
Mau tidak mau Kakek Iram memutar balikan mobilnya tanpa menaruh rasa curiga pada istrinya, tapi Nenek Mona malah menjadi gelisah entah kenapa perasaan semakin tidak enak. Nenek Mona tahu jika sebenarnya Caca dan Maria memang saling menyayangi, tetapi Maria tidak pernah bisa menerima jika kedua orang tuanya membagi kasih sayang pada Caca. Maria hanya mau dialah yang menjadi putri ke sayangan mereka.
"Karena aku enggak suka jika Daddy dan Mommy membagi kasih sayangnya pada Kakak, aku hanya mau mereka menyayangiku karena cuman aku yang pantas menjadi anak kesayangan mereka, dan bukan kita!!" Ujar Maria berdiri tepat di depan Caca sambil menatapnya.
"Apa salahku sampai kamu bisa mengatakan hal itu? Apa kamu lupa meskipun kita bukan saudara kandung, di dalam tubuh kita mengalir darah Daddy! Aku tahu aku memang bukan Kakak kandungmu, tapi aku sudah berusaha buat jadi Kakak yang baik untukmu Dek! Apa itu masih kurang?" Caca memegang kedua bahu Maria dengan penuh air mata.
"Aku tahu Kakak sudah berusaha menjadi Kakak terbaik bagiku, cuman aku tidak suka berbagi kasih sayang denganmu. Paham! Aku memang sayang sama Kakak, tapi aku enggak bisa melihat Daddy dan Mommy menyayangi Kakak melebihi mereka menyayangiku!" Tegas Maria.
"Aku tidak ada niatan untuk merebut kasih sayang mereka darimu, Dek. Enggak pernah sama sekali! Aku cuman mau merasakan sedikit saja bagaimana rasanya di perlakukan sepertimu. Apa salah jika kau membagi kasih sayang mereka denganku?" Ucap Caca.
"Salah, dan itu kesalahan terbesar Kakak! Sampai kapan pun kasih sayang Daddy dan Mommy hanya milik aku bukan KITA! Jadi apa pun yang Daddy berikan pada Kakak itu harus menjadi milikku juga, sekarang minggirlah. Aku mau mengambil apa yang menjadi hakku!"
Maria mendorong keras Caca hingga dia terjatuh dalam keadaan yang penuh emosional, bahkan Caca tidak menyangka jika Maria bisa seegois ini padanya. Caca selalu membagi haknya pada Maria, tetapi kali ini tidak lagi! Caca harus mempertahankan haknya karena itu adalah gaun yang kedua orang tuanya berikan untuk pertama kalinya dengan penuh kasih sayang.
Apa pun caranya Caca harus bisa mempertahankan semuanya, walaupun dia harus bertengkar hebat dengan Maria. Setidaknya mereka hanya berdua di rumah tanpa adanya kedua orang tua mereka yang melihat kejadian ini, Caca tidak mau membuat kedua orang tuanya sakit akibat ulah mereka.
Caca segera bangkit sambil menghapus kasar air matanya, lalu dia memegang lengan Maria sangat keras dan membuatnya memekik kesakitan.
"Awwsshh.. sa-sakit Kak, sakit! Lepaskan, aku bilang lepas! Hiks.." Maria menangis ketika pergelangan tangannya terasa menyakitkan.
Caca yang sudah diambang batas emosi yang mulai memuncak membuatnya sedikit hilang kesadaran, selama ini Caca berusaha mengalah demi Maria. Tapi untuk kali ini dia harus mempertahankan hadiah pertama yang diberikan kedua orang tuanya.
"Cepat pergi dari sini atau aku tidak bisa menjamin apa yang akan terjadi nantinya padamu jika emosiku sudah lepas kendali!" Caca menatap Maria dengan tatapan memerah penuh amarah.
__ADS_1
"Enggak! Pokonya aku enggak akan pergi sebelum aku mendapatkan hakku. Titik!" Pekik Maria sangat keras, dan langsung menghempaskan tangan Caca begitu keras.
Caca kembali terjatuh hingga kepalanya terbentur pinggiran kasur yang cukup tajam.
Bugh!
Caca tersenyum miring ketika merasakan dahinya terbentur cukup keras, namun rasa sakit didahinya yang dia rasakan tidak sebanding dengan rasa sakit di dalam hatinya.
Sementara Maria terus mengobrak-abrik lemari Caca hingga akhirnya menemukan paper bag berisikan gaun yang dia inginkan sambil berkata, "Ahaaa.. ini dia yang aku cari, akhirnya ketemu juga. Mau kamu umpetin ke ujung semut pun aku bisa menemukannya Kak! Ingat apa pun yang kau dapat dari Daddy dan Mommy itu akan menjadi hakku, tapi apa pun yang diberikan mereka padaku itu tetap akan menjadi hakku tanpa harus membaginya dengamu. Mengerti!"
Wajah Maria begitu bahagia ketika apa yang dia cari sudah berada di tangannya. Lalu Maria bergegas berjalan beberapa langkah meninggalkan Caca yang masih terduduk di lantai.
"Yes! Akhirnya dapat juga apa yang aku mau, pasti nanti aku akan terlihat paling cantik di antara mereka yang hadir di acara itu haha.." Gumam Maria sambil menenteng paper bag milik Caca.
