Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
Jatah? Ladang?


__ADS_3

Brian terus saja bicara tanpa jeda untuk mengungkapkan semua perasaannya, sampai akhirnya tanpa Brian sadari jari telunjuk Hana sedikit bergerak.


Tepat di jam 23.58 Brian sudah membangunkan Qisya, bahkan saat ini Qisya masih terlihat sangat mengantuk. Tetapi ia urungkan karena ia ingin sekali merayakan ulang tahunnya tepat jam 00.00 bersama Hana.


Ya, meski pun Hana belum bangun dari tidur panjangnya tetapi Qisya tetap harus senang karena ini adalah ulang tahun pertamanya bersama Hana bahkan ditemani oleh kedua adiknya di dalam perut Hana.


Kedua orang tuan Brian dan Hana serta Arya sudah siap sambil menunggu pukul 00.00 pas, dan kini sudah saatnya Arya meniup terompet kecil untuk menandakan bahwa ulang tahun Qisya sudah tiba.


Semua orang bertepuk tangan sambil menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk Qisya dengan sangat bahagia.


Ya, walaupun pestanya kecil-kecilan tetapi ini adalah ulang tahun Qisya yang pertama bersama keluarga Hana.


Mereka semua bertepuk tangan dengan sangat meriah, bahkan Brian tidak lupa memasang kedap suara di ruangan Hana agar tidak mengganggu pasien lainnya.


“Tiup lilinnya...”


“Tiup lilinnya...”


“Tiup lilinnya sekarang juga...”


“Sekarang juga...”


“Sekarang juga...”


“Yeeey...”


Semuanya bernyanyi sambil bersorak penuh bahagia agar menghibur Qisya yang sedikit bersedih karena hanya Hana yang tidak bisa ikut bernyanyi.


“Ayo sayang tiup lilinnya” ucap Nyonya Syifa dengan antusias.


“Ets... tunggu, sebelum Qisya meniup lilin alangkah baiknya berdoa lebih dulu ya. Apa pun yang Qisya mau ucapkan di dalam hati kecil Qisya sambil meminta kepada Allah agar permintaan Qisya di hari ulang tahun kali ini semua bisa terwujud oke” ucap Brian sambil tersenyum.


“Oke Ayah” saut Qisya sambil mengangkat kedua tangannya sambil memejamkan matanya.


“Ya Allah... Di hali ulang tahun Qisya yang ke-6 tahun ini. Qisya tidak mau minta mainan yang banyak lagi, tapi Qisya cuman mau di saat Qisya meniup lilin nanti Qisya bisa di temani oleh Bunda. Qisya tidak mau apa-apa, Qisya hanya ingin Bunda bangun lagi. Qisya mohon ya Allah kabulkanlah permintaan Qisya. Qisya janji deh tidak akan jadi anak yang nakal dan suka menjahili Ayah. Qisya juga janji akan selalu jagain Bunda dan adik-adik. Allah kan baik jadi kabulin doa Qisya ya... Aamiin yarabbal’alamiin ” ucap Qisya di dalam hati kecilnya.


Qisya sudah selesai berdoa kini langsung membuka matanya dan kembali tersenyum.

__ADS_1


“Wah... cucu Oma doa apa nih di hari ulang tahunnya, Oma mau denger dong” ucap Nyonya Syifa dengan wajah penasaran.


“Om Arya juga mau denger dong Qisya doa apa” saut Arya.


“Ish... Ish... ish... tak patut tak patut. Dasal olang-olang kepo” jawab Qisya sambil memasang muka kesalnya.


“Kepo? Kepo itu apa?” tanya semua orang bersamaan kecuali Arya dan Brian.


“Ya ampun” Qisya menepuk jidatnya yang malah membuat Brian dan Arya menahan tawanya.


“Oh jadi artinya ya ampun” ucap Umi dengan wajah polosnya.


“Adeh... adeh... adeh... Mbah Uti, maksud Qisya bukan begitu tahu. Kepo itu altinya pengen tahu banget gitu loh. Jadi kalau Oma sama Mbah Uti lagi menguping olang-olang bicala tandanya kepo haha...” jawab Qisya sambil tertawa bersamaan dengan yang lainnya kecuali Nyonya Syifa dan Umi.


“Yakk... dasar cucu menyebalkan. Enggak Ayahnya enggak anaknya sama-sama menyebalkan. Semoga saja kedua cucuku di dalam perut Hana tidak seperti kalian” saut Nyonya Syifa sambil menatap kesal.


“Sudah-sudah, kamu ini seperti anak kecil saja. Lagian kamu kan memang orangnya sangat apa itu tadi namanya empok eh salah apa ya ke-kepo nah ya kepo” jawab Tuan Ferry.


“Yakkk... Papah, kenapa ikut-ikutan sih. Awas saja ya malam ini tidak akan ada jatah selama sebulan kedepan titik!” ucap Nyonya Syifa sambil duduk dengan gaya kesalnya.


