Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
Semua Demi Kebahagian Qisya


__ADS_3

3 hari telah berlalu


Qisya sudah di bolehkan pulang ke rumah oleh sang dokter, bahkan semua keluarga Brian dan Hana sudah mengetahui kejadian beberapa hari lalu, yang menyakatan bahwa Qisya sempat di nyatakan meninggal dunia dan pada akhirnya Qisya telah kembali.


...****************...


Di rumah keluarga Brian


Keluarga Hana pun sudah ada di sana karena ingin melihat ke adaan Qisya, sekalian membahas tentang pernikahan Brian dan Hana.


"Alhmdulillah, cucu Mbah Kung sudah sehat nih" ucap Abah sambil memangku Qisya dan sesekali menciumnya.


"Hehe.. ya dong, kan Isa anak kuat Mbah Kung, jadi Isa ndak boleh lemah" ucap Qisya yang sudah hampir berhasil berbicara dengan baik.


"Wah.. ponakan om semakin ke sini semakin pandai ya,.bahkan berbicara pun sudah mulai membaik" saut Arya sambil menatap Qisya dengan bangga.


"Halus dong om, kan Isa sudah gede. Nanti kan Isa mau punya dede hehe.." Qisya tertawa tanpa menyadari omongannya yang polos membuat Brian dan Hana melototkan matanya.


"Haha.. ya benar, nanti Qisya minta sama ayah bunda buat kasih Qisya dede yang banyak ya" ucap Nyonya Syifa sambil menggoda Brian.


"Wah.. rumah kita akan semakin rame dong jika banyak suara anak-anak kecil yang main di dalam rumah" saut Tuan Ferry sambil menunjukkan muka bahagianya.


"Aamiin ya Allah, semoga saja Brian sama Hana di lancarkan segala urusannya menjelang pernikahan besok. Dan semoga mereka segera memiliki momongan" jawab Umi sambil mendoakan Brian dan Hana yang di aminkan oleh semua orang.


Kini mereka semua sedang asyik bermain bersama Qisya dengan segala kelucuannya yang membuat mereka semua tertawa, bahkan Arya dan Qisya adalah teman ribut yang sangat lucu.


Sampai akhirnya Brian pamit kepada semuanya untuk mengajak Hana ke taman belakang rumah, awalnya Qisya ingin ikut tetapi semua nya tahu jika mereka butuh waktu berdua.


Jadi semua berusaha membujuk Qisya agar mau menemani mereka di sini tanpa mengikuti Brian dan Hana.


*


*


*


*


Brian dan Hana berjalan menuju taman belakang rumah dan duduk di sebuah ayunan.

__ADS_1


"Ada apa mas, kenapa membawaku ke sini?" ucap Hana sambil menatap Brian.


"Ada yang ingin aku sampaikan, karena ini menyangkut pernikahan kita" Brian berusaha mengucapkan kata-katanya dengan perlahan.


"Aku sudah tahu konsekuensinya menikah denganmu,mas. Aku juga sudah tahu jika masih ada nama mendiang istrimu di sana dan tak akan pernah tergantikan oleh siapapun termasuk aku" Hana mengucapkan semuanya sebelum Brian menjelaskan lebih dulu.


Karena Hana tahu, Brian mengajak Hana ke sini ingin mengobrol tentang perasaannya yang masih menyangkut kepada Sandra mendinga istri Brian.


"Ma-maaf Hana, aku akan mencoba untuk membuatmu bahagia bersama Qisya. Tapi aku tidak berjanji akan semudah itu melupakan mendiang istriku. Apa kamu mau membantuku untuk melupakan dia?" tanya Brian sambil memegang tangan Hana.


"Aku hanya bisa berusaha untuk menjadi istri dan ibu yang baik untuk kalian, masalah melupakan itu hak mu mas. Karena jika aku berusaha membantumu, tetapi hatimu berusaha keras menutupnya maka aku tidak bisa berbuat apa-apa" jawab Hana dengan perasaan yang sangat tenang dengan senyuman yang terukir manis namun menyayat hati.


"Sandra dan kamu adalah sama-sama wanita hebat yang bisa membuatku luluh dengan sikap dingin ini, tapi entah kenapa di saat aku melihatmu seperti aku melihat Sandra. Bahkan sifatmu dan Sandra benar-benar sangat mirip, apa lagi senyuman itu yang jelas saja menandakan bahwa kamu memang seperti Sandra yang selama ini telah meninggalkanku"


Brian berbicara tanpa henti dengan semua perasaannya yang malah membuat hati Hana merasakan goresan-goresan kecil yang begitu menyayat hatinya.


