Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
Raungan Singa Betina


__ADS_3

Bunda yang sudah tidak kuat lagi langsung saja memeluk seseorang dengan sangat erat hingga mereka menangis bersamaan yang mana membuat Ayah Brian pun ikut meneteskan air mata saat seseorang lainnya langsung memeluknya perlahan.


Entah mengapa hari ini terasa seperti sebuah mimpi bagi Bunda Hana dan juga Ayah Brian, namun inilah kenyataan pada akhirnya air mata kebahagian runtuh yang mana itu adalah air mata kerinduan yang selama ini tersimpan meledak di dalam hati.


"Hiks.. ka-kalian semua datang ke sini, MasyaAllah aku terharu banget" ucap Bunda Hana sambil memeluk semuanya satu persatu.


"Terima kasih kalian sudah menyempatkan untuk datang ke sini, aku minta maaf belum bisa kembali ke Indonesia untuk menengoki kalian semua karena saat ini Sasya sedang menjadi relawan dokter di dalah satu rumah sakit terbesar di Los Angeles dan aku juga masih di sibukkan dengan pekerjaan yang menumpuk" jelas Ayah Brian.


"Sudahlah Mas, Mbak.. kami ke sini juga sekalian mau liburan kok. Hitung-hitung aku mau mencobain pesawat baru yang batu saja aku beli, bagaimana Adikmu ini hebat bukan sudah memiliki pesawat pribadi seperti Mas Brian hem.." sahut seorang pria tampan dengan nada sombongnya yang malah di toyor oleh Bunda Hana.


"Hehh.. ingat Arya di atas langit masih ada langit, jadi jangan sombong kau bocah tengil!" celetuk Bunda Hana yang mana malah membuat semuanya terkekeh melihat kelakuan mereka yang mana jika bertemu psti saja akan seperti ini.


"Yeee.. enak saja, tapi gapapa kok. Biarkan aku anak bocah, tapi aku sudah menghasilkan 2 bocah yang tampan dan cantik ya kan sayang. Bahkan rencananya aku mau menambah lagi biar bisa mengalahkan keluarga Halilintar dengan memiliki anak 12 yang mana akan aku juluki keluarga Sky haha.."


Arya berbicara yang mana malah membuat semuanya hanya bisa menggelengkan kepalanya. Yang mana saat ini Arya datang dengan membawa semua keluarganya untuk datang ke New York agar bisa memberikan supraise kepada Bunda Hana dan juga Ayah Brian sekaligus untuk menjenguk serta melihat keponakan atau cucunya yang sudah mulai dewasa.


"Bagaimana keadaanmu Brian, apakah semuanya baik-baik saja?" tanya seorang Ibu yang mana itu adalah Mamah Syifa yang saat ini sudah berada di samping Ayah Brian.


"Alhamdulillah, Mah.. Brian baik-baik saja kok. Lalu, kalian semua bagaimana sehat semua kan? Ayah? Abah? Umi?" tanya Ayah Brian sambil menatap semuanya yang diangguki penu senyuman.


"Huaa.. Umi, Hana kangen banget sama Umi sama Abang hem.." Bunda Hana langsung memeluk keduanya bersamaan yang terlihat seperti seorang anak kecil yang baru saja bertemu dengan kedua orang tuanya.


"Abah juga kangen banget sama putri kesayangan Abah ini, apa lagi sekarang kalian sudah mulai menua ya.. belum lagi pasti saat ini kalian sedang mencarikan calon menantu buat Sasya kan, hem.." goda Abah sambil mengusap kepala Bunda Hana.

__ADS_1


"Ayo duduk dulu sini..." ucap Bunda Hana sambil menggiring Abah dan Umi duduk di sofa bersamaan dengan Bubu Cantika yang sedang menggendong anaknya yang masih balita serta menggandeng Iky yang kini masih bingung.


"Abah, untuk soal itu Hana dan Mas Brian belum tahu. Karena kita masih harus mengawasi Sasya agar dia bisa meraih cita-citanya terlebih dulu. Jika masalah jodoh semua kami serahkan kepada Sasya yang penting pria itu adalah pria yang baik dan bertanggung jawab" ucap Bunda Hana sambil menatap semuanya.


"Ya Abah, benar apa kata Mbak Hana. Jika sudah ada jodohnya tanpa di cari pun dia akan datang dengan sendirinya" sahut Bubu Cantika sambil tersenyum.


"Huaa.. ponakanku tampannya, bolehkan Bunda peluk Iky?" ucap Bunda Hana sambil menunjukkan wajah cemberutnya.


"Boleh, Bunda.. tapi nanti bayar ya kan Iky tidak gratis" ucap Iky sambil berjalan mendekati Bunda Hana dan langsung memeluknya.


"Ya ampun, kamu ini persis seperti Babamu ya hem.. gemes banget dehh.." peluk Bunda Hana sambil melepaskannya perlahan dan meraup serta menciumi seluruh wajahnya.