Seketika semuanya melototkan matanya menatap Nyonya Syifa yang acuh tanpa merasa berdosa dengan perkataannya di depan anak kecil.


“Apa? Mau mohon-mohon minta jatah? Oh tidak bisa. Ladangku sudah di gembok dan kau tidak bisa membajaknya selama satu bulan ke depan” saut Nyonya Syifa tanpa sadar dengan ucapannya.


“Jatah? Ladang? Loh memangnya Oma punya sawah ya kaya Mbah Kung? Kok Qisya tidak pernah lihat Oma pelgi ke sawah?” tanya Qisya dengan wajah polosnya.


Nyonya Syifa seketika terkejut dan langsung berdiri “Eh... ja-jatah, hehe...” ucap Nyonya Syifa sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


“Rasain, jelasin sendiri sana. Lagian kalau ngomong tidak bisa di ayak dulu apa. Mulut asal ceplas-ceplos saja” saut Tuan Ferry dengan wajah kesalnya.


Brian, Arya, Umi serta Abah yang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepalanya.


“Oma jawab dong, Qisya kan nanya loh” ucap Qisya.


“Hehe... gi-gimana ya jelasinnya Oma bingung” jawab Nyonya Syifa yang sudah mulai salah tingkah.


“Kalau bingung pegangan tiang tante, takut jatuh haha...” ucap Arya sambil tertawa.

__ADS_1


“Kalau Oma engga mau celita ya udah, Qisya tidak mau tiup lilin” saut Qisya sambil melipat kedua tangannya di dada dan membuang muka.


“Ya ampun, kenapa mulutku bisa keceplosan di depan anak kecil seperti Qisya yang sangat pintar ini sih. Aduh... tamatlah riwayatmu Syifa ” ucap Nyonya Syifa di dalam hati kecilnya.


“Mah, siap-siap kumpulkan semua tenagamu nanti. Lihatlah Papah, dia sedang tersenyum licik ke arahmu” bisik Brian yang membuat Nyonya Syifa merinding dan menatap sang suami yang lagi tersenyum penuh arti sambil mengedipkan sebelah matanya.


Nyonya Syifa bergidik ngeri melihatnya seakan-akan ia akan di terkam oleh binatang buas.


Umi dan Abah yang melihatnya hanya bisa menahan tawanya sambil duduk bersama Arya.


Sedangkan Brian, ia tidak henti-hentinya menakuti sang Mamah dengan bisikan-bisikan nya.


Lalu, Qisya masih setia membuang mukanya sambil menatap wajah Hana yang membuat ia merasa sangat kangen.


Qisya duduk di pinggir bangkar Hana, sehingga Brian dan Nyonya Syifa masih setia dengan berdiri.


“Heum... ja-jadi gini Qisya sayang. O-Oma itu punya sawah tapi rahasia tempatnya. Nah di sana Opa selalu minta jatah jika ingin membajak sawah Oma kaya minta gaji dari Oma gitu hehe...” ucap Nyonya Syifa dengan berbagai alasan.


“Oh gitu, jadi kalau Opa bajak sawah Oma telus Oma kasih jatah gitu? Nah kalau yang bajak Mbah Kung gimana? Belalti Mbah Kung juga dapet jatah dong ya kan...” saut Qisya.


Brian dan Arya yang sedang minum kini langsung menyemburkan minumannya. Sedangkan Abang dan Tuan Ferry saling membolakan matanya mendengar ucapan Qisya. Lalu, Umi seketika langsung berdiri dengan terkejut.


“Eh... bu-bukan begitu sayang maksud Oma. Jadi ini sawahnya khusus untuk Oma dan Opa saja gitu” Nyonya Syifa mencoba mencari alasan jika mengobrol dengan cucu pintarnya ini yang semakin pandai berbicara.


“Oh gitu, tapi sawah Mbah Kung saja bisa dibajak sama Om Alya. Kenapa sawah Oma tidak bisa, aneh. Aish... Qisya jadi bingung kan mikilna enggak sampe nih otak Qisya” ucap Qisya sambil menggaruk kepalanya yang tertutup hijab namun, tidak gatal.


Di saat semuanya sedang bingung memikirkan jawabannya, kini tidak sengaja tangan Hana menggenggam tangan Qisya yang berada di dekatnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sampai sini dulu ya cerita untuk hari ini semuanya 😁😁😁


Maaf karena author tidak ada waktu untuk up 2 bab hari ini 😅😅😅


Tapi besok author janji kalau Author akan up 3 bab untuk kalian 😣😣😣


Mohon terus dukung Author ya pembaca setia kesayanganku 🤗🤗🤗

__ADS_1


Jaga diri kalian dan sampai ketemu lagi di bab selanjutnya 🥰🥰🥰


Papaaayyy ~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻


__ADS_2