Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
Dasar Cengeng!!!


__ADS_3

Sampai seketika Alex melirik Pinjai saat komplotan Gank perampok tersebut ingin memeriksa tubuh, dengan secepat kilat Alex sama Pinjai berhasil terlepas dari genggaman Genk perampok dengan melumpuhkan 4 orang perampok yang kini tergeletak di jalan.


"Hanya segitu saja kemampuan anak buahmu, hahh?" Ujar Alex dengan tatapan remeh, namun terkesan sangat menyeramkan.


"Apa pria selemah ini yang pantas kau jadikan anak buah? Atau jangan-jangan kau juga lemah seperti mereka?" Ucap Pinjai dengan nada mengejek.


Ketua komplotan perampok pun mulai terpancing emosi hingga kini semuanya pun langsung menyerang Alex dan juga Pinjai membabi buta.


Bugghhh..


Duaakkk..


Bugghhh..


Doorrr..


Doorr..


Alex dan Pinjai yang mulai sedikit kelelahan saat menghadapi hampir 20 orang anak buah dari komplotan perampok langsung mengeluarkan senjatanya dan menembaknya beberapa kali, hingga sangat nyaring bunyi tembakan di jalan yang begitu sepi.


Sampai seketika ketua komplotan perampok tersebut mulai panik, gelisah dan juga gugup saat melihat satu persatu anak buahnya tersungkur tak berdaya membuat dirinya mulai kalang kabut.


Lalu ketua komplotan tersebut mencari celah dimana dia harus melumpuhkan salah satu antara Alex atau Pinjai, supaya semua anak buahnya tidak sampai mati di tangan mereka.


Dannn..


Doooorrr...


Doooorrr...

__ADS_1


Pinjai terjatuh di aspal dalam keadaan dada samping sebelah kiri terkena tembakkan, namun bersamaan dengan itu ketua komplotan perampok pun terjatuh dalam keadaan tengkurap saat peluru menembus batang kepalanya hingga mengakibatkan ia tewas di tempat.


Sedangkan semua anak buah yang tersisi dan selamat langsng melarikan dirinya lantaran mereka tidak ingin ikut campur masalah ini. Apa lagi jika berurusan dengan hukum.


Namun, Alex terdiam mematung menatap tubuh Pinjai yang sudah tergeletak. "Tu-tuan, te-terima ka-kasih ka-kau se-selalu ba-baik pa-padaku. Ji-jika a-aku te-telah ti-tiada na-nantinya, ja-jaga di-dirimu ba-baik baik dan ja-jangan be-bertindak bo-bod*oh da-dalam me-menjalankan se-semua bi-bisnismu. A-aku is-istirahat du-dulu, a-aku le-lelah!"


Pinjai berbicara dengan nada terbata-batanya sambil memegangi dada samping sebelah kiri yang kini sudah berlumuran darah segar, hingga kedua mata Pinjai pun tertutup dengan perlahan.


"PINJJAAIIIII...." Pekik Alex langsung mengambil alih Pinjai dan menaruhnya di paha lalu ia memeluk Pinjai dengan air mata yang berkurus deras.


"Hiks.. ba-bangun Kak, bangun hiks.. ja-jangan tinggalkan aku. Kau u-udah berjanji akan se-selalu ada bersamaku sa-sampai kita me-memiliki keluarga dan hidup bahagia"


"Tapi kenapa sekarang kau mengingkari janjimu Kak, kenapa!! Kenapaaaa.. hiks.. ingat Kak kau masih punya kekasih, jangan buat dia kecewa karena kau tidak bisa menempati janjimu untuk menikahinya. Jadi ayo bangun, bangun Kak bangun hiks.."


Alex menangis sejadi-jadinya karena saat ini hanya Pinjailah yang selalu ada untuknya, bahkan mereka bagaikan seorang Kakak dan Adik yang selalu melindungi satu sama lain tanpa mau meninggalkan. Tapi, sekarang? Alex merasa hatinya sangat hancur ketika melihat Pinjai terkurai lemas tak berdaya.


Hingga seseorang yang telah berhasil melumpuhkan ketua komplotan perampok tersebut tersenyum miring dari balik pohon, hingga ia meniup pistol kesayangannya. Lalu berlari mendekati Alex.


"Cepatlah bangun bod*doh!! Ckkk.. lama!!! Awaslah, minggir.. jadi laki kok cengengnya kebangetan. Tapi dengan lihatnya bisa melumpuhkan beberapa orang, bagian salah satu yang terkena senjata bukannya segera menolongnya ini malah nangis tidak karuan"


Seseorang itu mengoceh tanpa jeda sambill langsung mengangkat Pinjai dengan bantuan Alex yang juga membantuan. Hanya saja mata Alex menatapnya dengan tatapan bingung, bisa-bisa ada orang seperti dia yang berani berbicara seenak udelnya kepada King Mafia.


Mungkin jika pria itu tahu siapa Alex dan juga Pinjai yang sebenarnya, pasti pria itu akan segera bersujud dihadapan Alex untuk meminta maaf lantaran udah menghinanya.


