Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
Nyaman Dengan Ponsel Ini


__ADS_3

Joko tersenyum sambil membayangkan betapa indahnya saat dia akan memiliki keluarga kecil bersama Cika. Sedangkan Alex yang melihat itu menjadi sangat-sangat kesal, karena Joko seperti memanfaatkan kesempatan darinya.


“Tidak! Aku tidak bisa melepaskan wanita licik itu. Kau paham itu!” tegas Alex.


“Kau sendiri yang bilang jika kau akan memberikanku 1 permintaan apa pun itu, kenapa sekarang kau tidak menuruti permintaanku. Aku hanya ingin melihat Cika bebas itu saja, tapi kenapa seolah-olah aku seperti sedang mengemis darimu Lex”


“Kau sangat tahu kalau saat ini Cika sudah tidak lagi seperti dia yang dulu. Saat ini mentalnya telah terguncang sangat dalam, kau telah menyiksanya, melecehkannya dan semuanya itu membuat ia berulang-ulang kali mencoba untuk mengakhiri hidupnya”


“Di tambah kau memasung kakinya begitu lama, aku sangat yakin pasti dia sudah lupa bagaimana caranya berjalan. Apa kau tidak memiliki belas kasihan terhadapku, Lex??”


“Aku, kau, dan Pinjai kita adalah saudara tapi kenapa kau tega padaku. Aku hanya ingin menikmati bagaimana aku bisa menikah dengan wanita yang aku cintai. Cuma kenapa sangat sulit untukku Lex, kenapa!!!”


Joko berbicara seakan-akan ia sangat kecewa dengan jawaban Alex yang ternyata jauh dari apa yang ia prediksikan tadi. Joko mengira Alex akan melepaskan Cika karena ini adalah salah satu permintaan Joko, namun nyatanya Alex tetap tidak akan ingin untuk melepaskan Cika.


Alex bisa merasakan betapa pedulinya Joko terhadap Cika, jadi ia mencoba untuk meredakan emosinya dan berkata, “Oke, aku akan berikan dia keringanan. Kau bisa membuka semua pasung yang ada di tubuhnya, tapi tidak dengan membebaskannya paham!”


Mendengar perkataan Alex yang seperti itu, Joko langsung menatapnya dengan mata berkaca-kaca hingga ia memeluk Alex dengan sangat erat.


“Terima kasih Lex terima kasih banyak. Setidaknya jika ia tidak boleh bebas dari ruangan itu, dia masih bisa terbebas dari semua rantai yang ada di tubuhnya” ucap Joko.


“Kau tidak perlu terima kasih padaku, cuma untuk saat ini aku belum bisa membebaskannya karena semua bayangan itu masih ada di dalam ingatanku. Apa lagi aku telah menyakiti gadis kecilku hingga dia memilik trauma terhadapku” ucap Alex.


Kini mereka melepaskan pelukannya sambil tersenyum. Alex benar-benar melihat adanya cinta yang tulus dari sang Kakak kepada wanita yang ia benci selama ini.


“Ya sudah, aku kembali ke markas untuk membebaskannya dari semua rantai di tubuhnya. Sekali lagi terima kasih, Lex...” ucap Joko dengan wajah bahagia dan langsung keluar dari kamar rawat Alex.


Pinjai yang melihat Joko keluar dari kamar Alex dengan wajah begitu bahagia, membuatnya sangat curiga.


“Ada apa dengan wajahmu, Kak? Kau itu habis di hukum, jadi kenapa kau malah tersenyum” ujarnya dengan tatapan aneh.


Joko yang tidak tahu harus bagaimana cara meluapkan rasa senangnya ini, seketika langsung memeluk Pinjai yang membuatnya sangat terkejut. Di situ Joko menceritakan semuanya pada Pinjai hingga Pinjai pun ikut merasa bahagia dengan berita ini karena Pinjai sangat tahu bagaimana Joko merawat Cika dengan begitu lembut, jadi dari awal Pinjai udah menaruh curiga jika Joko menyukainya.


Namun Pinjai mengurungkan niatnya untuk berpikir seperti itu karena tidak mungkin Joko mau dengan keadaan Cika yang seperti ini, tapi nyatanya Pinjai salah. Joko tetap masih sangat mencintai Cika apa pun keadaannya bahkan sampai saat ini, dan cinta Joko tidak terlihat berkurang dan malah semakin bertambah.


Joko segera pergi bersama anak buahnya untuk menemui Cika di markas. Sedangkan Alex yang ada di dalam ruangan rawat nya saat ini, ia sangat mengagumi cinta Joko yang bisa ia rasakan bahwa cinta Joko untuk Cika itu sangatalah tulus dan indah.


“Apakah aku bisa merasakan cinta yang setulus itu suatu hari nanti? Tapi tidak mungkin, aku cuma tahu jika cinta itu menyakitkan dan mengecewakan. Tidak ada yang namanya kebahagiaan di dalam cinta yang seperti itu.


"Sama halnya seperti Ibu yang begitu mencintai Ayah, namun pada akhirnya Ibulah yang tersakiti akibat cintanya. Aku sudah memutuskan bahwa aku tidak mau berakhir seperti itu” gumamnya sambil menatap lurus ke arah depan.

__ADS_1


Flashback Joko & Alex Off


...*...


...*...


Sasya sedang berada di ruang tunggu staff yang mana ia sedang beristirahat. Di ruangan itu terdapat beberapa dokter ahli lainnya sehingga Sasya dan Ash ruangannya tercampur dengan mereka.


“Kiss... ke kantin yuk lapar nih udah pada demo” ucap Ash sambil memegangi perutnya.


“Nanti Ash, aku lagi mengecek sosial mediaku yang udah lama banget enggak pernah aku cek...” ucap Sasya dengan menatap ke layar ponselnya.


