
“Astagaaa... kalau itu anak bisa di tukar tambah, udah gua tukar tambah dahh...” gumam kecil Pinjai sambil minum, yang kini malah mendapatkan tatapan tajam dari istrinya hingga membuat Pinjai pun tersendat.
“Bilang apa tadi heemm...” ucap Manda dengan mata tajamnya, yang berhasil membuat Pinjai cengengesan dengan sedikit ketakutan.
“Eh... hehe... maaf sayang, keceplosan” sahut Pinjai.
“Sudahlah, hilangkan saja itu jatahnya... biar tahu rasa tuh dia. Punya suami tuh begitu jangan terlalu di manja, takutnya nanti ia malah ngelunjak kan bahaya tuh hahahaa...” celetuk Joko yang membuat Pinjai pun melototkan matanya serta dia melemparkan garpunya yang hampir aja mengenai wajah tampannya Joko jika ia tidak segera menghindar.
“Terus saja kau nyalakan itu kompor biar meledak sekalian...” sahut Pinjai dengan tatapan membunuh, namun Joko hanya bisa tertawa geli melihat adiknya yang ternyata sangat takut jika jatah bulanan dari istrinya itu terpotong begitu saja.
“Kompor? Siapa yang menyalakannya? Perasaan aku sudah matikannya deh...” Manda kembali mengingat dimana dia sudah mematikan kompor saat semua sudah tersaji rapi di atas meja makan.
Tapi saat Pinjai mengatakan seperti itu, malah membuat Manda menjadi ragu dan langsung berdiri dengan keadaan panik.
“Astagaaa... apa jangan-jangan aku lupa ya? huuaaa... bisa-bisa dapurku hangus tak tersisa di makan si jago merah ini...”
Manda pun berlari ke arah dapur dengan tergesa-gesa yang malahan membuat Joko tertawa terpingkal-pingkal. Begitu juga dengan Alex yang sudah tertawa melihat tingkah Manda yang hampir mirip dengan Sasya.
Ya meskipun Manda itu tidak terlalu cerewet, tetapi jika di satukan dengan Sasya kemungkinan rumah sebesar itu akan semakin ramai. Belum lagi jika di tambah dengan anak-anak mereka yang terkadang berebut, berantem dan juga menangis pasti rasanya akan jauh lebih menyenangkan. Seketika Alex langsung membayangkan kalau...
Di dalam kamar (bayangan Alex)
“Astaga Kakak... ya ampun... itu adikmu kamu apakan itu kak...” pekik Sasya saat melihat kedua anaknya sedang bermain di bawah.
“Hehehe... habisnya Dedek bikin gemas Mom, jadi ya sudah Kakak kasih aja dia bedak biar cantik. Tadaaaahh... hihihi...” jawab sang Kakak dengan wajah yang begitu bahagia.
“Huuuaaua... Dadddyyyy... lihat anakmu, sekarang sudah bisa membuat adiknya seperti adonan moci...” Sasya berteriak saat melihat anaknya yang paling kecil hanya terdiam anteng banget sambil dia memainkan mainannya dalam keadaan wajah yang sudah terbalut penuh oleh bedak dimana-mana.
Alex yang baru keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk sebatas pinggang serta lutut dan juga kepalanya yang masih terdapat busa begitu banyak sehingga membuat Sasya pun menoleh ke arah Alex dengan wajah yang sangat frustrasi.
“Ya ampun, sayang... lihatlah dirimu itu, hahh!! Apa kamu mau belajar jadi orang gila, tubuh masih penuh dengan sabun begitu bisa-bisanya langsung keluar...” ucap Sasya yang sudah penuh emosi.
__ADS_1
Sedangkan sang Kakak dan Adik malah tertawa dengan gemasnya saat melihat Daddy mereka yang cengengesan hanya karena kena omel Mommy mereka yang galak. Bahkan Daddy mereka yang biasa terlihat tegas dan juga gagah, seketika menjadi lemas jika berhadapan dengan Mommy mereka.
“Hahaha... Daddy itu suami-suami takut istri, sama kaya Uncle Pinjai sama Uncle Joko hahahaa...” ucap sang Kakak yang tertawa begitu puas.
“Hehehe... ma-maaf Mommy, ta-tadi kan Mommy yang manggil Daddy jadi Daddy langsung cepat-cepat aja deh keluar dari pada Mommy marah kan...” jawab Alex dengan wajah sedikit takut.
“Kalau begini terus, setiap hari yang ada aku bisa langsung setruk di rumah sakit dengan berita jika seorang dokter cantik yang baru menikah mengalami gejala setruk lantaran mendapatkan anak dan juga suami yang begitu menyebalkan...” cerocos Sasya dengan wajah kesalnya.
“Mommy kan dokter, masa iya Mommy sakit sih? Bukannya tugasnya dokter itu nyembuhin pasien, jadi Mommy enggak bakalan sakit dong?” ucap sang Kakak menatap Mommynya dengan tatapan aneh.
