Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
Flashback Off..


__ADS_3

Maria tertawa menatap Caca seoalah-olah dia sedang meledeknya, setelah itu Maria berbalik berusaha ingin kabur dari Caca tetapi, tiba-tiba saja Caca malah menangis begitu keras.


"Aawwsshh.. Sakit Kak, lepasin!" Pekik Maria sambil memegangi tangan Caca yang kini sudah melekat di rambut Maria.


Ya, Caca yang sudah diambang emosi. Tanpa pikir lagi langsung menjambak keras rambut Maria seperti apa yang dia lakukan padanya beberapa menit yang lalu.


Caca tersenyum miring, meskipun hati dan pikirannya saling bertolak belakang tetapi rasa amarah di dalam hatinya begitu besar. Sudah cukup Caca mengalah, ini sudah saatnya di mempertahankan haknya.


"Berikan gaun itu, atau aku tidak segan-segan menyakitimu!" Geram Caca.


"Haha.. Memangnya kau berani menyakiti Adik kesayanganmu ini, hahh! Tidak, kan? Lagian juga jika aku terluka maka Daddy sama Mommy akan memarahi dirimu. Jadi silakan, aku tidak peduli. Ini kesempatan emas bagiku agar mereka salah paham padamu sekaligus membencimu!"


Maria spontan mengucapkan kata-kata yang berhasil membuat hati Caca semakin hancur, hingga akhirnya Caca melepaskan tangannya sambil sedikit menghempaskan Maria.


Namun Maria malah menghempaskan tubuhnya sendiri dengan keras sampai dahinya membentur pinggiran tangga.


Bugh!


Maaariiiiaaaaaa!!!!!


Seseorang berlari dengan cepat menaiki anakan tangga dalam keadaan wajah yang sangat menegangkan, Maria malah tersenyum di sela-sela aktingnya lalu menangis sesegukan bagaikan seseorang yang sudah di aniaya.


Sedangkan Caca dia begitu terkejut dengan apa yang dilihatnya saat ini. Kemudian dia berkata di dalam hatinya "A-apa yang sudah a-aku lakukan padanya! Pe-perasaan tadi aku hanya mendorongnya sedikit, tapi kenapa kesannya aku seperti mendorongnya? Ada apa ini?! Da-dan Mo-mommy Da-daddy, kenapa mereka bisa pulang di saat yang tidak tepat seperti ini?"


"Astaga, bagaimana ini? Aku harus menjelaskan seperti apa? Aku sangat yakin, pasti saat ini mereka telah salah sangka padaku! Dasar wanita licik!"


Caca mengepalkan kedua tangannya dengan keras sambil menatap Maria yang sedang duduk menangis, dimana dahinya kini sudah mulai memar serta mengeluarkan sedikit darah.


Nenek Mona yang sudah berhasil menaiki anakan tangga, langsung memeluk Maria yang sedang menangis sesegukkan.


"Hiks.. Ka-kakak kenapa jahat padaku, padahal aku hanya ingin meminjam gaun untuk pergi ke acara temanku. Tapi Kakak malah menyakitiku seperti ini hiks... A-apa salahku, Kak? Apa!!" Ucap Mira di dalam pelukan Nenek Mona.


"Heeii.. Sayang, sudah cukup! Dia adalah Kakakmu, jadi jangan bersikap seperti ini. Dan untuk kamu Caca, kenapa kamu tega melakukan ini kepada Adikmu sendiri hanya karena sebuah gaun yang tidak ada artinya! Gaun itu kami yang beli, jadi siapa pun boleh memakainya!" Ucap Nenek Mona sambil menatap Caca.


"Apa yang Mommy bilang barusan? Siapa pun boleh memakainya? Hahah.. Apa Mommy lupa, Daddy ngasih gaun ini karena Daddy mau aku memakainya tepat di acara ulang tahunku yang 2 minggu lagi akan di adakan. Itu tandanya ini gaun spesial yang kalian beli untukku, jika aku sudah memakainya silakan! Tapi ini aku belum memakainya sama sekali!"


"Lagian aku sendiri tidak pernah meminjam apa pun dari Maria, karena setiap aku mau meminjam Maria selalu melarangku menyentuh semua barang-barangnya. Tidak seperti dia yang selalu meminjam apa pun dariku tanpa mengembalikannya!"


"STOP CACA, STOP!! HENTIKAN UCAPANMU ITU, DIA ADALAH MOMMY-MU. JADI TIDAK BERHAK KAU BERBICARA DENGAN NADA SEPERTI ITU!!"


Kakek Iram mengeluarkan suara yang sangat lantang, bahkan sampai bergema di seluruh rumah. Maria berpura-pura memasang wajah ketakukan di dalam pelukan Nenek Mona agar Nenek Mona selalu berpihak padanya.

__ADS_1


Tanpa di sadari Caca melirik ke arah Maria yang saat ini tersenyum sekilas padanya dan kembali menangis sesegukan.