“Kiss... ponselmu itu kan merek lama yang pernah naik daun beberapa tahun lalu, tapi kenapa kamu masih gunakan? Bukannya kamu bisa membeli ponsel merek ternama saat ini?” tanya Ash dengan wajah bingungnya.


“Ya memang ini mereknya sudah sangat lama, tapi di ponsel ini banyak sekali sejarahnya Ash... jadi aku tidak menggantikan ponsel ini dengan yang merek ternama saat ini” ucap Sasya sambil menoleh sebentar ke arah Ash dan tersenyum, kemudian ia kembali menatap layar ponselnya.


“Memang Ayah sama Bunda tidak membelikanmu ponsel baru?” ucap Ash yang masih belum percaya.


“Mereka selalu menawarkannya padaku kok, bahkan mereka semua sudah menggunakan ponsel merek ternama hanya berbeda warna saja. Aku juga punya di rumah, cuma tidak aku pakai” ujar Sasya.


“Why?” tanya Ash dengan wajah penasaran.


“Tapi kan Kiss... ponsel itu sudah jelek loh, bahkan layarnya sudah retak begitu dan juga ponsel itu kan sering mati-mati mulu saat kita masih sekolah. Jadi saat ada apa-apa aku selalu menghubungi Bunda untuk bisa menanyakan sesuatu padamu” ucap Ash.


“Sudahlah, jangan mengurusiku. Intinya aku tidak mau ganti ponsel titik! Jadi jangan terus mengoceh, kepalaku pusing tau...” jawab Sasya dengan sedikit kesal.


“Oke... oke... oh ya, pasien yang selalu kamu tangani itu adalah Tuan Alex kan? Dia bukannya seorang Mafia ya...” ucap Ash yang membuat Sasya menatapnya.


“Entahlah sepertinya begitu, aku juga yang melihatnya merasa sangat aneh. Sifatnya dingin, kaku dan juga sangat cuek di tambah banyak anak buahnya juga jadi aku pun sempat berpikir seperti itu"


"Cuma balik lagi, siapa pun dia itu bukan urusanku. Tugasku hanyalah merawatnya hingga sembuh itu saja karena dokter Rini telah mempercayakan pasien kehormatannya padaku” jelas Sasya.


“Ya sih benar juga, tapi apa kamu tidak takut jika selalu bolak balik ke ruangannya itu?” ucap Ash.


“Ya takut sih, tapi itu wajarlah Ash... apa lagi mereka kan seperti memegang senjata begitu, cuma aku biasa saja karena dia tidak seseram itu kok. Dia juga manusia sama seperti kita, jika kita tidak melakukan kesalahan mana mungkin dia melukai kita, ya kan...” sahut Sasya.


Ash menganggukkan kepalanya perlahan lalu tersenyum sambil berkata, “Ya kau benar, ya sudah ayo ke kantin”


“Sebentar lagi, aku lagi nanggung nih...” ucap Sasya yang asyik memainkan sosia medianya sehingga membuat Ash ikut penasaran apa yang sedang Sasya lihat.

__ADS_1


“Wahhh... diam-diam kau punya penggemar sebanyak ini? Gilaaa... haha...” sahut Ash dengan menarik ponsel Sasya dari tangannya hingga membaca semua isinya.


“Hyaaaakkk... Ash, kau ini kebiasaan yaa... balikin enggak ponselku...” pekik Sasya sambil berdiri dari kursinya.


Ash sedikit menjauh dari Sasya agar bisa membaca apa saja isi dari chat penggemarnya.


“Hai... boleh kenalan Bu dokter... hahah...” sindir Ash yang membuat Sasya semakin kesal.


“Ashhhh... balikin ponselku sekarang jugaaa...” pekik Sasya sambil merebut ponsel tersebut, yang sayangnya dengan sigap Ash berlari mengelilingi semua meja yang ada di sana.


“Haha... enggak mau wleee...” ledek Ash yang membuat mereka saling kejar-kejaran di ruangan.


Mereka terus saling kejar mengejar satu sama lain dengan menjadikan meja-meja yang lain sebagai tameng agar membuat Sasya tidak bisa mengejar Ash yang begitu lincah. Sampai seketika Sasya tidak sengaja menjatuhkan dokumen dari meja dokter Rini.


Buuughh...


Tiba-tiba saja tidak sengaja Sasya menabrak pinggir meja dokter Rini dan lalu beberapa berkas jatuh dalam keadaan masih aman, hanya saja ada satu berkas yang berantakan.


“Nahlohh... hati-hati berkasnya ke tukar haha...” sahut Ash yang mendapat tatapan tajam dari Sasya.


“Upsss... soryy... hihi...” ucap Ash kembali yang membuat Sasya segera membereskannya.


Saat Sasya sudah membereskan berkas yang terjatuh itu, tanpa sengaja mata Sasya melihat satu nama yang tidak asing baginya di salah satu berkas yang jatuh dari meja dokter Rini itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hel... to the Lo... Hello... 😄😄😄


Kembali lagi dengan Author kalian yang banyak kekurangan ini... ☺️☺️😊


Kalian tahu gak Author baru bikin Group Chat loh dan masih kosong 🥳🥳🥳


Jika kalian ingin join ke Group langsung saja ke beranda Author ya... 😎😎😎


Nama Group Chatnya itu adalah Kang Salto Barbar kayak Author 🤣🤣🤣


Silahkan join aja guys, gak akan di apa-apain kok tenang aja... 🤭🤭🤭


Jaga diri kalian dan sampai jumpa lagi di bab selanjutnya yaaa... 🤗🤗🤗

__ADS_1


Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻


__ADS_2