Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
Keterkejutan Alex


__ADS_3

Semua menoleh ke arah tangga, dimana muka pria itu terlihat sangat datar. Tetapi Alex tetap tersenyum menatapnya berharap bahwa bisa sedikit menurunkan egonya. Siapa lagi jika bukan Lukas, adik kembar Sasya yang memang tidak menyukai kehadiran Alex sejak dulu.


Lukas duduk di salah satu kursi tunggal menatap kedua orang tuanya dan berkata. "Bunda sama Ayah ngapain membiarkan dia sampai masuk ke rumah kita? Apa kalian lupa apa yang sudah dia lakukan pada keluarga kita!"


"Sabar, Dek. Sabar, kita dengarin dulu penjelasan dari Alex agar kita tidak salah paham dengannya. Kamu ingat kan dia melakukan kesalahan karena salah paham, jadi kita tidak boleh sampai melakukan hal yang sama" ucap Sasya menatap Alex.


"Lukas enggak bicara dengan Kakak! Jadi, biarkan Bunda sama Ayah yang menjawab semuanya! Atau jangan bilang kalau kalian sudah mulai kehasut oleh dia, karena tampangnya yang polos ini!" sahut Lukas.


"Lukas, stop berbicara tidak sopan seperti itu! Kamu boleh marah, tapi jangan sampai kamu malah menghinanya atau pun berkata tidak baik padanya!" jawab Ayah Brian.


Alex melihat keadaan sedikit menegang, membuat dia merasa tidak enak dan langsung menengahi semuanya.


"Maaf semuanya, niatan saya ke sini hanya ingin bersilaturahmi untuk meminta maaf kepada kalian atas semua kesalahan saya di masa lampau. Saya tahu saya sudah banyak membuat luka di dalam keluarga kalian, tapi saya mohon maafkan saya" ucap Alex dengan sangat tulus.


"Yakin ke sini hanya untuk bersilaturahmi meminta maaf, atau ada yang lain!" sahut Ayah Brian yang membuat Sasya melototkan matanya menatap Alex agar tidak mengatakannya.


Cuman bagi Alex ini malah kesempatan buatnya agar bisa segera tutup poin dengan tujuan awalnya yaitu bersilaturahmi serta meminta izin untuk menikahi Sasya.


Lagi dan lagi Sasya terus mengode Alex dengan kedua matanya, tetapi Alex hanya tersenyum kacil sambil mengedipkan kedua matanya secara perlahan.


"Ay-...." ucapan Lukas terhenti ketika Ayah Brian menatapnya dengan sangat tajam agar Lukas tidak lagi mencela pembicaraan orang dewasa.


"Masuk kamarmu, SEKARANG!" titah Ayah Brian dengan keras, Lukas hanya bisa menatapnya dengan kesal dan segera kembali ke kamarnya.


"ASAL KALIAN TAHU YA, SAMPAI KAPAN PUN LUKAS TIDAK SETUJU JIKA KAKAK MENIKAH DENGAN DIA. SEORANG PRIA KEJAM YANG INGIN MEMBUNUH KAKEK IRAM DAN JUGA NENEK MONA!"


Lukas berteriak sambil melangkahkan kakinya menaiki tangga. Kemudian menutup keras pintu kamarnya, sedangkan yang lain mendengar ucapan Lukas malah menjadi terdiam tak percaya.


Dari mana Lukas tahu tentang itu semua? Bahkan Alex sendiri pun terkejut bukan main ketika mendengar 2 mana yang selama ini dia cari tidak pernah berhasil ditemukan.


Bunda Hana dan Ayah Brian langsung menatap Alex dengan tatapan bingung. Seolah-olah mereka meminta jawaban dari Alex atas apa yang di ucapkan oleh Lukas.

__ADS_1


"Jelaskan padaku ada apa sebenarnya ini TUAN ALEX! Dan kenapa anakku bisa sampai berkata seperti itu! Sebenarnya apa yang sudah terjadi sehingga kau ingin membunuh mereka? KATAKAN!"


Emosi Ayah Brian mulai tidak terkontrol, Bunda Hana dan Sasya harus lebih ekstraagi mencoba membuat Ayah Brian supaya bisa sedikit mereda.


"Tenang, Ayah tenang. Sasya tidak mau sampai Ayah jatuh sakit, ingat umur Ayah semakin bertambah jadi Ayah harus bisa menjaga kondisi kesehatan. Lebih baik kita bicarakan pelan-pelan ya, biar Sasya panggil Lukas agar semuanya jelas"


Sasya bangkit dari kursinya lalu berjalan ke arah kamar Lukas, Bunda Hana selalu mengelus punggung tangan Ayah Brian sambil tersenyum.


Berbeda dengan Alex, dia terdiam penuh kebingungan. Awalnya dia sudah melupakan semuanya, tetapi berkat ucapan Lukas kembali mengingat di saat-saat rasa pengkhianatan itu muncul terbayang didala ingatannya.


Kesal, marah dan juga emosi seketika melanda di dalam diri Alex. Mungkin dia sudah berubah, tetapi Alex belum bisa sepenuhnya melepaskan rasa sakit karena kepercayaannya sudah dikhianati oleh seseorang yang mengemis meminta tolong padanya namun malah mengkhianatinya.


Tak lama Lukas datang bersama Sasya atas bujukannya, Sasya tidak mau jika ada masalah yang akan membuat mereka kembali menjadi salah paham pada Alex.


