Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
Bagaikan Pinang Dibelah Dua


__ADS_3

Sasya yang melihat jika Lily mulai mengeluarkan jurusnya, langsung saja berjongkok memeluk Lily dengan penuh kasih sayang bahkan tak lupa Sasya mencium seluruh wajah Lily yang mana membuat Lily tadinya cemberut kini berubah menjadi ceria dengan tawanya yang begitu menggemaskan. Hingga membuat semuanya tersenyum.


Di saat semuanya senang merasakan gemas melihat aksi Lily, tanpa di sadari kondisi Alex mulai melemah hingga akhirnya Alex pingsan yang membuat keseimbangan tubuh Pinjai hampir terjatuh jika Arya tidak segera membantunya.


"Astaga, Tuann.." pekik Pinjai yang membuat Sasya langsung menoleh terkejut melihat Alex sudah menutup kedua matanya dengan keadaan wajah sangat pucat.


"Ayo Tuan, segera bawa Tuan Alex ke ruangan sebelah agar saya bisa langsung menanganinya. Kondisi Tuan Alex saat ini benar-benar lemah, jadi harus segera diberikan cairan agar daya tahan tubuhnya kembali stabil" jelas dokter dengan wajah cemasnya dan langsung mengarahkan Pinjai serta Arya yang kini sudah memapahnya.


Sasya dengan cemas langsung mengikuti mereka ke ruangan sebelah, yang mana Alex langsung di rebahkan di atas bangkar serta beberapa suster memasuki ruangan tersebut.


Yang mana Pinjai serta Arya sudah keluar dari ruangan, namun Sasya dia memohon kepada sang dokter untuk membantunya lantaran Sasya juga mengetahui banyak tentang kondisi Alex.


"Dimna Kakakku?" tanya Lulas sambil menatap Pinjai yang membuat Pinjai sedikit melirik ke arah Arya.


Arya yang paham dengan tatapan Pinjai, seakan-akan Pinjai meminta pertolongan agar monster kecil ini tidak kembali mengamuk. Apa lagi Alex dan Lukas benar-benar bagaikan pinang di belah dua, bahkan sampai membuat Pinjai sangat takut.


"Tenang, Kakakmu sedang membantu dokter untuk menanganinya. Lebih baik kita tunggu di sini saja, jika semuanya sudah aman kamu boleh menemani Kakakmu sepuasnya untuk menjaga pria itu" sahut Arya yang membuat Lukas terdiam serta melirik tajam ke arah Pinjai yang mana membuat Pinjai benar-benar tidak berkutik.


"Astaga, ini bocah tidak pernah berubah ya. Padahal dulu dia sangat kecil namun bisa melumpuhkan Tuan Alex dengan bogeman manja, tapi semakin dia besar dia juga terlihat sangat sangar dan juga tegas. Benar-benar bagaikan kembaran Tuan. Kalau begini bisa-bisa King Mafia diambil alih olehnya gumam Alex di dalam hatinya.


...*...


...*...

__ADS_1


Di ruangan Ayah Brian..


Seketika menjadi hening. Namun, Mommy Nisha yang sudah tidak enak lgi berada terlalu lama di sana sampai menyaksikan semua yang telah terjadi langsung saja mendekati Bunda Hana yang kini masih berusaha membuat Ayah Brian agar tenang.


"Hana, maaf mengganggu. Lebih baik aku pamit pulang saja ya, aku tidak enak sama semuanya lantaran kita dari orang luar malah menyaksikan urusan keluarga besarmu ini. Sekali lagi maaf ya Han, jika kedatanganku sama anak-anak di waktu yang kurang tepat"


"Untuk Tuan Brian, saya ucapkan semoga Anda segera sembuh dan bisa kembali beraktifitas. Maaf saya hanya datang ke sini tanpa membawa apa pun, saya buru-buru jadi tidak kepikiran. Tapi, besok-besok jika saya ke sini saya tidak akan datang dengan tangan kosong lagi hehe.."


"Dan untuk semuanya maaf jika kehadiran saya membuat kalian bingung. Salam kenal untuk kalian, semoga kita bisa berjumpa kembali dan berkumpul bersama. Saya dan anak-anak izin pamit lebih dulu.."


Mommy Nisha maju beberapa langkah hingga menatap semuanya dan berbicara dengan lantangnya, yang mana membuat mereka semua merasa tidak enak lantaran Mommy Nisha datang di waktu yang tidak tepat.


"Ya ampun, Nisha.. sudahlah jangan seperti itu, harusnya aku yang minta maaf karena sikap anak-anakku yang sudah membuat kalian syok karena di balik diamnya Lukas dia memiliki jiwa yang sangat keras jika menyangkut tentang keluarganya"


"Tapi, yasudahlah.. mungkin belum waktunya aku menceritakan semuanya padamu di waktu yang tidak tepat ini. Jika ada waktu aku akan menceritakannya agar kamu paham, alasan sikap Lukas yang begitu arrogan pada pria itu yang mana semua itu mewarisi sikap Ayahnya"


Bunda Hana berbicara sambil melirik ke arah Ayah Brian dengan lirikan sinis, dan kembali tersenyum menatap Mommy Nisha.


