Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
Abah Mau Minta Maaf


__ADS_3

“Sttt... sakit banget sumpah. Untung saja tidak putus, kalau putus bagaimana aku mencari penggantinya. Adeh... ada-ada saja Umi, tumben-tumbenan dia marah seperti monster galak” gumam Arya sanga pelan sambil mengusap kupingnya yang memerah.


Namun, gumaman Arya masih bisa di dengar oleh sang Umi.


“Apa? Tadi kamu bilang apa coba ulangi sekali lagi, Umi kurang jelas mendengarnya?” ucap Umi yang pura-pura tidak mendengar perkataan Arya.


“Hehe... e-enggk kok. Umi cantik deh... bahkan Umi awet muda seperti kembang desa” rayu Arya dengan wajah genitnya.


“Ya jelas dong, kan Umi memang cantik. Makannya Abah mau sama Umi ya kan, Bah” tanya Umi sambil menatap Abah.


“Tidak, bukannya dulu yang mengejar Abah itu Umi duluan ya” jawab Abah dengan wajah tak berdosa yang membuat Umi melototkan matanya dengan perasaan terkejut.


Sedangkan Qisya dan Arya hanya bisa menahan tawanya, beberapa detik kemudian mereka tidak bisa menahan tawanya.


“Prftt... bhahahaaa...” tawa Arya pecah bersamaan dengan Qisya.


“Yak... Abah kenapa bongkar rahasia sih, tinggal bilang iya saja susah banget. Lihat tuh mereka menertawai Umi kan jadinya tau arghh...” ucap Umi dengan kesal sambil pergi ke kamar mandi.


“Qisya... sini deh” ucap Arya dengan melambaikan tangannya untuk membuat Qisya mendekati Arya.


Kemudian Qisya berdiri berjalan mendekati Arya sambil mendongak menatap Arya.


“Kenapa, Om?” tanya Qisya dengan wajah bingungnya.


Arya langsung membungkukkan badannya sambil berbisik “Kita main di depan yuk, sambil nunggu Bunda sama Ayah pulang. Biar Mbah Kung ngerayu Mbah Uti dulu supaya enggak ngambek lagi. Oke...”


“Oke... siap Om, biar Mbah Kung sama Mbah Uti bisa beduaan ya hihi...” ucap Qisya sambil cengengesan.


“Yakk... Dasar anak kecil sok tua” saut Arya sambil menoel hidung Qisya.


“Kalian sedang bisik-bisik apa?” tanya Abah dengan wajah bingungnya.

__ADS_1


“Hehe... Enggak kok, kita mau main ke depan dulu ya Abah, ayo Qisya...” ucap Arya sambil menggendeng tangan Qisya.


“Ayo Om, kita tunggu Bunda sama Ayah pulang” jawab Qisya sambil memegang tangan Arya.


Dan mereka pun berjalan keluar kamar sambil bilang “Semangat Mbah Kung buat ngerayu Mbah Uti biar tidak marah lagi haha...” ucap Arya dan Qisya bersamaan sambil tertawa puas kemudian mereka berlari keluar kamar sambil menutup pintunya.


“Ya ampun, mereka ini benar-benar membuat aku malu saja”


“Astaghfirullah, aku lupa Umi kan sedang ngambek aduh... bagaimana ya untuk membujuknya” ucap Abah dengan wajah bingungnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Ceklek ! ...


Pintu kamar mandi pun terbuka dan keluarlah sang Umi dengan wajah yang ditekuk.


“Hehe... Umi sayang” ucap Abah sambil malu-malu dan menggaruk kepalanya.


“Kenapa? Abah kutuan?” tanya Umi dengan nada ketusnya.


“Tidak kok. Hoya... Abah mau minta maaf sama Umi. Sini dong duduk di samping Abah” ucap Abah sambil tersenyum serta menepuk-nepukkan sofa sebelahnya.


“Umi maafin Abah ya... Abah sudah membuat Umi menjadi kesal seperti ini. Abah tidak bermaksud untuk membuat Umi malu kok, kan Abah sayang sama Umi. Mau Umi ngejar-ngejar Abah ataupun tidak juga Abah akan tetap memilih Umi. Karena Umilah wanita satu-satunya yang telah menjadi cinta pertama dan terakhir untuk Abah”


Abah mencoba memegang tangan Umi yang bersedekap di dada dengan perlahan, kemudian ia langsung menggenggamnya dengan lembut.


Umi yang merasakan kelembutan tersebut pun menjadi luluh dan senyum-senyum sendiri saat mendengar ucapan Abah yang begitu romantis di telinganya.


