Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
Cemburu Kepada Baby Twins


__ADS_3

Nyonya Syifa mencoba menjelaskan semua yang terjadi pada Brian agar ia tidak sampai berburuk sangka kepada Bibi.


“Tuh dengar sendirikan, makanya kamu itu jadi orang jangan secepat itu menyimpulkan seseorang. Mending kalau benar, jika salah seperti ini bagaimana? Kamu sudah menuduh bahkan sampai memfitnah Bibi. Untungnya Bibi orang baik, jika tidak kamu bisa di laporkan atas pencemaran nama baik” ucap Tuan Ferry.


“Sekali lagi Brian minta maaf Mah, Pah. Brian ngaku salah, Brian seperti ini karena Brian khawatir dengan keluarga Brian. Brian tidak tahu sebenarnya mereka itu siapa dan apa yang mereka inginkan, bahkan sampai detik ini pun orang suruhan Brian belum bisa menangkap orang itu” ucap Brian dengan wajah yang sangat frustrasi.


“Ya sudah tidak apa-apa, nanti pas waktu makan malam saat Bibi sedang menyiapkan makanan kamu harus minta maaf kepada dia. Kamu laki-laki, jadi harus berani bertanggung jawab atas apa yang kamu lakukan. Mamah melakukan ini juga supaya Hana bisa fokus dengan kesehatannya serta anak-anak"


"Pokoknha jangan sampai Hana kelelahan nantinya, kalau bisa kamu juga harus menyewa Baby sister untuk membantu Hana. Mamah yakin pasti nanti Hana akan kerepotan mengurus mereka semua dalam waktu yang bersamaan. Apa lagi Hana baru saja menjadi seorang Ibu” ucap Nyonya Syifa.


“Ya, Mah nanti Brian akan minta maaf pada Bibi dan Brian juga akan mencarikan Baby sister untuk anak-anak supaya Hana tidak terlalu kelelahan” jawab Brian.


“Sebelum kamu mengambil keputusan itu, lebih baik di bicarakan dulu kepada Hana, jangan asal ambil tindakan yang nantinya malah membuat hubungan kalian kembali retak. Ingat, saat ini hubungan kalian sudah kembali normal jadi di jaga baik-baik” saut Tuan Ferry.


“Ya, Pah. Pasti Brian akan menjaga hubungan ini supaya tidak sampai kembali retak dan Brian juga akan menurunkan ego Brian agar tidak membuat semuanya kecewa seperti ini. Sekali lagi Brian minta maaf ya Mah, Pah” ucap Brian sambil menatap keduanya.


“Ya, Mamah maafin kamu. Lain kali jangan di ulangin lagi. Ya sudah ayo kita bawa Baby twins ke kamar kamu. Mamah sudah menyiapkan 2 tempat tidur kecil untuk mereka sementara, jika sudah sedikit besar nanti mereka akan tidur di kamar mereka" ucap Nyonya Syifa sambil menatap Baby twins yang masih tertidur pulas.


“Ya sudah kalian bawa Baby twins istirahat, Papah mau ke kamar dulu cape” jawab Tuan Ferry sambil meninggalkan ruang keluarga.


Nyonya Syifa bersama Brian pun langsung menggendong Baby twins dengan sangat hati-hati. Lalu, mereka berjalan menaiki anak tangga untuk menuju kamar Brian dan Hana.


...*...


...*...


...*...


Hana yang tadi sudah berhasil menaiki anak tangga pun kini langsung mengetuk pintu kamar Qisya.


Tok... tok... tok...


“Assalammuaikum, Kakak ini Bunda sayang. Buka dong pintunya, masa tega sih ngebiarin Bunda berdiri di depan pintu seperti ini” ucap Hana sambil mengetuk pintu kamar Qisya.

__ADS_1


“Waalaikumsalam, Bunda. Kalau ada Ayah, Kakak enggak mau bukain pintunya” teriak Qisya dari dalam kamarnya.


“Bunda sendiri kok, Ayah di bawah sama semuanya. Jadi, ayo dong buka pintunya cantik. Bunda pengen berbicara sama Kakak berdua saja” ucap Hana.


“Bental Bunda Qisya bukain pintunya” saut Qisya yang berteriak sambil menuruni kasur dan berjalan untuk membukakan kunci pintu kamar.


Ceklek !...


“Hai sayang, boleh bunda masuk ke dalam hem...” ucap Hana sambil memegang dagu Qisya dan tersenyum.


“Boleh Bunda, ayo masuk nanti kebulu ada Ayah” ucap Qisya sambil melihat ke kanan dan kiri untuk memastikan jika Brian tidak ada di dekat mereka.


Akhirnya Hana memasuki kamar Qisya dengan berjalan sangat pelan, Qisya yang melihat Bundanya sedikit kesakitan pun langsung menuntunnya hingga duduk di pinggir kasur.