Tapi, ya memang begitu adanya. Orang Alex tahu Pinjai sudah sekarat bukannya langsung membawanya ke rumah tetapi dia malah menangis tidak karuan jadi siapa yang tidak akan kesal.


Ya, walaupun Alex ketua King Mafia tidak menutup kemungkinan jika Alex juga manusia biasa yang memiliki belas kasihan terhadap orang yang dia sayang. Cuman akibat rasa sedihnya membuat Alex sampai lupa jika Pinjai harus segera di tolong.


Susah payah mereka memasukan Pinjai ke dalam mobil, lalu pria itu yang membawa mobil dengan jecepatan luar biasa. Entah kenapa Alex hanya bisa memangku kepala Pinjai sambil matanya terus menatap punggung pria itu. Lalu, ia memberanikan diri untuk membuka suaranya.

__ADS_1


"Ka-kau si-siapa? Lalu a-apa kau yang melumpuhkan pria itu?" Tanya Alex dengan wajah bingungnya.


"Ya, jika bukan aku siapa lagi? Toh kalian sangat fokus menghadari anak buahnya hingga kalian lupa jika ketuanya selalu mengawasi gerak-gerik kalian. Dan tanpa di sadari dia ingin menembakmu, ternyata malah meleset mengenai temanmu itu"


"Untung saja aku ada di sana, coba jika tidak aku pastikan kalian akan terkapar di sana untuk menghabiskan sisa waktu yang tersisa di dunia"


Pria itu berbicara dengan nada cueknya hingga membuat Alex pun terdiam sejenak lalu kembali menanyakannya.


"Siapa namamu? Dan apa tujuan kamu membantu kami? Jangan bilang karena kamu ingin mendapatkan imbalan yang sangat besar, agar bisa memeras kami dengan alasan balas budi?"


Pria itu tersenyum miring sambil menatap keatas spion atas dan kembali melajukan mobilnya. Sampai seketika mereka sampai di rumah sakit terbesar kemudian segera mengeluarkan Pinjai dengan bantuan para medis lainnya.


Pinjai di bawa ke ruangan khusus agar segera di tangani, sedangkan Alex dan pria itu pun mengikuti lalu duduk di salah satu kursi tempat menunggu. Alex pun segera memberikan pesan singkat kepada bodyguard yang ada di markas.


Lalu Alex menoleh dan menatap pria itu secara intens. Hingga tak lama beberapa bodyguard langsung berhamburan untuk datang serta menjaga Alex dan juga Pinjai hingga membuat pria itu terkejut bukan main.


"Lo-loh.. Lo-loh.. i-ini apa-apaan kenapa banyak orang bertubuh besar dan menyeramkan seperti ini di sini. Apa mereka salah satu dari komplotan perampok itu? Wahh.. tidak bisa di biarkan, kasihan semua nyawa di sini menjadi bahaya" Ucap pria tersebut. Lalu ingin mengeluarkan pistol kesayangannya, namun Alex segera menahannya.


"Jangan asal mengeluarkan senjata di tempat umum, nanti akan saya ceritakan semuanya diwaktu yang tepat. Kalau boleh tahu siapa namamu?" Tanya Alex dengan nada dinginnya.


"Aku? Aku Vizan Joko Ignatius. Tuan?" Tanya balik Joko dengan tatapan penasaran.


"Saya Alex dan yang tadi itu namanya Pinjai, dia asisten pribadiku sekaligus Kakakku" Ujar Alex. Joko menganggukkan kepalanya dan terus menatap ke arah beberapa bodyguard yang kininterus berjaga-jaga dalam keadaan wajah yang sangat menyeramkan hinggamembuat Joko bergidik ngeri.


Alex pun yang melihatnya hanya bisa tersenyum kecil, meskipun Joko terlihat layaknya orang yang sangat pemberani tetapi ketika berhadapan dengan bodyguard Alex membuat nyalinya menciut, bagaimana jika nanti dia tahu siapa Alex? Apakah tubuhnya akan bergetar hebat, atau dia sampai terkencing di dalam celana? Dahlah..


Seketika semua keadaan mulai menjadi hening, hingga tak lama seorang dokter pun keluar dengan wajah yang cukup lega. Lalu, Alex dan Joko segera mendekati sang dokter untuk menanyakan bagaimana kondisi Pinjai saat ini.


Sang dokter tersenyum kecil kemudian ia menjelaskan bahwa konsisi Pinjai sudah jauh lebih baik, hanya saja dia harus melewati masa kristisnya terlebih dahulu dan untungnya peluru tersebut tidak mengenai tepat di dada Pinjai melainkan hanya di samping hingga membuat tangan Pinjai mati rasa atau bisa di sebut dengan lumpuh dalam waktu sementara.

__ADS_1


Alex begitu bahagia saat mendengar jika Kakaknya selamat dan tanpa di sengaja Alex memeluk Joko sampai membuat tubuhnya merasak sesak. Sang dokter hanya bisa terkekeh kecil melihat ekspresi wajah Joko.


Sampai seketika sang dokter meninggalkan ruangan Pinjai dan mereka pun di perbolehkan untuk menjenguk Pinjai secara bergantian dalam batasan waktu hanya 5 menit 1 orang.


__ADS_2