Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
Rela Berkorban Demi Sasya


__ADS_3

Sasya dan semua orang yang melihat kejadian tersebut langsung berteriak memanggil nama Lukas.


Kemudian Arya pun berlari dan menarik tangan Lukas dengan cepat yang mana membuat Lukas langsung masuk ke dalam dekapannya Arya.


"Lepaskan aku Om Arya, aku tidak bisa tinggal diam saja saat melihat pria breng*sek seperti dia datang ke sini. Aku akan memberikan dia pelajaran atas semua yang telah dia lakukan pada Kak Sasya dulu. Lepaskan aku Om..."


Lukas berbicara sambil mencoba untuk lepas dari dekapannya Arya yang tidak ingin Lukas jadi lepas kendali. Sementara itu Mommy Nisha, Key dan Jay yang tidak mengerti dengan apa yang terjadi pun hanya diam mematung.


"A-apa ya-yang terjadi dengan be-beruang kutub itu? Kenapa dia menjadi sangat marah seperti itu pada pria yang baru saja masuk? Apakah mereka memiliki dendam satu sama lain atau sesuatu?" tanya Key di dalam hatinya saat melihat Lukas mengamuk.


"Gi-gila, gila, gila... i-ini pe-pertama kalinya a-aku melihat be-beruang kutub jantan itu marah seperti ini. Ka-kalau begitu a-aku tidak boleh macam-macam dengannya, atau aku akan kena pu-pukulan yang menyakitkan itu uugh..."


Jay berbicara di dalam hatinya sambil memegangi perutnya yang tidak sakit sama sekali. Bagaimana pun ini adalah pertama kalinya Lukas menunjukkan emosi yang tidak pernah sekalipun dia tunjukkan pada siapa pun selama ini.


Bahkan Ayah Brian serta Bunda Hana juga terkejut saat melihat bagaimana Lukas memukul Alex dengan semua kekuatan yang dia miliki. Bahkan mereka bisa melihat kebencian yang kuat di dalam matanya Lukas.


"Lukas! Apa yang kamu lakukan barusan, hahh? Apakah kamu tidak bisa bersikap lebih dewasa dan tidak main pukul seperti orang yang kesetanan" bentak Sasya dengan suara keras dan lantangnya.


Sasya membantu Alex untuk berdiri sambil Alex yang masih memegangi perutnya yang sedikit sakit. Sedangkan Lukas hanya berdiri terdiam sambil matanya yang mulai berair akibat bentakan Sasya.


Ini adalah pertama kalinya Sasya berbicara dengan sangat keras seperti ini yang mana membuat semua orang terkejut. Bahkan Alex pun ikut terkejut saat melihat Sasya membentak adiknya sendiri hanya untuk membela dirinya.


Lukas yang sudah tidak bisa menahan kesedihannya pun langsung melepaskan tangannya Arya lalu berlari keluar dari ruang rawatnya Ayah Brian, yang mana membuat semuanya kembali meneriakkan nama Lukas dengan keras.


Lukas hanya berlari lalu dia turun ke lantai bawah menggunakan tangga darurat tanpa melihat ke belakang, yang mana ada seseorang yang mengikutinya diam-diam tanpa siapa pun yang mengetahui hal tersebut.

__ADS_1


Lukas terus berlari dan berlari hingga akhirnya dia keluar dari rumah sakit dan sekarang berada di taman belakang rumah sakit.


Sedangkan orang yang mengikuti Lukas pun berhenti berlari dan berdiri cukup jauh dari Lukas sambil mencoba mengatur napasnya.


Sekarang semua orang yang berada di dalam ruang rawatnya Ayah Brian hanya berdiri dengan diam. Melihat hal tersebut Alex pun merasa bersalah dan mencoba untuk mencairkan suasana.


"Maaf... karena kedatanganku yang tidak di sambut di sini, sampai membuat semuanya jadi kacau seperti ini. Sekali lagi aku minta maaf..." ucap Alex sambil sedikit membungkuk sambil memegangi perutnya.


"Sekarang kamu lihat bukan kalau di keluarga ini tidak ada yang akan pernah menerima kehadiranmu. Lebih baik kamu pergi dan jauhi anak-anakku sejauh mungkin, kamu paham!" tegas Ayah Brian.


"Aku tahu jika aku memang sudah melakukan kesalahan besar yang membuat kalian membenciku. Tapi aku mohon jangan suruh aku menjauh dari kehidupannya Sasya lagi"


"Aku sadar jika aku salah, tapi hatiku tetap tidak bisa menghilangkan rasa yang tumbuh dan berakar di hatiku. Aku mencintai Sasya, dan aku ingin mendekatinya kembali"


Alex memohon sambil membungkukkan tubuhnya 90% yang mana membuat perutnya semakin sakit yang mana pukulan dari Lukas mengenai luka bekas operasi sehingga jahitannya kembali terbuka.