"Duduk!" titah Ayah Brian membuat Lukas duduk dengan malas.


"Jelaskan pada kami apa maksud dari ucapanmu tadi!" sambung Ayah Brian, Lukas melirik tajam ke arah Alex yang saat ini berusaha kerasa menahan emosinya.


Sasya melihat Alex pun menjadi sangat khawatir jika dia akan kembali seperti dulu, Sasya tidak mau semua perjuangan Alex selama ini sia-sia, jadi mau tidak mau Sasya memberikan minum pada Alex dengan kode tertentu.


Lukas menjelaskan perlahan tentang kejadian waktu itu ketika dia bertemu dengan Kakek Iram untuk pertama kalinya.


Dari situ Alex tahu jika seseorang yang berada di balik hilangnya Kakek Iram adalah Lukas. Anak kecil yang sangat pintar dalam menyembunyikan identitas seseorang.


Tapi, sayangnya. Lukas salah dalam menolong seseorang karena sebenarnya yang bersalah adalah Kakek Iram bukanlah Alex.


"Baik, saya paham apa yang di ucapkan Lukas. Tapi maaf, di sini ada kesalah pahaman antara aku dan Lukas. Jadi bolehkah besok pertemukan saya dengan mereka?" ucap Alex yang langsung di bantah oleh Lukas.


"Tidak! Aku tidak akan mempertemukan mereka dengan penjahat sepertimu. Nyawa mereka jauh lebih berharga dari pada nyawamu!" tegas Lukas.


"Lukas!! Stop berbicara seperti itu, apa yang di katakan Tuan Alex memang benar. Kita harus mempertemukan kedua pihak yang bersangkutan agar mereka bisa menyelesaikan masalahnya!"

__ADS_1


"Kamu tenang saja, kita akan selalu ada di samping mereka. Kamu tidak usah khawatir dengan keselamatan mereka, apa lagi Tuan Alex sudah berubah menjadi mualaf. Jadi tidak mungkin kalau dia kembali melakukan kesalahan untuk kesekian kalinya. Paham kamu!"


Bunda Hana yang sedari tadi terdiam langsung berbicara penuh ketegasan membuat Lukas menundukkan kepalanya.


Lukas memang tidak takut dengan Ayah Brian, karena dia sudah sering melihatnya. Namun berbeda dengan Bunda Hana, sehingga Lukas tidak pernah berani untuk menatap matanya ketika sedang marah.


"Apa yang dikatakan Bundamu benar. Kamu tidak usah mengkhawatirkan mereka, kita akan selalu menemani mereka"


*Dan satu lagi, pertemuan itu akan di adakan di rumah ini. Jangan sampai ada yang membocorkan pada mereka tentang pertemuan in paham kamu Lukas!"


"Lalu untukmu Tuan Alex, pulanglah. Kumpulkan bukti-bukti yang ada agar bisa membuktikan jika kau tidak melakukan kesalahab. Kemudian segera kabarkan jika semua bukti sudah lengkap, jadi aku bisa menentukan jadwal yang pas untuk pertemuan kalian"


Alex mengangguk dan sedikit tersenyum, lalu dia langsung bergeges berpamitan pergi pada semuanya. Tak lupa Sasya mengejar Alex mencoba berusaha mendinginkan hati yang masih panas.


Sasya percaya jika di sini Lukas hanya salah paham terhadap Alex, karena dia cuman bisa mendengarkan cerita dari 1 pihak. Namanya juga anak baru dewasa jadi mungkin emosinya masih belum stabil.


Alex sangat beruntung ketika di saat-saat seperti ini Sasya masih mempercayainya tanpa bertanya atau pun kembali mengungkit masa lalunya.


Seketika Alex memasuki mobilnya sambil tersenyum menatap Sasya dari kaca mobil yang baru terbuka. Sasya pun tersenyum ke arahnya.


Kemudian Alex menyalakan mesin mobil dan melajukannya secara mundur meninggalkan pekarangan rumah Sasya bersamaan dengan lambaian tangan Sasya.


Berkat Sasya, Alex merasa bisa lebih tenang. Kali ini dia benar-benar bersungguh-sungguh untuk tidak lagi mengecewakan orang yang di cintainya untuk kesekian kalinya.


Dari sini Alex paham bahwa untuk menjadi orang baik itu tidak mudah, satu persatu semua keburukan yang di tutupi mulai terungkap.


Jadi Alex hanya perlu mengumpulkan semua bukti yang ada, agar bisa kembali menarik kepercayaan keluarga Sasya.


Selepas perginya Alex, Sasya kembali ke adalam rumahnya dengan sedikit tersenyum. Sedangkan Lukas dia masih di ceramahi oleh ke dua orang tuanya agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.


Sebenarnya Lukas juga penasaran apa masalah dibaliknya kisah Kakek Iram, cuman ya sudahlah Lukas hanya perlu menunggu sedikit lagi agar bisa mengetahui alasan dibalik semua kejadia itu.

__ADS_1


Padahal beberapa kali Lukas mencoba untuk membuat Kakek Iram agar memberitahu alasan di balik semua ini, tetapi tetap saja Kakek Iram akan selalu berusaha mengalihkannya.


Namun, Di saat tegang seperti ini malah ada seseorang yang sedang tertawa di sebuah taman dengan rasa bahagianya. Entahlah, senyuman dan tawa itu berhasil menarik perhatian seseorang yang ada di sampingnya.


__ADS_2