Namun saat Maria mau melangkah keluar dari kamar Caca tiba-tiba Caca langsung menarik keras paper bag itu dari tangan Maria hingga membuat talinya terputus.
Maria langsung berbalik menatap wajah Caca yang berhasil membuatnya sedikit ketakutan, tetapi Maria tetap berusaha setenang mungkin dan kembali merebut paper bag tersebut.
Beberapa kali Caca berusaha menghindar dari Maria, namun Maria tetap berusaha mendapatkannya. Bagi Maria apa pun yang dia inginkan semua akan terjadi, tanpa ada yang bisa menghalanginya.
Ini adalah perdebatan hebat untuk pertama kalinya bagi mereka, selama ini Caca selalu mengalah dan hanya akan ada perdebatan kecil bagaikan anak-anak pada umumnya. Cuman ini, mereka malah terlihat saling menyakiti satu sama lain.
Maria yang sangat kesal tanpa berpikir panjang segera menjambak rambut Caca dan membuatnya memekik keras sambil mendongak ke atas.
__ADS_1
"Hahaha.. syukurin, makannya jadi orang jangan pelit! Cepat berikan gaun itu padaku sebelum Daddy dan Mommy pulang!" Ucap Maria.
"Aaawsshh.. sa-sakit Maria sakit! Lepaskan rambutku, jika kau mau gaun yang baru bilang sama Daddy untuk membelikannya padamu. Tapi tidak dengan gaun ini!"
"Kamu tidak akan mengerti betapa berharganya gaun ini untukku, selama ini aku selalu mengalah padamu. Bahkan aku tidak pernah meminta apa pun dari mereka. Hanya saja mereka memiliki inisiatif untuk memberikan gaun ini kepadaku sebagai bentuk kasih sayang mereka yang selama ini tidak pernah memberikanku berbagai macam hadiah seperti dirimu!"
"Kamu bisa sebebas mungkin meminta apa pun dari mereka tanpa membuatku merasa iri. Aku malaj bahagia ketika melihatmu tersenyum, cuman kenapa di saat aku baru merasakan apa yang kamu rasakan untuk pertama kalinya. Kamu malah bersikap seperti ini, hiks.."
"Asal kamu tahu Maria, a-aku juga berhak untuk bahagia bukan hanya kamu. A-aku juga butuh kasih sayang mereka karena aku juga anak mereka, sama sepertimu. Tapi tidak ada sedikit pun niat di dalam hatiku untuk menjadi anak kesayangan mereka, aku malah senang jika kamu menjadi anak kesayangan mereka asalkan kita bisa hidup bersama layaknya saudara pada umumnya"
"Aku kangen kita yang dulu, Dek. Aku kangen dimana kamu memelukku setiap saat sambil merayuku agar menemanimu bermain, bukan malah merayuku untuk memberikan apa yang seharusnya bukan hakmu!"
Caca menangis dengan mata memerah, belum lagi tangan satunya memeluk paper bag sedangan tangan satunya berusaha melepaskan tangan Maria yang menjambak rambutnya dengan keras.
"Hahah.. bulsit!! Jika kamu tidak ada niatan buat merebut kasih sayang mereka, lantas itu apa hahh!! Bahkan Daddy dan Mommy memberikan gaun khusus untukmu di acara ulang tahunmu. Sedangkan aku?" Ucap Maria yang air matanya sudah menetes melihat Caca yang berusaha menahan rasa sakitnya.
"Dek! Dengarkan Kakak baik-baik, Daddy dan Mommy tidak memberikan gaun khusus di acara ulang tahunmu bukan berarti aku telah merebut mereka darimu. Melainkan mereka merasa kalau mereka belum pernah memberikan apa pun padaku, jadi mereka memberikan gaun itu untukku"
"Sedangkan kamu? Kamu selalu meminta pada mereka sesuai dengan keinginanmu saat kamu berulang tahun. Bahkan hampir setiap bulan kamu selalu diberikan apa pun dari mereka, mungkin karena itu mereka tidak berpikir sejauh itu"
"Tapi kamu tenang saja, nanti aku akan bicaran hal ini pada mereka agar kita tidak akan menjadi salah paham. Jadi sudah cukup Dek, rambut Kakak sakit banget hiks.. please lepaskan tangamu itu!"
Caca berusaha tenang dan membuat Maria agar mengerti, padahal dibalik itu semua Caca sangat marah dengan perlakuan Maria. Namun Caca sadar dia adalah seorang Kakak, jadi mau tidak mau dia harus tetap mengalah agar tidak akan ada hal buruk yang terjadi sampai membuat mereka menjadi saling memiliki dendam.
__ADS_1
Maria tersenyum miring melepaskan tangannya dari rambut Caca, sedikit demi sedikit membuat Caca kembali berdiri di depannya dengan tegak sambil tersenyum. Caca kira Maria sudah mulai mengerti, tetapi Caca salah. Maria malah kembali merebut paper bag tersebut di saat Caca lengah.
Maria tertawa menatap Caca seoalah-olah dia sedang meledeknya, setelah itu Maria berbalik berusaha ingin kabur dari Caca tetapi, tiba-tiba saja Caca malah menangis begitu keras.