"Ada apa ini, kenapa Maria bisa terluka seperti itu! Kau apakan Adikmu, Caca! Selama ini Daddy berusaha adil kepada kalian agar kalian bisa menjadi saudara yang saling akur, tapi apa yang aku lihat ini! Kau sebagai Kakak tidak becus untuk menjaga Adiknya, pantas saja Maria tidak pernah dekat denganmu!" Sahut Kakek Iram.


"Tidak becus Daddy bilang? Hahah.. Dimana kata adil yang Daddy bilang barusan, DIMANA!!!"


"SELAMA INI DADDY SELALU MEMINTAKU UNTUK MENJADI KAKAK YANG BAIK BUAT MARIA, TAPI APA YANG AKU DAPATKAN SELAMA INI? CUMAN RASA SAKIT!"


"TIDAK ADA SEDIKIT PUN KASIH SAYANG KALIAN YANG BISA MEMBUATKU BETAH BERADA DI DIRUMAH, BELUM LAGI MARIA SELALU SAJA MEMINJAM BARANGKU TANPA SEIZINKU. TAPI AKU DIAM, AKU TETAP MENGALAH. CUMAN KALI INI TIDAK LAGI DADDY!


"AKU SUDAH MUAK BERSETERU DENGAN WANITA LICIK SEPERTI DIA! MUNGKIN KAMI MEMANG SALING MENYAYANGI, TAPI RASA SAYANG ITU BERUBAH MENJADI RASA IRI KETIKA KALIAN SELALU MENGUTAMAKAN MARIA DARI PADA DIRIKU!"


"SEDANGKAN DIA? DIA MALAH MERASA IRI PADAKU HANYA KARENA GAUN INI? HAHAH.. LIHAT INI BAIK-BAIK, LIHATTT!!!!"


Semua terdiam melihat apa yang akan Caca lakukan pada gaunnya. Ternyata Caca mengambil sebuah gunting lalu menunjukkan gaun indah yang beberapa hari ini dia impikan kalau dia memakainya tepat di acara ulang tahunnya pasti akan terkesan sangat cantik di depan semua teman-temannya tapi faktanya, nihil!.


Caca menggunting asal gaun itu penuh dengan rasa amarah di dalam tubuhnya, bahkan mereka melihatnya sedikit terkejut. Gaun yang di berikan Kakek Iram dan Nenek Mona saat ini sudah menjadi pakaian tidak bisa lagi di gunakan.


Maria begitu kesal melihat tingkah Caca. Jika memang Caca tidak mau memakainya biarkan dia yang memakainya, bukan malah di robek seperti ini.


"APA-APAAN INI CACA! HENTIKAN SEMUA INI ATAU AKU AKAN MENGUSIRMU DARI RUMAH!" Pekik Kakek Iram yang berhasil membuat Caca menoleh ke arahnya. Kemudian Caca melepaskan gunting serta gaunnya sampai berserakan di lantai.


Caca menatap lekat mata Kakek Iram, selama ini hidup Kakek Iram, Caca dan juga Nenek Mona begitu bahagia. Namun semenjak adanya Maria malah membuat hubungan mereka malah menjadi tidak karuan.


"Daddy mengusirku dari rumahku sendiri? Hahah.. Dasar tidak tahu diri! Semua kenanganku dan Mommy aja di sini, tapi dengan mudahnya Daddy mengatakan itu? Ckk.. Ckk.. Ckk.. Jika memang ada yang harus pergi dari sini lebih baik mereka berdua, khususnya Maria dan bukan aku!" Ucap Caca yang wajahnya sangat memerah menatap wajah Ayahnya.


"Kaaaauuuuuuuuu!!!!" Geram Kakek Iram.


Plakk!!


Satu tamparan cantik yang sangat keras berhasil melesat di pipi mulus milik Caca, hingga Caca tersungkur ke lantai dalam keadaan sudut bibir berdarah.


"Iraammm!! Apa yang kau lakukan pada Caca, hahh! Sejak kapan kau berani bermain tangan pada seorang wanita, apa kamu lupa dia itu anak kandungmu sendiri bukan orang lain!!" Pekik Nenek Mona yang sudah kesal bercampur panik, marah dan juga sedih.


Kakek Iram yang baru sadar tersadar langsung mencoba menolong Caca, tetapi Caca menangkis semua itu dengan tatapan sangat marah.


"Baiklah Tuan Iram dan Nyonya Mona, semoga hidup kalian akan jauh lebih bahagia dengan kepergianku kali ini. Tapi ingat satu hal, ketika kalian mengetahui kebenarannya maka di saat itu juga kalian akan hidup dalam penyesalan!"


"Terima kasih selama ini kalian sudah mengajarkanku apa artinya mengalah demi kebahagiaan seseorang, tapi maaf! Untuk kali ini tidak bisa, aku sudah mempertahankan hakku atas gaun itu dan gaun itu pun sudah hancur tepat di tanganku. Jadi sekarang waktunya aku pergi!"


"Ini kan yang kamu mau Maria? Hahah.. Tenang saja, tidak akan ada lagi yang membuatmu menjadi iri. Sehingga kamu bisa merasakan kasih sayang kedua orang tuamu dengan full!"