"Yaaaakk.. Bunda kan tadi bilangnya cuman peluk doang, sekarang malah peluk-peluk. Huhh.. sebel deh,, jangan lupa bayar ya itu double oke" celetus Iky dengan kesal sambil kembali duduk di dekat Bubunya yang mana malah membuat semuanya tertawa gemas melihat Iky benar-benar persis dengan Arya.


"Maklumin saja, ponakanmu memang seperti itu copyan Babanya. Umi saja yang terkadang melihatnya setiap hari sangat bosan apa lagi kamu yang bertemu setahun sekali hehe.." sahut Umi sambil tertawa yang malah mendapat lirikan maut dari Iky.


"Oh jadi Mbah Uti bosan melihatku begitu? Baiklah, nanti Iky tidak akan menemani Mbah Uti lagi kalau Mbah Uti main di taman atau Iky juga tidak mau memijat kaki Mbah Uti lagi, hump.." jawab Iky dengan membuang wajahnya dengan sebal.


Umi yang duduk tepat di samping Iky langsung memeluk tubuh Iky dengan begitu gemas dan berkata, "Ucu.. ucu.. ucu.. cucuku yang tampan Mbah Uti kan bercanda doang, ayo dong jangan ngambek. Nanti Mbah Uti bilangin Kak Isty loh, kalau Iky sering ngambek"


Iky yang mendengar nama Isty langsung saja menoleh serta merengek menatap Umi, yang mana malah berhasil membuat semuanya tertawa. "Huaaa.. jangan dong Mbah Uti ishh.. ngapa jadi ngadu-ngadu sih. Kalau nanti Kak Isty tahu bisa-bisa dijadiakan bahan ledekan untuknya"


"Makannya kalau jadi laki-laki itu yang kuat, jangan ngambekan kaya perempuan saja haha.." celetuk Papah Ferry yang langsung mendapat tatapan dari semua wanita yang ada di sana dengan tatapan menyorot.

__ADS_1


"Upss.. ma-maaf hehehe.." sahut Papah Ferry lagi saat melihat tatapan yang tidak bersahanat dari para wanita.


"Makannya Papah jangan macam-macam dengan singa betina, kalau mereka sudah mengaung habislah riwayat kita" gumam Ayah Brian dengan pelan.


"Hihi.. kau benar sekali anakku, pasti saat ini kau sudah merasakan sepertiku bukan. Bagaimana rasanya seorang pria dingin, kaku dan cuek bisa takluk kepada wanita yang sudah menjadi pawangnya" jawab Papah Ferry dengan nada berbisik.


"Bukan merasakan lagi, melainkan sudah makan sehari-hari untukku Pah.. untungnya istriku tidak seperti Mamah, jadi masih bisa sedikit di jinakan hehe.." ucap Ayah Brian yang mana membuat Mamah Syifa menoleh ke arahnya.


"Bicara apa kalian? Kenapa tadi Mamah dengar kalian sedang menggosipku, hah?" celetuk Mamah Syifa yang kini membuat semua menatap ke arah Ayah Brian serta Papah Ferry yang mulai menegang.


"Bhahaha.. aduh, wajah Opah Ferry sama Ayah Brian lucu banget sama kaya wajah Baba yang ketakutan saat di marahi Bubu" ucap Iky yang mana membuat Arya melototkan matanya lantaran kartu As-nya di bongkar oleh anaknya sendiri.


"Yaaaakk.. kenapa malah Baba yang di bawa-bawa sih, lagian juga Baba itu tidak takut sama Bubu ya" pekik Arya dengan tidak terimanya.


"Oh jadi Baba tidak takut dengan Bubu, hem.. baiklah" sahut Bubu Cantika yang berhasil membuat semuanya menahan tawa saat melihat wajah Arya yang sedang cengengesan penuh ketakutan.


"Hehe.. bu-bukan begitu sayang, ta-tapi.." ucap Baba Arya terdiam saat Bubu Cantika kembali menatapnya dengan tatapan penuh arti yang seolah-olah Baba Arya sangat tahu kemana arah kode Bubu Cantika.


"Huaaa.. yayaya.. aku akui aku takut sama kamu, apa yang di katakan Iky benar" ucap Baba Arya kembali yang membuat semua tertawa termasuk Bubu cantikan dan juga Iky. Bahkan anak mereka yang kecil pun seperti sudah mengerti dan ikut menertawakan Babanya.


"Ya udah tertawalah kalian semua silakan, yang terpenting jatahku akan tetap aman. Huhh.. lebih baik aku merendah dari pada kehilangan jatah selama 1 tahun, bisa-bisa hidupku tidak akan berwarna. Beginilah resiko memiliki istri apa lagi pawang yang benar-benar bisa mengontrol suaminya. Maka sebringas apa pun suaminya akan kalah dengan rauangan istrinya"


Baba Arya bergumam di dalam hati kecilnya sambil menatap ke arah semuanya yang masih tertawa melihat tingkah lucunya, apa lagi para pria yang kini tertawa sangat puas termaksud Ayah Brian. Meskipun sedang sakit, tetapi tawanya cukup menggelegar bersamaan dengan Papah Ferry.

__ADS_1


__ADS_2