"Tidak apa-apa, Hana. Aku senang bisa kenal kalian semua, lain kali kita akan bertemu lagi dan kita bisa berbagi kisah satu sama lain. Ya sudah aku pamit ya"


"Ayo Key.. Jay.. pamit demgan mereka semua dan jangan lupa ucapkan semoga lekas sembuh kepada Tuan Brian"


Mommy Nisha tersenyum menatap semuanya, serta menyuruh anak-anaknya agar seger berpamitan yang mana kini langsung diangguki oleh Jay dan juga Key.

__ADS_1


Kemudian Key dan Jay segera berpamitan dengan semuanya yang membuat semua tersenyum melihat sikap datar Key benar-benar sangat mirip dengan Lukas, begitu juga dengan sikap Jay yang sama persis dengan Lily.


Bahkan di saat Jay berpamitan sempat-sempatnya mereka sedikit berdebat kecil hingga membuat semua orang menggeleng kepalanya, yang mana Jay dan Lily bagaikan film Tom And Jerry. Sedangkan Lukas dan Key bagaikan Kutub Es yang hanya akan ada kesunyian jika di persatukan.


"Bunda Key pamit pulang, dan untuk Ayah Brian semoga lekas sembuh" ucap Key dengan sedikit tersenyum, membuat Ayah Brian mengelus pelan kepala Key yang kini berdiri tepat di samping bangkar Ayah Brian.


"Bunda Jay juga pamit pulang ya, kalau Jay di sini nanti Jay tidak bisa pulang lagi. Jadi, Jay pulang sama Mommy aja. Padahal Jay masih mau di sini buat jaga Ayah Brian, tapi ya sudah deh.. Jay cuma bisa berdoa agar Ayah Brian cepet sembuh" ucap Jay yang mana membuat Ayah Brian tersenyum miring.


"Oh jadi kau ingin menjagaku di sini? Baiklah aku akan menyuruh semua keluargaku kembali pulang, jadi jika aku butuh apa-apa ada kamu yang membantuku. Apa lagi jika aku tengah malam kebelet ke kamar mandi kau harus memapahku dan juga jika aku ingin nyemil kau harus turun naik untuk membelinya. Bagaimana?"


Ayah Brian menatap Jay, yang mana kini membuat Jay menelan slavinanya secara kasar. Tubuh sekecil itu bagaimana bisa mengerjakan semuanya, apa lagi tengah malam waktunya Jay berpesta dengan teman gamersnya yang lain. Jika dia harus mengurus Ayah Brian bisa-bisa malah Jay yang akan jatuh sakit.


Namun, semua orang yang melihat Jay hanya bisa menahan tawanya karena mereka mengerti jika Ayah Brian sedang menggoda atau pun menjahili Jay agar dia paham jika menjaga orang sakit tidak semudah saat dia berbicara.


"Ji-jika se-seperti itu, Jay langsung pamit pulang saja. Tadi Jay hanya bercanda, lagian mana mungkin Jay bisa menjaga Ayah Brian di sini. Apa lagi kan anak kecil tidak boleh berlama-lama berada di rumah sakit, jadi maaf.. mungkin Bunda Hana yang memang sangat cocok menjaga Ayah Brian. Jay pamit, permisi.." sahut Jay yang langsung kabur lebih dulu lantaran ia takut jika Ayah Brian akan mencegahnya.


Seketika semuanya tertawa kecil melihat wajah panik Jay yang benar-benar persis seperti Lily, bahkan Lily saja yang melihatnya ingin sekali kembali mencubit pipi gembul Jay yang selalu menjadi sasaran empuk kegemasannya.


Sedangkan Key, dia hanya terdiam dan kini Bunda Hana memeluknya sekilas serta mencium kedua pipi hingga kening Key yang mana Bunda seperti memberi kekuatan kepada Key agar tetap menjadi wanita yang tangguh, wanita yang pemberani serta bisa menyelesaikan semua ujian dengan kepala dingin penuh kesabaran.


Lalu, Mommy Nisha serta Key langsung berjalan pergi keluar ruangan Ayah Brian menyusul Jay yang kini berada di luar ruangan, yang mana membuat Lukas menoleh dan Mommy Nisha kembali berpamitan yang membuat Lukas hanya mengangguk kecil, namun matanya menatap Key.


Tanpa di sadari Key memberikan senyuman kecil kepada Jay, yang berhasil membuat Jay membolakan kedua matanya dengan jantung yang berdebar cukup kencang.

__ADS_1


Kemudian Mommy Nisha, Jay dan juga Key lagsung berjalan pergi menjauhi ruangan menuju lift lalu kembali pulang ke rumahnya sebelum Daddy Ken pulang lebih dulu ke rumah.


__ADS_2