Namun Alex menahan semua rasa sakitnya karena dia tahu bahwa rasa sakitnya ini tidak sebanding dengan rasa sakit yang di rasakan Sasya dan keluarganya dulu.


Sasya yang melihat Alex berbicara dengan nada sopan dan tulusnya membuat hatinya sedikit bergetar.


Namun dengan cepat Sasya menepis semua perasaan itu karena dia sudah bertekad kalau dia akan melupakan Alex dalam hidupnya.


"Apa kamu pikir dengan semua yang sudah kamu lakukan dahulu akan membuat kami memaafkanmu begitu saja, hahh? Memangnya kamu anggap putriku itu apa sampai dengan gampangnya kamu berbicara seperti itu"


Ayah Brian berbicara dengan nada keras dan emosinya yang mana membuat Bunda Hana mencoba menenangkan Ayah Brian supaya kondisinya tidak semakin memburuk karena Ayah Brian yang baru saja stabil dari kelelahannya.

__ADS_1


"Tolong tenanglah Ayah, tidak baik jika kamu marah-marah seperti ini. Bagaimana jika tiba-tiba darah tinggi Ayah naik, nanti Ayah akan harus menetapkan di rumah sakit semakin lama" ucap Bunda Hana yang mencoba menenangkan Ayah Brian.


"Bagaimana aku bisa tenang saat pria baji*ngan ini berani datang dan meminta restu seperti ini. Memangnya dia tidak punya rasa malu sedikit pun apa, hahh?" tegas Ayah Brian sambil memelototi Alex yang masih membungkuk.


"Saya tahu bahwa saya memang tidak tahu malu, tapi saya tidak bisa lagi menahan rasa yang tertanam di hati saya. Itu sebabnya saya memberanikan diri untuk datang dan meminta restu dari kalian semua di sini"


"Saya akan melakukan apa pun selama kalian ingin memaafkan saya dan memberikan saya kesempatan kedua untuk mendapatkan Sasya. Saya bahkan rela mengorbankan diri saya jika memang di butuhkan"


Alex berbicara dengan lantang sambil membungkuk yang mana membuat Ayah Brian semakin emosi. Akibat tidak bisa lagi menahan gejolak emosi di hatinya, Ayah Brian pun langsung saja mengatakan hal yang mengejutkan.


"Kalau kamu rela berkorban demi Sasya, lalu matilah saat ini dan menghilang dari dunia ini selamanya. Aku tidak membutuhkan pria breng*sek seperti dirimu untuk putriku yang terlalu berharga hanya untuk dirimu" celetuk Ayah Brian karena emosi.


"Brian!!! Apa yang kamu katakan barusan, apakah kamu juga kehilangan akalmu seperti ini, hahh? Sekarang aku mengerti dari mana Lukas bisa bersikap impulsif seperti itu, ternyata semua ini karena gen darimu"


"Aku tahu kamu kesal, kamu marah dan kamu tidak terima dengan semua ucapannya. Tapi itu tidak berarti bahwa kamu berhak untuk menghilangkan nyawa seseorang karena kamu hanyalah manusia dan bukannya Tuhan"


"Apa kamu pikir dengan menyuruhnya untuk berkorban, akan membuat hatimu dan Sasya merasa lebih baik? Tidak, semua itu hanya akan menambah penyesalan mendalam di dalam hatinya Sasya. Berpikirlah sebelum kamu bicarakan, Brian!"


Papah Ferry berteriak sambil menatap Ayah Brian dengan sangat tajam dan penuh emosi. Selama ini Papah Ferry hanya diam karena dia berpikir bahwa Ayah Brian bisa berpikir jernih, tapi ternyata semua itu salah besar.


Ayah Brian malah semakin emosi dan membuat rasionalitasnya menghilang serta membuat dirinya mengatakan apa pun yang muncul dalam pikirannya. Bahkan Mamah Syifa, Bunda Hana, Umi Dewi serta Abah Tino ikut merasa terkejut dengan ucapannya Ayah Brian.


Lalu Ayah Brian yang mendengarkan teriakan dari Papah Ferry pun langsung terdiam dan menundukkan kepalanya. Dia baru saja menyadari apa yang dia katakan dan Ayah Brian merasa sedikit menyesal telah mengatakan hal itu.


Sementara Sasya hanya berdiri diam seperti patung dengan kepala tertunduk dan matanya yang mulai berair. Entah kenapa Sasya merasa sangat kecewa saat mendengar semua ucapannya Ayah Brian yang menyuruh Alex untuk mengorbankan dirinya sendiri untuknya.

__ADS_1


__ADS_2