__ADS_1


"Sudah cukup selama ini aku bertahan demi kalian, jadi sudah seharusnya juga aku pergi mencari kebahagiaanku sendiri walaupun itu tanpa kalian, yang penting aku bisa merasakan apa itu kebahagiaan sesungguhnya!"


"Doaku buat kalian semoga tidak ada penyesalan yang membuat kalian kembali mengingatku, lupakan aku! Lupakan nama Caca, anggap Caca sudah MATI! Dan kalian hanya memiliki 1 anak yaitu Maria! Aku pamit, terima kasih!"


"Jangan pernah menahanku atau mengikutiku! Jika kalian masih mau aku hidup!"


Caca mengancam kedua orang tuanya, mereka terdiam seribu bahasa sambil menangis. Ini kali pertamanya seorang Caca bisa semarah ini pada keluarganya, terutama Daddy kesayangannya.


Caca pergi berlari sambil menangis sesegukan keluar dari rumahnya, sedangkan Nenek Mona hanya bisa berteriak memanggil nama Caca. Belum lagi Kakek Iram sangat syok ketika mendengar ucapan Caca, terlihat jelas bahwa selama ini Caca seperti memendam semua rasa sakitnya seorang diri. Sehingga ketika dia marah maka semua unek-uneknya keluar begitu aja.


Sedangkan Maria, dia tersenyum lebar ketika saingannya pergi begitu saja meninggalkan mereka. Maria terlihat begitu senang, padahal di dalam hatinya Maria sangat menyayangi Caca. Hanya karena sebuah rasa iri membuat tali persaudaraan mereka hancur!


Kakek Iram langsung terjatuh duduk di lantai dalam keadaan yang sudah tidak bisa di pastikan, Kakek Iram memegangi dadanya dengan nafas yang sedikit sesak.


Nenek Mona begitu khawatir langsung berlari memanggil penjaga rumah agar bisa membantunya membawa Kakek Iram serta Maria untuk ke rumah sakit.


...*...


...*...


Selang 2 tahun kepergian Caca membuat Kakek Iram semakin dingin, begitu juga dengan Nenek Mona. Mereka terlihat sangat kaku, dan Mira dia sudah mulai merasa sedikit kesepian. Ditambah lagi rasa penyesalan itu mulai muncul, lalu tanpa rasa ragu Maria langsung menceritakan kejadian yang sesungguhnya pada kedua orang tuanya.


Dan benar saja, mereka tidak terlihat terkejut lantaran mereka sudah merasa curiga. Setahu mereka selama ini Caca selalu membela Adiknya bahkan dia mengorbankan apa pun demi kebahagiaan Maria. Jadi tidak mudah bagi mereka untuk sepenuhnya mempercayai Maria.


Hanya saja pada saat itu mereka terpancing emosi ketika melihat keadaan Maria, hingga akhirnya semua itu membuat mereka kehilangan sosok Caca anak yang baik dan juga tidak pernah mengecewakan keluarganya.


Sampai seketika Maria menikah dan memiliki anak pun mereka semua belum bisa menemukan keberadaan Caca.


Bahkan sampai kejadian kecelakaan yang menewaskan Maria serta keluarga kecilnya pun Maria bekum sempat ketemu dengan Caca untuk meminta maaf padanya, sampai di saat terakhir Caca hanya bisa terus memanggil nama Caca serta selalu mengucapkan kata maaf tiada henti.


Di sisi lain Caca bekerja di salah satu BAR kecil yang mengharuskannya terjebak di dunia hitam itu cuman untuk sekedar meneruskan hidup. Namun apesnya dia malah bertemu dengan Ken, Daddy kandung Key.


Mereka menjalani hubungan meskipun Caca tahu Ken sudah memiliki istri, tetapi mereka nekat meneruskan hubungan sampai Caca hamil anak Ken, awalnya mereka bahagia.


Apa lagi Ken berjanji akan menikahinya setelah Caca melahirkan, cuman semua itu kandas ketika Ken mengetahui bahwa Nisha hamil dan memberikan anak laki-laki yang akan menjadi pewaris bagi Ken.


Di situlah Ken tidak lagi memperdulikan Nisha dan Key karena dia lebih memiliki Nisha yang mengandung pewaris dari pada Caca hanya bisa memberikan anak perempuan yang akan menyusahkan Ken.


Disitulah kisah Caca dan Ken berakhir, setelah Caca mengalami depresi berat setelah kepergian Ken yang meninggalkannya dalam keadaan sudah menjadi seorang Ibu.


Hingga Key di tinggalkan di depan rumah Ken dengan selembar kertas, lalu Caca tanpa pikir panjang malah mengakhiri hidupnya saking dia sudah tidak bisa lagi menompang beban seorang diri.

__ADS_1


Keluarga yang dia sayang telah mengusirnya, hingga menjebaknya masuk ke lingkungan gelap dan terakhir kekasih yang di cintainya telah melupakan janjinya.


...Flashback Off......


__ADS_2