“Sini sayang duduk sama, Bunda. Bunda mau ngobrol sama Kakak boleh kan?” tanya Hana sambil tersenyum dan menepuk kasur samping kanan Hana.


Qisya pun langsung duduk sambil menatap sang Bunda dengan wajah yang sedikit sembab.


“Kakak kenapa marah sama Ayah, hem...” tanya Hana sambil membenarkan rambut Qisya yang hampir keluar dari kerudungnya.


“Stt... Sayang, tidak boleh berbicara seperti itu. Ayah dan Bunda sayang banget sama Kakak. Bahkan jauh sebelum adanya Baby twins kan” saut Hana sambil menggenggam tangan mungil Qisya.


“Tapi Bunda kan lihat Ayah tadi bentak-bentak Kakak, padahal Kakak cuma mau cium Baby twins doang. Emangnya engga boleh ya kalau Kakak cium mereka? Apa karena Kakak bukan anak Ayah sama Bunda, jadi Kakak enggak boleh cium mereka” jawab Qisya sambil matanya kembali berkaca-kaca.


Hana yang merasakan sakit di dalam hati kecilnya saat mendengar jawaban dari Qisya pun langsung memeluk Qisya penuh kasih sayang yang membuat tangis Qisya seketika pecah di dalam pelukan sang Bunda.


“Hiks... Ayah jahat Bunda, Ayah enggak sayang sama Kakak. Apa karena Kakak bukan anak kalian jadi setelah ada Baby twins kalian sudah tidak sayang lagi sama Kakak. Kalau memang seperti itu lebih baik Kakak di taruh di panti asuhan saja kaya anak-anak lain yang tidak memiliki keluarga hiks...” entah kenapa di umur Qisya yang baru saja mau jalan 7 tahun tapi kini seolah-olah ia memiliki pikiran yang sangat dewasa.


“Sayang, dengarkan Bunda. Coba lihat mata Bunda. Tatap Bunda sekarang” ucap Hana sambil meraup wajah Qisya yang masih menangis.


Qisya pun langsung menatap mata Hana yang sudah meneteskan air mata.


“Pokonya Bunda enggak mau dengar lagi sampai Kakak bicara seperti itu. Kakak dan Baby twins tetap anak Bunda dan Ayah, paham. Rasa sayang Bunda dan Ayah itu sama kaya rasa sayang ke Baby twins. Kalian semua anak-anak kami, tidak akan kami beda-bedakan. Kakak ingat tidak, jika Ayah tidak sayang sama Kakak tidak mungkin sampai saat ini Kakak bisa kumpul sama kita semua kan”

__ADS_1


“Kakak itu hanya salah paham sama Ayah. Maksud Ayah itu hanya ingin mengingatkan Kakak jika Kakak habis dari luar rumah itu harus bersih-bersih lebih dulu baru bisa main sama Baby twins. Kan Kakak tahu Baby twins masih sangat kecil jadi mereka sangat mudah untuk terkena penyakit, beda sama Kakak yang kondisi tubuhnya lebih kuat dari Baby twins”


“Memang Kakak mau melihat Baby twins sakit terus di rawat di rumah sakit padahal mereka masih kecil. Apa Kakak tidak sayang sama mereka hem...? Atau Kakak tega misalkan lihat Baby twins tubuhnya di penuhi sama alat-alat medis di rumah sakit”


Hana menjelaskan semuanya kepada Qisya secara lembut supaya ia mudah untuk memahami.


“Hiks... Enggak mau Bunda, Kakak enggak mau kalau Baby twins sakit. Kalau pun mereka sakit, Kakak mau kok menggantikan mereka di rumah sakit bial Kakak saja yang di lawat sama Bu doktel” saut Qisya yang langsung mendapatkan pelukan hangat dari Hana.


Hana tidak menyangka bahwa sesosok anak kecil yang masih berumur 6 tahun lebih itu bisa berbicara seperti ini hanya demi sang adik. Hana bisa lihat betapa sayangnya Qisya terhadap Baby twins, hanya saja ia masih memiliki rasa cemburu kepada Baby twins.


Qisya merasa cemburu karena ia takut kalau Hana dan juga Brian tidak akan sayang lagi kepada Qisya setelah lahirnya Baby twins. Dan yang ada di dalam pikiran Qisya saat ini adalah Hana dan Brian hanya akan sayang kepada anak kandung mereka sendiri.


Di saat mereka sedang berpelukan tiba-tiba saja Brian masuk ke dalam kamar Qisya yang langsung membuat mereka berdua terkejut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai para readers 🤗


Sampai sini dulu ya cerita hari ini 😁


Semoga kalian menyukainya 😊


Dukung Author terus dengan cara berikut : ⬇️


Like 👍🏻


Komen 📝


Favorite ♥️


Rate 🌟


Dan tidak lupa selipkan hadiah ya 😆

__ADS_1


Terima kasih 🙏🏻🙏🏻


Papaaayyy ~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻


__ADS_2