jangan bilang kalau Kakak mulai menyukai pria so kuat itu?" ucap Jay dengan pelan, sambil menatap ke arah Lukas.


"Bukan urusanmu!" sahut Key dengan suara dinginnya sehingga membuat semua mata menatap ke arahnya, yang mana Jay menjadi terdiam membeku lantaran dia sangat terkejut.


"Ma-maaf, silakan di lanjutkan!" ucap Key kembali yang kini membuat semuanya kembali menunggu jawaban dari Alex.

__ADS_1


"Maaf Tuan, lebih baik kita segera ke ruangan sebelah. Sebelum luka Tuan kembali basah serta darahnya mulai mengalir, apa lagi wajah Tuan sudah mulai memucat seperti itu. Saya khawatir dengan kondisi Tuan saat ini, mari ikut-..." ucap sang dokter terhenti saat Alex mengangkat tangannya.


"Aku mau di rawat di ruangan sebelah dengan syarat kau yang akan merawatku serta menungguiku hingga aku sembuh, bagaimana? Jika tidak, maka aku tidak akan mau di rawat!" ancam Alex dengan senyuman kecilnya sambil menahan rasa sakitnya.


"Apa maksudmu bicara seperti itu? Saya peringatkan sekali lagi ya, jika saya tidak mau kalian kembali dekat. Paham! Apa kau tidak memiliki rasa malu sedikit pun, lantaran kau telah menghancurkan masa kecil anakku hah!! Jadi, jangan mencari kesempatan dalam kesempitan" pekik Ayah Brian yang membuat semua menoleh.


"Mas, sudahlah.. jangan banyak bergerak dan juga tahan emosimu, nanti tensimu bisa-bisa naik dan itu pasti akan membuatmu semakin lama ada di rumah sakit. Jadi, tenanglah sabar dulu ya.." ucap Bunda Hana yang berusaha menenangkan Ayah Brian.


"Tapi, sayang.. pria itu seperti sedang memanfaatkan anak kita. Lihat saja, di saat dia sakit dia ingin menyusahkan Sasya sedangkan aku yang sebagai Ayahnya saja tidak mau menyusahkan anakku. Tapi, dia bukan siapa-siapa malah bertingkah bagaikan suaminya!" jawab Ayah Brian dengan kesal.


"Sudahlah Brian. Pikirkan kondisimu saat ini, lagian juga nanti Sasya tidak akan mungkin mengurusnya sendiri. Ada asistennya yang akan menemaninya, kau tenang saja" sahut Papah Ferry.


"Ayah jangan khawatir, Lukas akan selalu ada di samping Kakak. Apa pun yang terjadi, Lukas tetap bersama Kakak!" tegas Lukas yang membuat Bunda Hana tersenyum bangga, melihat putra satu-satunya bisa bersikap lebih dewasa dari pada usianya.


Sasya yang mendengar ucapan Lukas langsung menoleh ke arahnya dengan senyuman sambil mengusap kepala Lukas perlahan. "Terima kasih adikku tersayang, karena kamu selalu menjaga Kakak"


Lily yang melihat perlakukan Sasya membuat jiwa cemburunya langsung meronta-ronta, dan segera mendekati Sasya dan juga Lukas.


"Oh, jadi cuman Abang Lukas yang menjadi adik kesayangan Kakak dan juga cuman Abang Lukas saja yang bisa menjaga Kakak gitu? Jadi, Lily enggak bisa menjaga Kakak begitu? Terus Lily juga bukan adik kesayangan Kakak begitu?" ujar Lily dengan wajah cemburunya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Astaga, gadis itu benar-benar ada saja ulahnya. Hanya perkara begitu sudah langsung cemburu, bagaimana jika aku pacaran dengannya? bisa-bisa aku akan dibuat pusing setiap hari oleh tingkahnya yang suka berubah-ubah itu" gumam Jay di dalam hatinya tanpa sadar.

__ADS_1


Sasya yang melihat jika Lily mulai mengeluarkan jurusnya, langsung saja berjongkok memeluk Lily dengan penuh kasih sayang bahkan tak lupa Sasya mencium seluruh wajah Lily yang mana membuat Lily tadinya cemberut kini berubah menjadi ceria dengan tawanya yang begitu menggemaskan. Hingga membuat semuanya tersenyum.


__ADS_2