“Umi tahu tidak... Sebelum Abah kenal sama Umi dulu Abah tidak pernah merasakan apa itu jatuh cinta dan seperti apa sih rasanya jatuh cinta. Semenjak Abah pertama kali melihat Umi hati Abah langsung bergetar kencang sampai-sampai Abah kira ini adalah penyakit jantung, tapi taunya ini adalah cinta"


"Maka dari itu Abah mencoba mencari tahu semua tentang Umi diam-diam. Hanya saja, abah bersikap cuek kepada Umi untuk memastikan dan mengetes Umi jika memang Umi wanita yang baik, maka Umi akan menerima Abah apa adanya. Meski sikap Abah cuek tapi Umi tetap tidak gentar untuk mendekati Abah, itulah yang Abah suka dari Umi” ucap Abah sambil menatap wajah Umi yang semakin memerah.


“Abah ishh... bisa saja. Umi jadi malu deh hehe... Kan kesannya waktu itu Umi yang ngebet banget untuk mau jadi kekasih Abah. Tapi Abah selalu bersikap jual mahal, bahkan Abah bilang jika Umi mau sama Abah maka Umi harus memantapkan hati Umi untuk Abah, serta menunggu Abah lulus sekolah dan sampai bekerja nanti Umi tidak boleh membelokkan hati Umi. Dari situ Umi berusaha menahan perasaan Umi dari Abah, ya meskipun kadang kesal gitu enggak pernah dapat kabar dari Abah"

__ADS_1


"Hampir berapa tahun Umi menunggu Abah kerja merantau sampai akhirnya Abah pulang dan langsung melamar Umi. Di situ rasanya benar-benar bahagia banget tau, Bah. Umi merasa sangat lega karena penantian Umi tidak sia-sia dan akhirnya kita bisa bersama seperti ini"


"Terima kasih ya, Bah. Abah sudah mau menjadi imam yang baik untuk Umi dan anak-anak. Walaupun hidup kita serba berkecukupan tapi Abah tidak pernah lelah untuk terus bekerja siang malam mencari nafkah, sehingga anak kita yang satunya telah berhasil mengangkat derajat kita. Tinggal Arya yang sedang merintis kariernya. Kita doakan saja semoga anak-anak kita bisa menjadi orang yang sukses dan menjadi kebanggaan keluarga, amin yarab... Umi juga minta maaf ya, Bah. Sudah ngambek-ngambek enggak jelas sama Abah hehe...”


Umi yang tadinya kesal dengan Abah, kini kembali tersenyum. Berkat Abah yang mengingatkan kenangan mereka dulu, membuat Umi merasakan terharu bahagia. Meskipun sudah bertahun-tahun tetapi Abah masih ingat sedetail itu.


Bahkan Umi sendiri saja sedikit lupa dengan semua kisah percintaannya mereka. Tetapi Abah begitu ingat dan selalu mengingatkan Umi akan kenangan indah mereka jika mereka sedang sedikit ada problem.


“Aamiin yarab... Abah juga mau bilang banyak-banyak terima kasih kepada Umi yang sudah setia mendampingi Abah meskipun keadaan kita susah, tetapi Umi tidak meninggalkan Abah. Bahkan Umi selalu menguatkan Abah untuk lebih semangat lagi mencari nafkah demi anak-anak"


"Abah tidak salah pilih karena Umi benar-benar bidadari surga Abah kelak. Semoga suatu saat nanti kita bisa di persatukan di jannahnya Allah ya, Mi..” saut Abah sambil tersenyum.


“Aamiin, Bah. Abah sehat-sehat ya kan bentar lagi kita akan mendapatkan cucu kembar, dan Arya juga sebentar lagi akan menemukan pendamping hidupnya. Jadi kita harus tetap sehat sampai kita bisa melihat cucu-cucu kita tumbuh dewasa” ucap Umi sambil menyender di pundak Abah.


“Doakan saja, Mi. Abah sayang sama Umi, jangan pernah tinggalin Abah ya Mi, cukup maut yang memisahkan kita nanti. Abah tidak tahu bagaimana nasib Abah jika tidak ada Umi di sisi Abah, bisa-bisa Abah menjadi pasien di rumah sakit jiwa nanti hehe...” saut Abah sambi tertawa.


“Husss... Abah ini ngomong apa toh. Umi tidak akan meninggalkan Abah sampai kapan pun. Kalau nanti Umi meninggal juga Umi mau minta dispensasi sama Allah untuk kembali bersama Abah di surga hehe...” ucap Umi.


“Eleh... eleh... dasar istriku benar-benar tidak mau kalah ya heum...” ucap Abah sambil memencet hidung Umi dan mencium keningnya.


Dan akhirnya mereka pun berpelukan dengan sangat hangat, sehingga tidak terasa bahwa saat ini mereka sedang melakukan hubungan suami istri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hello guys... Sampai sini dulu ya bab untuk hari ini 😁😁😁


Author sangat berterima kasih karena selalu mendukung Author 🥺🥺🥺


Semoga Author bisa memberikan cerita yang lebih menarik untuk kalian 🤗🤗🤗


Jaga diri kalian dan teruslah tersenyum karena senyum adalah Ibadah 😁😁😁

__ADS_1


Sampai jumpa lagi dan Salam sayang dari Author semuanya... 😆😆😆


Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻


__ADS_2