“Ka-kalau urusan ini mah Daddy enggak ikutan ya Mom, Daddy mau mandi dulu daaahhh... hahaha...” Alex pergi dengan keadaan terburu-buru dan meninggalkan Sasya dengan wajah yang benar-benar berasa ingin hilang dari dunia ini.
Sasya pun tersenyum dengan keadaan terpaksa sambil menatap sang Kakak, lalu Sasya duduk di sebelahnya sambil membersihkan wajah anak termudanya akibat ulah sang Kakak.
“Kakak sayang... dengarkan Mommy ya. Meskipun Mommy itu seorang dokter, tapi Mommy juga adalah manusia sama seperti semuanya. Bahkan sama kayak Kakak, Adik, dan Daddy yang terkadang bisa merasakan sakit”
“Namum Mommy selalu menanamkan kepada diri Mommy sendiri untuk selalu sehat agar Mommy bisa merawat kalian semua saat sakit. Jadi kalian tidak perlu repot-repot pergi ke rumah sakit jikalau tidak terlalu darurat sayang. Apa Kakak sudah paham?”
“Ohh begitu Mommy... berarti kalau kita sakit yang merawat kami itu Mommy? Enak dong ya, jadi enggak keluar biaya kan gratis hehehe... tapi kalau Mommy yang sakit, kita harus bayar rumah sakit dong?” celetuk sang Kakak yang malah membuat Sasya pun tertawa sambil dia menggendong serta menyusui anaknya yang kecil.
“Hehe... enggak gitu juga sayang, lagian juga mau sebanyak apa pun uang yang kita miliki maka itu semua tak akan bisa menjamin kita akan selalu sehat sayang karena sehat adalah hal yang terpenting. Tak ada satu orang pun di dunia ini yang mau merasak sakit, begitu juga dengan Kakak"
"Kalau Kakak jatuh sakit, pastinya Kakak merasakan bagaimana tak enaknya jika kita sedang sakit. Jadi itulah hal penting kenapa kita semuanya harus menjaga tubuh kita supaya selalu sehat...” Sasya berbicara dengan lembut yang membuat sang Kakak mengerti.
Lalu tiba-tiba Alex datang dan langsung menimbrung di sana bersama mereka yang membuat Sasya dan sang Kakak menatapnya dengan tatapan aneh.
“Huuhh... pengganggu datang, Mom...” celetuk sang Kakak dengan wajahnya yang sebal.
“Huuaaa... enak saja kamu ya, gini-gini aku ini Daddymu tahu!” sahut Alex yang sudah kesal.
Kemudian sang Adik yang tadinya ingin tertidur jadi tidak jadi, dan dia kembali bangun serta duduk. Lalu sang adik pun merangka perlahan mendekati Alex dan memintanya untuk menggendongnya.
__ADS_1
“Uluhh... uluh... anak Daddy yang cantik, lucu dan imut muuaachh...” ucap Alex sambil mengangkat anak termudanya di depan wajahnya.
Alex langsung membuat anak termuda mereka senang dan ia tertawa geli saat Alex menciuminya. Sedangkan Sasya, ia memeluk anak tertua mereka sambil dia melihat ke arah anak termuda mereka yang malah membuat mereka pun ikut tertawa kecil.
“Muuach... Mommy sayang sama kalian semua...” ujar Sasya sambil ia mencium pucuk kepala anak tertua mereka yang membuat anak tertua mereka langsung mendongak lalu dia tersenyum menatap Sasya.
“Kakak juga sayang deh sama Mommy, Dedek dan juga Daddy... muuaacchhh...” jawab sang Kakak sambil mencium pipi Sasya yang kini malah membuat Alex menjadi iri.
“Ohh jadi Daddy sama Dedek enggak di cium juga nih hem...” sahut Alex sambil memangku anak termuda mereka.
Sasya dan sang Kakak lalu melirik satu sama lain dan lalu menghitung dari satu sampai tiga. Kemudian mereka berdua langsung memeluk Alex dan sang Adik dan menciumi mereka sampai membuat Alex pun terjatuh sambil memeluk anak termuda mereka.
Hingga akhirnya mereka terlihat begitu bahagia. Yaa meskipun ada perdebatan di antara keluarga kecil Alex, tapi semua itu tidak akan merubah apa pun jikalau mereka terlihat begitu bahagianya
Dunia bayangan Alex pun Berakhir...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hel... to the Lo... Hello guys... 😄😄😄
Kembali lagi dengan Author kalian yang banyak kekurangan ini... ☺️☺️😊
Kalian tahu gak Author baru bikin Group Chat loh dan masih sepi nih 🥳🥳🥳
Jika kalian ingin join ke Group langsung saja ke beranda Author ya... 😎😎😎
Nama Group Chatnya itu adalah "Kang Salto Barbar" kayak Author 🤣🤣🤣
Silahkan join aja guys, gak akan di apa-apain kok tenang aja ya... 🤭🤭🤭
Jaga diri kalian dan sampai jumpa di bab selanjutnya semuanya... 🤗🤗🤗
__ADS_1
Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