"Mas Brian, maaf jika Hana lancang. Bisakah mas Brian tidak menyamaratakan Hana dengan mendiang istri, mas? Hana adalah Hana dan Sandra adalah Sandra. Kami 2 wanita yang sangat berbeda. Jikalaupun sifat kami sama, tetapi pasti ada yang membedakan kami berdua"


Hana berbicara dengan menahan sesuatu yang ingin memberontak keluar, namun naas air mata perlahan luruh dan jatuh di pipi chubby Hana.


"Maaf sudah membuatmu menangis, tapi aku janji akan membahagiakanmu dan Qisya. Serta aku akan berusaha menempatkan kamu di dalam hatiku"


Brian mengusap air mata Hana dengan perasaan bersalah karena sudah membuat ia menangis karena kata-katanya yang begitu sakit.


Hanya berbicara dengan senyuman sambil melepas tangannya dari genggaman Brian yang membuat Brian terkejut.


"Apa kamu marah jika aku masih mengingat masa laluku?" tanya Brian dengan wajah bingungnya.


"Aku tidak akan marah mas, semua berhak punya masa lalu. Tetapi caramu yang salah. Kamu sekuat hati mempertahankan masa lalumu sampai kamu lupa akan masa depanmu sendiri"


"Sudah mas, tidak usah di bahas lagi. Mas cukup menganggap aku sebagai ibu sambung Qisya itu sudah jauh lebih baik. Karena aku lakukan semua ini untuk kebahagiaan Qisya, bukan untuk mencari tempat di hatimu"


Hana menghapus semua air matanya, kemudian berdiri membalikkan tubuhnya lalu tanpa sengaja Qisya memeluk kaki Hana.


"Bunddaaa.." Qisya memeluk kaki Hana dengan sangat erat yang menandakan bahwa Qisya tidak mau kehilangan sosok ibu seperti Hana.


Hana melepas tangan Qisya dan berjongkok lalu berkata "Loh Qisya kenapa ada di sini hem, apa Qisya lapar?"


"Hehe.. iya bunda Isa mau di suapin ya makannya, boleh kan" Qisya menunjukkan muka sedihnya agar Hana merasa kasihan padanya.

__ADS_1


"Hem.. gimana ya, boleh tidak ya?" Hana berusaha menggoda Qisya sambil menunjukkan wajah yang sedang berfikir.


"Muuaachh.." Qisya dengan mudahnya mencium pipi Hana dengan senyuman kudanya.


"Nah.. kalau begini kan bunda senang, mari kita makan, apa ya namanya let let apa sih" tanya Hana sambil berdiri dan menggandeng tangan Qisya.


"Le's Goo, bunda haha.." jawab Qisya sambil tertawa bahagia dan menggandeng tangan Hana lalu mereka berdua pergi meninggalkan Brian yang terdiam mematung.


"Mereka terlihat sangat bahagia, apakah aku terlalu jahat kepada Hana? Apa aku salah masih mengingat Sandra? Dia adalah cinta pertamaku, bagaimana aku bisa melupakannya begitu saja? Sudahlah.. lihat saja nanti, yang terpenting saat ini adalah kebahagiaan Qisya" ucap Brian di dalam hati kecilnya.


Brian berjalan memasuki rumah dan mengikuti Hana serta Qisya dari belakang sambil menatap Qisya yang begitu bahagia di gandeng dengan Hana sampai membuat ia melompat-lompat.


...****************...


Untuk para pembaca setia novel ini, diharapkan menghadiri undangan pernikahan Brian dan Hana


Yang di selenggarakan besok, jangan lupa ya 🙏😂😂


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai para leaders 🤗


Perkenalkan ini adalah karya novel ke-2 aku loh 🤩


Semoga kalian menyukainya ya 🤝


Dukung othor terus dengan cara berikut :


Like 👍


Komen 📨


Favorite ❤️


Rate 🌟


Dan tidak lupa selipkan hadiahnya ya 😍🙏


Bunga, kopi atau sebagainya pun tak apa kok, malah lebih bagus lagi pundi-pundi receh yang berterbangan di karyaku ini hihi 😆😜

__ADS_1


Terimakasih 🙏🙏


Papay 🤗🤗


__ADS_2